Yesus Juruselamat Kita: Keselamatan Hanya di Dalam Kristus

 

Yesus Juruselamat Kita: Keselamatan Hanya di Dalam Kristus

Pendahuluan

Kabar terbesar dalam kekristenan bukanlah bahwa manusia dapat memperbaiki dirinya sendiri, menjadi lebih baik, atau memperoleh keselamatan melalui usaha agama. Kabar Injil adalah bahwa Allah sendiri menyediakan Juruselamat bagi manusia yang berdosa melalui Yesus Kristus.

Pengakuan “Yesus Juruselamat kita” bukan sekadar kalimat rohani. Pengakuan tersebut merupakan inti iman Kristen. Manusia berada dalam keadaan berdosa dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, keselamatan harus berasal dari anugerah Allah. Di dalam teologi Reformed, keselamatan dipahami sebagai karya Allah Tritunggal dari awal sampai akhir: Bapa menetapkan keselamatan, Anak menggenapinya melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, dan Roh Kudus menerapkannya kepada orang percaya.

Alkitab menyatakan dengan tegas:

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
— Kisah Para Rasul 4:12

Ayat ini menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat keselamatan. Ia bukan sekadar guru moral, teladan kehidupan, atau nabi. Ia adalah Juruselamat yang ditentukan dan diberikan Allah bagi umat-Nya.

1. Mengapa Manusia Membutuhkan Juruselamat?

Untuk memahami mengapa Yesus disebut Juruselamat, kita harus terlebih dahulu memahami persoalan manusia menurut Alkitab.

Kejadian 3 menggambarkan masuknya dosa ke dalam dunia. Dosa bukan sekadar kesalahan kecil atau kelemahan moral. Dosa merupakan pemberontakan manusia terhadap Allah. Akibatnya, hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak.

Paulus menegaskan:

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
— Roma 3:23

Teologi Reformed menyebut kondisi ini sebagai kerusakan total manusia (total depravity). Istilah ini tidak berarti bahwa setiap manusia selalu melakukan kejahatan maksimal, tetapi bahwa dosa telah memengaruhi seluruh keberadaan manusia—pikiran, kehendak, hati, dan tindakannya.

John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menjelaskan secara panjang mengenai kerusakan manusia akibat dosa. Menurut Calvin, manusia tidak boleh memandang dirinya sebagai makhluk yang secara alamiah mampu datang kepada Allah tanpa karya anugerah. Dosa telah membelenggu manusia sehingga keselamatan tidak mungkin dihasilkan oleh kemampuan manusia sendiri.

Dengan demikian, manusia bukan terutama membutuhkan motivator spiritual. Manusia membutuhkan Juruselamat.

2. Yesus Adalah Juruselamat yang Dijanjikan Allah

Kedatangan Yesus bukan peristiwa yang berdiri sendiri dalam sejarah. Kedatangan-Nya merupakan penggenapan janji keselamatan yang telah dinyatakan Allah sejak Perjanjian Lama.

Sejak Kejadian 3:15, kita menemukan janji tentang keturunan perempuan yang akan menghancurkan kuasa ular. Selanjutnya, janji tentang Mesias berkembang melalui sejarah Israel.

Yesaya 53 menggambarkan Hamba Tuhan yang menderita:

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita.”

Penggenapan nubuat tersebut mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus.

Nama “Yesus” sendiri mempunyai arti teologis yang sangat penting. Matius 1:21 berkata:

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Perhatikan bahwa tujuan kedatangan Yesus adalah menyelamatkan umat-Nya dari dosa.

Bukan sekadar menyelamatkan manusia dari masalah ekonomi, penderitaan, penyakit, atau kesulitan hidup, melainkan dari persoalan terdalam manusia: dosa dan hukuman akibat dosa.

3. Yesus Juruselamat karena Ia adalah Allah dan Manusia

Salah satu dasar penting dalam teologi Reformed adalah pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati.

Yohanes 1:1 berkata:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Kemudian Yohanes 1:14 menyatakan:

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”

Inkarnasi berarti Anak Allah mengambil natur manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Mengapa hal ini penting bagi keselamatan?

Karena Juruselamat harus benar-benar manusia agar dapat mewakili manusia. Tetapi Ia juga harus benar-benar Allah supaya karya keselamatan-Nya memiliki nilai dan kuasa yang sempurna.

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menekankan pentingnya inkarnasi bagi karya keselamatan. Kristus tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan. Ia masuk ke dalam sejarah manusia, mengambil natur manusia, hidup dalam ketaatan, menderita, mati, dan bangkit.

Dengan demikian, keselamatan Kristen berakar pada pribadi Kristus sendiri.

Juruselamat kita bukan sekadar seseorang yang membawa pesan keselamatan. Ia sendiri adalah pusat dan sumber keselamatan itu.

4. Yesus Menyelamatkan melalui Ketaatan-Nya

Karya keselamatan Kristus tidak dimulai hanya di kayu salib. Seluruh kehidupan Yesus merupakan kehidupan ketaatan kepada kehendak Bapa.

