Renungan Pagi: Kekuatan Baru Setiap Hari (Yesaya 40:31)
.jpg)
Bacaan Alkitab: Yesaya 40:31
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Ketika Kekuatan Kita Habis
Setiap pagi adalah awal yang baru, tetapi tidak selalu terasa seperti itu.
Ada pagi ketika kita bangun dengan tubuh yang masih lelah. Ada hari ketika pikiran sudah dipenuhi berbagai persoalan sebelum kita memulai aktivitas. Ada pergumulan yang belum selesai, doa yang belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan, tanggung jawab yang terasa berat, serta masa depan yang belum dapat kita lihat dengan jelas.
Kita mungkin bertanya, “Bagaimana saya akan menjalani hari ini?”
Menariknya, Alkitab tidak memberikan penghiburan dengan mengatakan bahwa orang percaya tidak akan pernah merasa lemah. Sebaliknya, Alkitab mengakui kenyataan bahwa manusia dapat menjadi lesu dan lelah.
Yesaya 40 berbicara kepada umat yang sedang berada dalam situasi yang tidak mudah. Mereka membutuhkan penghiburan dan pengharapan. Di tengah keadaan tersebut, nabi mengarahkan perhatian mereka bukan kepada kekuatan mereka sendiri, melainkan kepada Tuhan.
Inilah inti dari Yesaya 40:31: orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak berkata bahwa mereka yang memiliki kemampuan paling besar akan memperoleh kekuatan baru. Bukan pula mereka yang tidak pernah mengalami kelemahan. Yang disebut adalah mereka yang menanti-nantikan Tuhan.
Ada sebuah pelajaran penting di sini: ketika kekuatan kita terbatas, kita tidak dipanggil untuk berpura-pura kuat. Kita dipanggil untuk berharap kepada Tuhan.
Menanti Bukan Berarti Pasif
Apa artinya menanti-nantikan Tuhan?
Menanti Tuhan bukan berarti duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Menanti Tuhan berarti menempatkan pengharapan kita kepada-Nya. Kita tetap bekerja, berdoa, menjalankan tanggung jawab, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan melakukan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Namun, kita tidak menjadikan kekuatan diri sendiri sebagai dasar pengharapan.
Ada perbedaan besar antara bekerja karena percaya kepada Tuhan dan bekerja karena merasa semuanya bergantung kepada diri sendiri.
Orang yang mengandalkan dirinya berkata, “Saya harus mampu menyelesaikan semuanya.”
Orang yang menanti Tuhan berkata, “Saya akan melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada saya, tetapi kekuatan dan pertolongan saya berasal dari Tuhan.”
Inilah sikap iman.
Menanti Tuhan berarti mengakui bahwa kita bukan Allah. Kita tidak mengetahui seluruh masa depan. Kita tidak mengendalikan semua keadaan. Kita tidak sanggup menyelesaikan semua masalah dengan kemampuan sendiri.
Namun, kita mengenal Dia yang berdaulat atas segala sesuatu.
Tuhan Tidak Pernah Kehabisan Kekuatan
Konteks Yesaya 40 sangat indah karena sebelum berbicara mengenai kekuatan baru bagi umat-Nya, nabi terlebih dahulu mengarahkan perhatian kepada kebesaran Allah.
Manusia dapat menjadi lelah. Manusia dapat menjadi lesu. Kemampuan manusia memiliki batas.
Tetapi Tuhan tidak demikian.
Allah tidak menjadi lelah. Pengetahuan-Nya tidak terbatas. Kuasa-Nya tidak berkurang. Ia tidak kehilangan kendali ketika keadaan hidup kita berubah.
Karena itu, dasar pengharapan kita bukanlah seberapa kuat kita menggenggam Tuhan, melainkan seberapa kuat Tuhan memegang kita.
Ini sangat penting dalam perspektif teologi Reformed.
Iman Kristen bukan terutama kisah tentang manusia yang berhasil menemukan kekuatan dari dalam dirinya. Keselamatan dan kehidupan Kristen pada dasarnya adalah karya anugerah Allah. Allah lebih dahulu bertindak, menopang, memanggil, menyelamatkan, dan memelihara umat-Nya.
Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang “kekuatan baru setiap hari”, kita tidak sedang mengajarkan bahwa orang percaya harus menghasilkan energi rohani dari dirinya sendiri.
Kita sedang belajar menerima bahwa Allah yang menjadi sumber kekuatan kita.
