Penggenapan Kehendak Allah
Pdt. DR. Stephen Tong.
BAB XIII : Penggenapan Kehendak Allah
“Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." (Ibrani 10:7)
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.” (Lukas 22:42-43)
“Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.” (Kisah Para Rasul 13:36)
Terjemahan lain: “Daud pada zamannya, menjalankan kehendak Allah sampai selesai. Lalu tidurlah ia dipinggir nenek moyangnya.”
“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36)
--------------------------------------------------------------------------------------
Seorang yang sudah tua berkata kepada saya: “Apakah saudara pikir sedemikian mudah untuk mengerti dan menggenapkan kehendak Allah, sehingga dengan mengkhotbahkannya selama tiga bulan dianggap sudah selesai?” Saya menjawabnya: “Memang tidak mudah, tetapi kita perlu mengerti dahulu prinsip-prinsip Alkitab tentang kehendak Allah.” Ia mengatakan: “Bagi saya, seumur hidup saya menuntut, mencari dan mau mengetahui kehendak Allah, tetapi sedemikian sulitnya.”
Memang tidak mudah untuk mengetahui kehendak Tuhan. Jika kehendak Tuhan tidak dinyatakan kepada kita dan kita tidak mempunyai kerelaan untuk taat, maka Roh Kudus tidak akan menyatakan kehendak Allah ke dalam hati kita masing-masing. Tetapi Roh Kudus akan memimpin kita melalui Kitab Suci yang sudah Tuhan wahyukan kepada kita. Kini kita akan melihat contoh bagaimana Kristus menjalankan kehendak Allah.
(1) Seumur Hidup Berjalan dalam Kehendak Allah
Ibrani 10:7 mengatakan ketika Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, Ia menegaskan bahwa korban bakaran dan korban penebusan dosa tidak diperkenan. Itu berarti bahwa seluruh korban itu tidak ada artinya lagi, karena seluruh Taurat hanyalah merupakan tambahan dan bukan rencana Allah yang kekal. Hanya karena manusia sudah berbuat dosa, maka perlu diberikan suatu pernyataan dan melalui pemberian Taurat manusia baru sadar kalau ia berada di dalam dosa.
Dengan pemberian Taurat, manusia tahu bahwa ia sudah melanggar dan tidak mungkin melakukan keadilan, kebajikan, serta kesucian Allah. Ketiga aspek ini merupakan tujuan utama Tuhan memberikan Taurat. Beribu-ribu tahun manusia telah menyembelih binatang, mengalirkan darah mereka dan datang kepada Tuhan untuk memperkenan Tuhan, untuk meminta pengampunan dari-Nya.
Sebenarnya ini bukan manfaat yang sejati. Tetapi, ada sesuatu yang sudah disediakan oelh Allah dari kekal sampai kekal, yaitu Yesus Kristus turun ke dalam dunia, berdaging dan berdarah, supaya tubuh-Nya bisa dipaku di atas kayu salib. Korban bakaran dan korban penebusan dosa yang asli bukanlah lembu, atau domba, atau burung, atau binatang-binatang yang mengalirkan darah, karena sesungguhnya darah binatang tidak mempunyai kuasa apa pun untuk mengampuni dosa manusia.
Tetapi darah Yesus Kristus adalah satu-satunya cara di mana Tuhan mau mengampuni dosa. Itu sebabnya, ketika Yesus datang ke dalam dunia, Ia berkata, “Ya Allah. Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu; Ya Allah. Segala sesuatu tentang Aku sudah tertulis di dalam gulungan kitab-Mu.” Ini berarti seluruh Perjanjian Lama sudah menunjukkan suatu pengharapan akan rencana penebusan Allah untuk dunia ini di dalam Yesus Kristus. Itu sebabnya, Yesus berkata bahwa Ia datang untuk menggenapkan kehendak Allah.
Yesus datang dengan satu tujuan: menjalankan kehendak Allah! Ini merupakan suatu contoh, suatu keutuhan arti hidup bagi setiap orang yang hidup di dalam Kristus. Jikalau kita mengatakan: “Kita di dalam Kristus,” tetapi kita tidak meneladani Tuhan kita, itu adalah omong kosong! Jikalau kita mengatakan bahwa kita milik Kristus, tetapi kita tidak menjalankan apa yang dijalankan oleh Yesus, itu bohong! Gereja dan setiap orang Kristen, hendaklah kita bangun. Kita mau melihat teladan yang paling sempurna, teladan manusia sejati, di mana di dalam Dia Allah berkenan. Allah berkata: “Lihatlah Hamba-Ku yang Ku-pilih, yang Ku-perkenan.” Di dalam Dia terdapat perjalanan kehendak Allah.
Di sini kita melihat Tuhan Yesus telah mengambil keputusan bahwa seumur hidup berjalan di dalam kehendak Allah. Alangkah indahnya jika suatu hidup berada di dalam tangan Tuhan, bahkan berada di dalam rencana Tuhan. Bukan saja mnengetahui rencana Tuhan, tetapi melakukan segala sesuatu sesuai dengan rencana Tuhan. Hidup seperti itu tidak akan sia-sia dan lenyap. Dunia akan lenyap serta segala nafsu yang ada di dalamnya. Tetapi mereka yang menjalankan kehendak Allah, akan selama-lamanya berada di dalam kemuliaan Tuhan.
(2) Memprioritaskan Kehendak Allah
Ketika Tuhan Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, Ia memberikan suatu hal yang sedemikian penting, yaitu memprioritaskan kehendak Allah! “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu” adalah doa tentang Tuhan, kesucian nama-Nya dan Kerajaan-Nya, yang merupakan penyembahan akan Tuhan dan status Tuhan. Kemudian Tuhan Yesus langsung melanjutkan dengan: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Ini merupakan keinginan Tuhan, suatu hasrat yang begitu diutamakan oleh Kristus. Kehendak Allah tidak mendapat rintangan di sorga, kehendak Allah tidak mendapatkan hambatan di sorga. Semua malaikat harus menjalankan kehendak Allah, dan mereka pasti mau menjalankan kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah ketika berada di dalam dunia, telah dirintangi oleh manusia, oleh saudara dan saya, orang-orang berdosa yang selalu mengeraskan hati, yang mengutamakan apa yang tidak seharusnya diutamakan.
Kita menghambat, menolak, memperlambat, bahkan menghentikan pimpinan Tuhan. Jika setiap orang Kristen tidak menghambat pekerjaan Roh Kudus, jika setiap orang percaya tidak merintangi kehendak Tuhan, maka akan lebih banyak orang melihat kemuliaanm Tuhan di dunia ini. Tetapi kehendak Tuhan justru dihambat di dunia ini, Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Bukan hanya Kristus menjalankan kehendak Allah. Kristus juga mengajar murid-murid-Nya agar kita mempunyai keinginan supaya kehendak Allah terlaksana.
(3) Tidak Menjalankan Kehendak Sendiri
Tuhan Yesus di dalam seluruh tutur kata, tingkah laku dan perbuatan, sama sekali tidak mau melakukan kehendak-Nya sendiri.
Terkadang kita bertemu dengan seseorang, kita ingin mengatakan sesuatu karena kita jengkel sekali dengan dia. Tetapi, tahan dulu! Seorang Pendeta mengatakan: “Jika mau marah, cepat minum air, tetapi jangan di telan. Pada waktu mau marah ingat ada air di mulut. Lalu telan sedikit air itu. Setiap kali mau marah, telan sedikit lagi, sehingga masih tersisa di mulut. Maka setelah telan tiga kali, tidak jadi marah. Terkadang kita berbicara terlalu cepat sehingga merusak hubungan, merusak kehendak Allah.”
Perkataan-perkataan itu perlu ditahan! Jika Saudara dapat menahan perkataan-perkataan Saudara dua menit saja, maka hidup Saudara akan lebih indah. Jika hal-hal yang kecil saja tidak bisa tahan, maka hal yang besar akan kacau! Banyak hal yang besar justru dikacaukan oleh karena ketidak-tahanan kita terhadap hal-hal yang kecil. Peribahasa mengatakan: “Rencana atau siasat yang besar, dikacaukan hanya oleh karena tidak tanah pada hal-hal yang kecil;.”
Dalam Yohanes 12:48-49, Tuhan Yesus mengatakan: “Barang siapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.” Mengapa demikian? Karena tidak ada satu pun perkataan yang keluar dari mulut Tuhan Yesus yang merupakan perkataan dari kehendak-Nya sendiri, tetapi semuanya adalah perkataan yang disaring oleh kehendak Allah.
