My faith is in Jesus: Imanku ada di dalam Yesus

My faith is in Jesus: Imanku ada di dalam Yesus

Pendahuluan

 My faith is in Jesus.”: Imanku ada di dalam Yesus.

Kalimat ini sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pengakuan iman yang sangat dalam. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak tempat untuk menggantungkan hidup - kekayaan, kemampuan, pendidikan, jabatan, relasi, pengalaman, bahkan kebaikan diri sendiri - orang Kristen dipanggil untuk mengatakan bahwa dasar pengharapannya bukan semua itu.

Imanku ada di dalam Yesus Kristus.

Dalam perspektif teologi Reformed, iman kepada Yesus tidak dapat dipisahkan dari anugerah Allah. Kita tidak diselamatkan karena iman kita memiliki kekuatan yang luar biasa. Kita diselamatkan karena iman itu bergantung kepada Kristus yang sempurna. Objek iman jauh lebih penting daripada kekuatan iman itu sendiri.

Iman yang kecil kepada Kristus yang besar memiliki dasar pengharapan yang jauh lebih kokoh daripada keyakinan besar kepada diri sendiri.

Iman Bukan Percaya kepada Diri Sendiri

Salah satu kecenderungan manusia adalah menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat.

Kita mudah berpikir bahwa masa depan bergantung pada kemampuan kita, keselamatan bergantung pada kebaikan kita, dan keberhasilan hidup bergantung pada seberapa kuat kita berusaha.

Namun Injil membawa kita kepada kesimpulan yang berbeda.

Manusia berdosa tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Dosa bukan sekadar kesalahan kecil yang dapat diperbaiki dengan sedikit usaha. Dosa memengaruhi hati, pikiran, kehendak, dan seluruh kehidupan manusia.

Karena itu, kebutuhan terbesar manusia bukan sekadar motivasi untuk menjadi lebih baik.

Kita membutuhkan Juruselamat.

Di sinilah iman diarahkan kepada Yesus.

Iman Kristen tidak berkata, “Saya percaya saya cukup kuat untuk melewati semuanya.”

Iman berkata, “Saya percaya Kristus cukup.”

Perbedaan ini sangat mendasar.

Ketika iman kita berpusat pada diri sendiri, kita akan terus bertanya apakah kita cukup baik, cukup kuat, cukup setia, dan cukup layak. Tetapi ketika iman kita berpusat kepada Kristus, kita melihat kepada apa yang telah Kristus kerjakan.

Kristus Adalah Objek Iman

Teologi Reformed memberikan perhatian besar kepada karya Kristus sebagai dasar keselamatan.

Yesus Kristus bukan sekadar teladan moral. Ia datang sebagai Juruselamat. Ia menjalani kehidupan yang sempurna, menaati kehendak Bapa, mati di kayu salib, dan bangkit dari antara orang mati.

Karena itu, ketika seseorang berkata, “Imanku ada di dalam Yesus,” pertanyaannya bukan hanya apakah ia percaya bahwa Yesus ada.

Pertanyaan yang lebih mendalam adalah:

Apa yang dipercayainya tentang Yesus?

Iman Kristen percaya kepada pribadi dan karya Kristus.

Kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Kita percaya bahwa Ia datang menjadi manusia. Kita percaya bahwa Ia mati untuk menanggung hukuman dosa dan bangkit sebagai pemenang atas maut. Kita percaya bahwa keselamatan ditemukan di dalam Dia.

Dengan demikian, iman bukan sekadar persetujuan intelektual terhadap beberapa fakta tentang Yesus.

Iman adalah bersandar kepada Kristus.

Seperti seseorang yang duduk di sebuah kursi karena percaya kursi itu mampu menopang tubuhnya, demikian iman mempercayakan keselamatan kepada Kristus, bukan kepada kemampuan manusia.

Sola Fide: Dibenarkan oleh Iman

Salah satu prinsip penting dalam tradisi Reformed adalah sola fide, “hanya oleh iman”.

Namun “hanya oleh iman” tidak berarti iman menjadi semacam prestasi manusia yang membuat Allah berutang keselamatan kepada kita.

Iman sendiri merupakan respons terhadap karya anugerah Allah.

Alkitab mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh anugerah melalui iman, bukan karena pekerjaan atau jasa manusia (Efesus 2:8-9).

Karena itu, iman bukan dasar untuk bermegah.

Jika seseorang diselamatkan karena prestasinya, ia dapat berkata, “Saya berhasil.”

Tetapi jika seseorang diselamatkan oleh anugerah melalui iman kepada Kristus, semua kemuliaan kembali kepada Allah.

Inilah salah satu keindahan Injil.

Allah tidak meminta manusia membawa prestasinya untuk memperoleh keselamatan. Allah menyediakan keselamatan di dalam Kristus.

