God is a Healer: Allah adalah Penyembuh

Pendahuluan: Apakah Benar Allah adalah Penyembuh?
Pernyataan “God is a Healer” — “Allah adalah Penyembuh” merupakan pengakuan iman yang memiliki dasar kuat dalam kesaksian Alkitab. Sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, kita menemukan Allah yang menyembuhkan penyakit, memulihkan orang yang terluka, mengampuni dosa, mengangkat manusia dari kehancuran, dan pada akhirnya menjanjikan pemulihan sempurna bagi umat-Nya.
Namun, ketika kita mengatakan “Allah adalah Penyembuh,” kita perlu memahami pernyataan tersebut secara alkitabiah dan teologis. Alkitab tidak mengajarkan bahwa setiap orang percaya pasti mengalami kesembuhan fisik sekarang juga. Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa seseorang yang belum sembuh berarti kurang iman.
Sebaliknya, Alkitab memperkenalkan Allah sebagai Tuhan yang berdaulat atas kehidupan, penyakit, kesehatan, kematian, dan pemulihan. Ia sanggup menyembuhkan, Ia memang menyembuhkan, tetapi Ia tidak pernah kehilangan kedaulatan-Nya ketika memilih untuk menyembuhkan atau ketika mengizinkan seseorang melewati penderitaan.
Karena itu, pengakuan “God is a Healer” harus membawa kita bukan hanya kepada pengharapan akan mukjizat, tetapi terutama kepada pengenalan akan Pribadi Allah sendiri.
1. “Akulah TUHAN yang Menyembuhkanmu” — Keluaran 15:26
Salah satu teks paling penting mengenai Allah sebagai Penyembuh terdapat dalam Keluaran 15:26.
“dan berfirman, ‘Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, melakukan yang benar dalam pandangan-Nya, memberikan telinga terhadap perintah-perintah-Nya, dan memelihara semua ketetapan-Nya, Aku tidak akan menimpakan satu pun penyakit yang telah Kutimpakan atas orang Mesir, sebab Akulah TUHAN yang menyembuhkanmu.’”
— Keluaran 15:26, AYT
Dalam bahasa Ibrani terdapat nama atau ungkapan YHWH-Rophe/Rapha, yang berkaitan dengan kata kerja Ibrani rapha, “menyembuhkan,” “memulihkan,” atau “membuat menjadi sehat/utuh.”
Tetapi konteksnya harus diperhatikan.
Israel baru saja keluar dari Mesir. Mereka mengalami perjalanan di padang gurun dan menghadapi persoalan air. Allah menyatakan diri-Nya bukan hanya sebagai Allah yang membebaskan Israel dari perbudakan, tetapi juga sebagai Allah yang memelihara umat-Nya.
Jadi, kesembuhan dalam bagian ini tidak boleh dipisahkan dari karakter Allah sebagai Penebus dan Pemelihara.
Allah yang menyembuhkan adalah Allah yang sama yang lebih dahulu membebaskan.
Ini penting secara teologis: kesembuhan bukan pusat utama identitas Allah; Allah sendiri adalah pusatnya.
2. Allah Tidak Hanya Menyembuhkan Tubuh
Mazmur 103 memperluas pemahaman kita.
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan jangan melupakan semua kebaikan-Nya;
yang mengampuni semua kesalahanmu, yang menyembuhkan semua penyakitmu,”
— Mazmur 103:2-3, AYT
Perhatikan urutannya.
Pemazmur berbicara tentang pengampunan kesalahan dan penyembuhan penyakit.
Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan Allah terhadap manusia jauh lebih luas daripada kesehatan tubuh.
Manusia membutuhkan pemulihan secara menyeluruh.
Kita membutuhkan pengampunan dosa. Kita membutuhkan pemulihan relasi dengan Allah. Kita membutuhkan pertolongan di tengah penderitaan. Kita juga membutuhkan pemulihan tubuh.
Teologi Reformed secara konsisten menempatkan masalah dosa sebagai persoalan paling fundamental manusia. Penyakit fisik memang nyata dan menyakitkan, tetapi akar persoalan dunia yang telah jatuh adalah dosa.
Karena itu, Injil menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar tubuh yang sehat.
Injil membawa manusia kembali kepada Allah.
3. Apakah Kesembuhan Fisik Selalu Dijanjikan?
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jika kita mengatakan bahwa “God is a Healer”, apakah berarti setiap orang Kristen pasti sembuh jika memiliki iman yang cukup?
Jawabannya: tidak demikian menurut keseluruhan kesaksian Alkitab.
Alkitab memang mencatat banyak mukjizat kesembuhan.
Yesus menyembuhkan orang buta, lumpuh, sakit kusta, demam, dan berbagai penyakit lainnya. Para rasul juga dipakai Allah untuk melakukan tanda-tanda dan mukjizat.