Kristus memiliki kemauan yang total, yaitu menjalankan kehendak Allah. Kristus mengajar orang Kristen berdoa supaya kehendak Allah yang jadi. Dari perkataan-perkataan Kristus, tidak ada satu pun yang dikeluarkan berdasarkan kehendak sendiri. Juga kelakuan-Nya, tidak ada satu pun yang dilakukan berdasarkan kehendak sendiri. Demikian pula halnya pada waktu Yesus mengalami kesusahan, kepicikan, dan pada waktu seolah-olah Ia mengalami kegagalan.
(4) Taat Di dalam Pergumulan
Hidup itu ada pasang surutnya. Tidak ada hari-hari yang terus terang-benderang. Kadang-kadang matahari bersinar, kadang-kadang berawan gelap. Kadang-kadang hujan deras. Kadang-kadang angin ribut datang. Jangan mengira hidup kita lancar terus. Siapkan payung sebelum hujan. Kadang-kadang melayani Tuhan lancar sekali, kadang-kadang pelayanan kita seperti tidak digubris, tidak ada respon yang baik.
Jangan mengikuti teologi Sukses atau teologi Kemakmuran, yang mengatakan, “Barang siapa yang diberkati Tuhan dan yang mencintai Tuhan, hidupnya pasti beres dan lancar. Barang siapa yang sakit dan celaka, pasti dikutuk oleh Tuhan.” Itu bukan ajaran Alkitab! Alkitab mengajarkan, sebagian orang-orang yang paling rohani justru mengalami kesulitan yang paling besar! Ayub bukan orang yang tidak takut akan Tuhan. Ia seorang yang penuh ketaatan kepada Tuhan, namun ia mengalami kesulitan. Jangan kita mengukur berkat-berkat Tuhan dengan kekayaan atau dengan kelancaran. Jangan kita mengukur pimpinan Tuhan hanya berdasarkan kesuksesan seseorang. Kiranya kita kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab.
Yesus Kristus menyatakan suatu kontras yang luar biasa. Pada waktu Ia mengirim ke-70 murid untuk pergi mengabarkan Injil. Ia membagi mereka dan setiap kelompok berisi dua orang, pergi mengelilingi kota dan desa. Seperti seorang rektor mengutus mahasiswa-mahasiswa teologinya untuk pergi ke desa-desa, ke kampung-kampung, untuk mengabarkan Injil. Lalu Yesus sendiri juga pergi seorang diri mengabarkan Injil.
Ada pemimpin yang menyuruh anak buahnya pergi, namun ia sendiri tidur. Tuhan Yesus tidak demikian, Ia bukan seorang yang pintar mengatur dan pintar bicara saja, tetapi Ia sendiri juga menjalankan. Hal ini sengaja dicatat dalam Alkitab. Ke-70 orang itu sukses, Yesus tidak!
Bagaimana dengan kita? Kalau murid kita sukses, tetapi kita gagal; semua murid sukses, gurunya yang tidak berhasil, secara manusia, hal ini memalukan sekali.
Ketika para murid kembali, mereka melaporkan: “O, Yesus, demi nama-Mu, setan telah kami injak-injak, penyakit-penyakit telah kami usir, setan takluk di bawah nama-Mu.” Mereka senang, “Puji Tuhan, setan kalah! Puji Tuhan, kesembuhan! Puji Tuhan, mujizat terjadi! Puji Tuhan, orang sakit disembuhkan!” Apakah waktu mendengar itu Yesus senang dan bertanya, “Siapa yang paling banyak menyembuhkan? Siapa yang paling banyak mengusir setan? Ia akan mendapat ijazah yang lebih tinggi.”
Respons Tuhan Yesus tidak demikian. Ia memberikan respons yang luar biasa stabilnya. Ia mengatakan: “Jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Keseimbangan inilah yang kita perlukan di dalam Kekristenan.
Orang Kristen terlalu cepat dijerat di dalam suasana fenomena. Kelihatannya sukses, hebat dan dalam suasana kemenangan, tetapi tidak melihat apa yang bocor. Di dalam kemenangan-kemenangan kita, jikalau ada sesuatu yang bocor, dan prinsip-prinsip dikompromikan, di situ kestabilan kita mulai hilang. Gereja gagal bukan karena gereja tidak mempunyai bakat. Gereja gagal bukan karena gereja tidak mempunyai talenta atau karunia. Gereja gagal justru karena karunia-karunia itu berfungsi, tetapi lupa taat kepada Tuhan!
Gereja di Korintus adalah gereja yang paling bertumbuh dan berkembang, namun justru adalah juga gereja yang paling banyak persoalan. Sehingga Paulus menulis kepada mereka, harus beres, harus tertib, agar ada kestabilan di antara mereka. Di gereja Korintus, karunia-karunia dan bakat-bakat apa pun ada, tetapi keadaan di sana justru kacau balau. Paulus menulis tentang karunia lidah hanya pada satu buku, hanya kepada satu gereja. Apa sebabnya? Gereja yang mempunyai karunia lidah itu justru tidak beres dan kacau balau!
Bukan maksud Paulus agar surat 1 Korintus dipakai untuk pengobaran gerakan berbahasa lidah dan penerjemahan bahasa lidah. Justru kehendak Paulus dalam menulis surat 1 Korintus adalah untuk membatasi dan menghentikan kekacauan yang ditimbulkan oleh karunia-karunia itu.
Alkitab berkata dengan jelas bahwa di dalam kehendak Tuhan, Ia mau kita berjalan menurut pimpinan-Nya dan tidak mengompromikan segala prinsip yang penting dengan kesuksesan yang hanya menjadi fenomena saja. The essence ia more important than the phenomena. Pada waktu kita melihat gereja pada zaman ini, kelihatannya meriah, sukses dan berkembang, tetapi perkembangan-perkembangannya hanya secara fenomena. Kita tidak tahu berapa banyak prinsip yang sudah dikorbankan. Itu sebnabnya kita harus kembali kepada Alkitab.
Alkitab mengatakan bahwa Yesus tidak tertarik dengan kalimat: “O, Yesus, karena nama-Mu setan takluk. O Yesus, oleh karena nama-Mu banyak penyakit disembuhkan. Karena nama-Mu kami sudah mengadakan mukjizat dan tanda ajaib.” Yesus diam dan kemudian berkata kepada mereka, “Jangan bersukacita karena hal-hal itu terjadi, tetapi bersukacitalah karena namamu ada tercatat di sorga.”
Saya mempunyai pengalaman seperti ini. Pada umur 21 tahun, saya untuk pertama kalinya memimpin kebaktian kebangunan rohani. Penuh sesak. Banyak orang bertobat. Yang berkhotbah umur 21 tahun, yang mendengar ada yang berumur 50 tahun, 60 tahun. Mereka begitu kagum. Ketika berjabatan tangan dengan mereka di pintu gereja, seorang berkata, “Puji Tuhan! Sudah 30 tahun saya tidak mendengar khotbah yang begitu baik.” Saya baru berumur 21 tahun, tetapi ia sudah 30 tahun tidak mendengar khotbah yang baik. Orang yang lain berkata, ” Saya baru berumur 21 tahun, tetapi ia sudah 30 tahun tidak mendengar khotbah yang baik. Orang yang lain berkata, ”Setelah zaman John Sung, tidak ada lagi yang berkhotbah dengan kuasa seperti ini.”
Untuk seorang yang berumur 21 tahun, mendengar hal seperti itu, hati rasanya seperti minum es krim. Saya berumur 21, tetapi sudah seperti itu. Saya merasa hebat. Sekalipun mulut berkata, “Jangan begitu.” Tetapi hati berkata, “Puji Tuhan! Umur 21 sudah sukses.” Malam itu ketika saya berlutut di hadapan Tuhan, Tuhan menggerakkan hati saya. Persis seperti apa yang Tuhan katakan kepada murid-murid-Mya, “Jangan kira kau sukses. Jangan kira kau hebat. Kalau engkau mencuri kemuliaan-Ku, dan tidak mengembalikan kepada-Ku, Aku akan membuang engkau dan engkau akan menjadi garam yang tidak ada rasanya lagi.” Saya berlutut dan menangis, “Tuhan, beri kekuatan kepadaku. Pelihara saya seumur hidup di dalam kerendahan hati, taat kepada-Mu dan tidak menjadi senang karena dipuji orang.”
