Teruslah Memuji Tuhan: Keep Praising God

Teruslah Memuji Tuhan: Keep Praising God

Pendahuluan

Keep Praising God berarti “teruslah memuji Tuhan.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi di dalam Alkitab pujian bukan sekadar respons ketika hidup berjalan baik. Pujian adalah tindakan iman yang berakar pada siapa Allah, bukan semata-mata pada keadaan yang sedang kita alami.

Alkitab bahkan memanggil umat Tuhan untuk memuji ketika keadaan belum berubah. Paulus menulis kepada jemaat Tesalonika:

“Bersukacitalah senantiasa.”
“Tetaplah berdoa.”
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
1 Tesalonika 5:16-18

Perintah ini tidak diberikan kepada orang yang hidup tanpa masalah. Jemaat mula-mula mengenal penderitaan, tekanan, penganiayaan, kehilangan, dan ketidakpastian. Karena itu, “terus memuji Tuhan” bukanlah ajakan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Sebaliknya, pujian adalah pengakuan bahwa Allah tetap baik, berdaulat, kudus, dan layak disembah bahkan ketika keadaan belum sesuai dengan keinginan kita.

Dalam perspektif teologi Reformed, prinsip ini berkaitan erat dengan doktrin kedaulatan Allah, providensia, anugerah, dan kehidupan yang berpusat pada Kristus.

Apa Arti “Keep Praising God”?

Jika diterjemahkan secara sederhana, Keep Praising God berarti tetaplah memuji Allah.

Kata “tetap” sangat penting.

Memuji Tuhan ketika menerima berkat adalah hal yang relatif mudah. Kita mendapatkan pekerjaan, kita bersyukur. Kita sembuh, kita bersyukur. Doa kita dijawab sesuai keinginan, kita bersyukur.

Namun bagaimana ketika pintu justru tertutup?

Bagaimana ketika penyakit belum sembuh?

Bagaimana ketika doa terasa tidak dijawab?

Bagaimana ketika seseorang yang kita kasihi pergi?

Bagaimana ketika pelayanan mengalami kegagalan?

Di situlah kualitas pujian diuji.

Pujian Kristen yang matang tidak berkata, “Aku memuji Tuhan karena semua keadaanku baik.”

Pujian yang matang berkata:

“Aku memuji Tuhan karena Dia tetap Tuhan, sekalipun aku belum memahami keadaan ini.”

Mazmur 34: Dasar Teologis Pujian dalam Penderitaan

Salah satu teks yang sangat kuat untuk memahami tema ini adalah Mazmur 34.

Daud berkata:

“Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.”

Kemudian ia mengajak:

“Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!”

Dan selanjutnya:

“Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.”

Mazmur ini memiliki konteks yang menarik. Daud tidak sedang berada dalam situasi nyaman ketika mazmur ini lahir. Ia berada dalam pengalaman yang penuh tekanan dan bahaya.

Namun responsnya adalah pujian.

Ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting:

Pujian tidak selalu lahir setelah masalah selesai. Kadang-kadang pujian justru menjadi cara iman menghadapi masalah.

Daud tidak menyangkal ketakutannya. Ia mengatakan bahwa ia memiliki ketakutan. Tetapi ia membawa ketakutan tersebut kepada Tuhan.

Eksposisi: “Karena TUHAN Jiwaku Bermegah”

Kalimat pertama dalam Mazmur 34:2 sangat kaya:

“Karena TUHAN jiwaku bermegah...”

Perhatikan objek kebanggaan Daud.

Bukan dirinya.

Bukan kekuatannya.

Bukan kecerdasannya.

Bukan keberhasilannya.

TUHAN.

Inilah pusat pujian Alkitab.

Manusia modern mudah menjadikan diri sendiri pusat kehidupan. Bahkan dalam kehidupan rohani, seseorang dapat secara tidak sadar menjadikan pengalaman dirinya sebagai pusat.

