FIRMAN YANG MEMBINASAKAN? (MATIUS 13:13-15)

Pdt.Budi Asali, M.Div.
Matius 13: 13-15: “(13) Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.”.
FIRMAN YANG MEMBINASAKAN? (MATIUS 13:13-15)
gadget, bisnis, otomotif
Markus 4:11-12 - “(11) JawabNya: ‘Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, (12) supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.’”.

Lukas 8:10 - “Lalu Ia menjawab: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti”.

1. ‘Karena’ (Matius 13:13) atau ‘supaya’ (Markus 4:12 Lukas 8:10)?

Apakah Yesus berbicara dalam perumpamaan supaya mereka mendengar tetapi tidak mengerti, atau Yesus berbicara dalam perumpamaan karena mereka mendengar tetapi tidak menanggapi firman?

Sebelum menjawab atau membahas pertanyaan itu, mari kita membaca beberapa ayat dalam Alkitab.

Ul 29:2-4 - “(2) Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul, lalu berkata kepada mereka: ‘Sudah kamu lihat segala yang dilakukan TUHAN di tanah Mesir di depan matamu terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan terhadap seluruh negerinya: (3) cobaan-cobaan yang besar yang telah dilihat oleh matamu sendiri, tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang besar itu. (4) Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar.”.

Yer 5:21 - “‘Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol dan yang tidak mempunyai pikiran, yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar!”.

Yehezkiel 12:2 - “‘Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak.”.

Zakh 7:11-12 - “(11) Tetapi mereka tidak mau menghiraukan, dilintangkannya bahunya untuk melawan dan ditulikannya telinganya supaya jangan mendengar. (12) Mereka membuat hati mereka keras seperti batu amril, supaya jangan mendengar pengajaran dan firman yang disampaikan TUHAN semesta alam melalui rohNya dengan perantaraan para nabi yang dahulu. Oleh sebab itu datang murka yang hebat dari pada TUHAN.”.

Yohanes 12:37-40 - “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?’ (39) Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: (40) ‘Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.’”.

Ro 11:8 - “seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’”.

Sekarang mari kita membahas pertanyaan tadi.

a. Orang Arminian pasti memilih ‘karena’.

Jadi, Yesus memberikan pelajaran yang kabur itu sebagai hukuman karena orang-orang itu telah lebih dulu menolakNya. Allah tidak menentukan bahwa mereka akan menjadi buta, tuli dan sebagainya.

Adam Clarke: “‘Therefore speak I to them in parables.’ On this account, namely to lead them into a proper knowledge of God. I speak to them in parables, natural representations of spiritual truths, that they may be allured to inquire, and to find out the spirit, which is hidden under the letter; because, seeing the miracles which I have performed they see not, i.e. the end for which I have done them; and hearing my doctrines, they hear not, so as to profit by what is spoken; neither do they understand, ‎OUDE ‎‎SUNIOUSIN‎, they do not lay their hearts to it. Is not this obviously our Lord’s meaning? Who can suppose that he would employ his time in speaking enigmatically to them, on purpose that they might not understand what was spoken? Could the God of truth and sincerity act thus? If he had designed to act otherwise, he might have saved his time and labour, and not spoken at all, which would have answered the same end, namely to leave them in gross ignorance.” [= ‘Karena itu Aku berbicara kepada mereka dalam perumpamaan-perumpamaan’. Karena ini, yaitu untuk membimbing mereka ke dalam pengertian yang tepat tentang Allah. Aku berbicara kepada mereka dalam perumpamaan-perumpamaan, wakil-wakil alamiah dari kebenaran-kebenaran rohani, supaya mereka bisa dipikat untuk bertanya / menyelidiki, dan menemukan arti sebenarnya, yang tersembunyi di bawah huruf-huruf; karena, melihat mujizat-mujizat yang Aku lakukan mereka tidak melihatnya, yaitu tujuan untuk mana Aku telah melakukannya; dan mendengar ajaran-ajaranKu, mereka tidak mendengarnya, sehingga mendapatkan manfaat dari apa yang diucapkan; juga mereka tidak mengertinya, OUDE SUNIOUSIN, mereka tidak mencurahkan hati mereka baginya. Tidakkah ini secara jelas merupakan arti / maksud dari Tuhan kita? Siapa bisa menganggap bahwa Ia menggunakan waktuNya dengan berbicara secara membingungkan kepada mereka, dengan tujuan supaya mereka tidak mengerti apa yang diucapkan? Bisakah Allah dari kebenaran dan ketulusan bertindak seperti itu? Seandainya Ia merancang untuk bertindak yang lain / berbeda, Ia bisa menghemat waktu dan jerih payahNya, dan tidak berbicara sama sekali, yang akan memenuhi tujuan yang sama, yaitu membiarkan mereka dalam ketidak-tahuan yang besar.].

Catatan: saya rasa ia mau sok lebih bijaksana dari Allah. Apa yang ia usulkan, yaitu Yesus tidak berbicara sama sekali, akan mempunyai hasil yang berbeda. Karena kalau Yesus tidak bicara sama sekali, mereka tidak bisa diminta bertanggung-jawab untuk firman yang tidak mereka dengar. Tetapi dengan Yesus bicara seperti ini, mereka tetap bertanggung-jawab pada waktu memberikan tanggapan yang tidak benar.

