Titus 1:5-9: Kualifikasi Pemimpin Gereja

Titus 1:5-9: Kualifikasi Pemimpin Gereja

Pendahuluan

Surat Paulus kepada Titus adalah salah satu dari tiga surat pastoral dalam Perjanjian Baru. Dalam Titus 1:5-9, Rasul Paulus memberikan petunjuk yang sangat penting mengenai penunjukan dan kualifikasi para penatua di dalam gereja. Dalam tradisi Reformed, teks ini memiliki makna mendalam karena menyangkut struktur gereja, otoritas rohani, serta standar moral dan spiritual bagi para pemimpin gerejawi.

Artikel ini akan mengupas eksposisi ayat Titus 1:5-9 secara mendalam, disertai pandangan beberapa pakar teologi Reformed terkemuka seperti John Calvin, R.C. Sproul, dan John MacArthur. Tujuan dari eksposisi ini adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya integritas, pengajaran yang sehat, dan kepemimpinan berdasarkan firman Tuhan dalam kehidupan gereja.

I. Latar Belakang Konteks Titus 1:5-9

Titus ditinggalkan di Kreta oleh Paulus untuk "menyelesaikan apa yang masih perlu dan menetapkan penatua-penatua di setiap kota" (Titus 1:5). Tugas ini adalah perintah kerasulan, dan tidak asal-asalan. Kreta dikenal sebagai tempat dengan reputasi moral yang buruk, sehingga gereja di sana membutuhkan pemimpin yang benar-benar setia, murni, dan kuat secara doktrinal.

Menurut John Calvin dalam komentarnya, Paulus dengan sengaja memulai suratnya dengan penekanan pada penetapan penatua karena "tidak ada hal yang lebih penting bagi kekuatan dan kesatuan gereja lokal selain pemimpin yang setia dan benar."

II. Eksposisi Titus 1:5-9

A. Titus 1:5: Tujuan Penetapan Penatua

"Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud, supaya engkau menyelesaikan apa yang masih perlu dan menetapkan penatua-penatua di setiap kota seperti yang telah kuperintahkan kepadamu."

Kata kunci: penatua, gereja lokal, otoritas kerasulan

Tugas utama Titus adalah menyelesaikan pembangunan gereja dan menetapkan penatua. Dalam sistem Reformed, penatua dipandang sebagai bagian integral dari pemerintahan gereja yang alkitabiah. Mereka adalah pemimpin rohani yang memerintah bersama para pendeta, menjaga kemurnian ajaran dan disiplin gereja.

Pandangan Reformed:

  • John MacArthur menyatakan bahwa gereja lokal harus memiliki struktur kepemimpinan yang kuat agar bisa bertumbuh dalam kasih karunia dan kebenaran.

  • R.C. Sproul menambahkan bahwa otoritas dalam gereja bukan berasal dari manusia, tetapi dari Kristus melalui para rasul, dan Titus bertindak atas dasar otoritas tersebut.

B. Titus 1:6: Karakter Keluarga Penatua

"Yaitu orang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib."

Kata kunci: integritas keluarga, tak bercacat, suami dari satu istri

Dalam ayat ini, Paulus menekankan pentingnya kehidupan keluarga seorang penatua. Integritas dalam keluarga menjadi gambaran integritas pelayanan. Keluarga adalah "gereja miniatur", dan pemimpin rohani harus bisa memimpin rumah tangganya sebelum dipercaya memimpin jemaat Tuhan.

Pakar Reformed:

  • John Calvin mengatakan bahwa "keluarga adalah sekolah pertama dari kebajikan Kristen." Seorang penatua yang tidak mampu mengatur rumah tangganya sendiri tidak layak untuk mengatur rumah Tuhan.

  • The Westminster Directory for Church Government menyatakan bahwa "kualifikasi moral dan rohani seorang penatua harus tercermin dalam relasinya dengan istri dan anak-anaknya."

C. Titus 1:7: Karakter Moral Pribadi

"Sebab sebagai pengatur rumah Allah, penilik jemaat harus tak bercacat, tidak angkuh, tidak pemarah, tidak peminum, tidak pemarah, tidak serakah akan keuntungan."

Kata kunci: tak bercacat, penilik jemaat, karakter moral

Paulus mengulangi istilah “tak bercacat”, menegaskan bahwa penatua adalah pengelola (steward) rumah Allah. Oleh karena itu, ia harus memiliki karakter moral yang tidak tercela.