“Aku diberkati.”

“Aku berhasil.”

“Aku mengalami mukjizat.”

“Aku mendapatkan jawaban doa.”

Semua itu dapat menjadi kesaksian yang benar. Tetapi pusatnya harus tetap Allah.

Daud berkata bahwa Tuhanlah alasan jiwanya bermegah.

Ini sangat dekat dengan prinsip teologi Reformed soli Deo gloria—segala kemuliaan hanya bagi Allah.

Jika Tuhan menjadi pusat, maka pujian tidak bergantung sepenuhnya pada naik turunnya keadaan.

“Muliakanlah TUHAN Bersama-sama dengan Aku”

Mazmur 34:3 menunjukkan bahwa pujian bukan hanya aktivitas pribadi:

“Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!”

Di sini terdapat dimensi komunitas.

Iman Kristen tidak dirancang untuk dijalani sendirian.

Ketika seorang percaya sedang lemah, komunitas umat Tuhan dapat menolongnya mengingat kembali kebaikan Allah.

Ketika kita tidak sanggup menyanyikan pujian dengan kuat, saudara seiman dapat bernyanyi bersama kita.

Ketika kita lupa karya Allah, gereja mengingatkan kita melalui firman, sakramen, doa, dan nyanyian.

Karena itu, pujian bukan sekadar ekspresi emosi pribadi. Pujian adalah bagian dari kehidupan umat perjanjian.

Pujian yang Berakar pada Karakter Allah

Mengapa kita terus memuji Tuhan?

Jawabannya bukan terutama karena kita yakin besok akan lebih mudah.

Kita memuji karena Allah layak dipuji.

Karakter Allah tidak berubah mengikuti keadaan kita.

Ketika kita bahagia, Allah tetap kudus.

Ketika kita sedih, Allah tetap kudus.

Ketika kita berhasil, Allah tetap berdaulat.

Ketika kita gagal, Allah tetap berdaulat.

Ketika doa kita dijawab “ya”, Allah baik.

Ketika jawaban-Nya “tidak”, Allah tetap baik.

Ketika kita memahami jalan-Nya, Allah baik.

Ketika kita tidak memahami jalan-Nya, Allah tetap baik.

Inilah dasar pujian yang kokoh.

Jika pujian hanya didasarkan pada keadaan, pujian akan naik dan turun.

Tetapi jika pujian didasarkan pada karakter Allah, kita memiliki fondasi yang lebih kuat.

John Calvin: Pujian dan Providensia Allah

Pemikiran John Calvin tentang providensia sangat membantu memahami mengapa orang percaya dapat terus memuji Tuhan.

Calvin melihat bahwa Allah bukan hanya Pencipta yang memulai dunia lalu membiarkannya berjalan sendiri. Allah terus memelihara, menopang, dan memerintah ciptaan-Nya.

Tidak ada peristiwa yang berada di luar pengetahuan dan pemerintahan Allah.

Ini tidak berarti bahwa semua peristiwa mudah dimengerti manusia.

Justru sebaliknya, providensia Allah sering kali melampaui pengertian kita.

Namun iman tidak menuntut kita memahami seluruh rencana Allah sebelum kita mempercayai-Nya.

Kita dapat memuji karena kita mengetahui siapa yang memegang kehidupan kita, meskipun kita belum mengetahui seluruh alasan di balik apa yang sedang terjadi.

Dalam kerangka Calvin, doktrin providensia bukan sekadar doktrin akademis. Doktrin ini menjadi penghiburan bagi orang percaya.

Jika Allah memegang hidup kita, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan bahwa segala sesuatu berada dalam kekacauan mutlak.

Herman Bavinck: Allah sebagai Dasar Pengharapan

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics memberikan gambaran teologis yang luas mengenai Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara.

Manusia adalah makhluk yang bergantung.

Kita tidak memiliki kehidupan dari diri kita sendiri.

