Khotbah Pemuda: Dipanggil untuk Tujuan Ilahi (Yeremia 29:11)
Pendahuluan
Saudara-saudara pemuda yang dikasihi Tuhan,
Pernahkah kita bertanya, “Sebenarnya untuk apa saya hidup?” “Apa tujuan Tuhan dalam hidup saya?” “Saya harus kuliah di mana? Bekerja sebagai apa? Menikah dengan siapa? Apakah saya harus melayani Tuhan secara khusus?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat dekat dengan kehidupan pemuda. Kita hidup dalam zaman yang terus berkata, “Temukan passion-mu. Kejar mimpimu. Jadilah sukses. Bangun masa depanmu.”
Tetapi sebagai orang Kristen, pertanyaannya bukan pertama-tama, “Apa impianku bagi hidupku?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa tujuan Allah bagi hidupku?”
Hari ini kita belajar dari Yeremia 29:11:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Ayat ini sering menjadi ayat favorit ketika seseorang sedang memikirkan masa depan. Namun kita harus berhati-hati. Ayat ini bukan berarti setiap orang percaya pasti mendapatkan pekerjaan impian, pasangan ideal, kehidupan nyaman, atau keberhasilan seperti yang diharapkannya.
Konteksnya justru sangat berbeda.
Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel. Mereka kehilangan tanah, hidup jauh dari Yerusalem, dan mengalami keadaan yang tidak mereka inginkan. Namun di tengah keadaan itu, Allah menyatakan bahwa Ia tetap berdaulat dan tetap memiliki rancangan bagi umat-Nya.
Dari sini kita belajar satu kebenaran besar:
Tujuan hidup kita tidak ditentukan oleh keadaan kita, tetapi oleh Allah yang berdaulat atas hidup kita.
1. Allah Memiliki Tujuan, Bahkan Ketika Hidup Kita Tidak Sesuai Rencana
Perhatikan perkataan Tuhan: “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu.”
Yang mengetahui rancangan itu adalah Allah.
Ini penting. Kita sering gelisah karena kita tidak mengetahui masa depan. Kita ingin tahu lima tahun lagi kita akan menjadi apa. Kita ingin tahu apakah pilihan kita benar. Kita ingin tahu apakah cita-cita kita akan tercapai.
Tetapi iman Kristen tidak mengajarkan bahwa kita harus mengetahui seluruh masa depan.
Kita tidak tahu masa depan, tetapi Allah tahu.
Inilah salah satu penghiburan terbesar dalam teologi Reformed: Allah bukan hanya mengetahui segala sesuatu, tetapi Ia berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada satu pun bagian kehidupan kita yang berada di luar providensia-Nya.
Bahkan ketika Israel berada di Babel, pembuangan itu bukan berarti Allah kehilangan kendali.
Dalam Yeremia 29, umat Allah bahkan diperintahkan untuk membangun rumah, tinggal, bekerja, menikah, dan mencari kesejahteraan kota tempat mereka berada. Artinya, mereka tidak diminta hidup pasif sambil menunggu keadaan berubah.
Mereka dipanggil untuk setia kepada Allah di tempat di mana Allah menempatkan mereka.
Pemuda, mungkin hari ini hidupmu tidak sesuai dengan rencana yang kamu bayangkan.
Mungkin kuliahmu tidak sesuai harapan. Kariermu belum jelas. Keluargamu sedang mengalami pergumulan. Pelayananmu tidak berkembang seperti yang kamu harapkan. Bahkan mungkin kamu sedang bertanya, “Tuhan, sebenarnya Engkau sedang membawa aku ke mana?”
Ingatlah: ketidaktahuan kita tentang masa depan tidak berarti Allah tidak memiliki tujuan.
Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk dapat mempercayai Dia yang mengetahui seluruh jalan.
2. Tujuan Allah Tidak Selalu Berarti Kenyamanan
Tuhan berkata bahwa rancangan-Nya adalah “damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.”
Namun lihat konteksnya: Allah tidak langsung mengeluarkan Israel dari Babel.
Mereka masih harus tinggal di sana.
Bahkan dalam konteks ayat ini, masa pembuangan itu masih akan berlangsung. Jadi pengharapan yang Allah berikan bukanlah, “Besok semua masalahmu selesai.”
Pengharapan Alkitab jauh lebih dalam.
Allah sedang membentuk umat-Nya melalui sebuah proses yang tidak mudah.
Ini bertentangan dengan cara dunia memahami tujuan hidup. Dunia sering mengukur keberhasilan dari kenyamanan: semakin mudah hidup kita, semakin dianggap berhasil.
Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa Allah dapat memakai penderitaan, penantian, kegagalan, dan ketidakpastian untuk mengerjakan maksud-Nya.
Karena itu, jangan berkata, “Kalau hidupku sulit, berarti aku berada di luar rencana Tuhan.”
Tidak selalu demikian.
Yusuf mengalami sumur dan penjara sebelum melihat pemeliharaan Allah. Daud mengalami pelarian sebelum menjadi raja. Paulus mengalami penderitaan dalam pelayanan. Dan yang terutama, Tuhan Yesus sendiri menempuh jalan salib sebelum kebangkitan.
Jadi tujuan ilahi tidak selalu melewati jalan yang nyaman.
Kadang-kadang Allah membawa kita melalui lembah, bukan karena Ia meninggalkan kita, tetapi karena Ia sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada kenyamanan kita.
