Markus 11:15–19: Rumah Doa atau Sarang Perampok?

Markus 11:15–19: Rumah Doa atau Sarang Perampok?

Pendahuluan: Kristus Menyucikan Rumah Allah

Perikop ini merupakan salah satu adegan paling dramatis dalam pelayanan Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia masuk ke Yerusalem dengan penuh kemuliaan (Markus 11:1–11), tetapi langsung menghadapi kemerosotan spiritual di pusat ibadah Israel — Bait Allah.

Tindakan Yesus bukan sekadar reaksi emosional, melainkan penghakiman kenabian yang menyingkapkan hati Allah terhadap penyimpangan rohani umat-Nya. Ia tidak hanya melihat pasar di pelataran Bait Allah; Ia melihat korupsi rohani di balik ritual keagamaan.

John Calvin menulis:

“Ketika Kristus membersihkan Bait Allah, Ia menunjukkan bahwa penyembahan sejati tidak dapat berdiri berdampingan dengan keserakahan dan kemunafikan.”
(Commentary on the Synoptic Gospels, Markus 11:15–19)

Kisah ini bukan hanya sejarah; ini adalah cermin bagi gereja dan bagi setiap hati kita.

1. Kristus Masuk ke Bait Allah: Kehadiran Tuhan yang Menghakimi (Markus 11:15)

“Yesus masuk ke dalam Bait Allah dan mulai mengusir orang-orang yang sedang berjual beli...”

a. Bait Allah sebagai pusat persekutuan

Dalam teologi Perjanjian Lama, Bait Allah adalah tempat kediaman Allah di tengah umat-Nya. Di sanalah korban dipersembahkan, doa dinaikkan, dan pengampunan dinyatakan. Namun, pada zaman Yesus, fungsi rohani itu telah tercemar oleh praktik ekonomi dan keserakahan.

Para penukar uang menyediakan mata uang khusus untuk pembayaran pajak Bait Allah, dan penjual hewan memperjualbelikan persembahan dengan harga tinggi. Apa yang seharusnya menjadi sarana anugerah telah berubah menjadi alat keuntungan pribadi.

R.C. Sproul menulis:

“Bait Allah yang kudus telah berubah menjadi pasar religius, tempat di mana manusia lebih sibuk menjual keselamatan daripada mencari hadirat Allah.”
(The Holiness of God, hlm. 97)

b. Kristus sebagai Tuhan atas Bait Allah

Yesus tidak datang sebagai pengunjung, tetapi sebagai Pemilik Bait Allah. Ia tidak meminta izin, melainkan bertindak dengan otoritas ilahi.

Dalam tindakan itu, Ia menyatakan diri-Nya sebagai penggenapan Bait Allah.
Bavinck menegaskan:

“Kristus bukan hanya Imam di Bait Allah, tetapi juga Bait itu sendiri — tempat Allah berdiam di antara manusia.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 3, hlm. 289)

Maka, ketika Yesus mengusir penjual-penjual itu, Ia bukan sekadar membersihkan bangunan; Ia menyatakan otoritas kerajaan-Nya atas seluruh sistem ibadah Israel.

2. “Ia Membalikkan Meja dan Kursi” — Kemarahan Kudus Kristus

Tindakan Yesus membalikkan meja dan kursi merupakan simbol penghukuman ilahi. Banyak orang modern sulit menerima gambaran Yesus yang marah, namun Alkitab menunjukkan bahwa kemarahan-Nya adalah ekspresi kasih-Nya terhadap kekudusan Allah.

John Owen menulis:

“Kasih Kristus terhadap Bapa-Nya dinyatakan dalam kebencian-Nya terhadap dosa yang mencemarkan penyembahan.”
(Communion with God, hlm. 174)

Kemarahan ini bukan amarah manusiawi, melainkan amarah kudus (holy wrath). Kristus tidak kehilangan kendali; Ia menunjukkan otoritas moral atas ibadah yang sudah diselewengkan.

Bait Allah yang seharusnya menjadi rumah doa kini menjadi pusat eksploitasi ekonomi. Mereka menjual persembahan dengan harga tinggi dan menukar uang dengan keuntungan besar. Ini adalah simbol dari agama tanpa kasih karunia — agama yang menjadikan Allah sebagai alat, bukan tujuan.

Spurgeon berkata:

“Ketika agama dijadikan ladang bisnis, Kristus hadir bukan untuk bernegosiasi, melainkan untuk menggulingkan meja-meja itu.”
(Metropolitan Tabernacle Pulpit, Vol. 27)

3. “Dia Tidak Mengizinkan Orang Membawa Barang-Barang” — Kekudusan yang Menuntut Ketertiban (Markus 11:16)

Yesus melarang siapa pun menggunakan Bait Allah sebagai jalan pintas atau tempat membawa barang dagangan. Ini menunjukkan bahwa Ia memulihkan fungsi rohani Bait Allah.

Bait Allah bukan pasar, bukan tempat lalu-lalang. Itu adalah tanah kudus.
Perintah Yesus ini mengingatkan pada nubuat Maleakhi 3:1–3, bahwa Tuhan akan datang ke Bait-Nya dan memurnikan anak-anak Lewi seperti emas dan perak.

Kristus tidak hanya membersihkan, Ia menegakkan kembali kekudusan penyembahan.