Adam pertama gagal menaati Allah. Kristus, sebagai Adam yang terakhir, datang untuk melakukan apa yang tidak dilakukan Adam.

Filipi 2:8 berkata:

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Ketaatan Kristus memiliki arti penting bagi doktrin pembenaran.

Dalam teologi Reformed, orang berdosa dibenarkan bukan karena memiliki kebenaran yang berasal dari dirinya sendiri, tetapi karena kebenaran Kristus diperhitungkan kepadanya melalui iman.

John Murray, dalam pembahasannya mengenai keselamatan, menekankan bahwa pembenaran berkaitan dengan tindakan deklaratif Allah yang menyatakan orang berdosa benar berdasarkan kebenaran Kristus.

Jadi, ketika orang percaya berdiri di hadapan Allah, dasar penerimaannya bukanlah:

“Saya sudah cukup baik.”

Melainkan:

“Kristus telah taat menggantikan saya.”

Inilah keindahan Injil.

5. Yesus Menanggung Hukuman Dosa di Kayu Salib

Puncak karya Kristus sebagai Juruselamat terlihat di Golgota.

Yesus tidak mati sebagai korban kecelakaan sejarah. Ia menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebusan.

Markus 10:45 berkata:

“Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Salib menunjukkan dua hal sekaligus: kekudusan Allah dan kasih karunia Allah.

Allah tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang tidak penting. Dosa harus dihakimi. Namun dalam kasih-Nya, Allah menyediakan pengganti bagi umat-Nya.

John Stott dalam The Cross of Christ memberikan perhatian besar terhadap makna salib sebagai pusat iman Kristen. Salib tidak boleh dipandang hanya sebagai simbol penderitaan. Salib merupakan pusat karya penebusan Kristus.

Dalam kerangka teologi Reformed, hal ini sering dibahas melalui konsep penebusan substitusioner: Kristus mati menggantikan orang berdosa dan menanggung hukuman yang seharusnya diterima oleh umat-Nya.

2 Korintus 5:21 menyatakan:

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”

Betapa dalamnya Injil: Kristus yang tidak berdosa mengambil tempat orang berdosa supaya orang berdosa yang percaya kepada-Nya menerima kebenaran Kristus.

6. Yesus Bangkit dan Mengalahkan Maut

Kalau Yesus hanya mati, berita Injil belum lengkap.

Kristus bangkit dari antara orang mati.

Paulus berkata:

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”
— 1 Korintus 15:20

Kebangkitan membuktikan bahwa kematian tidak dapat mengalahkan Kristus.

Kebangkitan juga menjadi dasar pengharapan orang percaya. Orang Kristen tidak hanya percaya kepada Juruselamat yang pernah mati, tetapi kepada Juruselamat yang hidup.

Anthony Hoekema dalam karya-karyanya mengenai keselamatan dan kehidupan akhir zaman menekankan bahwa kebangkitan Kristus memiliki konsekuensi besar bagi pengharapan orang percaya. Kebangkitan Kristus menjadi dasar bagi kebangkitan umat-Nya dan kemenangan akhir atas maut.

Karena Kristus hidup, orang percaya mempunyai pengharapan bahwa kematian bukanlah akhir.

7. Keselamatan adalah Anugerah, Bukan Prestasi Manusia

Salah satu penekanan utama teologi Reformed adalah sola gratia—keselamatan hanya berdasarkan anugerah.

Efesus 2:8–9 berkata:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Manusia tidak dapat membeli keselamatan.

Manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dengan amal.

Manusia tidak dapat membangun keselamatan melalui moralitas.

Keselamatan adalah pemberian Allah.

R.C. Sproul berulang kali menekankan bahwa anugerah berarti Allah memberikan sesuatu yang tidak layak diterima manusia. Keselamatan bukan upah atas kebaikan manusia, tetapi pemberian Allah berdasarkan karya Kristus.

Karena itu, orang percaya tidak memiliki alasan untuk membanggakan diri.

Jika seseorang diselamatkan, kemuliaan akhirnya kembali kepada Allah.

8. Iman kepada Kristus adalah Sarana Menerima Keselamatan

Walaupun keselamatan adalah anugerah, Alkitab tetap memanggil manusia untuk percaya kepada Kristus.

Yohanes 3:16 berkata:

“Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Iman bukan jasa yang membuat Allah berutang kepada manusia. Iman adalah tangan kosong yang menerima Kristus dan karya-Nya.

Dalam teologi Reformed, iman yang menyelamatkan mencakup pengetahuan, persetujuan, dan kepercayaan kepada Kristus. Bukan sekadar mengetahui bahwa Yesus ada, tetapi bersandar kepada-Nya sebagai satu-satunya Juruselamat.