Kita menerima kehidupan dari Allah dan terus bergantung kepada pemeliharaan-Nya.

Karena itu, pujian sebenarnya merupakan respons yang sesuai dengan status kita sebagai ciptaan.

Pujian mengakui:

“Aku bukan pusat alam semesta. Allah adalah pusatnya.”

Ini membebaskan kita dari beban untuk menjadi penguasa atas segala sesuatu.

Kita tidak harus mengetahui semuanya.

Kita tidak harus mengendalikan semuanya.

Kita tidak harus mampu menyelesaikan semuanya.

Allah adalah Allah.

Kita adalah ciptaan.

Dan justru dalam pengakuan tersebut terdapat kebebasan rohani.

R.C. Sproul: Kekudusan Allah dan Pujian

R.C. Sproul terkenal karena penekanannya terhadap doktrin kekudusan Allah.

Ketika manusia melihat Allah sebagaimana Dia sesungguhnya, respons yang tepat bukanlah sikap sembrono, tetapi kekaguman, hormat, dan penyembahan.

Ini membantu kita memahami mengapa pujian tidak boleh direduksi menjadi sekadar suasana hati.

Kita memuji bukan karena musiknya bagus.

Kita memuji bukan karena suasana ibadah menyentuh emosi.

Kita memuji karena Allah layak menerima pujian.

Musik dapat membantu mengarahkan hati.

Lagu dapat menolong kita mengingat kebenaran.

Tetapi objek pujian bukan lagu.

Objek pujian adalah Allah.

Semakin kita memahami kekudusan-Nya, semakin kita memahami mengapa penyembahan adalah respons yang tepat.

Sinclair Ferguson: Pujian yang Berpusat pada Kristus

Dalam perspektif Sinclair Ferguson, kehidupan Kristen selalu harus berpusat pada Kristus.

Hal ini juga berlaku bagi pujian.

Orang percaya tidak hanya memuji Allah karena berkat-berkat yang diterimanya. Kita memuji Allah karena karya keselamatan yang telah dikerjakan-Nya di dalam Kristus.

Ini sangat penting.

Jika seluruh dasar sukacita kita adalah keadaan hidup, kita akan mudah kehilangan sukacita.

Tetapi jika dasar sukacita kita adalah Injil, kita mempunyai alasan yang jauh lebih dalam untuk memuji.

Kita telah ditebus.

Kita telah diampuni.

Kita dipersatukan dengan Kristus.

Kita memiliki pengharapan kebangkitan.

Kita memiliki Roh Kudus.

Kita memiliki janji kehidupan kekal.

Tidak semua keadaan hidup kita sudah dipulihkan.

Tetapi keselamatan kita di dalam Kristus sudah menjadi dasar yang kokoh bagi pujian.

Tim Keller: Pujian dan Perubahan Pusat Hati

Dalam pembahasannya mengenai penyembahan dan kehidupan hati, Tim Keller sering menunjukkan bahwa manusia selalu menyembah sesuatu.

Pertanyaannya bukan apakah manusia menyembah.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang kita sembah?

Jika keamanan adalah pusat hidup kita, kita akan menyembah keamanan.

Jika uang adalah pusat hidup kita, kita akan menyembah uang.

Jika keberhasilan adalah pusat hidup kita, kita akan menyembah keberhasilan.

Jika penerimaan manusia adalah pusat hidup kita, kita akan hidup untuk mendapatkan persetujuan manusia.

Pujian kepada Tuhan mengembalikan pusat kehidupan kepada Allah.

Ketika kita berkata, “Tuhan, Engkau layak dipuji,” kita sedang menggeser pusat hati kita dari pemberian kepada Sang Pemberi.

Ini merupakan aspek penting dari pertumbuhan rohani.

“Bersukacitalah Senantiasa”

Paulus menulis:

“Bersukacitalah senantiasa.”

Perintah ini sering disalahpahami.

