Darah Kristus yang Tetap Berkuasa
Pendahuluan
Ada sebuah kebenaran Injil yang tidak pernah menjadi usang: darah Yesus masih menyelamatkan dan masih menyucikan. Dunia dapat berubah, kebudayaan dapat berubah, cara manusia memahami dosa dapat berubah, bahkan gereja dapat menghadapi berbagai tantangan baru. Namun kebutuhan manusia di hadapan Allah tetap sama: manusia berdosa membutuhkan pengampunan, pendamaian, dan hati nurani yang dibersihkan.
Ibrani 9:11-14 membawa kita kepada pusat Injil tersebut. Kristus datang sebagai Imam Besar dan tidak membawa darah binatang, melainkan "darah-Nya sendiri". Ia masuk "satu kali untuk selama-lamanya" dan melalui pengorbanan-Nya memperoleh "kelepasan yang kekal". Lebih jauh lagi, darah Kristus menyucikan hati nurani sehingga orang percaya dapat beribadah kepada Allah yang hidup.
Dengan demikian, darah Kristus bukan sekadar simbol penderitaan Yesus. Darah itu menunjuk kepada kematian pengorbanan Kristus yang menjadi dasar penebusan, pengampunan, pembenaran, dan penyucian umat Allah.
1. Darah Kristus adalah darah Imam Besar yang sempurna
Ibrani 9:11 memperkenalkan Kristus sebagai Imam Besar. Ini penting karena penulis Ibrani tidak melihat kematian Yesus sebagai kecelakaan sejarah. Kematian-Nya merupakan tindakan imam yang mempersembahkan korban.
Dalam sistem Perjanjian Lama, imam membawa darah korban ke dalam tempat kudus. Darah tersebut berkaitan dengan pendamaian dan penyucian umat. Namun semua korban itu bersifat sementara dan menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar.
Kristus datang bukan sebagai imam biasa. Ia sekaligus adalah Imam dan korban.
Ibrani 9:12 menyatakan bahwa Kristus masuk ke tempat kudus "bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri." Perbedaan ini sangat menentukan. Korban Perjanjian Lama harus diulang; korban Kristus tidak perlu diulang.
John Calvin melihat karya penebusan Kristus secara erat berkaitan dengan kematian-Nya sebagai korban bagi dosa. Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan bahwa penebusan Kristus mencakup seluruh ketaatan-Nya, tetapi secara khusus kematian-Nya menjadi pusat karya penebusan tersebut. Ia juga menghubungkan darah Kristus dengan penggenapan pola korban dalam Perjanjian Lama.
Karena itu, ketika kita mengatakan "darah Yesus menyelamatkan", yang dimaksud bukanlah darah secara material atau magis. Yang dimaksud adalah Kristus yang menyerahkan hidup-Nya dalam kematian pengorbanan untuk menanggung dosa manusia.
2. "Satu kali untuk selama-lamanya": keselamatan tidak perlu ditambahkan
Frasa penting dalam Ibrani 9:12 adalah "satu kali untuk selama-lamanya".
Ini menghancurkan gagasan bahwa karya Kristus belum cukup dan harus dilengkapi oleh prestasi manusia.
Kristus tidak memberikan sebagian keselamatan lalu menyerahkan sisanya kepada manusia. Ia memperoleh "kelepasan yang kekal".
Di sinilah teologi Reformed menemukan salah satu pusat penghiburan Injil: dasar keselamatan bukan kualitas pekerjaan manusia, melainkan kesempurnaan pekerjaan Kristus.
Calvin menekankan bahwa manusia dibenarkan bukan berdasarkan kebenarannya sendiri, tetapi karena melalui iman ia menerima kebenaran Kristus. Dalam Institutes, ia menegaskan bahwa pembenaran berakar pada kemurahan Allah dan karya Kristus, bukan pada jasa manusia.
Ini berarti seorang percaya tidak datang kepada Allah dengan berkata, "Tuhan, lihatlah betapa baiknya saya." Ia datang dengan berkata, "Tuhan, lihatlah Kristus."
Inilah Injil.
3. Darah Kristus bukan hanya menyelamatkan dari hukuman, tetapi juga membersihkan hati nurani
Ibrani 9:14 membawa kita lebih dalam:
"Betapa lebihnya darah Kristus ... akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup."
Perhatikan tujuan akhirnya: beribadah kepada Allah yang hidup.
