Berjalan Bersama Yesus

Pendahuluan: Panggilan untuk Berjalan Bersama Sang Juruselamat
Di seluruh Alkitab, panggilan Allah kepada umat-Nya selalu dinyatakan dengan kata yang sederhana namun sarat makna: “Berjalanlah bersama-Ku.”
Sejak masa Henokh yang “berjalan bersama Allah” (Kejadian 5:24), hingga para murid yang dipanggil Yesus dengan kata “Ikutlah Aku” (Matius 4:19), berjalan bersama Tuhan adalah inti dari kehidupan iman.
“Walking with Jesus” bukan sekadar metafora religius; ini adalah realitas rohani yang menandai hubungan yang hidup antara Kristus dan orang percaya. Dalam perspektif teologi Reformed, hal ini disebut “union with Christ” — kesatuan rohani antara orang percaya dan Kristus melalui karya Roh Kudus dan iman.
John Calvin menulis:
“Selama kita memandang diri kita terpisah dari Kristus, kita tidak akan menemukan sedikit pun pengharapan akan keselamatan.”
(Institutes of the Christian Religion, III.1.1)
Berjalan bersama Yesus berarti hidup dalam persekutuan yang intim dengan Dia, membiarkan setiap langkah kehidupan diarahkan oleh Injil, dan menyerahkan seluruh keberadaan kita kepada kedaulatan kasih karunia-Nya.
I. Fondasi Biblika: Panggilan untuk Mengikuti Kristus
Mari kita mulai dari teks dasar:
Markus 8:34-35 (AYT)
“Kemudian Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, ‘Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku. Sebab siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.’”
1. “Mengikut Aku”: Panggilan Pribadi yang Radikal
Yesus tidak memanggil orang untuk sekadar mengagumi-Nya atau mempelajari ajaran-Nya; Ia memanggil mereka untuk berjalan bersama-Nya.
Kata kerja “mengikut” (Yunani: akolouthein) bukan hanya berarti berjalan di belakang seseorang, melainkan berkomitmen total untuk hidup di bawah otoritas dan jalan hidup orang itu.
Dietrich Bonhoeffer (teolog Lutheran yang berpikiran Reformed) menulis:
“Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggil dia untuk datang dan mati.”
(The Cost of Discipleship)
Berjalan bersama Yesus berarti meninggalkan otonomi diri dan menyerahkan arah hidup sepenuhnya kepada Dia.
Itu bukan perjalanan mudah, tetapi satu-satunya jalan menuju kehidupan sejati.
2. Menyangkal diri dan memikul salib
Dalam konteks Reformed, ini adalah tanda dari pembaharuan hidup (sanctification) yang nyata.
John Owen, teolog Puritan, menulis:
“Tidak ada jalan menuju kemuliaan tanpa salib; tidak ada persekutuan dengan Kristus tanpa partisipasi dalam penderitaan-Nya.”
(The Mortification of Sin)
Setiap langkah dalam perjalanan bersama Yesus melibatkan penyangkalan terhadap dosa dan penyerahan diri kepada kedaulatan kasih-Nya.
II. Eksposisi Yohanes 15:4–5 — Hidup yang Melekat pada Kristus
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak dapat berbuah kalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur, kamu ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
— Yohanes 15:4–5 (AYT)
1. “Tinggallah di dalam Aku” — dasar persekutuan
Berjalan bersama Yesus bukan sekadar kegiatan eksternal, tetapi realitas rohani yang dalam.
Dalam ayat ini, Yesus menggambarkan hubungan orang percaya dengan diri-Nya seperti ranting yang melekat pada pokok anggur.
Calvin menulis komentar yang terkenal:
“Selama Kristus tetap di luar kita, dan kita terpisah dari-Nya, segala yang Ia lakukan bagi keselamatan umat manusia tidak berguna bagi kita.”
(Institutes, III.1.1)
Artinya, berjalan bersama Yesus dimulai dari union with Christ — kesatuan yang dibentuk oleh Roh Kudus yang menanamkan kita ke dalam kehidupan Kristus.
2. “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”
Inilah inti spiritualitas Reformed: ketergantungan mutlak kepada anugerah Kristus.