Sejak saat itu hingga sekarang, sudah berlalu 30 tahun lebih. Pujian banyak sekali. Kalau saya hendak mencari pujian, itu mudah. Tetapi saya sudah mati terhadap pujian. Dipuji bagaimanapun, saya tidak akan menggubris, saya tidak akan menjadi lebih percaya diri. Atau kalau tidak dipuji orang, saya menjadi menghina diri. Tidak! Karena saya sudah mati dengan Kristus, maka pujian orang adalah soal kecil. Yang penting, besok di “sana” Dia memuji saya atau tidak. Kalau di bumi ini dipuji banyak orang, tetapi akhirnya sampai di sorga Tuhan tidak memuji, itu tidak ada artinya. Tetapi, jika di dunia ini kita menjalankan kehendak Tuhan, meskipun orang tidak senang, sampai di sana Tuhan memuji, itulah berkat yang lebih besar. Belajarlah untuk tidak melihat muka orang, tetapi harus melihat muka Tuhan, karena Dia jauh lebih penting dari manusia.
Ketika semua murid-Nya berkhotbah seperti penuh kuasa, tetapi ketika Yesus Kristus mengabarkan Injil, tidak ada orang menerima, tidak ada orang yang bertobat. Yesus berpaling dan berkata kepada Bapa. Saya bisa membayangkan bagaimana jika murid berhasil, dosennya tidak. Bagaimana hati bisa senang? Tetapi di dalam keadaan yang sulit dan tidak sukses seperti ini Tuhan Yesus justru mengajarkan bagaimana menjalankan kehendak Allah.
Bagi saya, Matius 11 adalah bagian paling suram. Matius 1-10 adalah bagian-bagian di mana kemuliaan Alah dipancarkan, tetapi di Matius 11 tidak ada. Tetapi justru di pasal ini, ketika mengalami kesusahan begitu besar, mengakibatkan sesuatu yang paling manis di dalam sejarah. Pasal 11 adalah permulaan Yohanes masuk ke dalam penjara dan diakhiri dengan Tuhan Yesus berkhotbah dan tidak ada hasilnya.
Dalam Matius 11:20-24, Yesus mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”
Kemudian berkatalah Yesus:
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan ber beban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius `11:25-30).
Begitu kontras! Orang tidak menerima Dia. Orang tidak bertobat, bahkan setelah Ia berkhotbah dan melakukan mukjizat, mereka tetap mengeraskan hati. Yesus berkata: “Hai, Kapernaum! Hai, Khorazim! Engkau sudah ditinggikan sampoaike langit, engkau akanjatuh ke dunia orangmati. Jika mujizat-mujizat yangdilakukan di tempatmu, dilakukan di Sidon, di Tirus, di Sodom dan Gomorah, mereka sampai sekarang tentu masih ada.” Namun, setelah selesai berkata demikian, Ia kembali berkata, “Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi memang kehendak-Mu demikian.” – – Because Thy will is like this.
Sangat mudah bagi kita di dalam kelancaran memuji Tuhan. Tetapi sama sekali tidak mudah jika dalam keadaan susah kita memuji Tuhan. Sangat mudah kita menyanyi “Haleluya” pada waktu kita semua berkecukupan. Tetapi sangat tidak mudah kalau kita mendapat kesulitan-kesulitan. Kita seolah-olah dibuang dan tidak diterima.
Selama saya memimpin kebaktian-kebaktian yang ada, yang paling banyak adalah 30.000 orang, yang paling sedikit hanya 2 orang! Mengapa hanya 2 orang? Karena ada orang yang tidak senang kepada saya. Mereka berusaha untuk mencerai-beraikan satu persekutuan, agar mereka tidak mendengar khotbah saya. Saya tidak tahu mengapa. Pada saat kebaktian tiba, mendadak semua tidak datang, tinggal 2 orang saja. Keduanya adalah orang yang tidak tahu apa-apa, karena keduanya itu anak kecil. Yang satu berumur 14, yang lain kira-kira 15. Saya merangkul mereka dan tetap berkhotbah, tetap memberitakan firman Tuhan kepada mereka dan mereka mendapat berkat yang besar.
Kita kadang-kadang melihat matahari begitu bercahaya, kadang-kadang kita melihat berbulan-bulan awan gelap menudungi. Kadang-kadang kita melihat panas terik dan udara yang begitu baik, kadang-kadang kita melihat kedinginan begitu besar mengelilingi kita. Hidup kita seperti itu, kerohanian kita seperti itu. Demikian juga pelayanan kita.
Yesus sendiri pun pernah mengalami hal seperti itu. Waktu Yesus mengalami keadaan seperti ini, bagaimanakah Dia? Dia menjadi contoh. Because Thy will, Thy will is like this. I accept it. Aku menerimanya! Saudara, terimalah pimpinan Tuhan dan kehendak-Nya pada waktu Saudara mengalami kesulitan-kesulitan di dalam hidup ini. Ini contoh dari Tuhan kita!
Saya membaca suatu peristiwa yang terjadi di panti tuna-rungu. Seorang berkebangsaan Amerika datang ke panti tuna-rungu Kristen, sebuah sekolah khusus untuk orang-orang yang bisu dan tuli. (Universitas terbesar untuk tuna-rungu ada di Washington D.C. namanya Galaudette University). Ketika ia datang, ia mengatakan, “Ini sekolah Kristen untuk tuna-rungu. Saya ingin bertanya kepada siswa-siswi di sini untuk mengetahui apakah pendidikan di sini sukses atau tidak.”
Orang ini kejam luar biasa. Ia bertanya kepada anak-anak kecil di sana. “Kamu percaya Tuhan mengasihi kamu?” Seorang anak kecil maju dan menjawabnya, “Aku percaya Tuhan mengasihiku.” Semua senyum-senyum. Orang itu bertanya lagi dengan menuliskan, “Jikalau Tuhan mencintaimu, kenapa kamu tuli dan bisu?” Anak itu melihat ke kanan dan ke kiri. Pertanyaan yang pertama mudah dijawab, pertanyaan kedua sulit dijawab. Ada yang tidakmenjawab, ada yang mulai mengalirkan air mata. Tetapi, ada seorang anak kecil yang maju ke depan. Ia mengambil kapur dan menuliskan ayat ini, “Ya Bapa, memang kehendak-Mu adalah seperti ini. Kehendak-Mu yang indah adalah seperti ini.”
Sebelum ia menulis, gurunya tegang, tidak tahu anak itu mau menulis apa dan apa yang ditulisnya itu akan menyatakan apakah pendidikan di sekolah itu sukses atau tidak. Bukan hanya pendidikan yang bisa menuilis, mengerti, membaca dan bergaul, tetapi juga pendidikan yang bisa mengerti sampai tuntas: Bagaimana hidup di hadapan Tuhan! Pada waktu anak itu menulis kalimat itu, dia hafal Matius 11:26. Sesudah menulis, ia menambahkan lagi: Yesus berkata. Semua bertepuk tangan. Apa yang terjadi? Orang yang menanyakan pertanyaan yang kejam itu, sekarang giliran mengalirkan air mata.
Kadang kita tidak tahu kehendak Tuhan. Mengapa anakku yang terbaik mati? Mengapa sudah mau sukses, tak jadi? Mengapa Tuhan tidak membiarkan saya lega, boleh bernapas sedikit? Bagi orang-orang tertentu, hidup itu sepertinya terlalu mudah. Tetapi bagi orang-orang lain, selalu ada kesulitan-kesulitan. Hari ini sebagai hamba Tuhan, biarlah saya menghimbau dan menghibur, karena Tuhan berkata, “Comfort ye, comfort ye, My people.”
Jangan kira orang kaya tidak ada kesulitan. Jangan kira orang yang sukses dalam usaha tidak ada kesulitan. Setiap atap di dalamnya ada air mata yang sulit dikatakan kepada orang lain. Di bawah setiap atap ada kesusahan dan kehancuran hati yang sulit dimengerti oleh orang lain. Pada waktu kita mengalami awan gelap, pada waktu kita mengalami kesulitan, biarlah kita belajar untuk melihat ke atas. Kalau Anda sudah gagal melihat kanan-kiri, depan-belakang, coba lihat ke atas. Anda akan melihat senyuman Tuhan yang tidak meninggalkan Anda. Biarlah Anda berkata, ”Tuhan, memang kehendak-Mu yang indah adalah seperti ini. Dan saya tahu, tidak pernah ada matahari yang terus tertutup oleh awan. Pada suatu hari, pasti ada senyuman yang akan tiba.”