Namun Alkitab juga mencatat orang percaya yang tetap mengalami kelemahan fisik.
Paulus sendiri berbicara mengenai “duri dalam daging” dalam 2 Korintus 12. Ia berdoa agar penderitaan itu diangkat, tetapi Allah tidak menjawab doanya dengan cara yang Paulus harapkan.
Jawaban Allah justru berkaitan dengan kecukupan anugerah-Nya.
Dengan demikian, tidak sembuh bukan berarti Allah berhenti menjadi Penyembuh.
Kadang-kadang Allah menyembuhkan dengan mengangkat penyakit.
Kadang-kadang Allah menyembuhkan melalui pengobatan dan proses medis.
Kadang-kadang Allah memberi kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan.
Dan pada akhirnya, bagi setiap orang percaya, Allah menjanjikan pemulihan tubuh dalam kebangkitan.
4. Yesaya 53: “Oleh Bilur-Bilurnya Kita Disembuhkan”
Salah satu ayat yang paling sering digunakan dalam pembahasan kesembuhan adalah Yesaya 53:5:
“Akan tetapi, dia ditikam karena pelanggaran-pelanggaran kita. Dia diremukkan karena kejahatan-kejahatan kita. Hukuman yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita ditimpakan ke atasnya, dan oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan.”
— Yesaya 53:5, AYT
Ayat ini harus dibaca dalam konteks keseluruhan Yesaya 53.
Hamba TUHAN menderita bukan terutama karena penyakit fisik manusia, tetapi karena pelanggaran dan kejahatan kita.
Ayat 5 sendiri menghubungkan “penyembuhan” dengan dosa:
- ditikam karena pelanggaran kita;
- diremukkan karena kejahatan kita;
- hukuman yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita;
- oleh bilur-Nya kita disembuhkan.
Dengan demikian, pusat karya Hamba yang menderita adalah penebusan.
Puncak kesembuhan manusia bukan sekadar bebas dari kanker, diabetes, kelumpuhan, atau penyakit lainnya.
Puncak kesembuhan adalah diperdamaikan dengan Allah melalui karya Kristus.
5. Perspektif Teologi Reformed tentang “Oleh Bilur-Nya Kita Disembuhkan”
Teolog Reformed seperti John Calvin membaca Yesaya 53 dalam kerangka karya penebusan Kristus. Penderitaan Sang Hamba berkaitan erat dengan dosa umat-Nya dan hukuman yang seharusnya mereka tanggung.
Calvin tidak mengurangi kuasa Allah untuk menyembuhkan secara fisik. Namun ia menolak pemahaman yang memisahkan kesembuhan dari karya keselamatan yang lebih besar.
Dalam teologi Reformed, karya Kristus mencakup pembenaran, pendamaian, pengudusan, dan pada akhirnya pemuliaan tubuh.
Karena itu, ada aspek “sudah” dan “belum” dalam keselamatan.
Orang percaya sudah menerima pengampunan dan pembenaran.
Namun tubuhnya masih berada dalam kondisi yang fana.
Kita masih sakit.
Kita masih mengalami kelemahan.
Kita masih menghadapi kematian.
Tetapi semuanya sedang menuju penggenapan akhir.
6. Kesembuhan yang Sempurna Akan Terjadi dalam Kebangkitan
Inilah salah satu perspektif paling penting dalam memahami God is a Healer.
Kesembuhan tertinggi orang percaya bukan selalu terjadi sekarang.
Kesembuhan yang sempurna akan terjadi ketika Allah membangkitkan tubuh umat-Nya.
Tubuh yang sekarang dapat sakit akan dibangkitkan dalam kemuliaan.
Tubuh yang sekarang mengalami kelemahan akan mengenakan ketidakbinasaan.
Karena itu, pengharapan Kristen tidak bergantung pada apakah seseorang menerima mukjizat hari ini.
Pengharapan Kristen berdiri di atas Kristus yang telah mati dan bangkit.
Ini membuat iman Kristen berbeda dari sekadar optimisme.
Optimisme berkata:
“Semoga keadaan menjadi lebih baik.”
Iman Kristen berkata:
“Allah berdaulat atas keadaan ini, Kristus telah menang, dan pemulihan akhir pasti datang bagi umat-Nya.”
7. Yakobus 5: Gereja Dipanggil untuk Mendoakan Orang Sakit
Perjanjian Baru tidak membuat kita pasif terhadap penyakit.
Yakobus 5:14-16 memberikan instruksi yang sangat jelas:
“Apakah di antara kamu ada yang sedang sakit? Biarlah dia memanggil tua-tua jemaat dan mereka harus mendoakannya, mengurapinya dengan minyak dalam nama Tuhan.”