Manusia, dalam natur berdosanya, tidak dapat menghasilkan buah rohani tanpa karya Kristus.
R.C. Sproul menulis:
“Kekristenan sejati bukanlah usaha manusia untuk berjalan menuju Allah, tetapi Allah yang turun untuk berjalan bersama manusia.”
(Grace Unknown)
Setiap buah iman, setiap karya pelayanan, dan setiap langkah ketaatan adalah hasil dari Kristus yang hidup di dalam kita (Galatia 2:20).
III. Perspektif Reformed tentang “Berjalan Bersama Kristus”
1. Kesatuan dengan Kristus (Union with Christ)
Dalam teologi Reformed, konsep ini adalah inti dari keselamatan.
Louis Berkhof menyebutnya “pusat dari seluruh berkat keselamatan.”
Melalui kesatuan ini, orang percaya:
-
Dibenarkan (justified) dalam Kristus,
-
Dikuduskan (sanctified) oleh Kristus,
-
Dimuliakan (glorified) bersama Kristus.
John Murray menulis:
“Union with Christ adalah sumber dari setiap berkat keselamatan — tidak ada berkat yang tidak datang melalui kesatuan ini.”
(Redemption Accomplished and Applied)
Berjalan bersama Yesus berarti hidup dalam realitas kesatuan ini, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai pengalaman nyata dari iman yang aktif.
2. Persekutuan harian (Communion with Christ)
Reformed spirituality sangat menekankan komuni yang terus-menerus dengan Kristus melalui Firman dan Roh.
Thomas Watson, salah satu teolog Puritan, menulis:
“Orang Kristen sejati tidak hanya mengenal Kristus dalam doktrin, tetapi berjalan bersama-Nya dalam kasih.”
(Body of Divinity)
Berjalan bersama Yesus berarti berbicara dengan-Nya dalam doa, mendengarkan suara-Nya melalui Firman, dan menaati kehendak-Nya dengan sukacita.
IV. Teladan Alkitabiah dari Mereka yang Berjalan Bersama Allah
1. Henokh — persekutuan yang intim (Kejadian 5:24)
“Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab Allah telah mengangkatnya.”
Henokh adalah gambaran kehidupan yang ditandai oleh persekutuan konstan dengan Allah. Ia tidak hanya hidup “untuk” Allah, tetapi “dengan” Allah.
Matthew Henry menafsirkan:
“Berjalan dengan Allah berarti hidup dalam keselarasan dengan kehendak-Nya, mengasihi apa yang Ia kasihi, membenci apa yang Ia benci, dan mencari wajah-Nya setiap hari.”
2. Abraham — berjalan dalam iman (Kejadian 12:1–4)
Abraham meninggalkan tanah kelahirannya tanpa tahu ke mana ia akan pergi — itulah iman yang berjalan bersama Allah.
Calvin menulis:
“Iman sejati selalu disertai dengan ketaatan; di situlah Abraham menjadi bapa orang percaya.”
3. Para murid — berjalan bersama Yesus secara literal dan rohani
Mereka meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan kenyamanan demi mengikuti Dia.
Namun, mereka belajar bahwa berjalan bersama Yesus berarti juga melalui badai, kebingungan, dan penyangkalan diri.
Charles Spurgeon berkata:
“Lebih baik berjalan di lembah bayang-bayang maut bersama Kristus, daripada berjalan di taman dunia tanpa Dia.”
V. Tantangan dalam Berjalan Bersama Yesus
1. Dunia yang menolak jalan salib
Kehidupan modern mendorong kebebasan diri, bukan penyangkalan diri.
Namun Yesus berkata:
“Jalan sempit menuju kehidupan.” (Matius 7:14)
J.C. Ryle menulis:
“Tidak ada jalan menuju surga yang tidak melewati salib.”
(Holiness)
2. Godaan untuk berjalan sendiri
Manusia modern cenderung ingin menjadi “autonomous” — berjalan dengan kebijaksanaan sendiri.
Namun Alkitab memperingatkan:
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)
Sinclair Ferguson menjelaskan:
“Kesalahan terbesar orang percaya adalah berpikir bahwa mereka bisa hidup seolah-olah Roh Kudus tidak diperlukan setiap hari.”