Dan bagaimana kata-kata Adam Clarke ini bisa sesuai dengan ayat paralelnya dalam Markus dan Lukas, yang saya berikan di bawah ini?

Mark 4:11-12 - “(11) JawabNya: ‘Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, (12) supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.’”.

Luk 8:10 - “Lalu Ia menjawab: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti”.

Tafsiran selanjutnya dari Adam Clarke.

Adam Clarke: “‘By hearing ye shall hear.’ Jesus Christ shall be sent to you, his miracles ye shall fully see, and his doctrines ye shall distinctly hear; but God will not force you to receive the salvation which is offered.” [= ‘Kamu akan mendengar dan mendengar’. Yesus Kristus akan diutus kepadamu, mujizat-mujizatNya akan kamu lihat dengan penuh, dan ajaran-ajaranNya akan kamu dengar dengan jelas; tetapi Allah tidak akan memaksamu untuk menerima keselamatan yang ditawarkan.].

Catatan:

(1) Lalu mengapa sebagian menerima dan percaya Injil dan sebagian yang lain menolak? Karena yang pertama lebih baik dari yang kedua?

(2) Juga ini sama sekali tidak benar karena ada banyak orang yang sampai mati tidak pernah mendengar Injil ataupun melihat mujizat-mujizatNya.

Bdk. Mat 11:20-24 - “(20) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya: (21) ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. (24) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.’”.

Lalu Clarke melanjutkan lagi.

Adam Clarke: “The fault is here totally in the people, and not at all in that God whose name is Mercy and whose nature is love.” [= Kesalahan di sini secara total / sepenuhnya ada pada bangsa itu, dan sama sekali tidak pada Allah yang sebutanNya adalah Belas kasihan dan yang sifat dasarNya adalah kasih.].

Catatan: Adam Clarke hanya menulis tafsiran tentang Mat 13:13, yang menggunakan kata ‘karena’, tetapi tentang Mark 4:12 dan Luk 8:10 yang menggunakan kata ‘supaya’, ia tidak memberi komentar apapun. Ini merupakan suatu cara mengajar yang tidak fair / jujur!

Lenski: “When unbelief has progressed far enough, all its hearing and all its seeing will not only produce nothing but it is also God’s will (the voluntas consequens, not by any means the voluntas antecedens) that it shall be so. In other words, God casts off such people and in his judgment lets the very Word become for them a savor of death unto death.” [= Pada waktu ketidak-percayaan telah maju / berkembang cukup jauh, semua pendengaran dan penglihatan bukan hanya tidak akan menghasilkan apa-apa, tetapi juga adalah kehendak Allah (kehendak sebagai akibat, sama sekali bukan kehendak yang mendahului) bahwa itu akan demikian. Dengan kata lain, Allah membuang bangsa / umat seperti itu dan dalam penghakimanNya membiarkan setiap Firman menjadi bagi mereka bau kematian yang mematikan.].

Bdk. 2Kor 2:15-16 - “(15) Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. (16) Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?”.

Tanggapan saya: untuk kata-kata yang ada dalam tanda kurung itu, maka artinya adalah bahwa kehendak Allah tergantung pada apa yang manusia lakukan. Ini konyol sepenuhnya!

b. Para Calvinist dan Calvin sendiri mempercayai ‘supaya’, tanpa membuang ‘karena’. Jadi, keduanya diambil / diterima.

Memang Calvinisme mengajarkan bahwa sekalipun Allah berdaulat dan menentukan segala sesuatu tetapi manusia tetap bertanggung jawab.

Karena itu tidak perlu merasa aneh kalau ada Calvinist yang membahas tentang tanggung jawab manusia dalam kasus ini. Contoh: C. H. Spurgeon.

C. H. Spurgeon: “The usual reasons for the use of parable would be to make truth clear, to arrest attention, and to impress teaching upon the memory. But in this instance our Lord was, by his parabolic speech, fulfilling the judicial sentence which had been long before pronounced upon the apostate nation among whom he received such unworthy treatment. They were doomed to have the light and to remain willfully in the dark. To his own disciples our Lord would explain the parable, but not to the outside unbelieving throng. If any one among the multitude became sincerely anxious to know the Lord’s meaning, he would become his disciple, and then he would be taught ‘the mysteries of the kingdom of heaven’; but those who rejected the Messiah would, while listening to parables, hear and not hear, see and not perceive.” [= Alasan biasanya untuk penggunaan perumpamaan adalah untuk membuat kebenaran itu jelas, untuk menarik perhatian, dan untuk menanamkan kesan pada ingatan. Tetapi dalam contoh ini Tuhan kita, dengan ucapanNya yang bersifat perumpamaan, sedang menggenapi hukuman pengadilan yang telah lama sebelumnya diumumkan terhadap bangsa murtad di antara siapa Ia menerima suatu perlakuan yang begitu tidak layak. Mereka dihukum untuk mendapatkan terang dan tetap dengan sengaja tinggal dalam kegelapan. Kepada murid-muridNya sendiri Tuhan kita akan menjelaskan perumpamaan itu, tetapi tidak kepada gerombolan orang yang tidak percaya di luar. Jika ada siapapun di antara orang banyak itu menjadi ingin untuk mengetahui arti / maksud Tuhan kita, ia akan menjadi muridNya, dan lalu ia akan diajar ‘misteri-misteri dari kerajaan surga’; tetapi mereka yang menolak sang Mesias, sementara mendengar pada perumpamaan-perumpamaan, akan mendengar dan tidak mendengar, melihat tetapi tidak mengerti.] - ‘Commentary on Matthew’, hal 163-164 (AGES).

