Keluaran 7:8–9: Kuasa Allah yang Mengalahkan Kesombongan Manusia

Pendahuluan: Allah yang Menyatakan Diri Melalui Kuasa-Nya
Kitab Keluaran menyingkapkan satu tema besar dalam keseluruhan narasi Alkitab: Allah yang berdaulat membebaskan umat-Nya dan menyatakan kemuliaan-Nya atas para penguasa dunia.
Pasal 7 menandai awal dari konfrontasi besar antara Allah Israel dan dewa-dewa Mesir, yang terwujud melalui serangkaian mukjizat dan tulah.
Keluaran 7:8–9 menjadi pengantar penting sebelum segala tanda ajaib dimulai. Di sini, Allah mempersiapkan Musa dan Harun untuk menghadapi Firaun, simbol dari kekuatan manusia yang menentang Allah.
Peristiwa tongkat yang berubah menjadi ular bukan hanya sebuah mukjizat demonstratif, tetapi pernyataan teologis — bahwa Allah sendirilah yang berkuasa atas ciptaan, sejarah, dan hati manusia.
I. Konteks Historis dan Teologis Keluaran 7:8–9
1. Krisis ketaatan dan keengganan Musa
Sebelum ayat ini, Musa sempat meragukan panggilannya (Kel. 6:30). Ia merasa tidak layak dan tidak fasih. Namun Allah menjawab kelemahannya dengan memberi Harun sebagai juru bicara.
Kini, dalam Keluaran 7:8–9, Allah tidak hanya menugaskan, tetapi juga membekali mereka dengan tanda kuasa-Nya.
2. Tongkat sebagai simbol otoritas ilahi
Tongkat dalam konteks Ibrani (matteh) adalah lambang otoritas, kepemimpinan, dan kuasa yang diwakilkan.
Dalam tangan Musa dan Harun, tongkat itu menjadi alat perjanjian Allah — tanda bahwa kuasa mereka bukan berasal dari diri mereka sendiri, melainkan dari Allah yang memanggil.
3. Firaun sebagai lambang perlawanan terhadap Allah
Dalam teologi Reformed, Firaun sering dilihat sebagai tipologi manusia yang keras hati terhadap anugerah Allah.
John Calvin menulis:
“Hati Firaun menjadi cermin bagi kita, bahwa manusia, ketika berhadapan dengan kebenaran Allah, secara alami menentangnya sampai Allah sendiri menundukkannya.”
(Commentary on Exodus 7:3)
Jadi, peristiwa ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan gambaran tentang konflik kosmis antara kedaulatan Allah dan kesombongan manusia.
II. Eksposisi Keluaran 7:8–9: Allah yang Menyatakan Kuasa-Nya
Keluaran 7:8: “TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun.”
Setiap tindakan besar dalam sejarah keselamatan dimulai dengan firman Allah.
Tidak ada mukjizat sejati tanpa dasar firman. Dalam teologi Reformed, inilah prinsip sola Scriptura — bahwa segala karya Allah dimulai dan dibenarkan oleh firman-Nya.
Matthew Henry berkomentar:
“Allah memberi perintah sebelum Ia memberi kuasa, agar umat-Nya tahu bahwa mereka bertindak bukan dengan kekuatan mereka sendiri, melainkan sebagai utusan-Nya.”
Dengan demikian, setiap mukjizat dalam Keluaran adalah pelaksanaan firman Allah yang hidup.
Keluaran 7:9: “Jika Firaun berkata kepadamu, ‘Berikanlah satu mukjizat...’”
Firaun menuntut bukti — ia tidak menolak keberadaan Allah secara intelektual, tetapi menolak untuk tunduk.
Ini mencerminkan skeptisisme religius zaman modern: orang ingin melihat tanda, tetapi menolak ketaatan.
R.C. Sproul menafsirkan hal ini sebagai ekspresi dari total depravity:
“Manusia berdosa tidak menolak Allah karena kekurangan bukti, tetapi karena kebencian moral terhadap otoritas Allah.”
(Essential Truths of the Christian Faith)
Ketika Firaun menuntut tanda, Allah memberikannya bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan mempermalukan kesombongan manusia.