Kiranya dengan iman yang kuat, Saudara bersedia hati, sabar dan tekun sampai Saudara menggenapi kehendak Tuhan dalam hidup Saudara masing-masing. Inilah satu contoh dari Yuhan Yesus. Karena kehendak-Mu adalah seperti ini, di dalam kesulitan, di dalam tangisan.
Yesus memberi peringatan yang besar di dalam pengajaran-Nya untuk setiap zaman. Ini tertulis dalam Matius 7 pada ayat-ayat yang terakhir.
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:15-23)
Salah satu ayat yang paling membuat orang pusing, membuat orang bingung, adalah bagian terakhir dari perikop ini. Siapakah mereka? Jikalau mereka adalah orang-orang Kristen, mengapa Yesus mengatakan: Aku belum pernah mengenal engkau? Jikalau mereka belum pernah dikenal Yesus, mengapa mereka pernah mengadakan mujizat demi nama Yesus? Jikalau mereka mengadakan mujizat, mengapa Yesus tidak mengakui mereka? Jikalau mereka mengusir setan dan bernubuat, mengapa Yesus mengatakan: Aku belum pernah mengenal engkau?
Jika kita mau membaca kalimat terakhir: “Enyahlah engkau, orang yang berbuat kejahatan”, maka saya kira di sini terjadi satu gap yang besar: gejala-gejala pelayanan berlainan dengan hidup yang sejati!
Perhatikan suatu hubungan yang penting sekali, yang pada zaman ini sudah dilonggarkan dan dikompromikan, yaitu mengaitkan ayat sebelum ayat 21 dengan ayat-ayat terakhir ini. Yesus mengatakan: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik; sedang pohon yang tidak baik, menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:17). Apakah buah? Buah jangan ditafsirkan sebagai cara melayani dan fenomena-fenomena keberhasilan pelayanan. Sekali lagi, buah jangan dipersamakan dengan cara-cara pelayanan dan keberhasilan di dalam melayani. Buah-buah hanya dilihat dari kesucian, ketaatan kepada Tuhan dan hidup berjalan di dalam pimpinan firman Tuhan.
Hidup dalam kesucian, ketaatan, dalam pimpinan firman Tuhan, dalam kejujuran dan kesungguhan, itulah buah! Jangan katakan, lihat buahnya, ia sudah giat, ia sudah ke gereja. Ia ikut pelayanan, bersaksi, bahkan mengusir setan, melakukan mukjizat – itulah buahnya. Itu bukan buah! Itu fenomena. Itu gejala dan keberhasilan pelayanan hanya di luarnya saja, hanya secara lahiriah saja. Itu bukan buah!
Berulang kali saya mengatakan bahwa saya menghargai mereka yang sincere (tulus), yang sungguh-sungguh, jujur, taat kepada Tuhan, menjaga dan hidup dalam kesucian, yang berjalan dalam keadilan dan benar-benar menaati prinsip-prinsip pimpinan dan perintah Tuhan. Itu buah! Buah jangan dilihat secara lahiriah saja, jangan dari luar. Orang ini kelihatan ke sana-sini bersaksi. Begitu banyak ia melayani Tuhan. Begitu berkuasa. Ia bisa melakukan mujizat, bisa menyembuhkan orang sakit. Itu bukan buah. Hal itu juga belum tentu menyatakan penyertaan Tuhan di tengah-tengah mereka.
Apa sebabnya? Karena Yesus mengatakan kepada mereka: Aku tidak pernah mengenal engkau! Saya tidak mengatakan setiap orang yang menyembuhkan itu tidak dikenal oleh Tuhan. Saya tidak mengatakan setiap orang yang mengalahkan setan itu tidak dikenal oleh Tuhan. Tetapi saya berkata, bahwa di antara begitu banyak orang yang katanya hamba Tuhan, yang menyembuhkan orang sakit, melakukan mukjizat dan menginjak-injak setan, bahkan yang sudah bernubuat demi nama Yesus, Yesus berkasta: “Aku tidak pernah mengenal kamu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Kalau demikian, mengapa Tuhan memperkenankan orang-orang yang tidak pernah dikenal oleh Dia melakukan hal-hal yang besar seperti itu? Membiarkan mereka sepertinya sukses, sepertinya memperalat dan memanipulasi nama Yesus, sampai pada akhirnya baru dibongkar? Jawabannya: “Saya tidak tahu, hanya kedaulatan Allah-lah yang membiarkan hal itu.”
Jangan lupa, di dalam tingkatan-tingkatan kehendak Tuhan, kita telah melihat sampai ke tahap dibiarkan oleh Tuhan sehingga akhirnya harus berhadapan dengan pengadilan Tuhan.
Peringatan yang sedemikian besar ini mengajarkan kepada kita bahwa janganlah kita beranggapan setiap orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, tetapi hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa. Siapakah mereka? Saya berharap mereka yang rela melakukan kehendak Bapa di sorga adalah Saudara.
(5) Taat sampai Mati
Ia telah menyimpulkan seluruh hidup-Nya dengan cara doa yang begitu taat kepada Tuhan, ”Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi” (Lukas 22:42-43). Yesus berdoa, karena Ia harus meminum cawan murka Allah. Keadilan yang “memabukkan” segala bangsa dan keadilan yang menghancurkan segala orang berdosa, sekarang tiba kepada Dia. Yesus berkata: “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu jadilah.” Melaui bagian ini saya menyimpulkan suatu kehidupan yang total taat, yang menjadi “wakil kedua” umat manusia. Bandingkan dengan “wakil pertama” umat manusia yaitu Adam.
Manusia pertama di taman Eden, manusia kedua di taman Getsemani. Sebelum berdosa, taman Eden merupakan taman yang indah sekali; sebaliknya taman Getsemani merupakan taman yang penuh kegelapan. Di dalam taman Eden, Tuhan menyediakan segala sesuatu supaya Adam dapat menikmatinya; sebaliknya, di taman Getsemani Tuhan memperbolehkan semua musuh Tuhan berkeliling untuk menangkap dan membunuh Dia. Kedua taman ini terlalu kontras!
Di taman Eden kita mendengar seruan di dalam hati manusia, “Bukan kehendak-Mu, tetapi kehendakku yang terjadi.” Sebaliknya, di taman Getsemani kita mendengar seruan Manusia kedua. “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi.”
Cawan murka Allah betul-betul tidak Tuhan singkirkan. Berarti, kadang-kadang doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Terlalu banyak kotbah yang tidak bertanggungjawab, yang hanya mencari kesenangan manusia untuk membuat pasaran yang besar. Saya tidak menginginkan demikian! Tuhan memang tidak menyingkirkan cawan itu, tetapi Tuhan memberikan kekuatan agar Yesus meminum cawan itu hingga tetes terakhir demi menanggung dosa Saudara dan saya. Inilah teladan Tuhan kita, teladan Penebus kita. Dari keadaan seperti ini, kita baru tahu bagaimana hidup menjadi orang yang menjalankan kehendak Tuhan.
Sudahkah Saudara rela menjadi seorang Kristen yang memikul salib, menyangkal diri, dan mau menjalankan kehendak Tuhan? Sudahkah Saudara menyediakan hati untuk menyingkirkan segala kemauan sendiri dan kemauan Setan yang selalu mengganggu dan merongrong hidup Saudara? Dan maukah Saudara mengundang Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam hati Saudara dan meminta Dia memimpin hidup Saudara?
Dari Kisah Para Rasul 13:36 kita melihat betapa Daud setelah menjalankan kehendak Tuhan, ia kemudian “tidur” di tempat nenek moyangnya. Berarti Daud sampai matinya terus berjuang untuk menjalankan kehendak Tuhan.
Ada semacam orang yang sampai akhir hidupnya masuk ke dalam pergumulan yang tidak ada habis-habisnya oleh karena terus menerus melawan kehendak Tuhan. Tetapi ada juga orang yang pada akhir hidupnya begitu tenang, oleh karena dia sudah menjalankan kehendak Tuhan, dan sekarang ia tidur dalam pangkuan Tuhan untuk selama-lamanya, menikmati sejahtera Tuhan.
Itu sebab penulis Ibrani (Ibrani 10:36) meminta kita untuk mempunyai ketekunan, sehingga setelah melakukan kehendak Tuhan, kita beroleh apa yang Tuhan janjikan kepada kita.