Manusia datang dengan tangan kosong.

Kristus adalah kepenuhan yang dibutuhkan.

Iman Memandang kepada Salib

Ketika iman kita benar-benar berada di dalam Yesus, salib menjadi pusat pengharapan kita.

Salib menunjukkan betapa seriusnya dosa sekaligus betapa besar kasih karunia Allah.

Kita tidak boleh melihat salib hanya sebagai kisah tragis tentang seorang manusia baik yang mengalami kematian yang tidak adil.

Salib adalah bagian dari rencana penebusan Allah.

Kristus menyerahkan diri-Nya bagi umat-Nya. Ia menanggung hukuman yang seharusnya menjadi bagian manusia berdosa.

Dalam kerangka teologi Reformed, karya Kristus di salib sering dipahami sebagai penebusan pengganti: Kristus berdiri di tempat orang berdosa dan menanggung hukuman dosa.

Karena itu, orang percaya tidak perlu membangun keyakinan keselamatannya di atas perasaan dirinya sendiri.

Hari ini kita mungkin merasa kuat.

Besok kita mungkin merasa gagal.

Hari ini kita mungkin berdoa dengan penuh keyakinan.

Besok kita mungkin bergumul dengan keraguan.

Tetapi dasar keselamatan tidak berubah setiap kali perasaan kita berubah.

Kristus tetap Kristus.

Karya salib-Nya tetap sempurna.

Iman Memandang kepada Kebangkitan

Jika Yesus hanya mati, iman Kristen tidak memiliki pengharapan yang sempurna.

Tetapi Kristus bangkit.

Kebangkitan menyatakan kemenangan-Nya atas maut dan menjadi dasar pengharapan orang percaya.

Karena Kristus bangkit, iman kita bukan kepercayaan kepada seseorang yang masih berada di dalam kubur. Kita percaya kepada Tuhan yang hidup.

Kebangkitan juga memberikan perspektif baru terhadap penderitaan.

Orang percaya masih dapat mengalami kehilangan, penyakit, kegagalan, penganiayaan, dan kematian. Kekristenan tidak menjanjikan bahwa hidup di dunia akan bebas dari penderitaan.

Namun penderitaan bukan akhir cerita.

Kristus telah bangkit.

Karena itu, orang yang imannya ada di dalam Kristus memiliki pengharapan yang melampaui keadaan sekarang.

Iman yang Sejati Menghasilkan Kehidupan Baru

Penting untuk membedakan antara iman yang menyelamatkan dan sekadar pengakuan verbal.

Dalam teologi Reformed, pembenaran dan pengudusan tidak boleh dicampuradukkan, tetapi keduanya tidak boleh dipisahkan.

Kita dibenarkan bukan karena perbuatan baik.

Namun iman yang membenarkan tidak pernah menghasilkan kehidupan yang sama sekali tidak berubah.

Ketika seseorang benar-benar dipersatukan dengan Kristus, kehidupannya mulai diarahkan kepada Kristus.

Ia belajar membenci dosa.

Ia belajar mengasihi Firman Tuhan.

Ia belajar mengampuni.

Ia belajar menaati Kristus.

Ia belajar mengasihi sesama.

Bukan karena perbuatan tersebut menjadi harga keselamatannya, tetapi karena keselamatan menghasilkan buah dalam kehidupannya.

Dengan kata lain:

Kita tidak melakukan perbuatan baik supaya diselamatkan; kita melakukan perbuatan baik karena telah menerima anugerah keselamatan.

Inilah perbedaan antara Injil dan agama yang berpusat pada usaha manusia.

Ketika Iman Kita Lemah

Ada saatnya seorang percaya berkata, “Saya ingin percaya, tetapi iman saya terasa begitu lemah.”

Penghiburan Injil bukan mengatakan bahwa kita harus menghasilkan iman yang sempurna sebelum boleh datang kepada Kristus.

Justru orang yang lemah datang kepada Kristus karena ia membutuhkan pertolongan.

Kita dapat melihat prinsip ini dalam seruan seorang yang datang kepada Yesus dan mengakui pergumulannya: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:24).

Ini merupakan gambaran yang sangat manusiawi.

Iman dapat bergumul.

Iman dapat menangis.

Iman dapat menunggu.

Tetapi iman yang benar memiliki arah yang benar: kepada Kristus.

Karena itu, pengharapan kita tidak terletak pada seberapa sempurna kita percaya, melainkan pada kesempurnaan Kristus yang kita percaya.

Iman dan Kedaulatan Allah

Teologi Reformed juga mengingatkan bahwa keselamatan sepenuhnya berada dalam lingkup kedaulatan Allah.

