Matius 20:16 Yang Terakhir Menjadi yang Pertama

Matius 20:16 Yang Terakhir Menjadi yang Pertama

Pendahuluan

Perkataan Yesus dalam Matius 20:16: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir” merupakan salah satu pernyataan yang penuh paradoks dalam Injil. Ucapan ini muncul pada akhir perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur (Matius 20:1–15) yang Yesus ajarkan untuk menegaskan prinsip kerajaan Allah.

Dalam teologi Reformed, ayat ini memiliki bobot penting karena menyingkapkan natur anugerah Allah yang bebas, berdaulat, dan tidak bergantung pada prestasi manusia. Prinsip ini menegaskan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan pemberian Allah yang tidak dapat ditawar. Dengan demikian, ayat ini menjadi kunci untuk memahami keadilan dan kemurahan Allah dalam konteks soteriologi dan eklesiologi.

Konteks Historis dan Literer

1. Konteks Injil Matius

Injil Matius ditulis dengan penekanan pada Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Perumpamaan dalam pasal 20 berkaitan erat dengan pengajaran Yesus sebelumnya mengenai upah kekal (Mat. 19:27-30). Petrus bertanya apa yang akan diperoleh para murid yang telah meninggalkan segalanya, lalu Yesus menegaskan bahwa mereka akan menerima seratus kali lipat, tetapi menutup pernyataan itu dengan paradoks: “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Mat. 19:30). Paradoks itu diulang lagi di Matius 20:16, menjadi bingkai (inclusio) bagi perumpamaan ini.

2. Latar Belakang Sosial-Ekonomi

Perumpamaan pekerja di kebun anggur memakai gambaran sehari-hari di Palestina abad pertama. Kebun anggur melambangkan Israel (Yesaya 5:1-7), dan pemilik kebun adalah Allah. Pekerja dipanggil pada waktu yang berbeda, namun semua menerima upah yang sama. Dalam budaya Yahudi, ini tampak tidak adil, tetapi Yesus hendak menekankan keadilan Allah yang berdasarkan kemurahan-Nya, bukan standar manusia.

3. Posisi Teologis

Dalam tradisi Reformed, perumpamaan ini tidak dimaksudkan untuk mengajarkan tentang distribusi upah jasmani atau derajat kemuliaan di surga semata, melainkan untuk menegaskan kebebasan Allah dalam memberi anugerah kepada siapa saja sesuai kehendak-Nya.

Eksposisi Matius 20:16

Frasa: “Orang yang terakhir akan menjadi yang pertama”

Ungkapan ini menekankan pembalikan nilai dalam kerajaan Allah. Dalam dunia, orang pertama—yakni yang kuat, berkuasa, atau berjasa—akan mendapat tempat utama. Tetapi dalam kerajaan Allah, Allah sering mengangkat yang hina, miskin, dan tersisih menjadi yang utama (bdk. Lukas 1:52-53).

Menurut John Calvin, frasa ini adalah koreksi terhadap ambisi para murid yang berpikir bahwa kedekatan mereka dengan Yesus atau jasa mereka akan menentukan kedudukan dalam kerajaan. Yesus menegaskan bahwa Allah bekerja berdasarkan anugerah, bukan prestasi.

Frasa: “dan yang pertama akan menjadi yang terakhir”

Frasa ini merupakan peringatan bagi mereka yang merasa diri berhak karena status, tradisi, atau jasa. Bagi orang Yahudi pada masa itu, mereka merasa sebagai umat pilihan yang lebih dahulu, tetapi Yesus mengingatkan bahwa bangsa-bangsa lain pun akan menerima anugerah yang sama.

Matthew Henry menafsirkan bahwa pernyataan ini adalah peringatan agar orang percaya tidak menjadi sombong atau merasa lebih pantas daripada orang lain, sebab dalam kerajaan Allah tidak ada tempat bagi kesombongan.

Analisis Teologis

1. Kedaulatan Anugerah Allah

Perumpamaan pekerja di kebun anggur menekankan bahwa pemilik kebun bebas memberikan upah sesuai kehendaknya. Demikian juga, Allah berdaulat dalam memberikan keselamatan. Herman Bavinck menekankan bahwa anugerah Allah adalah gratia gratis data—pemberian cuma-cuma tanpa syarat. Ayat ini menolak gagasan bahwa keselamatan bisa diperoleh melalui usaha atau jasa manusia.

2. Kesetaraan dalam Kristus

Semua pekerja, baik yang dipanggil pagi maupun sore, menerima satu dinar. Dalam kerangka Reformed, ini menegaskan bahwa keselamatan yang diberikan kepada umat Allah adalah sama: hidup kekal di dalam Kristus. Tidak ada orang percaya yang lebih “layak” dibanding yang lain. R.C. Sproul menjelaskan bahwa keselamatan bukan tentang berapa lama seseorang melayani, melainkan tentang siapa yang memanggil dan mengaruniakan keselamatan itu.