BAB XIII : Penggenapan Kehendak Allah

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.” (Lukas 22:42-43)
“Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.” (Kisah Para Rasul 13:36)
Terjemahan lain: “Daud pada zamannya, menjalankan kehendak Allah sampai selesai. Lalu tidurlah ia dipinggir nenek moyangnya.”
“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36)
--------------------------------------------------------------------------------------
Seorang yang sudah tua berkata kepada saya: “Apakah saudara pikir sedemikian mudah untuk mengerti dan menggenapkan kehendak Allah, sehingga dengan mengkhotbahkannya selama tiga bulan dianggap sudah selesai?” Saya menjawabnya: “Memang tidak mudah, tetapi kita perlu mengerti dahulu prinsip-prinsip Alkitab tentang kehendak Allah.” Ia mengatakan: “Bagi saya, seumur hidup saya menuntut, mencari dan mau mengetahui kehendak Allah, tetapi sedemikian sulitnya.”
Memang tidak mudah untuk mengetahui kehendak Tuhan. Jika kehendak Tuhan tidak dinyatakan kepada kita dan kita tidak mempunyai kerelaan untuk taat, maka Roh Kudus tidak akan menyatakan kehendak Allah ke dalam hati kita masing-masing. Tetapi Roh Kudus akan memimpin kita melalui Kitab Suci yang sudah Tuhan wahyukan kepada kita. Kini kita akan melihat contoh bagaimana Kristus menjalankan kehendak Allah.
(1) Seumur Hidup Berjalan dalam Kehendak Allah
Ibrani 10:7 mengatakan ketika Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, Ia menegaskan bahwa korban bakaran dan korban penebusan dosa tidak diperkenan. Itu berarti bahwa seluruh korban itu tidak ada artinya lagi, karena seluruh Taurat hanyalah merupakan tambahan dan bukan rencana Allah yang kekal. Hanya karena manusia sudah berbuat dosa, maka perlu diberikan suatu pernyataan dan melalui pemberian Taurat manusia baru sadar kalau ia berada di dalam dosa.
Dengan pemberian Taurat, manusia tahu bahwa ia sudah melanggar dan tidak mungkin melakukan keadilan, kebajikan, serta kesucian Allah. Ketiga aspek ini merupakan tujuan utama Tuhan memberikan Taurat. Beribu-ribu tahun manusia telah menyembelih binatang, mengalirkan darah mereka dan datang kepada Tuhan untuk memperkenan Tuhan, untuk meminta pengampunan dari-Nya.
Sebenarnya ini bukan manfaat yang sejati. Tetapi, ada sesuatu yang sudah disediakan oelh Allah dari kekal sampai kekal, yaitu Yesus Kristus turun ke dalam dunia, berdaging dan berdarah, supaya tubuh-Nya bisa dipaku di atas kayu salib. Korban bakaran dan korban penebusan dosa yang asli bukanlah lembu, atau domba, atau burung, atau binatang-binatang yang mengalirkan darah, karena sesungguhnya darah binatang tidak mempunyai kuasa apa pun untuk mengampuni dosa manusia.
Tetapi darah Yesus Kristus adalah satu-satunya cara di mana Tuhan mau mengampuni dosa. Itu sebabnya, ketika Yesus datang ke dalam dunia, Ia berkata, “Ya Allah. Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu; Ya Allah. Segala sesuatu tentang Aku sudah tertulis di dalam gulungan kitab-Mu.” Ini berarti seluruh Perjanjian Lama sudah menunjukkan suatu pengharapan akan rencana penebusan Allah untuk dunia ini di dalam Yesus Kristus. Itu sebabnya, Yesus berkata bahwa Ia datang untuk menggenapkan kehendak Allah.
Yesus datang dengan satu tujuan: menjalankan kehendak Allah! Ini merupakan suatu contoh, suatu keutuhan arti hidup bagi setiap orang yang hidup di dalam Kristus. Jikalau kita mengatakan: “Kita di dalam Kristus,” tetapi kita tidak meneladani Tuhan kita, itu adalah omong kosong! Jikalau kita mengatakan bahwa kita milik Kristus, tetapi kita tidak menjalankan apa yang dijalankan oleh Yesus, itu bohong! Gereja dan setiap orang Kristen, hendaklah kita bangun. Kita mau melihat teladan yang paling sempurna, teladan manusia sejati, di mana di dalam Dia Allah berkenan. Allah berkata: “Lihatlah Hamba-Ku yang Ku-pilih, yang Ku-perkenan.” Di dalam Dia terdapat perjalanan kehendak Allah.
Di sini kita melihat Tuhan Yesus telah mengambil keputusan bahwa seumur hidup berjalan di dalam kehendak Allah. Alangkah indahnya jika suatu hidup berada di dalam tangan Tuhan, bahkan berada di dalam rencana Tuhan. Bukan saja mnengetahui rencana Tuhan, tetapi melakukan segala sesuatu sesuai dengan rencana Tuhan. Hidup seperti itu tidak akan sia-sia dan lenyap. Dunia akan lenyap serta segala nafsu yang ada di dalamnya. Tetapi mereka yang menjalankan kehendak Allah, akan selama-lamanya berada di dalam kemuliaan Tuhan.
(2) Memprioritaskan Kehendak Allah
Ketika Tuhan Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, Ia memberikan suatu hal yang sedemikian penting, yaitu memprioritaskan kehendak Allah! “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu” adalah doa tentang Tuhan, kesucian nama-Nya dan Kerajaan-Nya, yang merupakan penyembahan akan Tuhan dan status Tuhan. Kemudian Tuhan Yesus langsung melanjutkan dengan: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Ini merupakan keinginan Tuhan, suatu hasrat yang begitu diutamakan oleh Kristus. Kehendak Allah tidak mendapat rintangan di sorga, kehendak Allah tidak mendapatkan hambatan di sorga. Semua malaikat harus menjalankan kehendak Allah, dan mereka pasti mau menjalankan kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah ketika berada di dalam dunia, telah dirintangi oleh manusia, oleh saudara dan saya, orang-orang berdosa yang selalu mengeraskan hati, yang mengutamakan apa yang tidak seharusnya diutamakan.
Kita menghambat, menolak, memperlambat, bahkan menghentikan pimpinan Tuhan. Jika setiap orang Kristen tidak menghambat pekerjaan Roh Kudus, jika setiap orang percaya tidak merintangi kehendak Tuhan, maka akan lebih banyak orang melihat kemuliaanm Tuhan di dunia ini. Tetapi kehendak Tuhan justru dihambat di dunia ini, Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Bukan hanya Kristus menjalankan kehendak Allah. Kristus juga mengajar murid-murid-Nya agar kita mempunyai keinginan supaya kehendak Allah terlaksana.
(3) Tidak Menjalankan Kehendak Sendiri
Tuhan Yesus di dalam seluruh tutur kata, tingkah laku dan perbuatan, sama sekali tidak mau melakukan kehendak-Nya sendiri.
Terkadang kita bertemu dengan seseorang, kita ingin mengatakan sesuatu karena kita jengkel sekali dengan dia. Tetapi, tahan dulu! Seorang Pendeta mengatakan: “Jika mau marah, cepat minum air, tetapi jangan di telan. Pada waktu mau marah ingat ada air di mulut. Lalu telan sedikit air itu. Setiap kali mau marah, telan sedikit lagi, sehingga masih tersisa di mulut. Maka setelah telan tiga kali, tidak jadi marah. Terkadang kita berbicara terlalu cepat sehingga merusak hubungan, merusak kehendak Allah.”
Perkataan-perkataan itu perlu ditahan! Jika Saudara dapat menahan perkataan-perkataan Saudara dua menit saja, maka hidup Saudara akan lebih indah. Jika hal-hal yang kecil saja tidak bisa tahan, maka hal yang besar akan kacau! Banyak hal yang besar justru dikacaukan oleh karena ketidak-tahanan kita terhadap hal-hal yang kecil. Peribahasa mengatakan: “Rencana atau siasat yang besar, dikacaukan hanya oleh karena tidak tanah pada hal-hal yang kecil;.”
Dalam Yohanes 12:48-49, Tuhan Yesus mengatakan: “Barang siapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.” Mengapa demikian? Karena tidak ada satu pun perkataan yang keluar dari mulut Tuhan Yesus yang merupakan perkataan dari kehendak-Nya sendiri, tetapi semuanya adalah perkataan yang disaring oleh kehendak Allah.