“Doa yang dinaikkan dalam iman akan menyelamatkan orang yang sakit itu dan Tuhan akan membangunkannya. Dan, jika dia telah melakukan dosa-dosa, dia akan diampuni.”
“Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang benar yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh, sangat besar kuasanya.”
— Yakobus 5:14-16, AYT
Perhatikan siapa yang menjadi pusat tindakan: Tuhan.
Tua-tua berdoa.
Orang sakit dipanggil.
Minyak digunakan.
Iman dinyatakan.
Tetapi Tuhanlah yang membangunkan.
Ini menjaga kita dari dua kesalahan.
Kesalahan pertama adalah menganggap kesembuhan mustahil.
Kesalahan kedua adalah menganggap manusia memiliki kuasa otomatis untuk menyembuhkan.
Kuasa kesembuhan tetap berada pada Tuhan.
8. Apa yang Dimaksud “Doa dalam Iman”?
Ini merupakan bagian yang sering disalahpahami.
Apakah “doa dalam iman” berarti kita harus yakin seratus persen bahwa Allah pasti memberikan kesembuhan fisik?
Tidak.
Iman yang alkitabiah bukanlah keyakinan bahwa Allah harus melakukan apa yang kita inginkan.
Iman berarti percaya kepada Allah.
Kita dapat berdoa:
“Tuhan, kami percaya Engkau sanggup menyembuhkan. Kami sungguh memohon kesembuhan. Namun kehendak-Mu tetap baik dan berdaulat.”
Ini bukan iman yang lemah.
Justru ini merupakan iman yang tunduk kepada Allah.
Kita melihat prinsip yang sama dalam doa Yesus di Getsemani. Ia menyatakan kehendak-Nya, tetapi menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.
Dengan demikian, iman Kristen tidak mengontrol Allah.
Iman mempercayai Allah.
9. John Calvin dan Kedaulatan Allah atas Kesembuhan
Dalam tradisi Reformed, salah satu fondasi utama adalah kedaulatan Allah.
Allah tidak pernah menjadi tidak berdaulat ketika seseorang sakit.
Ia tidak kehilangan kendali ketika dokter mengatakan diagnosis yang buruk.
Ia tidak terkejut oleh hasil pemeriksaan medis.
Ia tetap Allah.
John Calvin menekankan pentingnya providensia Allah—pemeliharaan Allah atas seluruh ciptaan dan kehidupan manusia.
Ini berarti bahkan ketika kita menggunakan dokter, obat, operasi, terapi, atau teknologi medis, kita tidak harus melihatnya sebagai lawan dari iman.
Allah dapat menggunakan sarana-sarana tersebut dalam providensia-Nya.
Karena itu, berdoa dan menggunakan pengobatan bukan dua tindakan yang harus dipertentangkan.
Kita dapat berdoa kepada Allah sambil menerima pertolongan medis.
10. Sinclair Ferguson: Kesembuhan dalam Kerangka Karya Kristus
Dalam teologi Reformed kontemporer, Sinclair Ferguson banyak menekankan bahwa kehidupan Kristen harus dipahami dalam kesatuan dengan Kristus.
Ini membantu kita memahami kesembuhan secara lebih luas.
Orang yang bersatu dengan Kristus menerima manfaat keselamatan yang terus dikerjakan Roh Kudus.
Tetapi tubuh kita belum mengalami kondisi akhir yang dijanjikan Allah.
Kita masih menantikan penebusan tubuh.
Jadi, ketika seorang Kristen sakit, kita tidak mengatakan:
“Allah meninggalkanmu.”
Sebaliknya:
“Allah tetap menyertaimu, dan tubuhmu sedang menantikan hari pemulihan akhir.”
Ini memberikan penghiburan yang sangat dalam.
11. R.C. Sproul: Providensia dan Kedaulatan Allah
R.C. Sproul berulang kali menekankan bahwa Allah berdaulat atas seluruh realitas.
Dalam perspektif providensia, tidak ada peristiwa yang berada di luar pengetahuan atau pemerintahan Allah.
Maka penyakit pun tidak boleh dipandang sebagai wilayah yang berada di luar kedaulatan-Nya.
Tetapi kedaulatan Allah bukan alasan untuk berhenti berdoa.
Justru karena Allah berdaulat, kita memiliki alasan untuk berdoa.
Kita tahu bahwa Allah mampu melakukan apa yang manusia tidak mampu lakukan.
Namun kita juga mengetahui bahwa hikmat Allah lebih tinggi daripada keinginan kita.
12. Timothy Keller: Penderitaan Tidak Berarti Allah Tidak Mengasihi
Pemikiran Timothy Keller tentang penderitaan sangat membantu dalam pembahasan kesembuhan.