3. Kerendahan Hati dan Anti-Kesombongan

Yesus menggunakan pernyataan paradoks ini untuk menghancurkan roh kesombongan rohani. Jonathan Edwards menekankan bahwa anugerah Allah justru menghancurkan kebanggaan manusia, karena semua berdiri di hadapan Allah hanya karena belas kasih.

4. Keadilan dan Kemurahan Allah

Secara manusia, tampak tidak adil jika semua menerima upah yang sama. Namun teologi Reformed melihat bahwa keadilan Allah tidak bertentangan dengan kemurahan-Nya. Louis Berkhof menulis bahwa keadilan Allah ditegakkan di salib, sehingga anugerah yang diberikan kepada setiap orang percaya adalah berdasarkan karya Kristus, bukan usaha mereka.

5. Eskatologi Kerajaan Allah

Pernyataan “yang terakhir menjadi yang pertama” menunjuk kepada realitas eskatologis di mana Allah membalikkan tatanan dunia. Dalam kebangkitan, yang hina akan dimuliakan, yang rendah akan ditinggikan. Ayat ini adalah pengingat bahwa standar kerajaan Allah berbeda dari standar dunia.

Perspektif Beberapa Ahli Teologi Reformed

  1. John Calvin: menekankan bahwa ucapan ini adalah ajaran tentang anugerah yang meniadakan segala klaim jasa manusia. Tidak seorang pun berhak membanggakan jasanya dalam pelayanan, sebab semua adalah pemberian Allah.

  2. Matthew Henry: menekankan aspek moral-spiritual, yaitu peringatan agar orang percaya tidak tinggi hati. Yang pertama bisa jadi terakhir jika mereka jatuh dalam kesombongan, sementara yang terakhir bisa jadi pertama karena kerendahan hati dan kasih karunia Allah.

  3. Herman Bavinck: menekankan dimensi kedaulatan Allah. Allah tidak terikat dengan konsep keadilan manusia, melainkan bekerja sesuai kehendak-Nya yang penuh kasih.

  4. R.C. Sproul: menegaskan bahwa paradoks ini mengajarkan bahwa tidak ada hirarki keselamatan dalam kerajaan Allah. Semua orang percaya, baik yang bertobat sejak kecil maupun yang bertobat di akhir hidupnya, menerima keselamatan yang sama di dalam Kristus.

  5. Jonathan Edwards: melihat ayat ini sebagai gambaran kerendahan hati yang sejati. Allah meruntuhkan kesombongan dan menegakkan mereka yang rendah hati.

Implikasi Praktis

  1. Keselamatan adalah anugerah, bukan jasa
    Gereja harus menolak segala bentuk meritokrasi rohani. Semua orang percaya berdiri sama di hadapan Allah hanya karena anugerah Kristus.

  2. Kerendahan hati dalam pelayanan
    Pelayanan bukanlah kompetisi. Tidak ada ruang untuk membandingkan lama pelayanan atau besar kecilnya kontribusi.

  3. Pengharapan bagi yang datang terlambat
    Ayat ini memberikan penghiburan bagi orang yang baru percaya di akhir hidupnya. Seperti penjahat di kayu salib, ia tetap menerima keselamatan yang penuh.

  4. Peringatan bagi yang merasa berhak
    Ayat ini memperingatkan orang yang lahir dalam keluarga Kristen atau lama berjemaat agar tidak mengandalkan status rohani, tetapi terus hidup dalam pertobatan sejati.

  5. Kesetaraan dalam Kristus
    Dalam tubuh Kristus, tidak ada orang yang lebih utama atau lebih rendah. Semua anggota adalah bagian dari satu tubuh yang sama.

Kesimpulan

Matius 20:16 menutup perumpamaan pekerja di kebun anggur dengan paradoks yang menyingkapkan prinsip dasar kerajaan Allah: anugerah Allah yang berdaulat membalikkan tatanan dunia. Orang yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.

Dalam perspektif Reformed, ayat ini menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang tidak dapat ditawar. Tidak ada jasa manusia yang bisa menambah atau mengurangi keselamatan. Semua orang percaya menerima bagian yang sama, yaitu Kristus sendiri.

Pernyataan ini juga merupakan panggilan untuk kerendahan hati, kesetiaan dalam pelayanan, dan penolakan terhadap kesombongan rohani. Akhirnya, Matius 20:16 mengingatkan gereja bahwa dalam kerajaan Allah, ukuran manusia dibalikkan: yang rendah ditinggikan, yang hina dimuliakan, dan semua karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus.

Next Post Previous Post