Kristus memiliki kemauan yang total, yaitu menjalankan kehendak Allah. Kristus mengajar orang Kristen berdoa supaya kehendak Allah yang jadi. Dari perkataan-perkataan Kristus, tidak ada satu pun yang dikeluarkan berdasarkan kehendak sendiri. Juga kelakuan-Nya, tidak ada satu pun yang dilakukan berdasarkan kehendak sendiri. Demikian pula halnya pada waktu Yesus mengalami kesusahan, kepicikan, dan pada waktu seolah-olah Ia mengalami kegagalan.
(4) Taat Di dalam Pergumulan
Hidup itu ada pasang surutnya. Tidak ada hari-hari yang terus terang-benderang. Kadang-kadang matahari bersinar, kadang-kadang berawan gelap. Kadang-kadang hujan deras. Kadang-kadang angin ribut datang. Jangan mengira hidup kita lancar terus. Siapkan payung sebelum hujan. Kadang-kadang melayani Tuhan lancar sekali, kadang-kadang pelayanan kita seperti tidak digubris, tidak ada respon yang baik.
Jangan mengikuti teologi Sukses atau teologi Kemakmuran, yang mengatakan, “Barang siapa yang diberkati Tuhan dan yang mencintai Tuhan, hidupnya pasti beres dan lancar. Barang siapa yang sakit dan celaka, pasti dikutuk oleh Tuhan.” Itu bukan ajaran Alkitab! Alkitab mengajarkan, sebagian orang-orang yang paling rohani justru mengalami kesulitan yang paling besar! Ayub bukan orang yang tidak takut akan Tuhan. Ia seorang yang penuh ketaatan kepada Tuhan, namun ia mengalami kesulitan. Jangan kita mengukur berkat-berkat Tuhan dengan kekayaan atau dengan kelancaran. Jangan kita mengukur pimpinan Tuhan hanya berdasarkan kesuksesan seseorang. Kiranya kita kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab.
Yesus Kristus menyatakan suatu kontras yang luar biasa. Pada waktu Ia mengirim ke-70 murid untuk pergi mengabarkan Injil. Ia membagi mereka dan setiap kelompok berisi dua orang, pergi mengelilingi kota dan desa. Seperti seorang rektor mengutus mahasiswa-mahasiswa teologinya untuk pergi ke desa-desa, ke kampung-kampung, untuk mengabarkan Injil. Lalu Yesus sendiri juga pergi seorang diri mengabarkan Injil.
Ada pemimpin yang menyuruh anak buahnya pergi, namun ia sendiri tidur. Tuhan Yesus tidak demikian, Ia bukan seorang yang pintar mengatur dan pintar bicara saja, tetapi Ia sendiri juga menjalankan. Hal ini sengaja dicatat dalam Alkitab. Ke-70 orang itu sukses, Yesus tidak!
Bagaimana dengan kita? Kalau murid kita sukses, tetapi kita gagal; semua murid sukses, gurunya yang tidak berhasil, secara manusia, hal ini memalukan sekali.
Ketika para murid kembali, mereka melaporkan: “O, Yesus, demi nama-Mu, setan telah kami injak-injak, penyakit-penyakit telah kami usir, setan takluk di bawah nama-Mu.” Mereka senang, “Puji Tuhan, setan kalah! Puji Tuhan, kesembuhan! Puji Tuhan, mujizat terjadi! Puji Tuhan, orang sakit disembuhkan!” Apakah waktu mendengar itu Yesus senang dan bertanya, “Siapa yang paling banyak menyembuhkan? Siapa yang paling banyak mengusir setan? Ia akan mendapat ijazah yang lebih tinggi.”
Respons Tuhan Yesus tidak demikian. Ia memberikan respons yang luar biasa stabilnya. Ia mengatakan: “Jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Keseimbangan inilah yang kita perlukan di dalam Kekristenan.
Orang Kristen terlalu cepat dijerat di dalam suasana fenomena. Kelihatannya sukses, hebat dan dalam suasana kemenangan, tetapi tidak melihat apa yang bocor. Di dalam kemenangan-kemenangan kita, jikalau ada sesuatu yang bocor, dan prinsip-prinsip dikompromikan, di situ kestabilan kita mulai hilang. Gereja gagal bukan karena gereja tidak mempunyai bakat. Gereja gagal bukan karena gereja tidak mempunyai talenta atau karunia. Gereja gagal justru karena karunia-karunia itu berfungsi, tetapi lupa taat kepada Tuhan!
Gereja di Korintus adalah gereja yang paling bertumbuh dan berkembang, namun justru adalah juga gereja yang paling banyak persoalan. Sehingga Paulus menulis kepada mereka, harus beres, harus tertib, agar ada kestabilan di antara mereka. Di gereja Korintus, karunia-karunia dan bakat-bakat apa pun ada, tetapi keadaan di sana justru kacau balau. Paulus menulis tentang karunia lidah hanya pada satu buku, hanya kepada satu gereja. Apa sebabnya? Gereja yang mempunyai karunia lidah itu justru tidak beres dan kacau balau!
Bukan maksud Paulus agar surat 1 Korintus dipakai untuk pengobaran gerakan berbahasa lidah dan penerjemahan bahasa lidah. Justru kehendak Paulus dalam menulis surat 1 Korintus adalah untuk membatasi dan menghentikan kekacauan yang ditimbulkan oleh karunia-karunia itu.
Alkitab berkata dengan jelas bahwa di dalam kehendak Tuhan, Ia mau kita berjalan menurut pimpinan-Nya dan tidak mengompromikan segala prinsip yang penting dengan kesuksesan yang hanya menjadi fenomena saja. The essence ia more important than the phenomena. Pada waktu kita melihat gereja pada zaman ini, kelihatannya meriah, sukses dan berkembang, tetapi perkembangan-perkembangannya hanya secara fenomena. Kita tidak tahu berapa banyak prinsip yang sudah dikorbankan. Itu sebnabnya kita harus kembali kepada Alkitab.
Alkitab mengatakan bahwa Yesus tidak tertarik dengan kalimat: “O, Yesus, karena nama-Mu setan takluk. O Yesus, oleh karena nama-Mu banyak penyakit disembuhkan. Karena nama-Mu kami sudah mengadakan mukjizat dan tanda ajaib.” Yesus diam dan kemudian berkata kepada mereka, “Jangan bersukacita karena hal-hal itu terjadi, tetapi bersukacitalah karena namamu ada tercatat di sorga.”
Saya mempunyai pengalaman seperti ini. Pada umur 21 tahun, saya untuk pertama kalinya memimpin kebaktian kebangunan rohani. Penuh sesak. Banyak orang bertobat. Yang berkhotbah umur 21 tahun, yang mendengar ada yang berumur 50 tahun, 60 tahun. Mereka begitu kagum. Ketika berjabatan tangan dengan mereka di pintu gereja, seorang berkata, “Puji Tuhan! Sudah 30 tahun saya tidak mendengar khotbah yang begitu baik.” Saya baru berumur 21 tahun, tetapi ia sudah 30 tahun tidak mendengar khotbah yang baik. Orang yang lain berkata, ” Saya baru berumur 21 tahun, tetapi ia sudah 30 tahun tidak mendengar khotbah yang baik. Orang yang lain berkata, ”Setelah zaman John Sung, tidak ada lagi yang berkhotbah dengan kuasa seperti ini.”
Untuk seorang yang berumur 21 tahun, mendengar hal seperti itu, hati rasanya seperti minum es krim. Saya berumur 21, tetapi sudah seperti itu. Saya merasa hebat. Sekalipun mulut berkata, “Jangan begitu.” Tetapi hati berkata, “Puji Tuhan! Umur 21 sudah sukses.” Malam itu ketika saya berlutut di hadapan Tuhan, Tuhan menggerakkan hati saya. Persis seperti apa yang Tuhan katakan kepada murid-murid-Mya, “Jangan kira kau sukses. Jangan kira kau hebat. Kalau engkau mencuri kemuliaan-Ku, dan tidak mengembalikan kepada-Ku, Aku akan membuang engkau dan engkau akan menjadi garam yang tidak ada rasanya lagi.” Saya berlutut dan menangis, “Tuhan, beri kekuatan kepadaku. Pelihara saya seumur hidup di dalam kerendahan hati, taat kepada-Mu dan tidak menjadi senang karena dipuji orang.”