Menanti Tuhan Berarti Berhenti Mengandalkan Diri
Salah satu pergumulan terbesar manusia adalah keinginan untuk mengendalikan hidup.
Kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi. Kita ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kita ingin memiliki jawaban sebelum melangkah. Kita ingin menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri.
Tetapi Tuhan sering membawa kita ke tempat di mana kemampuan kita tidak lagi cukup.
Bukan karena Tuhan meninggalkan kita, melainkan karena melalui keterbatasan itu kita belajar bahwa Dia adalah Tuhan dan kita adalah manusia.
Kelemahan dapat menjadi tempat di mana kita belajar bergantung kepada anugerah.
Paulus sendiri mengalami pergumulan yang membuatnya menyadari bahwa kuasa Kristus justru dinyatakan dalam kelemahan. Karena itu, kehidupan iman bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kita kuat tanpa Tuhan.
Sebaliknya, kehidupan iman adalah perjalanan untuk semakin menyadari betapa kita membutuhkan Tuhan.
Pagi ini, mungkin Anda sedang menghadapi sesuatu yang tidak sanggup Anda kendalikan.
Jangan menjadikan ketidakmampuan itu sebagai alasan untuk putus asa.
Bawalah kepada Tuhan.
Katakan kepada-Nya bahwa Anda membutuhkan Dia.
Itulah bagian dari menanti Tuhan.
Kekuatan Baru Tidak Selalu Berarti Masalah Baru Hilang
Ada hal lain yang perlu kita pahami.
Ketika Yesaya mengatakan bahwa mereka yang menanti Tuhan mendapat kekuatan baru, ayat ini tidak boleh dipahami sebagai janji bahwa setiap persoalan akan langsung selesai.
Kadang-kadang Tuhan mengubah keadaan kita.
Tetapi kadang-kadang Tuhan memberikan kekuatan untuk tetap berjalan di tengah keadaan yang belum berubah.
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Kita sering berdoa, “Tuhan, ubahlah keadaan saya.”
Itu adalah doa yang wajar.
Namun, kita juga perlu belajar berdoa, “Tuhan, berikan saya kekuatan untuk tetap setia ketika keadaan belum berubah.”
Kekuatan baru dari Tuhan bukan selalu berarti kita tiba-tiba tidak memiliki masalah. Kekuatan baru dapat berarti kita memperoleh kasih karunia untuk menghadapi masalah dengan iman.
Kita masih harus bekerja.
Kita masih harus mengasihi orang yang sulit dikasihi.
Kita masih harus menjalankan tanggung jawab.
Kita masih harus menunggu jawaban doa.
Kita masih mungkin menangis.
Tetapi kita tidak berjalan sendirian.
Seperti Rajawali yang Naik Terbang
Yesaya menggambarkan orang yang menanti Tuhan seperti rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya.
Gambaran ini menunjuk kepada kemampuan yang diberikan Tuhan untuk terus melangkah melampaui keterbatasan yang ada.
Namun perhatikan urutan ayatnya: mereka dapat terbang, berlari, dan berjalan.
Kehidupan bersama Tuhan tidak selalu berupa pengalaman yang luar biasa.
Ada waktunya kita merasa seperti “terbang”.
Ada waktunya kita dapat “berlari”.
Tetapi ada juga masa ketika kita hanya sanggup berjalan.
Dan berjalan pun tetap merupakan bagian dari iman.
Kadang-kadang kita berharap Tuhan memberikan pengalaman rohani yang besar, padahal anugerah Tuhan hari itu mungkin hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: kekuatan untuk bangun dari tempat tidur, berdoa, bekerja dengan jujur, mengampuni seseorang, menolak godaan, membaca Firman, atau tetap percaya ketika hati belum mengerti.
Jangan meremehkan langkah kecil dalam kesetiaan.
Tuhan tidak hanya hadir dalam kemenangan besar. Ia juga menopang kita dalam perjalanan sehari-hari.
Kekuatan untuk Hari Ini
Perhatikan bahwa Tuhan memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk berjalan.
Kita sering ingin memiliki kekuatan untuk menghadapi seluruh masa depan sekaligus. Kita ingin mengetahui bagaimana hidup kita lima atau sepuluh tahun ke depan. Kita ingin memastikan semua akan baik-baik saja.
Tetapi Tuhan sering mengajar kita untuk hidup dalam ketergantungan hari demi hari.
Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”
Ada anugerah untuk hari ini.
Ada pertolongan untuk hari ini.
Ada kekuatan untuk hari ini.