3. Kita Dipanggil untuk Setia, Bukan untuk Mengendalikan Masa Depan
Pemuda sering merasa harus segera menemukan “panggilan hidup”.
Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa panggilan kita yang terutama sudah jelas: kita dipanggil menjadi milik Kristus dan hidup bagi kemuliaan Allah.
Sebelum kita bertanya, “Saya akan menjadi apa?” kita perlu bertanya, “Saya milik siapa?”
Ini sangat penting.
Identitas kita bukan terutama mahasiswa, pekerja, pengusaha, musisi, guru, dokter, atau pelayan gereja.
Identitas terdalam kita adalah orang yang telah ditebus oleh Kristus.
Maka pekerjaan dan studi kita menjadi bagian dari panggilan untuk memuliakan Allah.
Kalau Tuhan memberi kesempatan menjadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang memuliakan Tuhan.
Kalau Tuhan memberi kesempatan bekerja, bekerjalah dengan integritas sebagai orang yang melayani Tuhan.
Kalau Tuhan memanggil seseorang secara khusus ke dalam pelayanan gerejawi, jalankanlah dengan rendah hati.
Kita tidak dipanggil untuk menjadi terkenal.
Kita dipanggil untuk setia.
Dunia berkata, “Buatlah namamu besar.”
Injil berkata, “Biarlah nama Kristus semakin besar.”
Dunia bertanya, “Berapa banyak orang yang melihatmu?”
Injil bertanya, “Apakah hidupmu memuliakan Tuhan?”
Inilah perubahan cara pandang yang harus terjadi dalam diri pemuda Kristen.
4. Pengharapan Kita Bukan Terletak pada Masa Depan Kita, tetapi pada Allah
Yeremia 29:11 berbicara tentang “hari depan yang penuh harapan”.
Tetapi pengharapan Kristen bukan sekadar bahwa masa depan kita akan menjadi lebih baik menurut standar dunia.
Pengharapan kita adalah bahwa Allah akan menyelesaikan pekerjaan-Nya bagi umat-Nya.
Dan pengharapan itu menemukan kepenuhannya di dalam Kristus.
Kita mungkin tidak tahu akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun lagi. Tetapi kita tahu siapa yang memegang hidup kita.
Kita mungkin tidak tahu apakah semua cita-cita kita akan tercapai. Tetapi kita tahu bahwa Kristus tidak pernah gagal menggenapi kehendak Bapa.
Kita mungkin mengalami kehilangan di dunia ini. Tetapi kita memiliki pengharapan kekal di dalam Kristus.
Karena itu, pusat kehidupan Kristen bukanlah “menemukan diriku”, tetapi menemukan bahwa seluruh hidupku berada di dalam Kristus.
Di dalam Kristus kita belajar bahwa tujuan terbesar hidup bukanlah kesuksesan pribadi, melainkan kemuliaan Allah.
Penutup
Saudara-saudara,
Mungkin ada di antara kita yang sedang bingung tentang masa depan.
Jangan takut.
Bukan karena kita mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi karena Allah mengetahui dan memegang apa yang akan terjadi.
Mungkin ada yang sedang berada dalam masa penantian.
Tetaplah setia.
Mungkin ada yang mengalami kegagalan.
Jangan mengukur kasih Allah berdasarkan keberhasilanmu.
Mungkin ada yang sedang bertanya, “Apa tujuan hidup saya?”
Mulailah bukan dengan bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari hidup?”
Tetapi bertanyalah:
“Bagaimana hidup saya dapat dipersembahkan bagi kemuliaan Allah?”
Kita tidak dipanggil untuk mengendalikan masa depan.
Kita dipanggil untuk mempercayai Allah.
Kita tidak dipanggil untuk mengetahui seluruh rencana-Nya.
Kita dipanggil untuk berjalan dalam ketaatan.
Kita tidak dipanggil untuk mengejar kebesaran nama kita.
Kita dipanggil untuk meninggikan nama Kristus.
Yeremia 29:11 bukan terutama janji bahwa hidup kita akan berjalan sesuai keinginan kita. Ayat ini menyatakan bahwa Allah tetap setia kepada umat-Nya bahkan ketika mereka berada dalam keadaan yang tidak mereka inginkan.
Maka, pemuda Kristen, jangan takut menghadapi masa depan.
Pergilah kuliah dengan iman.
Bekerjalah dengan iman.
Melayani dengan iman.
Bangun relasi dengan iman.
Ambillah keputusan dengan doa dan hikmat.
Sebab hidupmu bukan milikmu sendiri.
Engkau telah ditebus oleh Kristus.
Dan karena itu, tujuan hidupmu bukan sekadar menjadi orang yang berhasil menurut ukuran dunia.
Tujuan hidupmu adalah hidup bagi kemuliaan Allah, setia dalam panggilan yang Ia berikan, dan percaya kepada-Nya dalam setiap langkah.
Kita mungkin tidak mengetahui seluruh rancangan Allah.
Tetapi kita mengenal Allah yang memiliki rancangan itu.
Dan itu cukup.
Sebab masa depan kita aman bukan karena kita mampu mengendalikan masa depan, tetapi karena masa depan berada di tangan Allah yang berdaulat dan setia.
Kiranya sebagai generasi muda, kita tidak lagi hidup dengan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membangun hidup saya?”
Tetapi:
“Tuhan, bagaimana hidup yang Engkau berikan ini dapat dipakai untuk kemuliaan nama-Mu?”
Amin.
.jpg)