C. H. Spurgeon: “That wonderful sixth chapter of Isaiah is constantly being quoted in the New Testament. How clearly it sets forth the doom of guilty Israel! Those who refuse to see are punished by becoming unable to see. The penalty of sin is to be left in sin. The Jews of our Lord’s day would trifle with what they heard, and so they were left to hear without understanding.” [= Yesaya pasal enam yang indah itu terus menerus dikutip dalam Perjanjian Baru. Betapa dengan jelas itu menyatakan hukuman dari Israel yang bersalah! Mereka yang menolak untuk melihat, dihukum dengan menjadi tidak bisa melihat. Hukuman dari dosa adalah dibiarkan dalam dosa. Orang-orang Yahudi dari jaman Tuhan kita menyia-nyiakan apa yang mereka dengar, dan karena itu mereka dibiarkan untuk mendengar tanpa pengertian.] - ‘Commentary on Matthew’, hal 165 (AGES).

Tetapi C. H. Spurgeon juga menekankan kedaulatan Allah.

C. H. Spurgeon: “To hear the outward word is a common privilege: ‘To know the mysteries’ is a gift of sovereign grace. Our Lord speaks the truth with much boldness: ‘It is given unto you’, ‘but to them it is not given.’ Solemn words. Humbling truths. Salvation, and the knowledge by which it comes, are given as the Lord wills. There is such a thing as distinguishing grace after all; let the moderns revile the doctrine as they may.” [= Untuk mendengar firman lahiriah adalah suatu hak yang bersifat umum: ‘Untuk mengetahui misteri-misteri’ merupakan suatu karunia dari kasih karunia yang berdaulat. Tuhan kita mengatakan kebenaran dengan keberanian yang besar. ‘Itu diberikan kepadamu’, ‘tetapi kepada mereka itu tidak diberikan’. Kata-kata yang serius / khidmat. Kebenaran-kebenaran yang merendahkan hati. Keselamatan, dan pengetahuan dengan mana keselamatan itu datang, diberikan sebagaimana Tuhan menghendakinya. Bagaimanapun juga, DI SANA ADA KASIH KARUNIA YANG MEMBEDAKAN; biarlah orang-orang modern / modernist mencerca doktrin ini sesuka mereka.] - ‘Commentary on Matthew’, hal 164 (AGES).

Catatan: kutipan ini sudah pernah saya berikan dalam pelajaran yang lalu.

Calvin menekankan baik kedaulatan Allah yang ia anggap sebagai penyebab terakhir / tertinggi dari kebutaan mereka, dan kebejatan manusia yang ia anggap sebagai penyebab terdekat dari kebutaan mereka.

Calvin: “‘For this reason I speak by parables.’ He says that he speaks to the multitude in an obscure manner, because they are not partakers of the true light. And yet, while he declares that a veil is spread over the blind, that they may remain in their darkness, he does not ascribe the blame of this to themselves, but takes occasion to commend more highly the grace bestowed on the Apostles, because it is not equally communicated to all. He assigns no cause for it, except the secret purpose of God; for which, as we shall afterwards see more fully, there is a good reason, though it has been concealed from us. It is not the only design of a parable to state, in an obscure manner, what God is not pleased to reveal clearly; but we have said that the parable now under our consideration was delivered by Christ, in order that the form of an allegory might present a doubtful riddle.” [= ‘Karena itu Aku berbicara dengan perumpamaan-perumpamaan’. Ia berkata bahwa Ia berbicara kepada orang banyak dengan cara yang kabur, karena mereka bukan pengambil-pengambil bagian dari terang yang sejati. Tetapi sementara Ia menyatakan bahwa suatu kerudung ditebarkan di atas orang buta, supaya mereka bisa tetap ada dalam kegelapan, Ia tidak menganggap kesalahan dari hal ini berasal dari diri mereka sendiri, tetapi menggunakan kesempatan untuk memuji dengan lebih tinggi kasih karunia yang diberikan kepada rasul-rasul, karena itu tidak secara sama rata diberikan kepada semua orang. Ia tidak memberikan penyebab apapun untuk itu, kecuali rencana rahasia dari Allah; untuk mana, seperti yang akan kita lihat belakangan dengan lebih penuh, ada alasan yang baik, sekalipun itu telah disembunyikan dari kita. Itu bukan satu-satunya rancangan dari suatu perumpamaan untuk menyatakan, dengan suatu cara yang kabur, apa yang Allah tidak berkenan untuk menyatakan dengan jelas; tetapi kami mengatakan bahwa perumpamaan yang sekarang kami pertimbangkan diberikan oleh Kristus, supaya bentuk dari suatu alegori bisa memberikan teka teki yang meragukan.].