Sejak saat itu hingga sekarang, sudah berlalu 30 tahun lebih. Pujian banyak sekali. Kalau saya hendak mencari pujian, itu mudah. Tetapi saya sudah mati terhadap pujian. Dipuji bagaimanapun, saya tidak akan menggubris, saya tidak akan menjadi lebih percaya diri. Atau kalau tidak dipuji orang, saya menjadi menghina diri. Tidak! Karena saya sudah mati dengan Kristus, maka pujian orang adalah soal kecil. Yang penting, besok di “sana” Dia memuji saya atau tidak. Kalau di bumi ini dipuji banyak orang, tetapi akhirnya sampai di sorga Tuhan tidak memuji, itu tidak ada artinya. Tetapi, jika di dunia ini kita menjalankan kehendak Tuhan, meskipun orang tidak senang, sampai di sana Tuhan memuji, itulah berkat yang lebih besar. Belajarlah untuk tidak melihat muka orang, tetapi harus melihat muka Tuhan, karena Dia jauh lebih penting dari manusia.
Ketika semua murid-Nya berkhotbah seperti penuh kuasa, tetapi ketika Yesus Kristus mengabarkan Injil, tidak ada orang menerima, tidak ada orang yang bertobat. Yesus berpaling dan berkata kepada Bapa. Saya bisa membayangkan bagaimana jika murid berhasil, dosennya tidak. Bagaimana hati bisa senang? Tetapi di dalam keadaan yang sulit dan tidak sukses seperti ini Tuhan Yesus justru mengajarkan bagaimana menjalankan kehendak Allah.
Bagi saya, Matius 11 adalah bagian paling suram. Matius 1-10 adalah bagian-bagian di mana kemuliaan Alah dipancarkan, tetapi di Matius 11 tidak ada. Tetapi justru di pasal ini, ketika mengalami kesusahan begitu besar, mengakibatkan sesuatu yang paling manis di dalam sejarah. Pasal 11 adalah permulaan Yohanes masuk ke dalam penjara dan diakhiri dengan Tuhan Yesus berkhotbah dan tidak ada hasilnya.
Dalam Matius 11:20-24, Yesus mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”
Kemudian berkatalah Yesus:
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan ber beban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius `11:25-30).
Begitu kontras! Orang tidak menerima Dia. Orang tidak bertobat, bahkan setelah Ia berkhotbah dan melakukan mukjizat, mereka tetap mengeraskan hati. Yesus berkata: “Hai, Kapernaum! Hai, Khorazim! Engkau sudah ditinggikan sampoaike langit, engkau akanjatuh ke dunia orangmati. Jika mujizat-mujizat yangdilakukan di tempatmu, dilakukan di Sidon, di Tirus, di Sodom dan Gomorah, mereka sampai sekarang tentu masih ada.” Namun, setelah selesai berkata demikian, Ia kembali berkata, “Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi memang kehendak-Mu demikian.” – – Because Thy will is like this.
Sangat mudah bagi kita di dalam kelancaran memuji Tuhan. Tetapi sama sekali tidak mudah jika dalam keadaan susah kita memuji Tuhan. Sangat mudah kita menyanyi “Haleluya” pada waktu kita semua berkecukupan. Tetapi sangat tidak mudah kalau kita mendapat kesulitan-kesulitan. Kita seolah-olah dibuang dan tidak diterima.
Selama saya memimpin kebaktian-kebaktian yang ada, yang paling banyak adalah 30.000 orang, yang paling sedikit hanya 2 orang! Mengapa hanya 2 orang? Karena ada orang yang tidak senang kepada saya. Mereka berusaha untuk mencerai-beraikan satu persekutuan, agar mereka tidak mendengar khotbah saya. Saya tidak tahu mengapa. Pada saat kebaktian tiba, mendadak semua tidak datang, tinggal 2 orang saja. Keduanya adalah orang yang tidak tahu apa-apa, karena keduanya itu anak kecil. Yang satu berumur 14, yang lain kira-kira 15. Saya merangkul mereka dan tetap berkhotbah, tetap memberitakan firman Tuhan kepada mereka dan mereka mendapat berkat yang besar.
Kita kadang-kadang melihat matahari begitu bercahaya, kadang-kadang kita melihat berbulan-bulan awan gelap menudungi. Kadang-kadang kita melihat panas terik dan udara yang begitu baik, kadang-kadang kita melihat kedinginan begitu besar mengelilingi kita. Hidup kita seperti itu, kerohanian kita seperti itu. Demikian juga pelayanan kita.
Yesus sendiri pun pernah mengalami hal seperti itu. Waktu Yesus mengalami keadaan seperti ini, bagaimanakah Dia? Dia menjadi contoh. Because Thy will, Thy will is like this. I accept it. Aku menerimanya! Saudara, terimalah pimpinan Tuhan dan kehendak-Nya pada waktu Saudara mengalami kesulitan-kesulitan di dalam hidup ini. Ini contoh dari Tuhan kita!
Saya membaca suatu peristiwa yang terjadi di panti tuna-rungu. Seorang berkebangsaan Amerika datang ke panti tuna-rungu Kristen, sebuah sekolah khusus untuk orang-orang yang bisu dan tuli. (Universitas terbesar untuk tuna-rungu ada di Washington D.C. namanya Galaudette University). Ketika ia datang, ia mengatakan, “Ini sekolah Kristen untuk tuna-rungu. Saya ingin bertanya kepada siswa-siswi di sini untuk mengetahui apakah pendidikan di sini sukses atau tidak.”
Orang ini kejam luar biasa. Ia bertanya kepada anak-anak kecil di sana. “Kamu percaya Tuhan mengasihi kamu?” Seorang anak kecil maju dan menjawabnya, “Aku percaya Tuhan mengasihiku.” Semua senyum-senyum. Orang itu bertanya lagi dengan menuliskan, “Jikalau Tuhan mencintaimu, kenapa kamu tuli dan bisu?” Anak itu melihat ke kanan dan ke kiri. Pertanyaan yang pertama mudah dijawab, pertanyaan kedua sulit dijawab. Ada yang tidakmenjawab, ada yang mulai mengalirkan air mata. Tetapi, ada seorang anak kecil yang maju ke depan. Ia mengambil kapur dan menuliskan ayat ini, “Ya Bapa, memang kehendak-Mu adalah seperti ini. Kehendak-Mu yang indah adalah seperti ini.”
Sebelum ia menulis, gurunya tegang, tidak tahu anak itu mau menulis apa dan apa yang ditulisnya itu akan menyatakan apakah pendidikan di sekolah itu sukses atau tidak. Bukan hanya pendidikan yang bisa menuilis, mengerti, membaca dan bergaul, tetapi juga pendidikan yang bisa mengerti sampai tuntas: Bagaimana hidup di hadapan Tuhan! Pada waktu anak itu menulis kalimat itu, dia hafal Matius 11:26. Sesudah menulis, ia menambahkan lagi: Yesus berkata. Semua bertepuk tangan. Apa yang terjadi? Orang yang menanyakan pertanyaan yang kejam itu, sekarang giliran mengalirkan air mata.
Kadang kita tidak tahu kehendak Tuhan. Mengapa anakku yang terbaik mati? Mengapa sudah mau sukses, tak jadi? Mengapa Tuhan tidak membiarkan saya lega, boleh bernapas sedikit? Bagi orang-orang tertentu, hidup itu sepertinya terlalu mudah. Tetapi bagi orang-orang lain, selalu ada kesulitan-kesulitan. Hari ini sebagai hamba Tuhan, biarlah saya menghimbau dan menghibur, karena Tuhan berkata, “Comfort ye, comfort ye, My people.”
Jangan kira orang kaya tidak ada kesulitan. Jangan kira orang yang sukses dalam usaha tidak ada kesulitan. Setiap atap di dalamnya ada air mata yang sulit dikatakan kepada orang lain. Di bawah setiap atap ada kesusahan dan kehancuran hati yang sulit dimengerti oleh orang lain. Pada waktu kita mengalami awan gelap, pada waktu kita mengalami kesulitan, biarlah kita belajar untuk melihat ke atas. Kalau Anda sudah gagal melihat kanan-kiri, depan-belakang, coba lihat ke atas. Anda akan melihat senyuman Tuhan yang tidak meninggalkan Anda. Biarlah Anda berkata, ”Tuhan, memang kehendak-Mu yang indah adalah seperti ini. Dan saya tahu, tidak pernah ada matahari yang terus tertutup oleh awan. Pada suatu hari, pasti ada senyuman yang akan tiba.”