Pakar Reformed:

  • John Stott (meskipun bukan Reformed murni, tapi sering dikutip oleh kalangan Reformed) menjelaskan bahwa pemimpin gereja bukan hanya pengkhotbah, tetapi seorang teladan etika.

  • Louis Berkhof, teolog Reformed sistematik, menjelaskan bahwa integritas moral bukan hanya soal tidak melakukan kejahatan, tetapi memiliki semangat dan pengendalian diri yang mencerminkan Kristus.

Kata "tidak serakah akan keuntungan" secara khusus menolak praktik pelayanan yang berorientasi pada keuntungan finansial.

D. Titus 1:8: Ciri Positif Penatua

"Melainkan ia harus suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri."

Kata kunci: suka memberi tumpangan, bijaksana, saleh, penguasaan diri

Kualifikasi dalam ayat 8 merupakan aspek positif dari kehidupan penatua. Ia tidak hanya bebas dari dosa-dosa besar, tetapi juga memiliki kualitas yang membangun. Ia adalah seseorang yang mencintai apa yang baik dan menunjukkan kebajikan dalam tindakannya.

John MacArthur menekankan bahwa kata “suka akan yang baik” menunjuk pada karakter batin yang membenci kejahatan dan mencintai kebenaran. Penatua bukan hanya orang baik, tetapi orang yang suka hal-hal baik karena telah diubahkan oleh Injil.

E. Titus 1:9: Kualifikasi Doktrinal dan Kepemimpinan Pengajaran

"Dan harus berpegang pada perkataan yang benar yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan juga menyanggah penentang-penentangnya."

Kata kunci: ajaran sehat, doktrin benar, menasihati, menyanggah

Di sinilah aspek utama seorang penatua dalam tradisi Reformed sangat ditekankan: kemampuan mengajar dan mempertahankan doktrin. Penatua harus mampu menasihati dengan kasih, dan menyanggah pengajaran sesat dengan ketegasan.

Pandangan Reformed:

  • John Calvin sangat menekankan pentingnya doktrin yang sehat dalam kepemimpinan gereja. Ia menulis bahwa “penatua yang sejati adalah penjaga firman, yang bukan hanya tahu kebenaran, tetapi membelanya.”

  • The Second Helvetic Confession (1566) menyatakan: "Gembala harus mampu menjelaskan firman Allah dengan benar, dan menyanggah semua ajaran palsu."

III. Implikasi Praktis Bagi Gereja Masa Kini

1. Pemilihan Penatua Tidak Berdasarkan Popularitas

Gereja tidak boleh memilih penatua berdasarkan kekayaan, status sosial, atau jumlah donasi. Standar satu-satunya adalah firman Tuhan seperti yang dijabarkan dalam Titus 1:5-9.

2. Pentingnya Pelatihan Teologis Bagi Pemimpin

Tradisi Reformed menekankan pendidikan teologis yang kuat bagi para pemimpin gereja. Penatua harus mampu mengerti Alkitab secara sistematis dan aplikatif.

3. Keteladanan Pribadi Lebih Penting dari Karisma

Dalam dunia yang mementingkan penampilan dan retorika, Titus 1:5-9 mengingatkan bahwa karakter lebih penting daripada karisma. Gereja membutuhkan pemimpin yang hidup kudus, bukan hanya fasih berbicara.

4. Perlunya Struktur Gereja yang Reformed

Struktur gereja yang sehat memerlukan adanya penatua-penatua yang dipilih dengan hati-hati dan dibimbing oleh Alkitab. Tradisi Reformed mendorong sinodalitas dan akuntabilitas antar penatua.

Kesimpulan

Titus 1:5-9 adalah teks penting dalam membangun fondasi gereja lokal yang sehat, berdasarkan prinsip teologi Reformed. Eksposisi ini menunjukkan bahwa penatua bukan sekadar jabatan, tetapi panggilan suci yang memerlukan integritas, keteladanan keluarga, kemurnian moral, kasih terhadap kebaikan, dan kecakapan dalam pengajaran.

Pemimpin gereja harus mencerminkan Kristus, bukan hanya dalam pengajaran, tetapi dalam hidup pribadi, keluarga, dan hubungannya dengan sesama. Gereja masa kini perlu kembali kepada standar Alkitab dalam memilih dan membentuk para pemimpin, agar kesaksian Kristus tetap murni di tengah dunia.

Next Post Previous Post