Apakah orang Kristen tidak boleh sedih?

Tentu tidak.

Alkitab penuh dengan ratapan.

Daud menangis.

Yeremia meratap.

Ayub berduka.

Yesus sendiri menangis.

Jadi sukacita Kristen bukan berarti tidak pernah mengalami kesedihan.

Sukacita Kristen adalah keyakinan yang lebih dalam daripada emosi sementara.

Kita dapat menangis dan tetap percaya.

Kita dapat berduka dan tetap menyembah.

Kita dapat kecewa dan tetap berharap.

Kita dapat mengatakan, “Tuhan, aku tidak mengerti,” sambil tetap berkata, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu.”

Itulah sukacita yang berakar pada Allah.

“Tetaplah Berdoa”

1 Tesalonika 5:17 berkata:

“Tetaplah berdoa.”

Perintah ini sangat berkaitan dengan pujian.

Doa membuat hati terus kembali kepada Allah.

Tanpa doa, kita mudah memikul beban sendirian.

Tanpa doa, kita mudah melihat masalah lebih besar daripada Allah.

Tanpa doa, kita mudah menilai kebaikan Tuhan berdasarkan keadaan.

Tetapi doa mengarahkan kita kembali kepada Dia.

Karena itu, Keep Praising God tidak dapat dipisahkan dari Keep Praying.

Teruslah memuji karena teruslah berdoa.

“Mengucap Syukurlah dalam Segala Hal”

Ayat 18 berkata:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Perhatikan bahwa Paulus berkata “dalam segala hal”, bukan “untuk segala hal.”

Ini penting secara pastoral.

Alkitab tidak memerintahkan kita menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang baik.

Kita tidak perlu bersyukur atas dosa.

Kita tidak perlu menyebut penderitaan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Kita dapat mengakui bahwa sesuatu itu menyakitkan sambil tetap bersyukur bahwa Allah hadir dan berdaulat di tengahnya.

Misalnya:

“Tuhan, aku tidak bersyukur karena penyakit ini, tetapi aku bersyukur karena Engkau menyertaiku di tengah penyakit ini.”

“Tuhan, aku tidak mengerti mengapa pintu ini tertutup, tetapi aku bersyukur karena hidupku tetap berada di tangan-Mu.”

Ini merupakan bentuk ucapan syukur yang dewasa.

Ibrani 13:15: Pujian sebagai Korban

Ibrani 13:15 memberikan dimensi yang sangat mendalam:

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.”

Perhatikan kata “senantiasa.”

Pujian bukan aktivitas sesekali.

Dan menarik bahwa penulis Ibrani menyebutnya “korban syukur.”

Mengapa korban?

Karena ada saat-saat ketika memuji Tuhan membutuhkan pengorbanan.

Menyanyi ketika hati sedang bersukacita relatif mudah.

Tetapi memuji ketika hati hancur membutuhkan iman.

Mengucap syukur ketika doa belum terjawab membutuhkan iman.

Menyembah ketika kita tidak memahami jalan Tuhan membutuhkan iman.

Pada saat seperti itu, pujian menjadi pengakuan yang sangat kuat:

“Tuhan, aku memilih mempercayai-Mu.”

Ayub dan Pujian di Tengah Kehilangan

Salah satu contoh paling kuat adalah Ayub.

Ayub kehilangan banyak hal.

Namun responsnya menunjukkan bahwa penyembahan tidak harus bergantung pada keadaan yang menyenangkan.

Ia berhadapan dengan kehilangan yang luar biasa, tetapi ia tetap datang kepada Allah.

Kisah Ayub mengingatkan kita bahwa iman sejati bukan iman yang berkata:

“Allah baik hanya ketika hidupku baik.”

Iman berkata:

“Allah baik karena Dia adalah Allah, bahkan ketika aku tidak memahami penderitaanku.”

Ini bukan berarti penderitaan tidak menyakitkan.