Calvin: “‘And in them is fulfilled the prophecy of Isaiah.’ He confirms his statement by a prediction of Isaiah, that it is far from being a new thing, if many persons derive no advantage from the word of God, which was formerly appointed to the ancient people, for the purpose of inducing greater blindness. This passage of the Prophet is quoted, in a variety of ways, in the New Testament. Paul quotes it (Acts 28:26) to charge the Jews with obstinate malice, and says that they were blinded by the light of the Gospel, because they were bitter and rebellious against God. There he points out the immediate cause which appeared in the men themselves. But in the Epistle to the Romans (11:7) he draws the distinction from a deeper and more hidden source; for he tells us, that ‘the remnant was saved according to the election of grace,’ and that ‘the rest were blinded, according as it is written.’ The contrast must there be observed; for if it is the election of God, and an undeserved election, which alone saves any remnant of the people, it follows that all others perish by a hidden, though just, judgment of God. Who are the rest, whom Paul contrasts with the elect remnant, but those on whom God has not bestowed a special salvation?” [= ‘Dan dalam diri mereka digenapi nubuat dari Yesaya’. Ia meneguhkan pernyataanNya oleh suatu ramalan dari Yesaya, bahwa itu bukanlah suatu hal yang baru, jika banyak orang tidak mendapat / memperoleh keuntungan dari firman Allah, yang dahulu ditetapkan bagi bangsa kuno, DENGAN TUJUAN menyebabkan kebutaan yang lebih besar. Text dari sang Nabi dikutip, dengan bermacam-macam cara, dalam Perjanjian Baru. Paulus mengutipnya (Kis 28:26) untuk menuduh orang-orang Yahudi dengan kejahatan yang tegar tengkuk, dan mengatakan bahwa mereka dibutakan oleh terang Injil, karena mereka pahit dan bersifat memberontak terhadap Allah. Di sana ia menunjukkan penyebab langsung yang terlihat dalam diri orang-orang itu sendiri. Tetapi dalam surat kepada orang-orang Roma (11:7) ia menarik / mendapat perbedaan dari suatu sumber yang lebih dalam dan lebih tersembunyi; karena ia memberi tahu kita, bahwa ‘sisa itu diselamatkan sesuai dengan pemilihan dari kasih karunia’, dan bahwa ‘sisanya dibutakan, sesuai dengan yang tertulis’. Kontras itu harus diperhatikan di sana; karena jika pemilihan Allah, dan suatu pemilihan yang tidak layak untuk didapatkan, adalah satu-satunya yang menyelamatkan sisa apapun dari bangsa itu, akibatnya adalah bahwa semua yang lain binasa oleh suatu penghakiman yang tersembunyi, sekalipun adil, dari Allah. Siapa sisanya itu, yang Paulus kontraskan dengan sisa pilihan, kecuali mereka kepada siapa Allah tidak memberikan keselamatan yang khusus?].

Kisah Para Rasul 28:25-27 - “(25) Maka bubarlah pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara mereka. Tetapi Paulus masih mengatakan perkataan yang satu ini: ‘Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi Yesaya: (26) Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (27) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.”.

Roma 11:5-8 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia. (7) Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’”.

Catatan: kata-kata yang saya beri garis bawah ganda, dalam KJV adalah: ‘and the rest were blinded’ [= dan sisanya dibutakan], dan dalam RSV adalah ‘but the rest were hardened’ [= tetapi sisanya dikeraskan / ditegarkan]. NIV/NASB mirip dengan RSV. Dalam bahasa Yunani memang itu bentuk pasif!

Calvin: “Similar reasoning may be applied to the passage in John, (12:38;) for he says that ‘many believed not,’ because no man believes, except he to whom God ‘reveals his arm,’ and immediately adds, that ‘they could not believe, because it is again written, Blind the heart of this people.’ Such, too is the object which Christ has in view, when he ascribes it to the secret purpose of God, that the truth of the Gospel is not revealed indiscriminately to all, but is exhibited at a distance under obscure forms, so as to have no other effect than to overspread the minds of the people with grosser darkness. In all cases, I admit, those whom God blinds will be found to deserve this condemnation; but as the immediate cause is not always obvious in the persons of men, let it be held as a fixed principle, that God enlightens to salvation, and that by a peculiar gift, those whom He has freely chosen; and that all the reprobate are deprived of the light of life, whether God withholds his word from them, or keeps their eyes and ears closed, that they do not hear or see.” [= Pemikiran yang serupa bisa diterapkan kepada text dalam Yohanes, (12:38); karena ia berkata bahwa ‘banyak yang tidak percaya’, karena tak ada orang yang percaya, kecuali ia kepada siapa Allah ‘menyatakan lengan / tanganNya’, dan segera menambahkan, bahwa ‘mereka tidak bisa percaya, karena ada tertulis lagi, Butakanlah hati dari bangsa ini’. Hal seperti itu juga merupakan obyek kemana Kristus menujukan pandanganNya, pada waktu Ia menganggapnya berasal dari rencana rahasia Allah, bahwa kebenaran dari Injil tidaklah dinyatakan secara tanpa pandang bulu kepada semua orang, tetapi ditunjukkan dari jauh di bawah bentuk-bentuk yang kabur, sehingga tidak mempunyai hasil lain dari pada menyebari pikiran-pikiran dari orang-orang / bangsa itu dengan kegelapan yang lebih besar. Dalam semua kasus, saya mengakui, bahwa mereka yang dibutakan oleh Allah akan didapati layak mendapatkan penghukuman ini; tetapi karena penyebab langsung tidak selalu jelas dalam diri orang-orang, hendaklah ini dipegang / dipercaya sebagai suatu prinsip yang tetap, bahwa Allah menerangi pada keselamatan, dan itu oleh suatu karunia khusus, mereka yang telah Ia pilih dengan cuma-cuma; dan bahwa semua reprobate / orang-orang yang ditentukan untuk binasa dicabut / dihilangkan terang kehidupannya, apakah dengan cara Allah menahan firmanNya dari mereka, atau menjaga supaya mata mereka dan telinga mereka tertutup, supaya mereka tidak mendengar atau melihat.].