Darah Kristus tidak hanya menyelesaikan persoalan status kita di hadapan Allah; darah Kristus juga membawa kita kepada kehidupan yang diarahkan kepada Allah.
Kita perlu membedakan dua aspek tanpa memisahkannya.
Pembenaran berbicara mengenai status orang berdosa di hadapan Allah: orang yang percaya kepada Kristus dinyatakan benar berdasarkan karya Kristus.
Penyucian berbicara mengenai karya Allah yang terus membarui kehidupan orang percaya sehingga ia semakin menyerupai Kristus.
Dalam kerangka Reformed, pembenaran dan pengudusan tidak boleh dicampur, tetapi juga tidak boleh dipisahkan. Kita tidak dibenarkan karena sudah kudus, tetapi orang yang telah dibenarkan tidak dibiarkan hidup tanpa pertumbuhan dalam kekudusan.
Calvin sendiri membedakan pembenaran dan pembaruan hidup, tetapi menegaskan bahwa keduanya berasal dari persatuan dengan Kristus. Ia menjelaskan bahwa orang yang menerima Kristus memperoleh dua manfaat besar: didamaikan dengan Allah melalui kebenaran Kristus dan dikuduskan oleh Roh-Nya.
Jadi, darah Kristus menyelamatkan dari hukuman dosa dan menghasilkan kehidupan yang diarahkan kepada kekudusan.
4. "Darah Yesus ... menyucikan kita dari segala dosa"
1 Yohanes 1:7 memberikan dimensi yang sangat pastoral:
"Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."
Perhatikan kata "segala".
Yohanes tidak mengatakan sebagian dosa. Ia tidak mengatakan dosa yang cukup kecil. Ia mengatakan segala dosa.
Namun ayat 7 harus dibaca bersama ayat 8-9. Yohanes tidak sedang mengajarkan bahwa orang Kristen sudah tidak mungkin berdosa. Justru ia mengatakan bahwa jika seseorang berkata dirinya tidak berdosa, ia sedang menipu dirinya sendiri.
Kemudian ayat 9 memberikan jalan Injil: pengakuan dosa.
Ini sangat penting. Keyakinan akan kuasa darah Kristus tidak menghasilkan sikap meremehkan dosa. Sebaliknya, justru membuat orang percaya berani menghadapi dosanya di hadapan Allah.
Kita tidak perlu menyembunyikan dosa seolah-olah Kristus tidak mengetahuinya. Kita mengakuinya karena kita percaya bahwa anugerah Kristus lebih besar daripada dosa kita.
5. Darah yang menyelamatkan bukan lisensi untuk terus berdosa
Ada bahaya ketika doktrin kasih karunia dipahami secara dangkal. Seseorang mungkin berkata, "Darah Yesus masih menyucikan, jadi saya tidak perlu serius terhadap dosa."
Itu bukan Injil.
Darah Kristus yang mengampuni dosa juga memanggil kita keluar dari perbudakan dosa.
Calvin bahkan memperingatkan bahwa pengampunan yang cuma-cuma tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk meremehkan dosa. Baginya, justru karena pengampunan itu dibayar dengan darah Kristus, orang percaya seharusnya semakin membenci dosa dan menghargai kekudusan Allah.
Dengan demikian, kasih karunia bukan musuh kekudusan. Kasih karunia adalah sumber kekudusan.
Orang yang benar-benar memahami mahalnya darah Kristus tidak akan berkata, "Saya boleh hidup sesuka hati." Ia justru berkata, "Bagaimana mungkin saya terus hidup dalam dosa yang telah ditebus Kristus?"
6. Darah yang mahal: keselamatan bukan sesuatu yang murah
1 Petrus 1:18-19 memberikan perspektif lain. Orang percaya ditebus bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan "darah yang mahal, yaitu darah Kristus".
Kata "mahal" menunjukkan nilai yang tidak dapat dibandingkan dengan harta dunia.
Manusia sering mengukur sesuatu berdasarkan harga. Tetapi keselamatan memiliki harga yang tidak dapat dibayar oleh manusia.
Uang tidak dapat membeli pengampunan. Moralitas tidak dapat membeli pembenaran. Aktivitas keagamaan tidak dapat membayar hutang dosa.
Kristuslah yang menjadi korban yang sempurna.