Salah satu kesalahan manusia adalah mengukur kasih Allah berdasarkan kenyamanan hidup.
Jika sehat, kita berpikir Allah mengasihi kita.
Jika sakit, kita mulai berpikir Allah telah meninggalkan kita.
Injil memberikan ukuran kasih Allah yang berbeda.
Ukuran kasih Allah bukan keadaan tubuh kita hari ini.
Ukuran kasih Allah adalah Kristus dan salib-Nya.
Allah telah menunjukkan kasih-Nya secara definitif melalui Kristus.
Karena itu, seseorang yang sedang sakit tetap dapat berkata:
“Allah mengasihi saya.”
Bukan karena penyakitnya pasti segera hilang, tetapi karena kasih Allah telah dinyatakan dalam Kristus.
13. God Is a Healer: Empat Dimensi Kesembuhan
Jika seluruh kesaksian Alkitab disatukan, kita dapat melihat setidaknya empat dimensi kesembuhan.
1. Kesembuhan rohani
Manusia berdosa diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus.
Ini adalah kebutuhan terdalam manusia.
2. Kesembuhan emosional dan pastoral
Allah menghibur orang yang remuk hati, memberi kekuatan kepada yang lemah, dan menopang umat-Nya dalam penderitaan.
3. Kesembuhan fisik
Allah memang dapat dan kadang-kadang menyembuhkan penyakit secara ajaib maupun melalui sarana biasa.
4. Kesembuhan eskatologis
Pemulihan sempurna akan terjadi dalam kebangkitan dan ciptaan baru.
Dimensi keempat inilah yang menjamin bahwa pekerjaan penyembuhan Allah pada akhirnya tidak akan gagal.
14. Jangan Menghakimi Orang yang Belum Sembuh
Salah satu bahaya terbesar dalam pengajaran tentang kesembuhan adalah menyalahkan orang sakit.
Misalnya:
“Kamu belum sembuh karena imanmu kurang.”
Pernyataan seperti ini tidak dapat dipertahankan sebagai prinsip umum dari Alkitab.
Paulus adalah rasul.
Ia memiliki iman.
Ia berdoa.
Namun ia tetap mengalami penderitaan.
Timotius juga memiliki persoalan kesehatan. Paulus bahkan memberikan nasihat berkaitan dengan kondisi tubuhnya.
Karena itu, kita tidak boleh mengubah kesembuhan menjadi ukuran sederhana kualitas iman seseorang.
Orang yang sakit membutuhkan doa, kasih, kehadiran, penghiburan, dan pelayanan pastoral, bukan tuduhan.
15. Bagaimana Seharusnya Orang Kristen Berdoa untuk Kesembuhan?
Kita boleh berdoa dengan keberanian.
“Ya Tuhan, sembuhkanlah.”
Kita tidak perlu takut mengajukan permohonan itu.
Allah sanggup melakukan mukjizat.
Tetapi kita juga berdoa dengan penyerahan:
“Jadilah kehendak-Mu.”
Kita juga berdoa agar Allah memberikan hikmat kepada dokter, kekuatan kepada pasien, penghiburan kepada keluarga, dan damai sejahtera dalam setiap proses.
Dengan demikian, doa kesembuhan tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada relasi dengan Allah selama proses tersebut.
16. Kesimpulan: Allah Adalah Penyembuh
God is a Healer. Allah adalah Penyembuh.
Tetapi pengakuan ini harus dipahami lebih dalam daripada sekadar slogan tentang mukjizat.
Allah adalah Penyembuh karena Ia memulihkan manusia yang rusak oleh dosa.
Ia mengampuni kesalahan.
Ia dapat menyembuhkan tubuh.
Ia menguatkan orang yang menderita.
Ia menggunakan doa, komunitas, pengobatan, dan berbagai sarana dalam providensia-Nya.
Dan pada akhirnya Ia akan membangkitkan umat-Nya dengan tubuh yang tidak lagi mengenal penyakit, penderitaan, dan kematian.
Puncak kesembuhan bukanlah sekadar hidup lebih lama di dunia ini.
Puncak kesembuhan adalah hidup bersama Allah dalam keadaan yang telah dipulihkan sepenuhnya.
Karena itu, ketika kita sakit, kita boleh berdoa dengan penuh keberanian.
Ketika kita belum sembuh, kita tidak perlu kehilangan iman.
Ketika dokter berkata tidak ada harapan, kita tetap dapat berharap kepada Allah.
Dan ketika Tuhan memberikan kesembuhan, kita mengembalikan kemuliaan kepada-Nya.
Sebab pada akhirnya, pusat iman kita bukanlah kesembuhan.
Pusat iman kita adalah Sang Penyembuh.
Dan Sang Penyembuh itu telah menyatakan kasih-Nya secara sempurna melalui Yesus Kristus.