Menjadikan Allah Yang Pertama
Setiap pagi adalah awal baru, sebuah kesempatan untuk menentukan prioritas hidup kita. Dalam dunia yang sibuk ini, begitu mudah untuk membiarkan kesibukan, tanggung jawab, atau bahkan ambisi pribadi mendominasi perhatian kita. Namun, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadikan
Allah sebagai yang pertama dalam segala aspek hidup kita.
Menjadikan Allah sebagai yang pertama berarti mengutamakan Dia di atas segala sesuatu—dalam keputusan, hubungan, pekerjaan, dan waktu kita. Renungan ini akan membahas:
- Dasar Alkitabiah untuk menjadikan Allah sebagai yang pertama.
- Pandangan teologis tentang pentingnya hidup yang berpusat pada Allah.
- Aplikasi praktis untuk menjadikan Allah yang pertama di setiap pagi dan sepanjang hari.
I. Dasar Alkitabiah: Menjadikan Allah yang Pertama
- Panggilan untuk Mengutamakan Allah
Dalam Keluaran 20:3, perintah pertama dari Sepuluh Perintah Allah berbunyi:"Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku."
Perintah ini menegaskan bahwa Allah harus menjadi yang pertama dalam kehidupan kita, bukan hanya dalam urutan prioritas, tetapi juga dalam hati dan pikiran kita.
Yesus menegaskan kembali panggilan ini dalam Matius 22:37-38:"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama."
Menjadikan Allah yang pertama berarti menjadikan kasih kepada-Nya sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita lakukan.
- Berfokus pada Kerajaan Allah
Matius 6:33 menekankan pentingnya mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu. Ini berarti hidup dengan fokus pada nilai-nilai kekekalan, bukan hanya pada hal-hal duniawi.
John Stott, dalam bukunya The Message of the Sermon on the Mount, menjelaskan bahwa mencari Kerajaan Allah berarti menjadikan kehendak Allah sebagai prioritas tertinggi kita. Stott menulis, "Mencari dahulu Kerajaan Allah adalah panggilan untuk hidup yang berpusat pada Allah, bukan pada diri sendiri."
- Mengutamakan Hubungan dengan Allah
Dalam Mazmur 5:4, pemazmur menunjukkan pentingnya mendekat kepada Allah di pagi hari:
"Ya TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku; pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu."
Ketika kita memulai hari dengan Allah, kita mengundang Dia untuk memimpin langkah-langkah kita sepanjang hari.
II. Pandangan Teologis tentang Menjadikan Allah yang Pertama
John Calvin: Allah sebagai Pusat Segala Sesuatu
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menulis bahwa hati manusia cenderung menciptakan berhala ketika Allah tidak ditempatkan sebagai yang pertama. Dia menegaskan bahwa Allah harus menjadi pusat dari setiap aspek hidup kita, karena hanya Dia yang layak menerima tempat tertinggi di hati kita.Dietrich Bonhoeffer: Ketaatan yang Radikal
Dalam The Cost of Discipleship, Bonhoeffer menjelaskan bahwa menjadikan Allah yang pertama berarti hidup dalam ketaatan penuh kepada-Nya. Dia menulis, "Mengikuti Kristus berarti melepaskan semua yang lain dan menjadikan Dia satu-satunya fokus hidup kita."R.C. Sproul: Hidup untuk Kemuliaan Allah
Dalam The Holiness of God, R.C. Sproul menekankan bahwa hidup Kristen yang sejati adalah hidup yang berpusat pada kemuliaan Allah. Dia berkata, "Ketika Allah menjadi yang pertama, segala sesuatu yang lain menemukan tempatnya yang benar."
III. Aplikasi Praktis: Menjadikan Allah yang Pertama dalam Kehidupan Sehari-hari
- Memulai Hari dengan Allah
Mazmur 143:8 berkata:"Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya."
Memulai hari dengan doa dan merenungkan firman Allah adalah cara praktis untuk menjadikan Dia sebagai prioritas pertama kita.
Tips Praktis:
- Tetapkan waktu khusus setiap pagi untuk membaca Alkitab dan berdoa.
- Gunakan jurnal untuk mencatat apa yang Tuhan ajarkan kepada Anda.