Yohanes 12:37-40 - “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?’ (39) Karena itu mereka TIDAK DAPAT percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: (40) ‘Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.’”.

Calvin: “‘Hearing you shall hear.’ We now perceive the manner in which Christ applies the prediction of the prophet to the present occasion. He does not quote the prophet’s words, nor was it necessary; for Christ reckoned it enough to show, that it was no new or uncommon occurrence, if many were hardened by the word of God. The words of the prophet were, ‘Go, blind their minds, and harden their hearts,’ (Isaiah 6:10.) ... All who have been ‘given over to a reprobate mind’ (Romans 1:28) do voluntarily, and from inward malice, blind and harden themselves. Nor can it be otherwise, wherever the Spirit of God does not reign, by whom the elect alone are governed. Let us, therefore, attend to this connection, that all whom God does not enlighten with the Spirit of adoption are men of unsound mind; and that, while they are more and more blinded by the word of God, the blame rests wholly on themselves, because this blindness is voluntary.” [= ‘Mendengar kamu akan mendengar’ / ‘kamu akan mendengar dan mendengar’. Kita sekarang mengerti cara dengan mana Kristus menerapkan ramalan dari sang nabi dalam peristiwa ini. Ia tidak mengutip kata-kata sang nabi, juga itu tidak perlu; karena Kristus menganggapnya cukup untuk menunjukkan, bahwa itu bukan kejadian yang baru atau tidak biasa, jika banyak orang dikeraskan oleh firman Allah. Kata-kata dari sang nabi adalah ‘Pergilah, butakan pikiran mereka, dan keraskan hati mereka’ (Yes 6:10). ... Semua yang telah ‘diberikan kepada pikiran reprobate / terkutuk’ (Ro 1:28) memang dengan sukarela, dan dari kejahatan di dalam, membutakan dan mengeraskan diri mereka sendiri. Memang tidak bisa terjadi hal yang lain, dimanapun Roh Allah tidak memerintah, oleh siapa orang-orang pilihan saja yang dikuasai / dikendalikan. Karena itu, hendaklah kita memperhatikan hubungan ini, bahwa semua orang yang tidak Allah terangi dengan Roh adopsi adalah orang-orang dari pikiran yang tidak sehat; dan bahwa, sementara mereka makin lama makin dibutakan oleh firman Allah, kesalahan terletak sepenuhnya pada diri mereka sendiri, karena kebutaan ini adalah sukarela.].

Roma 1:28 - “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”.

Yesaya 6:10 - “Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.’”.

Sekarang mari kita melihat beberapa tafsiran tentang Yesaya 6:10 ini.

Calvin (tentang Yes 6:10): “It is undoubtedly a harsh saying, that God sends a prophet to ‘close the ears, stop up the eyes, and harden the heart of the people;’ because it appears as if these things were inconsistent with the nature of God, and therefore contradicted his word. But we ought not to think it strange if God punishes the wickedness of men by blinding them in the highest degree. Yet the Prophet shows, a little before, that the blame of this blindness lies with the people; for when he bids them hear, he bears witness that the doctrine is fitted for instructing the people, if they choose to submit to it; that light is given to guide them, if they will but open their eyes. The whole blame of the evil is laid on the people for rejecting the amazing kindness of God;” [= Tak diragukan bahwa itu merupakan kata-kata yang keras, bahwa Allah mengutus seorang nabi untuk ‘menyumbat telinga, menutup mata, dan mengeraskan hati dari bangsa itu’; karena kelihatannya hal-hal ini tidak konsisten dengan sifat dasar Allah, dan karena itu bertentangan dengan firmanNya. Tetapi kita tidak boleh berpikir bahwa merupakan sesuatu yang aneh jika Allah menghukum kejahatan orang-orang dengan membutakan mereka dalam tingkat yang tertinggi. Tetapi sang Nabi menunjukkan, sedikit sebelumnya, bahwa kesalahan dari kebutaan ini terletak dalam bangsa itu; karena pada waktu ia meminta mereka untuk mendengar, ia memberi kesaksian bahwa ajaran itu cocok untuk memberi instruksi bangsa itu, jika mereka memilih untuk tunduk kepadanya; bahwa terang diberikan untuk membimbing mereka, jika saja mereka mau membuka mata mereka. Seluruh kesalahan dari kejahatan diletakkan pada bangsa itu karena menolak kebaikan yang mengherankan dari Allah;].

Calvin (tentang Yes 6:10): “Such blinding and hardening influence does not arise out of the nature of the word, but is accidental, and must be ascribed exclusively to the depravity of man.” [= Pengaruh yang membutakan dan mengeraskan seperti itu tidak muncul dari sifat dasar dari firman, tetapi merupakan sesuatu yang bukan hakiki, dan harus semata-mata dianggap berasal dari kebejatan manusia.].