(Devoted to God)
3. Ketekunan dalam perjalanan iman
Berjalan bersama Yesus bukan sprint, melainkan perjalanan panjang menuju kekekalan.
Hebrews 12:1–2 (AYT)
“Marilah kita berlari dengan tekun dalam perlombaan yang telah ditentukan bagi kita dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin dan menyempurnakan iman kita.”
Jonathan Edwards menulis:
“Ketekunan orang kudus adalah bukti bahwa Allah berjalan bersama mereka, bahkan ketika mereka tidak merasakannya.”
(Religious Affections)
VI. Berjalan Bersama Yesus dalam Konteks Kehidupan Sehari-hari
1. Dalam penderitaan
Yesus tidak menjanjikan jalan mudah, tetapi kehadiran-Nya di tengah kesulitan.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” (Mazmur 23:4)
Martyn Lloyd-Jones menulis:
“Tuhan tidak selalu mengubah keadaan kita, tetapi Ia selalu berjalan bersama kita di tengahnya.”
(Spiritual Depression)
2. Dalam pelayanan
Berjalan bersama Yesus berarti melayani dengan hati yang mengandalkan kasih karunia, bukan kekuatan sendiri.
Yesus berkata:
“Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5)
Charles Hodge menulis:
“Pelayanan yang sejati adalah hasil dari Kristus yang bekerja di dalam kita, bukan kita yang bekerja untuk-Nya.”
(Systematic Theology)
3. Dalam komunitas iman
Perjalanan bersama Yesus tidak dilakukan sendirian. Gereja adalah tubuh Kristus tempat kita berjalan bersama dalam kasih dan kebenaran.
“Berdua lebih baik daripada seorang diri... sebab kalau mereka jatuh, yang satu mengangkat temannya.” (Pengkhotbah 4:9–10)
John Stott menegaskan:
“Tidak ada kekristenan soliter. Berjalan bersama Yesus berarti juga berjalan bersama umat-Nya.”
(The Living Church)
VII. Dimensi Eskatologis: Berjalan Menuju Kemuliaan Kekal
Berjalan bersama Yesus tidak berhenti di dunia ini.
Perjalanan ini berakhir di rumah kekal, ketika kita akan melihat Dia muka dengan muka.
“Sesungguhnya, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia... Ia akan tinggal bersama mereka.” (Wahyu 21:3)
Geerhardus Vos menulis:
“Seluruh sejarah penebusan adalah perjalanan Allah menuju manusia dan manusia kembali kepada Allah.”
(Biblical Theology)
Ketika perjalanan iman selesai, orang percaya tidak hanya berjalan bersama Kristus, tetapi berdiam dalam hadirat-Nya untuk selamanya.
VIII. Refleksi Teologis dan Pastoral
-
Berjalan bersama Yesus adalah kehidupan yang penuh anugerah.
Kita tidak dipanggil untuk berjalan sendiri; Roh Kudus memimpin setiap langkah. -
Persekutuan dengan Kristus adalah sumber kekudusan sejati.
Bukan hukum atau perasaan yang menguduskan, tetapi hadirat Kristus yang hidup di dalam hati. -
Berjalan bersama Yesus berarti hidup dengan tujuan kekal.
Hidup ini bukan tentang mencapai sukses duniawi, tetapi mengenal dan memuliakan Allah (Filipi 3:10).
Kesimpulan: Jalan Bersama Kristus adalah Jalan Kehidupan
Berjalan bersama Yesus bukan perjalanan sesaat, tetapi perjalanan seumur hidup menuju kekekalan.
Ia adalah Gembala yang menuntun, Sahabat yang setia, dan Tuhan yang memimpin kita dari kegelapan menuju terang kasih karunia.
Yesaya 30:21 (AYT) berkata:
“Telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan itu, berjalanlah di dalamnya.’”
Setiap hari kita diundang untuk berjalan dalam jalan itu — jalan yang sempit tetapi penuh sukacita, jalan yang menuju kehidupan kekal.
“Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup.” (Yohanes 14:6)