Titus 2:1-2 Hidup Saleh dan Pengajaran yang Sehat

Titus 2:1-2 Hidup Saleh dan Pengajaran yang Sehat

Pendahuluan

Kitab Titus merupakan salah satu surat pastoral yang ditulis oleh rasul Paulus kepada anak rohaninya, Titus, yang melayani di pulau Kreta. Surat ini penuh dengan nasihat praktis mengenai penggembalaan, kehidupan jemaat, dan pengajaran yang sehat. Dalam pasal 2, Paulus menekankan pentingnya pengajaran yang benar (sound doctrine) serta aplikasi konkret dalam kehidupan sehari-hari jemaat.

Ayat 1-2 berbunyi:

“Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” (Titus 2:1-2, TB).

Ayat ini menegaskan hubungan erat antara doktrin yang sehat dan praktik hidup yang kudus. Dalam tradisi Reformed, kebenaran ini sangat penting: teologi yang benar harus melahirkan kehidupan yang benar. Artikel ini akan mengeksposisi ayat tersebut, merujuk pada pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Matthew Henry, R.C. Sproul, dan John Stott.

Konteks Titus 2:1-2

Untuk memahami pesan ayat ini, kita perlu melihat konteksnya:

  1. Konteks historis: Titus ditugaskan Paulus untuk mengatur jemaat di Kreta, yang dikenal sebagai masyarakat dengan moralitas rendah (Titus 1:12: “Orang Kreta selalu pembohong, binatang buas yang malas, pelahap yang rakus”). Dalam situasi demikian, pengajaran yang sehat dan teladan hidup kudus sangat dibutuhkan.

  2. Konteks literer: Dalam pasal 1, Paulus menekankan perlunya menolak pengajar sesat dan menegakkan kepemimpinan gereja yang benar. Lalu, dalam pasal 2, ia memberikan instruksi praktis untuk setiap kelompok dalam jemaat: laki-laki tua, perempuan tua, laki-laki muda, hamba, hingga semua orang percaya.

  3. Konteks teologis: Surat ini menekankan hubungan erat antara anugerah keselamatan (Titus 2:11-14) dan hidup saleh yang merupakan buah dari anugerah itu.

Eksposisi Ayat

1. “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1)

Kata “tetapi engkau” menunjukkan kontras antara Titus dengan para pengajar sesat (Titus 1:10-16). Tugas Titus adalah mengajarkan doktrin yang sehat, yaitu ajaran yang selaras dengan Injil Kristus.

  • John Calvin menekankan bahwa pengajaran yang sehat tidak hanya menyangkut doktrin yang benar, tetapi juga harus membuahkan kehidupan yang saleh. Ajaran tidak boleh berhenti pada pengetahuan intelektual, melainkan harus membentuk karakter.

  • Matthew Henry melihat bahwa Paulus menekankan perbedaan antara “omong kosong pengajar sesat” dengan “ajaran sehat” yang membawa hidup. Ajaran yang benar bagaikan makanan rohani yang menyehatkan jiwa, bukan racun yang merusak.

  • Dalam pandangan R.C. Sproul, “sound doctrine” adalah doktrin yang setia pada Firman Allah, konsisten dengan Injil, dan mengarah pada pengudusan. Sproul mengingatkan bahwa gereja sering tergoda untuk menurunkan standar doktrin demi relevansi, padahal justru doktrin yang sehat adalah dasar dari kehidupan Kristen yang sejati.

2. “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana...” (Titus 2:2a)

Paulus memulai instruksinya dengan laki-laki tua karena mereka menjadi teladan bagi generasi muda.

  • Hidup sederhana (temperate): Dalam bahasa Yunani (nÄ“phalios), berarti waspada, tidak diperbudak hawa nafsu, khususnya dalam hal minuman dan kesenangan duniawi. Menurut Calvin, ini berarti hidup yang terkendali, tidak berlebihan dalam apapun.

  • Terhormat (worthy of respect): Hidup yang bermartabat, sehingga tidak mempermalukan Injil. Matthew Henry menekankan bahwa usia tua seharusnya membawa kebijaksanaan dan kewibawaan, bukan kebodohan.

  • Bijaksana (self-controlled): Menurut Sproul, ini berbicara tentang integritas moral: kemampuan untuk mengendalikan diri dalam ucapan, tindakan, dan keputusan.

Dengan demikian, kehidupan laki-laki tua di jemaat harus mencerminkan ketenangan, kestabilan, dan kedewasaan rohani.

3. “...sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” (Titus 2:2b)

Paulus menambahkan tiga hal penting: iman, kasih, dan ketekunan.

  • Sehat dalam iman: Artinya tetap berpegang pada Injil sejati, tidak tergoyahkan oleh ajaran palsu. Calvin menegaskan bahwa iman harus dipelihara dengan Firman dan doa.