Calvin (tentang Yes 6:10): “True, this prediction was not the cause of their unbelief, but the Lord foretold it, because he foresaw that they would be such as they are here described. The Evangelist applies to the Gospel what had already taken place under the law, and at the same time shows that the Jews were deprived of reason and understanding, because they were rebels against God. Yet if you inquire into THE FIRST CAUSE, we must come to the predestination of God. But as that purpose is hidden from us, we must not too eagerly search into it; for the everlasting scheme of the divine purpose is beyond our reach, but we ought to consider the cause which lies plainly before our eyes, namely, the rebellion by which they rendered themselves unworthy of blessings so numerous and so great.” [= Memang benar, ramalan ini bukanlah penyebab dari ketidak-percayaan mereka, tetapi Tuhan memberitahukan lebih dulu hal itu, karena Ia melihat lebih dulu bahwa mereka akan menjadi seperti yang digambarkan di sini. Sang Penginjil menerapkan kepada Injil apa yang telah terjadi di bawah hukum Taurat, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi dicabut / dihilangkan akal dan pengertiannya, karena mereka memberontak terhadap Allah. Tetapi jika kamu menanyakan PENYEBAB PERTAMA, kita harus datang pada predestinasi Allah. Tetapi karena rencana itu tersembunyi dari kita, kita tidak boleh terlalu berkeinginan untuk menyelidikinya; karena maksud / pola kekal dari rencana ilahi ada diluar jangkauan kita, tetapi kita harus mempertimbangkan penyebab yang terletak dengan jelas di depan mata kita, yaitu, pemberontakan dengan mana mereka membuat diri mereka sendiri tidak layak untuk berkat-berkat yang begitu banyak dan begitu besar.].

John Calvin: “Observe that he directs his voice to them but in order that they may become even more deaf; he kindles a light but that they may be made even more blind; he sets forth doctrine but that they may grow even more stupid; he employs a remedy but so that they may not be healed.” [= Perhatikan bahwa Ia menujukan suaraNya kepada mereka tetapi supaya mereka menjadi makin tuli; Ia menyalakan cahaya tetapi supaya mereka menjadi makin buta; Ia menyatakan doktrin / ajaran tetapi supaya mereka menjadi makin bodoh; Ia menggunakan obat tetapi supaya mereka tidak disembuhkan.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIV, no 13.

E. J. Young (tentang Yesaya 6:10): “It is to Isaiah himself that the Lord now utters His command. He is charged to work in such a manner that his labors will bring about a hardening of heart and sensibility upon the part of the nation, so that there will be no possibility of its being saved. ... In all this activity and proclamation of Isaiah there is an end to be achieved. It is a negative end; the people must not turn from their sins to God, for if they turn they will be healed. Strange indeed are the ways of the great God. He commands that all men hear His word and walk in His paths. At the same time He sends forth a messenger to prevent this result from occurring. He opposes the Word of God with the Word of God. How can this be explained? Surely God’s great command that all men should hear and obey His word has not been abrogated! Those who do not hear that word will be held guilty of disobedience. At the same time, if God would abide true to His promises, it was necessary that some do not hear that word. The nation had so sinned and hardened its heart that it contained within it the seeds of its own destruction.” [= Adalah kepada Yesaya sendiri sekarang Tuhan mengucapkan perintahNya. Ia diperintahkan untuk bekerja dengan cara sedemikian rupa sehingga jerih payahnya akan menghasilkan suatu pengerasan hati dan perasaan pada sebagian dari bangsa itu, sehingga di sana tidak akan ada kemungkinan untuk diselamatkan. ... Dalam semua aktivitas dan proklamasi dari Yesaya ini ada suatu tujuan untuk dicapai. Itu merupakan suatu tujuan yang negatif; bangsa itu tidak boleh berbalik dari dosa-dosa mereka kepada Allah, karena jika mereka berbalik mereka akan disembuhkan. Memang aneh cara-cara / jalan-jalan dari Allah yang besar. Ia memerintahkan bahwa semua orang mendengar firmanNya dan berjalan dalam jalanNya. Pada saat yang sama Ia mengirim seorang utusan untuk mencegah supaya hasil ini tidak terjadi. Ia menentang Firman Allah dengan Firman Allah. Bagaimana ini bisa dijelaskan? Pastilah perintah yang besar dari Allah bahwa semua orang harus mendengar dan mentaati firmanNya tidak dicabut / dibatalkan! Mereka yang tidak mendengar firman itu akan dianggap bersalah dan tidak taat. Pada saat yang sama, jika Allah mau tetap benar terhadap janji-janjiNya, adalah perlu bahwa sebagian orang tidak mendengar firman itu. Bangsa itu telah begitu berdosa dan mengeraskan hatinya sehingga bangsa itu mempunyai dalam diri mereka benih-benih dari kebinasaan / kehancurannya sendiri.].

