1 Tesalonika 1:2 Ucapan Syukur Paulus dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini
Pendahuluan
Surat 1 Tesalonika merupakan salah satu surat yang ditulis Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, sebuah kota penting di Makedonia. Dalam surat ini, Paulus membuka tulisannya dengan ucapan syukur yang penuh kasih kepada Allah atas iman, kasih, dan pengharapan jemaat. Ayat 1 Tesalonika 1:2 berbunyi:
“Kami senantiasa mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.” (TB)
Ayat singkat ini ternyata menyimpan kekayaan teologis yang dalam. Ucapan syukur Paulus bukan sekadar ungkapan emosional, tetapi merupakan refleksi iman yang berakar pada doktrin Reformed mengenai kasih karunia Allah, pemilihan, dan persekutuan orang kudus. Artikel ini akan mengeksposisi 1 Tesalonika 1:2 menurut pemahaman teologi Reformed, serta menjelaskan bagaimana para pakar teologi Reformed menafsirkan ayat ini.
Konteks Surat 1 Tesalonika
Sebelum menafsirkan ayat ini, penting untuk memahami latar belakangnya. Paulus menulis surat ini sekitar tahun 50–51 M, menjadikannya salah satu surat paling awal dalam Perjanjian Baru. Tesalonika adalah kota perdagangan yang ramai, dengan pengaruh budaya Yunani-Romawi yang kuat. Paulus, bersama Silwanus dan Timotius, memberitakan Injil di sana, dan banyak orang bertobat dari penyembahan berhala untuk melayani Allah yang hidup (1 Tesalonika 1:9).
Namun, setelah Paulus meninggalkan kota itu karena penganiayaan, jemaat muda di Tesalonika tetap setia dalam iman. Hal ini membuat Paulus bersyukur kepada Allah, dan dari situlah lahir ucapan syukur dalam ayat kedua surat ini.
Eksposisi 1 Tesalonika 1:2
1. “Kami senantiasa mengucap syukur...”
Frasa ini menunjukkan kebiasaan rohani Paulus. Ia tidak hanya sekali-sekali mengucap syukur, tetapi senantiasa (Yunani: pantote). Menurut John Calvin, konsistensi Paulus dalam doa adalah teladan bagi gereja. Calvin menekankan bahwa syukur harus menjadi nafas kehidupan orang percaya, sebab segala sesuatu berasal dari kasih karunia Allah.
Bagi teologi Reformed, ucapan syukur ini juga menegaskan doktrin soli Deo gloria — segala pujian hanya layak bagi Allah, bukan bagi manusia. Iman jemaat di Tesalonika memang kuat, tetapi Paulus tidak memuji mereka secara langsung; ia memuji Allah yang bekerja dalam mereka.
2. “...kepada Allah...”
Ucapan syukur Paulus diarahkan kepada Allah, bukan kepada jemaat itu sendiri. Matthew Henry, seorang komentator Puritan, menekankan bahwa ini menunjukkan kerendahan hati Paulus sekaligus penekanan pada kedaulatan Allah. Semua buah iman, kasih, dan pengharapan berasal dari karya Roh Kudus, sehingga segala syukur ditujukan kepada Sang Pencipta, bukan makhluk.
Teologi Reformed menekankan bahwa iman adalah karunia Allah (Efesus 2:8-9). Dengan demikian, Paulus mengucap syukur kepada Allah karena Ia yang memanggil, memilih, dan memelihara jemaat di Tesalonika.
3. “...karena kamu semua...”
Paulus menegaskan bahwa syukurnya bukan hanya untuk sebagian jemaat, tetapi semua. Ini penting karena menunjukkan bahwa kasih Allah berlaku bagi seluruh tubuh Kristus. Charles Hodge, seorang teolog Reformed abad ke-19, menekankan bahwa ayat ini menggambarkan solidaritas Paulus dengan seluruh jemaat, tanpa diskriminasi.
Dalam perspektif Reformed, ini menekankan doktrin persekutuan orang kudus (communio sanctorum). Semua orang percaya, tanpa memandang status sosial, suku, atau latar belakang, adalah bagian dari tubuh Kristus yang satu. Paulus merangkul semua jemaat dalam doa dan syukur.
4. “...dan menyebut kamu dalam doa kami.”
Doa Paulus bukan doa umum tanpa nama, melainkan doa yang penuh perhatian, di mana ia menyebut jemaat secara pribadi di hadapan Allah. John Stott, meski bukan Reformed murni namun sering dikutip dalam tradisi Reformed, menekankan bahwa doa syafaat ini adalah bukti kasih pastoral Paulus.