Allah memanggil umat-Nya, memberikan kehidupan baru, dan bekerja melalui Roh Kudus sehingga manusia datang kepada Kristus dalam iman.

Hal ini tidak berarti manusia menjadi robot tanpa tanggung jawab.

Alkitab tetap memanggil manusia untuk bertobat dan percaya kepada Kristus.

Namun keselamatan pada akhirnya tidak dapat menjadi alasan bagi manusia untuk memegahkan dirinya.

Jika kita percaya kepada Kristus, kemuliaan tertinggi tetap kembali kepada Allah.

Sola gratia. Sola fide. Solus Christus.

Hanya oleh anugerah.

Hanya oleh iman.

Hanya Kristus.

Ketiga prinsip ini mengarahkan mata kita menjauh dari diri sendiri dan kembali kepada Allah.

Ketika Dunia Menawarkan Banyak Dasar Pengharapan

Setiap hari kita diperhadapkan dengan banyak hal yang ingin menjadi dasar rasa aman kita.

Uang dapat memberikan rasa aman, tetapi tidak dapat membeli keselamatan.

Prestasi dapat memberikan penghargaan, tetapi tidak dapat menghapus dosa.

Relasi dapat memberikan kebahagiaan, tetapi manusia tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan terdalam hati kita.

Kesehatan dapat memberikan kenyamanan, tetapi tubuh manusia tetap akan mengalami kelemahan.

Bahkan pelayanan gerejawi sekalipun tidak boleh menjadi dasar pembenaran kita di hadapan Allah.

Semua pemberian Allah adalah baik, tetapi tidak satu pun boleh menggantikan Kristus.

Karena itu, pertanyaan penting bagi kehidupan kita bukan hanya, “Apa yang saya miliki?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Di manakah iman saya diletakkan?”

Jika jawabannya adalah Kristus, kita memiliki dasar yang tidak bergantung pada perubahan dunia.

“My Faith Is in Jesus”

Mengatakan “My faith is in Jesus” berarti mengatakan:

Ketika saya gagal, saya kembali kepada Kristus.

Ketika saya berhasil, saya bersyukur kepada Kristus.

Ketika saya takut, saya berharap kepada Kristus.

Ketika saya tidak mengerti, saya mempercayai Kristus.

Ketika saya berdosa, saya datang dalam pertobatan kepada Kristus.

Ketika saya menderita, saya berpegang kepada Kristus.

Ketika saya menghadapi kematian, saya tetap berharap kepada Kristus.

Bukan karena saya selalu kuat.

Bukan karena saya selalu mengerti.

Bukan karena saya selalu setia.

Tetapi karena Kristus adalah dasar yang tidak berubah.

Iman yang sejati tidak membuat manusia berkata, “Lihat betapa kuatnya imanku.”

Iman yang sejati membuat manusia berkata:

“Lihatlah betapa besar Juruselamatku.”

Solus Christus

Pada akhirnya, iman Kristen harus membawa kita kepada satu nama: Yesus Kristus.

Ia bukan tambahan kecil dalam kehidupan kita.

Ia adalah pusatnya.

Ia bukan sekadar penolong ketika semua pilihan lain gagal.

Ia adalah Tuhan dan Juruselamat.

Karena itu, “My Faith Is in Jesus” bukan sekadar pernyataan emosional. Ini adalah pengakuan bahwa seluruh pengharapan keselamatan kita ditempatkan kepada pribadi dan karya Kristus.

Ketika iman kita berakar di dalam Kristus, kita tidak perlu hidup dalam kesombongan seolah-olah kita mampu mengendalikan segala sesuatu.

Kita juga tidak perlu hidup dalam keputusasaan seolah-olah semuanya bergantung pada kekuatan kita.

Kita dapat hidup dalam kerendahan hati dan keyakinan:

Allah telah menyediakan keselamatan di dalam Kristus.

Maka, ketika kita memandang kehidupan kita, jangan pertama-tama melihat betapa besar iman kita.

Pandanglah kepada Kristus.

Ketika kita melihat kelemahan kita, pandanglah kepada Kristus.

Ketika kita melihat dosa kita, datanglah kepada Kristus.

Ketika kita tidak mengetahui masa depan, percayakanlah masa depan kepada Kristus.

Dan ketika suatu hari perjalanan hidup kita berakhir, kiranya pengakuan kita tetap sama:

My faith is in Jesus.

Imanku bukan pada diriku.

Imanku bukan pada kekuatanku.

Imanku bukan pada prestasiku.

Imanku bukan pada dunia yang terus berubah.

Imanku ada di dalam Yesus Kristus.

Dan karena keselamatan adalah anugerah Allah yang berpusat pada Kristus, seluruh kemuliaan akhirnya hanya bagi Dia.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post