E. J. Young (tentang Yesaya 6:10): “Another problem confronts us. What is the relationship of these verses to the Scriptural doctrine of reprobation? Some would apparently think, that there is no relation and would take the imperatives as futures. On this interpretation we are simply to understand that the people will refuse to hearken and so will lose their spiritual receptivity and will not repent. Isaiah, on this construction, will simply preach to rebellious people who will harden themselves in their hardheartedness. But this interpretation does not do justice to all the facts of the case. It is apparent that the result of Isaiah’s preaching is foreseen by God. Isaiah is commanded to preach in such a manner that a particular result will be the consequence. Now, if God foresees that such a particular result will be the consequence, it is clear that that particular result is certain and that it has already been determined by God. From this conclusion there is no escape. In His mysterious wisdom God had foreordained that this people would not respond to the blessed overtures of the gospel. In His sovereign good pleasure He had passed them by, not ordaining them unto life eternal, and for their sin had ordained them to dishonor and wrath.” [= Problem yang lain kita hadapi. Apa hubungan dari ayat-ayat ini dengan doktrin Alkitabiah dari reprobation / penentuan binasa? Sebagian menganggap bahwa di sana tidak ada hubungan dan akan mengartikan kata-kata perintah sebagai kata-kata bentuk yang akan datang. Pada penafsiran ini kita hanya mengerti bahwa bangsa itu akan menolak untuk mendengar dan dengan demikian akan kehilangan daya penerimaan rohani mereka dan tidak akan bertobat. Yesaya, dalam tafsiran ini, hanya akan berkhotbah kepada bangsa yang bersifat pemberontak yang akan mengeraskan diri mereka sendiri dalam kekerasan hati. Tetapi penafsiran ini tidak melakukan keadilan terhadap semua fakta-fakta dari kasus itu. Adalah jelas bahwa hasil dari khotbah Yesaya dilihat lebih dulu oleh Allah. Yesaya diperintahkan untuk berkhotbah dengan cara sedemikian rupa sehingga suatu hasil yang khusus akan menjadi konsekwensinya. Sekarang, jika Allah melihat lebih dulu bahwa hasil khusus seperti itu akan menjadi konsekwensinya, adalah jelas bahwa hasil khusus itu adalah pasti dan bahwa itu telah ditentukan oleh Allah. Dari kesimpulan ini tak ada jalan untuk lolos. Dalam hikmatNya yang misterius Allah telah menentukan / mempredestinasikan lebih dulu bahwa bangsa ini tidak akan menanggapi pada tawaran yang diberkati dari injil. Dalam perkenan baikNya yang berdaulat Ia telah melewati mereka, tidak menentukan mereka pada hidup yang kekal, dan untuk dosa mereka telah menentukan mereka pada ketidak-hormatan dan kemurkaan.].

BACA JUGA: MAKNA FIRMAN ITU ADALAH ALLAH (YOHANES 1:1)

E. J. Young (tentang Yesaya 6:9-10): “We must then note the theological implication of the passage. The blindness of the nation is to be ascribed to its own depravity. When the prophet commands the people to hear, he commands them to do something which would bring salvation, and at the same time testifies to the fact that the message which he proclaims is designed for and is suitable for the instruction of the hearer. In preaching, Isaiah is offering hearing, sight and understanding to a deaf, blind and ignorant people. These blessings come with the message as its fruits, when the Spirit of God applies that message to the heart. It is therefore not the content of the message itself which is a savor of death unto death. ‘Such blinding,’ says Calvin, ‘and hardening influence does not arise out of the nature of the word, but is accidental, and must be ascribed to the depravity of man.’ The ungodly, Calvin goes on to say, have no right to object to the preaching of the Truth as though the proclamation of that Truth in itself brought evil effects. The evil effects come not from the Word, but from the heart of man, which stands in desperate need of regeneration. ‘The whole blame,’ Calvin continues, ‘lies on themselves in altogether refusing it admission; and we need not wonder if that which ought to have led them to salvation becomes the cause of their destruction.’ ‘Yet if you inquire into the first cause, we must come to the predestination of God.’” [= Lalu kita harus memperhatikan pengertian theologia dari text ini. Kebutaan dari bangsa itu harus dianggap berasal dari kebejatannya sendiri. Pada waktu sang nabi memerintahkan bangsa itu untuk mendengar, ia memerintahkan mereka untuk melakukan sesuatu yang akan membawa keselamatan, dan pada saat yang sama menyaksikan fakta bahwa berita yang ia beritakan dirancang untuk dan cocok untuk memberi instruksi para pendengar. Dalam berkhotbah, Yesaya menawarkan pendengaran, penglihatan dan pengertian kepada bangsa yang tuli, buta dan bodoh. Berkat-berkat ini datang dengan / bersama berita itu sebagai buah-buahnya, pada waktu Roh Allah menerapkan berita itu pada hati. Jadi, bukan isi dari berita itu sendiri yang merupakan bau kematian pada kematian. ‘Pembutaan seperti itu’, kata Calvin, ‘dan pengaruh pengerasan tidak muncul dari sifat dasar dari firman, tetapi merupakan sesuatu yang tidak hakiki, dan harus dianggap berasal dari kebejatan manusia’. Orang-orang jahat, Calvin melanjutkan kata-katanya, tidak punya hak untuk keberatan pada pemberitaan Kebenaran, seakan-akan proklamasi dari Kebenaran itu, dalam dirinya sendiri, membawa hasil-hasil yang jahat. Hasil-hasil yang jahat itu tidak datang dari Firman, tetapi dari hati manusia, yang berada dalam kebutuhan yang sangat menyedihkan untuk kelahiran baru. ‘Seluruh kesalahan’, Calvin melanjutkan, terletak pada diri mereka sendiri yang menolak sama sekali untuk memberi firman itu ijin masuk; dan kita tidak perlu heran jika itu yang seharusnya membimbing mereka pada keselamatan menjadi penyebab dari kehancuran mereka’. ‘Tetapi jika kamu menanyakan penyebab pertamanya, kita harus datang pada predestinasi Allah’.].