Di sini pemikiran Reformed tentang substitusi menjadi penting: Kristus mengambil tempat orang berdosa dan menanggung hukuman yang seharusnya diterima manusia. Karena itu, keselamatan sepenuhnya berakar pada karya Kristus.
Bukan manusia yang membayar jalan menuju Allah. Allah sendiri menyediakan jalan pendamaian melalui Anak-Nya.
7. Darah Kristus dan jaminan keselamatan
Wahyu 1:5 menyebut Kristus sebagai Dia "yang mengasihi kita" dan yang "telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya".
Urutannya indah: kasih Kristus menghasilkan tindakan penebusan.
Keselamatan tidak dimulai dari manusia yang mencari Allah. Keselamatan dimulai dari Allah yang bertindak bagi manusia.
Inilah salah satu penekanan kuat teologi Reformed: keselamatan adalah anugerah Allah dari awal sampai akhir.
Jaminan keselamatan, karena itu, tidak terutama terletak pada kekuatan iman kita. Iman kita memang harus nyata dan terus diarahkan kepada Kristus, tetapi dasar keselamatan adalah Kristus sendiri.
Iman yang lemah dapat memegang Kristus yang kuat.
Tangan orang percaya mungkin gemetar, tetapi objek iman itu tidak berubah.
8. Uraian teologis: darah Kristus sebagai pusat Injil
Jika kita merangkum pemikiran Calvin dan tradisi Reformed mengenai karya Kristus, terdapat beberapa hal yang tidak boleh dipisahkan.
Pertama, darah Kristus berkaitan dengan pendamaian. Dosa menyebabkan manusia berada dalam masalah serius di hadapan kekudusan dan keadilan Allah.
Kedua, darah Kristus berkaitan dengan pengampunan. Orang berdosa tidak lagi diperhitungkan berdasarkan kesalahannya karena karya Kristus.
Ketiga, darah Kristus berkaitan dengan pembenaran. Kebenaran Kristus menjadi dasar penerimaan orang percaya di hadapan Allah, bukan prestasi moralnya sendiri.
Keempat, darah Kristus berkaitan dengan penyucian. Ibrani 9:14 dan 1 Yohanes 1:7 menunjukkan bahwa karya Kristus berhubungan dengan pembersihan umat-Nya.
Kelima, darah Kristus menghasilkan ibadah. Ibrani 9:14 tidak berhenti pada "disucikan", tetapi mengatakan "supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup."
Jadi tujuan keselamatan bukan sekadar supaya manusia terhindar dari neraka. Tujuan keselamatan adalah supaya manusia yang telah diperdamaikan dengan Allah hidup bagi Allah.
Penutup: Masihkah Darah Itu Berkuasa?
Yesus masih menyelamatkan. Darah-Nya masih menyucikan.
Bukan karena Kristus terus-menerus disalibkan kembali, tetapi justru karena pengorbanan-Nya telah sempurna dan tidak perlu diulang.
Ibrani 9:12 berkata bahwa Kristus masuk "satu kali untuk selama-lamanya". Inilah dasar pengharapan kita.
Ketika hati nurani menuduh, pandanglah Kristus.
Ketika dosa masa lalu kembali menghantui, pandanglah Kristus.
Ketika kita jatuh dan merasa tidak layak datang kepada Allah, jangan mencari dasar penerimaan di dalam kebaikan diri sendiri. Datanglah kepada Kristus.
Tetapi ketika kita telah menerima pengampunan, jangan kembali mencintai dosa yang telah ditebus-Nya. Biarlah darah Kristus bukan hanya menjadi dasar penghiburan kita, tetapi juga menjadi alasan kita mengejar kekudusan.
Darah Yesus masih menyelamatkan karena karya-Nya sempurna. Darah Yesus masih menyucikan karena pengorbanan-Nya tetap menjadi dasar pengampunan umat-Nya. Dan darah Yesus akan selalu menjadi pusat Injil: bukan manusia yang menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa.
Karena itu, pengharapan kita bukan pada seberapa bersih kita dapat membuat diri sendiri, melainkan pada Dia yang "menyucikan kita dari segala dosa".
The blood of Jesus still saves. The blood of Jesus still cleanses. Dan dasar pengharapan itu tidak pernah berubah: Yesus Kristus yang telah mati, bangkit, dan hidup untuk selama-lamanya. Darah Kristus yang Tetap Berkuasa
.jpg)