John Calvin menggambarkan iman sebagai sarana yang mempersatukan orang percaya dengan Kristus. Semua berkat keselamatan diterima karena hubungan dengan Kristus.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan sekadar:

“Apakah saya tahu tentang Yesus?”

Melainkan:

“Apakah saya sungguh-sungguh percaya dan bersandar kepada Kristus?”

9. Yesus Menyelamatkan Kita untuk Hidup Kudus

Keselamatan tidak berhenti pada pengampunan dosa.

Orang yang telah dipersatukan dengan Kristus dipanggil untuk hidup dalam kekudusan.

Efesus 2:10 berkata:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.”

Urutannya sangat penting.

Kita tidak melakukan pekerjaan baik supaya diselamatkan.

Kita melakukan pekerjaan baik karena telah diselamatkan.

Teologi Reformed membedakan dengan jelas antara dasar keselamatan dan buah keselamatan. Dasar pembenaran adalah Kristus dan karya-Nya. Tetapi buah keselamatan terlihat melalui pertobatan, iman, kasih, ketaatan, dan kehidupan yang semakin dikuduskan.

Sinclair Ferguson sering menekankan hubungan antara persatuan dengan Kristus dan kehidupan baru orang percaya. Kekristenan bukan sekadar memperoleh status baru, tetapi mengalami kehidupan yang dibentuk oleh hubungan dengan Kristus.

10. Yesus adalah Juruselamat yang Harus Menjadi Pusat Hidup

Jika Yesus benar-benar Juruselamat kita, maka Ia tidak boleh hanya menjadi bagian kecil dari kehidupan.

Kristus harus menjadi pusat kehidupan.

Dalam pekerjaan, kita hidup untuk Kristus.

Dalam keluarga, kita hidup untuk Kristus.

Dalam pelayanan, kita hidup untuk Kristus.

Dalam penderitaan, kita tetap berharap kepada Kristus.

Dalam keberhasilan, kita tidak mengambil kemuliaan bagi diri sendiri.

Dalam kelemahan, kita datang kepada Kristus.

Paulus berkata:

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
— Filipi 1:21

Ini bukan berarti orang percaya tidak memiliki pekerjaan, keluarga, cita-cita, atau tanggung jawab. Justru semuanya ditempatkan di bawah pemerintahan Kristus.

Kristus bukan tambahan bagi kehidupan.

Kristus adalah pusat kehidupan.

11. Penghiburan bagi Orang Percaya

Pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat memberikan penghiburan yang sangat besar.

Ketika kita gagal, kita dapat kembali kepada Kristus.

Ketika kita berdosa, kita dapat datang dalam pertobatan.

Ketika kita takut, kita dapat mengingat bahwa Kristus berdaulat.

Ketika kita menderita, kita dapat mengingat bahwa Juruselamat kita sendiri telah menderita.

Ketika menghadapi kematian, kita memiliki pengharapan kebangkitan.

Roma 8:1 berkata:

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”

Perhatikan kata-kata Paulus: “di dalam Kristus.”

Jaminan keselamatan tidak didasarkan pada kekuatan iman kita semata, melainkan pada objek iman kita—Yesus Kristus.

Iman kita dapat lemah, tetapi Kristus tetap kuat.

Perasaan kita dapat berubah, tetapi janji Allah tetap.

Kondisi hidup dapat berguncang, tetapi Kristus tidak berubah.

Kesimpulan

Yesus Kristus adalah Juruselamat kita.

Ia adalah Juruselamat yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, dinyatakan dalam Perjanjian Baru, menjadi manusia melalui inkarnasi, hidup dalam ketaatan sempurna, mati di kayu salib sebagai penebus dosa, bangkit dari kematian, dan sekarang memerintah sebagai Tuhan.

Keselamatan bukan hasil kemampuan manusia. Keselamatan adalah anugerah Allah yang dikerjakan melalui Kristus dan diterima melalui iman.

Teologi Reformed mengarahkan kita kembali kepada pusat Injil: solus Christus—Kristus saja.

Bukan Kristus ditambah kemampuan manusia.

Bukan Kristus ditambah jasa manusia.

Bukan Kristus ditambah prestasi agama.

Melainkan Kristus saja.

Karena itu, ketika kita memandang kehidupan kita yang penuh kelemahan, jangan pertama-tama memandang kepada kekuatan diri sendiri. Pandanglah kepada Kristus.

Ketika hati menuduh, pandanglah kepada salib.

Ketika masa depan menakutkan, pandanglah kepada Kristus yang bangkit.

Ketika dosa terasa berat, datanglah kepada Juruselamat.

Dan ketika kita menerima berkat keselamatan, kembalikan seluruh kemuliaan kepada Allah.

Yesus bukan hanya seseorang yang memberi jalan menuju keselamatan. Ia sendiri adalah Juruselamat dan pusat keselamatan itu.

Kiranya hidup kita semakin mengenal Kristus, semakin mengasihi Kristus, semakin percaya kepada Kristus, dan semakin memuliakan Kristus.

Soli Deo Gloria.

Previous Post