- Mintalah hikmat dan bimbingan Tuhan untuk menghadapi hari Anda.
- Meninggalkan Berhala Modern
Keluaran 20:3 mengingatkan kita untuk tidak memiliki allah lain di hadapan Tuhan. Berhala modern bisa berupa pekerjaan, kekayaan, atau bahkan hubungan yang kita tempatkan di atas Allah.
Refleksi:
- Evaluasi apa yang mendominasi pikiran dan waktu Anda.
- Lepaskan hal-hal yang menghalangi Anda untuk menjadikan Allah yang pertama.
- Hidup dengan Fokus Kekekalan
Kolose 3:2 berkata:"Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."
Hidup dengan fokus pada kekekalan berarti membuat keputusan berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan hanya keuntungan duniawi.
Ilustrasi:
Seperti seorang pelari yang fokus pada garis finish, kita juga dipanggil untuk memusatkan perhatian pada tujuan kekal yang Allah tetapkan bagi kita.
- Melibatkan Allah dalam Semua Keputusan
Amsal 3:5-6 mengingatkan kita:"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Tips Praktis:
- Doakan setiap keputusan besar dan kecil yang Anda buat.
- Tanyakan kepada Tuhan apa yang akan memuliakan-Nya dalam setiap langkah Anda.
IV. Tantangan dalam Menjadikan Allah yang Pertama
- Kesibukan dan Distraksi
Dunia modern dipenuhi dengan distraksi yang dapat mengalihkan perhatian kita dari Allah. Pekerjaan, media sosial, dan tekanan hidup sering kali membuat kita sulit untuk fokus kepada-Nya.
Aplikasi:
- Buat jadwal yang mencakup waktu khusus untuk Allah.
- Kurangi penggunaan media sosial atau aktivitas lain yang tidak produktif.
- Kecenderungan untuk Mengandalkan Diri Sendiri
Sebagai manusia, kita sering kali tergoda untuk mengandalkan kekuatan sendiri daripada berserah kepada Tuhan.
Yeremia 17:5-7 berkata bahwa orang yang mengandalkan manusia adalah seperti semak di padang gurun, tetapi orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air.
Aplikasi:
- Latih diri untuk berdoa sebelum mengambil keputusan.
- Ingatkan diri bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kekuatan sejati.
V. Berkat dari Menjadikan Allah yang Pertama
- Damai Sejahtera di Tengah Kesibukan
Yesaya 26:3 berkata:"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."
Ketika kita menjadikan Allah yang pertama, Dia memberikan damai sejahtera yang melampaui pengertian manusia.
- Hidup yang Berbuah
Yohanes 15:5 berkata:"Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak."
Menjadikan Allah yang pertama menghasilkan kehidupan yang berbuah, yang membawa kemuliaan bagi nama-Nya.
- Janji Pemeliharaan Allah
Matius 6:33 menjanjikan bahwa ketika kita mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, semua kebutuhan kita akan dicukupi oleh-Nya.
Ilustrasi:
Seperti seorang ayah yang memprioritaskan kebutuhan anaknya, Allah juga memastikan bahwa semua kebutuhan kita dipenuhi ketika kita menempatkan-Nya sebagai yang utama.
Kesimpulan: Menjadikan Allah yang Pertama sebagai Gaya Hidup
Menjadikan Allah yang pertama bukan hanya tentang waktu, tetapi juga tentang hati yang sepenuhnya berfokus kepada-Nya. Dalam segala hal—pagi, siang, dan malam—kita dipanggil untuk mengutamakan Allah di atas segala sesuatu.
Sebagai respons, mari kita:
- Memulai hari dengan merenungkan firman Tuhan dan berdoa.
- Menyerahkan semua keputusan kepada-Nya.
- Hidup dengan fokus pada kekekalan.
Ketika Allah menjadi yang pertama dalam hidup kita, segala sesuatu yang lain akan menemukan tempatnya yang benar. Firman Tuhan mengingatkan kita:
"Sebab dari Dialah, dan oleh Dialah, dan kepada Dialah segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
Selamat pagi, dan jadikan Allah sebagai yang pertama hari ini dan seterusnya.
.jpg)