“Ambil tongkatmu dan lemparkan itu di hadapan Firaun.”
Perintah ini sederhana namun penuh simbolisme.
Allah tidak berkata “Aku akan turun langsung,” melainkan Ia memakai alat manusia — tongkat, Musa, dan Harun — untuk menggenapi rencana-Nya.
Dalam hal ini, teologi Reformed menegaskan prinsip instrumentalitas anugerah: Allah bekerja melalui sarana, bukan di luar sarana.
Seperti Ia memakai Firman dan Sakramen untuk menyalurkan kasih karunia, demikian juga Ia memakai tongkat untuk menyatakan kuasa-Nya.
“Tongkat itu pun akan menjadi seekor ular.”
Ular adalah simbol penting dalam Alkitab. Dalam konteks Mesir, ular melambangkan kedaulatan dan deitas Firaun (mahkota Firaun bergambar ular kobra).
Maka, tongkat Allah yang berubah menjadi ular adalah tindakan simbolis untuk menantang kekuasaan Firaun.
John Currid, seorang ahli Perjanjian Lama Reformed, menulis:
“Mukjizat ini bukan permainan sulap, tetapi konfrontasi langsung dengan simbol religius Mesir. Allah menunjukkan bahwa kuasa Firaun tidak lebih dari ciptaan yang tunduk pada kehendak-Nya.”
(Exodus: An EP Study Commentary, hlm. 164)
III. Eksposisi Teologis: Allah yang Berdaulat atas Semua Kuasa
1. Allah adalah sumber semua mukjizat sejati
Mukjizat dalam Keluaran bukan hasil sihir, melainkan pekerjaan langsung Allah yang memiliki maksud teologis.
Dalam teologi Reformed, mukjizat bukanlah “penangguhan hukum alam,” tetapi manifestasi dari kehendak Allah yang sama yang menciptakan hukum alam.
B.B. Warfield menulis:
“Mukjizat adalah tindakan langsung Allah yang menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan atas ciptaan, bukan pelanggaran terhadap tatanan alam.”
(Counterfeit Miracles, hlm. 3)
Jadi, mukjizat tongkat menjadi ular adalah pernyataan teologis tentang kedaulatan Allah atas dunia ciptaan dan atas kuasa manusia.
2. Allah memakai alat yang lemah untuk menyatakan kuasa-Nya
Musa dan Harun hanyalah dua orang tua yang berhadapan dengan penguasa superpower Mesir. Namun Allah memilih mereka untuk menunjukkan bahwa kuasa-Nya sempurna dalam kelemahan manusia.
John Calvin menulis:
“Allah sengaja memakai alat yang paling lemah agar segala kemuliaan kembali kepada-Nya.”
(Commentary on Exodus 7:9)
Tongkat yang tidak berdaya menjadi simbol kasih karunia — sarana sederhana yang dipakai untuk mengalahkan kekuatan dunia.
Ini paralel dengan salib Kristus: alat kehinaan yang justru menjadi alat keselamatan terbesar.
3. Allah yang menundukkan hati yang keras
Kisah ini mempersiapkan tema besar: pengerasan hati Firaun.
Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah berdaulat bahkan atas hati manusia. Ia tidak menciptakan dosa, tetapi memperbolehkan dan mengarahkan kerasnya hati untuk menggenapi tujuan-Nya.
Augustinus berkata:
“Allah mengeraskan dengan meninggalkan manusia dalam keinginan hatinya sendiri.”
(Enchiridion, Bab 95)
Calvin menambahkan:
“Ketika Allah mengeraskan, Ia tidak menanam kejahatan baru, tetapi menyingkapkan kejahatan yang telah ada.”
(Institutes, II.4.3)
IV. Pandangan Teolog Reformed Tentang Mukjizat dan Firman
1. Herman Bavinck: Mukjizat adalah bagian dari pewahyuan Allah
“Mukjizat bukan anomali, melainkan bahasa Allah dalam sejarah. Ia berbicara melalui peristiwa seperti Ia berbicara melalui Firman.”