Kiranya dengan iman yang kuat, Saudara bersedia hati, sabar dan tekun sampai Saudara menggenapi kehendak Tuhan dalam hidup Saudara masing-masing. Inilah satu contoh dari Yuhan Yesus. Karena kehendak-Mu adalah seperti ini, di dalam kesulitan, di dalam tangisan.
Yesus memberi peringatan yang besar di dalam pengajaran-Nya untuk setiap zaman. Ini tertulis dalam Matius 7 pada ayat-ayat yang terakhir.
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:15-23)
Salah satu ayat yang paling membuat orang pusing, membuat orang bingung, adalah bagian terakhir dari perikop ini. Siapakah mereka? Jikalau mereka adalah orang-orang Kristen, mengapa Yesus mengatakan: Aku belum pernah mengenal engkau? Jikalau mereka belum pernah dikenal Yesus, mengapa mereka pernah mengadakan mujizat demi nama Yesus? Jikalau mereka mengadakan mujizat, mengapa Yesus tidak mengakui mereka? Jikalau mereka mengusir setan dan bernubuat, mengapa Yesus mengatakan: Aku belum pernah mengenal engkau?
Jika kita mau membaca kalimat terakhir: “Enyahlah engkau, orang yang berbuat kejahatan”, maka saya kira di sini terjadi satu gap yang besar: gejala-gejala pelayanan berlainan dengan hidup yang sejati!
Perhatikan suatu hubungan yang penting sekali, yang pada zaman ini sudah dilonggarkan dan dikompromikan, yaitu mengaitkan ayat sebelum ayat 21 dengan ayat-ayat terakhir ini. Yesus mengatakan: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik; sedang pohon yang tidak baik, menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:17). Apakah buah? Buah jangan ditafsirkan sebagai cara melayani dan fenomena-fenomena keberhasilan pelayanan. Sekali lagi, buah jangan dipersamakan dengan cara-cara pelayanan dan keberhasilan di dalam melayani. Buah-buah hanya dilihat dari kesucian, ketaatan kepada Tuhan dan hidup berjalan di dalam pimpinan firman Tuhan.
Hidup dalam kesucian, ketaatan, dalam pimpinan firman Tuhan, dalam kejujuran dan kesungguhan, itulah buah! Jangan katakan, lihat buahnya, ia sudah giat, ia sudah ke gereja. Ia ikut pelayanan, bersaksi, bahkan mengusir setan, melakukan mukjizat – itulah buahnya. Itu bukan buah! Itu fenomena. Itu gejala dan keberhasilan pelayanan hanya di luarnya saja, hanya secara lahiriah saja. Itu bukan buah!
Berulang kali saya mengatakan bahwa saya menghargai mereka yang sincere (tulus), yang sungguh-sungguh, jujur, taat kepada Tuhan, menjaga dan hidup dalam kesucian, yang berjalan dalam keadilan dan benar-benar menaati prinsip-prinsip pimpinan dan perintah Tuhan. Itu buah! Buah jangan dilihat secara lahiriah saja, jangan dari luar. Orang ini kelihatan ke sana-sini bersaksi. Begitu banyak ia melayani Tuhan. Begitu berkuasa. Ia bisa melakukan mujizat, bisa menyembuhkan orang sakit. Itu bukan buah. Hal itu juga belum tentu menyatakan penyertaan Tuhan di tengah-tengah mereka.
Apa sebabnya? Karena Yesus mengatakan kepada mereka: Aku tidak pernah mengenal engkau! Saya tidak mengatakan setiap orang yang menyembuhkan itu tidak dikenal oleh Tuhan. Saya tidak mengatakan setiap orang yang mengalahkan setan itu tidak dikenal oleh Tuhan. Tetapi saya berkata, bahwa di antara begitu banyak orang yang katanya hamba Tuhan, yang menyembuhkan orang sakit, melakukan mukjizat dan menginjak-injak setan, bahkan yang sudah bernubuat demi nama Yesus, Yesus berkasta: “Aku tidak pernah mengenal kamu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Kalau demikian, mengapa Tuhan memperkenankan orang-orang yang tidak pernah dikenal oleh Dia melakukan hal-hal yang besar seperti itu? Membiarkan mereka sepertinya sukses, sepertinya memperalat dan memanipulasi nama Yesus, sampai pada akhirnya baru dibongkar? Jawabannya: “Saya tidak tahu, hanya kedaulatan Allah-lah yang membiarkan hal itu.”
Jangan lupa, di dalam tingkatan-tingkatan kehendak Tuhan, kita telah melihat sampai ke tahap dibiarkan oleh Tuhan sehingga akhirnya harus berhadapan dengan pengadilan Tuhan.
Peringatan yang sedemikian besar ini mengajarkan kepada kita bahwa janganlah kita beranggapan setiap orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, tetapi hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa. Siapakah mereka? Saya berharap mereka yang rela melakukan kehendak Bapa di sorga adalah Saudara.
(5) Taat sampai Mati
Ia telah menyimpulkan seluruh hidup-Nya dengan cara doa yang begitu taat kepada Tuhan, ”Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi” (Lukas 22:42-43). Yesus berdoa, karena Ia harus meminum cawan murka Allah. Keadilan yang “memabukkan” segala bangsa dan keadilan yang menghancurkan segala orang berdosa, sekarang tiba kepada Dia. Yesus berkata: “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu jadilah.” Melaui bagian ini saya menyimpulkan suatu kehidupan yang total taat, yang menjadi “wakil kedua” umat manusia. Bandingkan dengan “wakil pertama” umat manusia yaitu Adam.
Manusia pertama di taman Eden, manusia kedua di taman Getsemani. Sebelum berdosa, taman Eden merupakan taman yang indah sekali; sebaliknya taman Getsemani merupakan taman yang penuh kegelapan. Di dalam taman Eden, Tuhan menyediakan segala sesuatu supaya Adam dapat menikmatinya; sebaliknya, di taman Getsemani Tuhan memperbolehkan semua musuh Tuhan berkeliling untuk menangkap dan membunuh Dia. Kedua taman ini terlalu kontras!
Di taman Eden kita mendengar seruan di dalam hati manusia, “Bukan kehendak-Mu, tetapi kehendakku yang terjadi.” Sebaliknya, di taman Getsemani kita mendengar seruan Manusia kedua. “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi.”
Cawan murka Allah betul-betul tidak Tuhan singkirkan. Berarti, kadang-kadang doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Terlalu banyak kotbah yang tidak bertanggungjawab, yang hanya mencari kesenangan manusia untuk membuat pasaran yang besar. Saya tidak menginginkan demikian! Tuhan memang tidak menyingkirkan cawan itu, tetapi Tuhan memberikan kekuatan agar Yesus meminum cawan itu hingga tetes terakhir demi menanggung dosa Saudara dan saya. Inilah teladan Tuhan kita, teladan Penebus kita. Dari keadaan seperti ini, kita baru tahu bagaimana hidup menjadi orang yang menjalankan kehendak Tuhan.
Sudahkah Saudara rela menjadi seorang Kristen yang memikul salib, menyangkal diri, dan mau menjalankan kehendak Tuhan? Sudahkah Saudara menyediakan hati untuk menyingkirkan segala kemauan sendiri dan kemauan Setan yang selalu mengganggu dan merongrong hidup Saudara? Dan maukah Saudara mengundang Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam hati Saudara dan meminta Dia memimpin hidup Saudara?
Dari Kisah Para Rasul 13:36 kita melihat betapa Daud setelah menjalankan kehendak Tuhan, ia kemudian “tidur” di tempat nenek moyangnya. Berarti Daud sampai matinya terus berjuang untuk menjalankan kehendak Tuhan.
Ada semacam orang yang sampai akhir hidupnya masuk ke dalam pergumulan yang tidak ada habis-habisnya oleh karena terus menerus melawan kehendak Tuhan. Tetapi ada juga orang yang pada akhir hidupnya begitu tenang, oleh karena dia sudah menjalankan kehendak Tuhan, dan sekarang ia tidur dalam pangkuan Tuhan untuk selama-lamanya, menikmati sejahtera Tuhan.
Itu sebab penulis Ibrani (Ibrani 10:36) meminta kita untuk mempunyai ketekunan, sehingga setelah melakukan kehendak Tuhan, kita beroleh apa yang Tuhan janjikan kepada kita.