Dalam kerangka Reformed, doa ini mencerminkan doktrin providensi Allah. Paulus tahu bahwa hanya Allah yang sanggup memelihara iman jemaat di tengah penganiayaan. Dengan demikian, doa menjadi sarana anugerah (means of grace) yang Allah pakai untuk menopang umat-Nya.
Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
1. John Calvin
Calvin menekankan bahwa ucapan syukur Paulus adalah bentuk pengakuan akan kasih karunia Allah. Ia berkata bahwa Paulus bukan sekadar bersyukur karena perbuatan baik jemaat, melainkan karena perbuatan baik itu berasal dari Allah sendiri. Dengan demikian, Calvin menegaskan doktrin total depravity — manusia tidak mungkin menghasilkan iman sejati tanpa karya Roh Kudus.
2. Matthew Henry
Henry menyoroti aspek pastoral dari ayat ini. Menurutnya, ucapan syukur Paulus adalah cara untuk menguatkan jemaat, agar mereka menyadari bahwa iman mereka nyata dan berharga di mata Allah. Dengan demikian, syukur Paulus juga berfungsi sebagai penghiburan bagi jemaat yang sedang menderita.
3. Charles Hodge
Hodge melihat ayat ini sebagai bukti pentingnya doa syafaat dalam kehidupan gereja. Bagi Hodge, ucapan syukur dan doa tidak bisa dipisahkan. Syukur tanpa doa akan kering, dan doa tanpa syukur akan egois. Paulus menunjukkan keseimbangan rohani yang ideal.
4. Herman Bavinck
Bavinck, seorang teolog Reformed Belanda, menekankan bahwa doa Paulus mencerminkan kesatuan antara doktrin dan kehidupan. Ia menegaskan bahwa doktrin pemilihan Allah (election) tidak membuat Paulus pasif, melainkan mendorongnya untuk bersyukur dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Implikasi Teologis dari 1 Tesalonika 1:2
-
Syukur sebagai respons terhadap kasih karunia
Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam syukur yang konstan. Segala sesuatu, termasuk iman kita, adalah anugerah. Maka, respons yang benar adalah memuliakan Allah dengan ucapan syukur. -
Kedaulatan Allah dalam keselamatan
Ucapan syukur Paulus mengingatkan kita bahwa iman jemaat bukan hasil usaha manusia, melainkan karya Allah. Ini selaras dengan doktrin Reformed mengenai unconditional election dan irresistible grace. -
Doa syafaat sebagai pelayanan kasih
Paulus memberi teladan bahwa doa bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Gereja dipanggil untuk saling menopang melalui doa. -
Persekutuan orang kudus
Paulus bersyukur “karena kamu semua,” menunjukkan bahwa kasih Kristus mencakup seluruh tubuh Kristus. Tidak ada yang terpinggirkan dalam kasih Allah.
Aplikasi Praktis bagi Gereja Masa Kini
-
Menghidupi budaya syukur
Jemaat diajak untuk meneladani Paulus dalam senantiasa bersyukur, bahkan di tengah penderitaan. Syukur adalah tanda iman yang dewasa. -
Mengutamakan doa syafaat
Gereja harus menekankan doa syafaat, mendoakan setiap anggota jemaat secara konsisten, bukan hanya saat ada masalah. Doa syafaat menumbuhkan kasih dan kesatuan tubuh Kristus. -
Menekankan kasih karunia, bukan prestasi manusia
Segala pertumbuhan rohani dalam jemaat harus dikembalikan kepada kasih karunia Allah. Gereja tidak boleh jatuh dalam sikap sombong rohani. -
Merangkul semua orang percaya
Sama seperti Paulus yang bersyukur untuk semua jemaat, gereja masa kini dipanggil untuk merangkul semua orang tanpa diskriminasi, sebab Kristus adalah kepala atas satu tubuh.
Kesimpulan
Eksposisi 1 Tesalonika 1:2 menurut teologi Reformed menunjukkan betapa dalamnya makna sebuah ucapan syukur. Paulus mengajarkan bahwa iman, kasih, dan pengharapan jemaat adalah hasil karya Allah semata, sehingga segala pujian harus diarahkan kepada-Nya. Syukur yang konstan, doa syafaat yang setia, dan kasih yang merangkul semua orang adalah ciri khas kehidupan Kristen yang sejati.
Bagi gereja masa kini, ayat ini adalah panggilan untuk hidup dalam budaya syukur, mengandalkan kasih karunia Allah, dan setia dalam doa syafaat. Dengan demikian, gereja bukan hanya menerima kasih karunia, tetapi juga menjadi saksi kasih karunia itu di dunia.
.jpg)