Justru Ayub menunjukkan bahwa seseorang dapat mengalami kesedihan yang sangat dalam sambil tetap memiliki iman.

Pujian Paulus di Tengah Penderitaan

Dalam Kisah Para Rasul 16, Paulus dan Silas mengalami pemenjaraan.

Mereka dipukuli.

Mereka ditempatkan di penjara.

Namun pada tengah malam mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah.

Ini adalah gambaran konkret Keep Praising God.

Mereka tidak menunggu pintu penjara terbuka sebelum menyembah.

Mereka menyembah di dalam penjara.

Dan ini merupakan gambaran yang sangat kuat bagi gereja masa kini.

Kadang-kadang kita berkata:

“Nanti kalau masalah selesai, aku akan bersyukur.”

Injil mengajarkan:

“Aku dapat memuji Tuhan bahkan sebelum masalah selesai.”

Pujian Tidak Memanipulasi Allah

Ada satu hal yang perlu ditegaskan.

Memuji Tuhan bukan cara untuk memaksa Tuhan melakukan apa yang kita inginkan.

Kita tidak berkata:

“Kalau aku cukup banyak memuji, Tuhan pasti memberikan apa yang kuminta.”

Itu bukan penyembahan Kristen.

Pujian bukan alat untuk mengendalikan Allah.

Allah bukan mesin yang dapat dimanipulasi melalui kata-kata positif.

Pujian adalah respons kepada Allah.

Kita memuji karena Dia layak dipuji.

Bukan supaya Dia menjadi baik kepada kita.

Dalam Injil, Allah telah menunjukkan kasih-Nya terlebih dahulu.

Kristus adalah Alasan Terbesar Kita Memuji

Pada akhirnya, pusat pujian Kristen adalah Kristus.

Mengapa?

Karena di dalam Kristus kita menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada perubahan keadaan.

Kita menerima rekonsiliasi dengan Allah.

Dosa diampuni.

Hukuman ditanggung.

Kematian dikalahkan.

Pengharapan diberikan.

Kristus mati.

Kristus bangkit.

Kristus naik ke surga.

Kristus memerintah.

Kristus akan datang kembali.

Ini adalah alasan yang tidak dapat dihancurkan oleh keadaan sementara.

Kita mungkin kehilangan pekerjaan.

Kita mungkin kehilangan harta.

Kita mungkin kehilangan kesehatan.

Kita bahkan suatu hari akan kehilangan kehidupan jasmani.

Tetapi bagi orang yang ada di dalam Kristus, tidak seorang pun dapat mengambil keselamatan kekal yang telah diberikan Allah.

Karena itu, pujian Kristen memiliki dasar eskatologis.

Kita memuji karena kita tahu bagaimana cerita akhirnya.

Kristus menang.

Bagaimana Terus Memuji Tuhan Saat Hati Sedang Lemah?

Pertama, ingat siapa Allah.

Jangan mulai dengan keadaan. Mulailah dengan karakter Allah.

Kedua, ingat karya Kristus.

Salib adalah bukti kasih Allah yang paling besar.

Ketiga, ingat pemeliharaan Allah di masa lalu.

Tuliskan pertolongan Tuhan yang pernah Anda alami. Ketika hati lemah, ingatan terhadap kesetiaan Tuhan dapat menguatkan iman.

Keempat, berdoalah dengan jujur.

Tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Allah.

Kelima, tetap berada dalam komunitas umat Tuhan.

Jangan mengisolasi diri ketika sedang mengalami penderitaan.

Keenam, nyanyikan kebenaran sebelum perasaan mengikutinya.

Kadang-kadang hati kita belum merasa bersukacita ketika kita mulai menyembah. Tetapi kebenaran firman dapat menuntun hati kembali kepada Allah.

Keep Praising God Bukan Penyangkalan

Ada perbedaan antara pujian dan penyangkalan.

Penyangkalan berkata:

“Tidak ada masalah.”