Hari esok belum menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya. Ketika hari esok tiba, Tuhan tetap akan menjadi Tuhan.
Karena itu, jangan menghabiskan kekuatan hari ini untuk mencemaskan semua kemungkinan hari esok.
Serahkan masa depan kepada Tuhan.
Tugas kita adalah setia hari ini.
Menanti Tuhan Adalah Tindakan Iman
Menanti bukan berarti tidak percaya.
Justru sebaliknya, menanti adalah tindakan iman.
Kita menanti karena kita percaya bahwa Tuhan bekerja sekalipun kita belum melihat hasilnya.
Kita menanti karena kita percaya bahwa waktu Tuhan lebih baik daripada waktu kita.
Kita menanti karena kita percaya bahwa hikmat Tuhan lebih tinggi daripada pemahaman kita.
Kita menanti karena kita percaya bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali.
Di sinilah iman Reformed menolong kita melihat kehidupan secara berbeda. Allah bukan penonton yang jauh dari sejarah. Ia adalah Allah yang berdaulat. Tidak ada satu pun bagian hidup kita yang berada di luar pengetahuan dan pemerintahan-Nya.
Karena itu, menanti Tuhan bukanlah menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Kita menunggu Allah yang pasti.
Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan dilakukan-Nya, tetapi kita mengetahui siapa Dia.
Dan pengenalan akan Allah itulah yang memberikan pengharapan.
Datanglah kepada Tuhan Pagi Ini
Mungkin pagi ini Anda merasa kuat.
Tetaplah bergantung kepada Tuhan.
Mungkin pagi ini Anda merasa lemah.
Datanglah kepada Tuhan.
Mungkin Anda sedang menunggu jawaban doa.
Tetaplah menanti Tuhan.
Mungkin keadaan belum berubah.
Tetaplah berjalan dalam ketaatan.
Jangan mengukur kesetiaan Tuhan berdasarkan perasaan Anda hari ini. Jangan menyimpulkan bahwa Tuhan jauh hanya karena jawaban doa belum datang. Jangan mengira bahwa kelemahan Anda berarti Allah telah meninggalkan Anda.
Justru dalam kelemahan, kita semakin belajar bersandar kepada-Nya.
Kekuatan orang percaya bukan terletak pada kemampuan untuk selalu kuat.
Kekuatan orang percaya terletak pada Allah yang tidak pernah lemah.
Hari ini kita boleh bekerja, melayani, mengasihi, dan menghadapi tanggung jawab dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita.
Kita tidak tahu seluruh perjalanan hari ini.
Tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang perjalanan itu.
Maka, jangan berjalan dengan keyakinan, “Saya pasti sanggup.”
Berjalanlah dengan iman:
“Tuhan akan memberi saya kekuatan yang saya perlukan untuk hari ini.”
Dan ketika esok tiba, anugerah-Nya tetap tersedia.
Doa Pagi
Tuhan, Allah kami yang berdaulat,
pagi ini kami datang kepada-Mu dengan segala keterbatasan kami. Kami mengakui bahwa kami sering mengandalkan kekuatan sendiri dan berusaha mengendalikan hal-hal yang sebenarnya berada di dalam tangan-Mu.
Ampunilah kami ketika kekhawatiran membuat kami lupa bahwa Engkau adalah Tuhan yang tidak pernah lelah dan tidak pernah kehilangan kendali.
Ajarlah kami untuk menanti-nantikan Engkau. Ketika kami harus menunggu, berikan kami kesabaran. Ketika kami lemah, berikan kami kekuatan. Ketika kami tidak mengerti jalan-Mu, berikan kami iman untuk tetap percaya.
Tolong kami menjalani hari ini tanpa harus mengetahui seluruh hari esok. Ajarlah kami setia dalam perkara-perkara yang Engkau percayakan kepada kami.
Kami tidak meminta kekuatan untuk mengendalikan semuanya. Kami meminta kasih karunia untuk bergantung kepada-Mu.
Biarlah kami mengingat bahwa kekuatan kami terbatas, tetapi kuasa-Mu tidak terbatas. Kami dapat menjadi lelah, tetapi Engkau tidak pernah lelah. Kami dapat kehilangan arah, tetapi Engkau tidak pernah kehilangan kendali.
Karena itu, kami menyerahkan hari ini kepada-Mu.
Berikanlah kepada kami kekuatan baru untuk berjalan dalam iman, pengharapan, dan ketaatan.
Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa.
Amin.