E. J. Young (tentang Yesaya 6:9-10): “Jennings seeks to explain the situation by means of the following illustration. He speaks of carrying a lantern into a dark barn at night. At once all the unclean creatures of darkness, the rats and the mice to whom darkness is congenial, will flee from the light and will scatter to the darkness, but creatures of the light, such as the birds, will fly to the light. ‘The lantern comes into the darkness for judgment, and exposes the true state of all - what they really are, and what must be their natural place according to that nature.’ This illustration is, however, woefully inadequate. The gospel does far more than bring to the light the fact that some men love darkness and others the light. It would be more in keeping with Scripture and hence more accurate to say that all men love the darkness; all men, in the language of the above illustration, are creatures of the darkness, and when light appears, rather than fly to it they seek deeper darkness. Some of these creatures of darkness, however, are transformed by the gospel so that they love the light. A new heart is given to them, a heart that is the gift of the Spirit of God. That which makes a distinction among men is grace, sovereign grace, and sovereign grace alone. According to the teaching of the Old Testament - we need not even turn to the New - salvation is of the Lord. Calvin therefore is right when he says that the ‘first cause’ of the condition of the nation is the predestination of God. At the same time we must make a distinction between the proximate and the ultimate cause of the hardened condition of the heart. The proximate cause of the nation’s callousness was to be found in its sinful heart. The ultimate cause, however, was the reprobating decree of God. The elect are not saved because they are creatures of light; they too were creatures of darkness and in them there was no goodness, nothing that would attract the light. God, however, out of His mere good pleasure did choose them and ordain them to life eternal, and when the blessed gospel was heard by them, they were given a heart that was then willing and able to hear and to respond. Those, however, whom God did not ordain to life eternal, He passed by and for their sin ordained to dishonor and wrath.” [= Jennings berusaha untuk menjelaskan situasi itu dengan ilustrasi sebagai berikut. Ia berbicara tentang membawa sebuah lentera ke dalam lumbung yang gelap pada malam hari. Segera semua makhluk-makhluk kegelapan yang najis / kotor, tikus-tikus bagi siapa kegelapan itu sesuatu yang menyenangkan, akan lari dari terang dan akan tersebar pada kegelapan, tetapi makhluk-makhluk dari terang, seperti burung-burung, akan terbang kepada terang. ‘Lentera itu datang ke dalam kegelapan untuk penghakiman, dan membukakan keadaan sebenarnya dari semua - apa mereka sesungguhnya, dan apa seharusnya tempat alamiah mereka sesuai dengan sifat dasar itu’. Tetapi ilustrasi ini tidak cukup secara menyedihkan. Injil melakukan lebih dari pada menyatakan fakta bahwa sebagian orang mencintai kegelapan dan orang-orang lain mencintai terang. Akan lebih cocok dengan Kitab Suci, dan karena itu lebih tepat untuk mengatakan bahwa semua orang mencintai kegelapan; semua orang, dalam bahasa dari ilustrasi di atas, adalah makhluk-makhluk kegelapan, dan pada waktu terang muncul / terlihat, dari pada terbang kepadanya mereka mencari kegelapan yang lebih dalam. Tetapi sebagian dari makhluk-makhluk kegelapan ini diubahkan oleh injil sehingga mereka mencintai terang. Suatu hati yang baru diberikan kepada mereka, suatu hati yang merupakan karunia dari Roh Allah. Apa yang membuat perbedaan di antara manusia adalah kasih karunia, kasih karunia yang berdaulat, dan hanya kasih karunia. Sesuai dengan pengajaran Perjanjian Lama - kita bahkan tidak perlu untuk melihat pada Perjanjian Baru - keselamatan adalah dari Tuhan. Karena itu Calvin adalah benar pada waktu ia mengatakan bahwa ‘penyebab pertama’ dari kondisi dari bangsa itu adalah predestinasi Allah. Pada saat yang sama kita harus membuat suatu perbedaan antara penyebab yang terdekat dan yang terakhir dari kondisi hati yang dikeraskan. Penyebab terdekat dari sifat tidak berperasaan bangsa itu harus ditemukan dalam hatinya yang berdosa. Tetapi penyebab terakhir adalah ketetapan yang menentukan binasa dari Allah. ORANG-ORANG PILIHAN BUKAN DISELAMATKAN KARENA MEREKA ADALAH MAKHLUK-MAKHLUK TERANG; MEREKA JUGA ADALAH MAKHLUK-MAKHLUK KEGELAPAN DAN DALAM MEREKA TIDAK ADA KEBAIKAN, TAK ADA APAPUN YANG AKAN MENARIK TERANG. Tetapi Allah, dari semata-mata perkenanNya yang baik memang memilih mereka dan menentukan mereka pada hidup yang kekal, dan pada waktu injil yang diberkati didengar oleh mereka, mereka diberi suatu hati yang pada waktu itu mau dan mampu mendengar dan menanggapi. Tetapi mereka yang Allah tidak tentukan untuk hidup yang kekal, Ia lewati dan untuk dosa mereka Ia tentukan pada ketidak-hormatan dan kemurkaan.].FIRMAN YANG MEMBINASAKAN? (MATIUS 13:13-15)

Next Post Previous Post