  • Sehat dalam kasih: Kasih kepada Allah dan sesama harus tetap hidup dan subur, tidak padam seiring usia. Matthew Henry menekankan bahwa orang tua tidak boleh menjadi keras hati, tetapi semakin penuh kasih.

  • Sehat dalam ketekunan: Ini berbicara tentang daya tahan dalam menghadapi penderitaan. R.C. Sproul menyebut ketekunan sebagai buah dari iman yang sejati—iman yang diuji waktu, tetap bertahan sampai akhir.

Pandangan Para Teolog Reformed

John Calvin

Calvin menafsirkan bahwa tujuan utama Paulus adalah menunjukkan hubungan erat antara doktrin dan etika. Bagi Calvin, tidak ada teologi sejati yang tidak menghasilkan kesalehan. Laki-laki tua yang beriman harus menjadi teladan nyata dari doktrin yang mereka yakini.

Matthew Henry

Henry menekankan bahwa pengajaran Titus harus membentuk kehidupan jemaat secara praktis. Ia menyoroti pentingnya laki-laki tua sebagai contoh kesederhanaan, kehormatan, dan kesabaran. Menurut Henry, semakin tua usia seseorang, semakin ia seharusnya menampakkan kebajikan yang matang.

R.C. Sproul

Sproul mengingatkan bahwa ajaran sehat adalah benteng melawan relativisme moral dan kebingungan rohani. Ia menegaskan bahwa iman yang sehat selalu menyatu dengan kasih dan ketekunan, sehingga membuahkan kehidupan Kristen yang konsisten.

John Stott

Dalam The Message of Titus, John Stott menulis bahwa pengajaran Kristen sejati harus selalu “doctrinally sound and ethically practical.” Ajaran yang sehat tidak boleh dipisahkan dari gaya hidup yang kudus. Orang Kristen, khususnya yang lebih tua, harus menjadi “sermon in shoes” — khotbah yang hidup.

Implikasi Teologis

  1. Kesatuan antara doktrin dan etika
    Dalam teologi Reformed, kebenaran doktrin tidak hanya untuk dipelajari, tetapi untuk dihidupi. Titus 2:1-2 menunjukkan bahwa ajaran sehat akan tampak nyata dalam kesalehan sehari-hari.

  2. Pentingnya teladan generasi tua
    Laki-laki tua dipanggil menjadi model iman, kasih, dan ketekunan. Ini sejalan dengan prinsip covenant theology, di mana iman diteruskan lintas generasi melalui teladan hidup.

  3. Kesalehan sebagai buah anugerah
    Paulus tidak menyuruh Titus mengajarkan moralitas kosong, tetapi kehidupan yang lahir dari Injil. Seperti ditegaskan dalam Titus 2:11-14, anugerah Allah yang menyelamatkanlah yang mendidik orang percaya untuk hidup kudus.

Aplikasi Praktis bagi Gereja Masa Kini

  1. Gembala harus setia pada doktrin sehat
    Pengajaran harus berpusat pada Firman, bukan pada hiburan atau opini manusia. Gereja harus menolak ajaran yang dangkal dan kembali kepada Injil yang murni.

  2. Orang tua Kristen sebagai teladan
    Laki-laki tua (dan juga perempuan tua dalam ayat 3) dipanggil untuk mendemonstrasikan iman dan kasih. Gereja tidak boleh menyingkirkan generasi tua, melainkan menghargai mereka sebagai pilar rohani.

  3. Membangun iman lintas generasi
    Gereja harus memfasilitasi relasi antargenerasi, di mana orang tua rohani membimbing yang muda, sebagaimana Paulus menasihati Titus.

  4. Menjaga keseimbangan iman, kasih, dan ketekunan
    Orang Kristen tidak hanya perlu kuat dalam doktrin (iman), tetapi juga penuh kasih, serta tahan dalam penderitaan. Ketiganya harus berjalan bersama.

Kesimpulan

Titus 2:1-2 menegaskan pentingnya pengajaran yang sehat dan kehidupan yang selaras dengannya. Paulus menasihati Titus untuk mengajarkan ajaran yang benar, dimulai dengan menasihati laki-laki tua agar hidup sederhana, terhormat, bijaksana, dan sehat dalam iman, kasih, serta ketekunan.

Menurut teologi Reformed, ayat ini menyoroti prinsip utama: doktrin dan etika tidak dapat dipisahkan. Ajaran sehat melahirkan kehidupan yang kudus, dan kehidupan kudus memperlihatkan kebenaran ajaran. Pandangan para teolog seperti Calvin, Henry, Sproul, dan Stott menegaskan bahwa iman sejati harus nyata dalam kasih dan ketekunan, khususnya bagi generasi tua yang menjadi teladan jemaat.

Bagi gereja masa kini, pesan ini sangat relevan: di tengah dunia yang penuh ajaran sesat dan relativisme moral, umat Allah dipanggil untuk berpegang pada doktrin sehat dan menghidupinya dalam kasih serta ketekunan, sambil membimbing generasi berikutnya menuju Kristus.

Next Post Previous Post