Pujian berkata:

“Ada masalah, tetapi Tuhan tetap bersamaku.”

Penyangkalan berkata:

“Aku tidak terluka.”

Pujian berkata:

“Aku terluka, tetapi aku membawa luka ini kepada Tuhan.”

Penyangkalan berkata:

“Semuanya pasti mudah.”

Pujian berkata:

“Aku tidak tahu apakah semuanya akan mudah, tetapi aku tahu Allah setia.”

Inilah perbedaan antara optimisme manusia dan pengharapan Kristen.

Optimisme berkata keadaan akan membaik.

Pengharapan Kristen berkata Allah tetap dapat dipercaya bahkan jika keadaan tidak segera membaik.

Pujian Mengubah Perspektif, Bukan Selalu Keadaan

Salah satu fungsi pujian adalah mengubah perspektif kita.

Masalah mungkin masih ada.

Tagihan mungkin masih harus dibayar.

Penyakit mungkin belum sembuh.

Konflik mungkin belum selesai.

Namun ketika kita menyembah, kita melihat masalah dalam perspektif yang berbeda.

Sebelumnya:

“Masalahku terlalu besar.”

Setelah memandang Allah:

“Masalahku besar, tetapi Allah jauh lebih besar.”

Sebelumnya:

“Aku tidak punya jalan keluar.”

Setelah memandang Allah:

“Aku belum melihat jalan keluar, tetapi Tuhan tidak kehilangan kendali.”

Sebelumnya:

“Aku sendirian.”

Setelah memandang Allah:

“Tuhan menyertaiku.”

Inilah kekuatan penyembahan.

Kesimpulan: Teruslah Memuji Tuhan

Keep Praising God bukan sekadar kalimat indah untuk ditempelkan pada gambar rohani.

Ini adalah panggilan untuk hidup dalam iman.

Mazmur 34 menunjukkan Daud memuji Tuhan di tengah pengalaman yang menakutkan.

1 Tesalonika 5:16-18 memanggil orang percaya untuk bersukacita, berdoa, dan mengucap syukur.

Ibrani 13:15 menggambarkan pujian sebagai korban syukur yang terus dipersembahkan kepada Allah.

Calvin mengingatkan kita akan providensia Allah.

Bavinck menolong kita melihat ketergantungan manusia kepada Pencipta.

Sproul mengarahkan kita kembali kepada kekudusan Allah.

Ferguson mengingatkan bahwa kehidupan Kristen harus berpusat pada Kristus.

Dan perspektif Keller mengenai penyembahan menolong kita melihat bahwa hati manusia selalu memiliki pusat penyembahan.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah saya sedang memuji Tuhan?”

Pertanyaannya adalah:

“Apakah saya tetap memuji Tuhan ketika keadaan tidak memberi saya alasan yang mudah untuk memuji?”

Di situlah iman menjadi nyata.

Teruslah memuji ketika doa belum dijawab.

Teruslah memuji ketika pintu belum terbuka.

Teruslah memuji ketika air mata masih mengalir.

Teruslah memuji ketika masa depan belum jelas.

Teruslah memuji ketika kita belum memahami rencana Allah.

Bukan karena kita tahu semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita.

Tetapi karena kita tahu:

Allah tetap baik.
Allah tetap berdaulat.
Allah tetap setia.
Kristus tetap Raja.
Dan kasih karunia-Nya tidak pernah gagal.

Maka, ketika hidup terasa berat, jangan berhenti menyembah.

Ketika hati terasa lemah, datanglah kepada Tuhan.

Ketika kita tidak mempunyai banyak kata, ucapkan saja:

“Tuhan, aku tetap percaya kepada-Mu.”

Dan ketika kita belum melihat jawabannya, kita tetap dapat berkata:

“Terpujilah Tuhan.”

Keep praising God. Teruslah memuji Tuhan.

Next Post Previous Post