(Reformed Dogmatics, Vol. I, hlm. 349)
Bagi Bavinck, setiap mukjizat dalam Alkitab berfungsi untuk meneguhkan wahyu dan memperlihatkan kerajaan Allah yang sedang dinyatakan.
2. Cornelius Van Til: Mukjizat dan wahyu bersifat konsisten
Van Til menegaskan bahwa mukjizat tidak berdiri sendiri, melainkan tertanam dalam kerangka dunia ciptaan Allah.
“Mukjizat bukan pelanggaran atas rasionalitas, melainkan rasionalitas sejati karena Allah adalah Sang Pencipta tatanan.”
(Christian Apologetics, hlm. 212)
3. R.C. Sproul: Mukjizat menegaskan realitas Allah yang hidup
“Setiap mukjizat sejati adalah deklarasi bahwa Allah bukan konsep, tetapi pribadi yang bertindak dalam sejarah.”
(Knowing God, hlm. 134)
V. Makna Kristologis dari Tanda Tongkat yang Menjadi Ular
Dalam terang Perjanjian Baru, mukjizat ini menjadi bayangan tipologis dari karya Kristus.
-
Tongkat melambangkan alat Allah yang menegakkan hukum dan keadilan.
-
Ular melambangkan dosa dan kematian yang harus dikalahkan.
Ketika tongkat Allah menjadi ular dan menelan ular-ular para ahli sihir (ayat 12), hal itu menunjuk kepada Kristus yang menjadi dosa bagi kita (2 Korintus 5:21) dan menelan maut dalam kemenangan (1 Korintus 15:54).
Matthew Henry menulis:
“Kristus, yang tidak mengenal dosa, dibuat menjadi dosa bagi kita agar dengan kematian-Nya Ia menelan dosa dan setan dalam kemenangan yang kekal.”
(Commentary on Exodus 7)
Dengan demikian, peristiwa ini bukan sekadar mukjizat simbolik, tetapi nubuatan terselubung tentang karya penebusan Kristus — Allah memakai alat yang hina untuk mengalahkan musuh yang besar.
VI. Aplikasi Praktis bagi Gereja Masa Kini
1. Ketaatan mendahului kuasa
Allah memanggil Musa dan Harun untuk taat dulu, baru melihat kuasa-Nya.
Begitu pula gereja hari ini — panggilan kita bukan mengejar mukjizat, tetapi menaati firman.
Kuasa Allah hanya dinyatakan kepada mereka yang hidup dalam ketaatan pada firman-Nya.
2. Keberanian dalam menghadapi dunia yang menolak Allah
Seperti Musa berdiri di hadapan Firaun, gereja dipanggil untuk berdiri teguh di hadapan dunia yang menolak Allah.
John Piper menulis:
“Kita tidak memerlukan kehebatan manusia, kita memerlukan keyakinan akan Allah yang berdaulat.”
(Desiring God)
3. Injil sebagai tanda terbesar
Mukjizat tongkat hanyalah bayangan dari mukjizat terbesar — Injil Yesus Kristus.
Seperti tongkat yang menjadi ular, Kristus menjadi dosa agar kita dibenarkan.
Itulah tanda sejati yang menundukkan semua kesombongan manusia.
VII. Kesimpulan: Allah yang Berfirman, Allah yang Bertindak
Keluaran 7:8–9 mengajarkan bahwa Allah yang hidup tidak hanya berbicara, tetapi bertindak.
Ia menyatakan kuasa-Nya melalui sarana sederhana untuk memalukan hikmat dunia.
Dalam terang teologi Reformed, perikop ini meneguhkan tiga kebenaran besar:
-
Allah berdaulat mutlak atas sejarah dan hati manusia.
-
Firman Allah cukup dan berkuasa menegakkan kehendak-Nya.
-
Kristus adalah puncak dari segala tanda dan mukjizat Allah.
Seperti Musa dan Harun, gereja dipanggil bukan untuk menciptakan tanda, tetapi untuk menjadi alat tanda — pembawa Firman Allah yang hidup di tengah dunia yang keras hati.
“Sebab bukan dengan kekuatan atau kuasa, melainkan dengan Roh-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6)