Dalam terang teologi Reformed, ini berbicara tentang reformasi ibadah.
Calvin menegaskan:

“Tujuan reformasi adalah mengembalikan penyembahan kepada kesederhanaan dan kemurnian Firman Allah, bukan kepada ritual atau keuntungan manusia.”
(Institutes, IV.10.30)

Demikian pula, gereja masa kini harus berhati-hati agar tidak menjadikan ibadah sebagai hiburan atau pasar rohani.
Kekudusan bukan aksesori gereja; itu hakikat keberadaannya.

4. “Rumah-Ku Akan Disebut Rumah Doa” — Misi Universal dari Bait Allah (Markus 11:17)

Ayat 17 adalah pusat teologis dari perikop ini. Yesus mengutip dua teks penting:

“Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi semua bangsa” (Yesaya 56:7)
“Namun, kamu telah membuatnya menjadi sarang perampok” (Yeremia 7:11)

a. Allah rindu akan rumah doa bagi semua bangsa

Dengan mengutip Yesaya, Yesus mengingatkan maksud Allah sejak awal: Bait Allah bukan hanya untuk Israel, tetapi untuk semua bangsa.
Pelataran luar (Court of the Gentiles) adalah tempat orang bukan Yahudi datang berdoa, tetapi kini telah diubah menjadi pasar hewan.

Artinya, penyembahan Israel telah menjadi eksklusif dan materialistis, bukan misioner.
Kristus menegur: Bait Allah seharusnya terbuka bagi bangsa-bangsa, bukan diubah menjadi tempat transaksi yang menghalangi mereka datang kepada Allah.

John Stott, teolog Reformed Injili, berkata:

“Ketika gereja gagal menjadi rumah doa bagi semua bangsa, ia berhenti menjadi gereja Kristus dan menjadi klub manusia.”
(The Living Church, hlm. 72)

b. “Sarang perampok” — tuduhan profetik

Dengan mengutip Yeremia 7:11, Yesus menyamakan kondisi Bait Allah dengan zaman kemerosotan rohani Yeremia.
Pada masa itu, orang Israel beribadah sambil hidup dalam ketidakadilan, berpikir Bait Allah menjamin keselamatan mereka.

Yesus menyingkap kemunafikan yang sama: mereka beribadah sambil menindas orang miskin.
Dalam istilah modern, ini adalah agama yang korup — banyak ritual, sedikit pertobatan.

Bavinck menulis:

“Agama yang tidak menghasilkan keadilan dan kasih adalah bentuk politeisme terselubung, karena menempatkan manusia di pusat penyembahan.”
(Reformed Ethics, Vol. 2, hlm. 114)

Kristus datang untuk memulihkan fungsi sejati rumah Allah: bukan tempat bisnis, tetapi tempat perjumpaan dengan Allah.

5. Reaksi Pemimpin Agama: Ketakutan dan Kebencian (Markus 11:18)

“Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengarnya dan mencari cara bagaimana bisa membunuh-Nya.”

a. Kebencian terhadap kebenaran

Para pemimpin agama tidak menyesal, mereka justru mau membunuh Kristus.
Ini menunjukkan betapa kerasnya hati manusia terhadap teguran ilahi.

Yesus tidak hanya mengguncang sistem ekonomi mereka, tetapi mengancam otoritas spiritual palsu yang mereka nikmati.
Ibadah yang mereka kontrol telah menjadi sumber kuasa dan uang, dan Kristus membongkarnya.

John Owen menulis:

“Hati manusia yang mencintai dosa lebih memilih membunuh Kristus daripada membunuh dosanya.”
(Indwelling Sin in Believers, hlm. 92)

b. Takut kepada orang banyak

Ironisnya, mereka takut pada manusia, bukan pada Allah.
Ketakutan mereka bukan takut akan dosa, tetapi takut kehilangan pengaruh.
Ini mencerminkan religiositas yang dangkal, di mana reputasi lebih penting daripada kebenaran.

R.C. Sproul mengingatkan:

“Takut kepada manusia adalah bentuk penyembahan berhala, karena menempatkan opini manusia di atas otoritas Allah.”
(Fear and Trembling Before a Holy God, hlm. 45)

6. “Yesus dan Murid-Murid-Nya Pergi” — Simbol Kepergian Kemuliaan Allah (Markus 11:19)

“Ketika malam tiba, Yesus dan murid-murid-Nya pergi meninggalkan kota itu.”

Perhatikan bahwa Kristus meninggalkan Bait Allah pada malam hari.
Ini bukan detail kecil; ini adalah simbol profetik.
Sebagaimana kemuliaan Allah meninggalkan Bait Suci pada zaman Yehezkiel (Yehezkiel 10:18–19), kini kemuliaan sejati — Yesus sendiri — meninggalkan Yerusalem.

Kepergian Yesus menandai bahwa penghakiman rohani telah tiba.
Bait Allah tidak lagi menjadi tempat kediaman Allah; Kristuslah Bait Allah yang sejati (Yohanes 2:19–21).

John Calvin menulis:

“Ketika Kristus meninggalkan Bait Allah, Ia menunjukkan bahwa ibadah lama telah berlalu, dan hadirat Allah kini tinggal dalam diri Anak-Nya.”
(Commentary on John 2:21)

7. Aplikasi Teologis: Rumah Allah dalam Gereja dan Hati Orang Percaya

a. Gereja sebagai rumah doa

Peristiwa ini menegur gereja masa kini agar tidak mengulangi kesalahan Israel.
Gereja bukan pasar rohani, bukan pusat hiburan, bukan tempat mencari keuntungan.
Gereja adalah rumah doa, rumah firman, dan rumah kasih.

Martin Lloyd-Jones menulis:

“Gereja yang sejati ditandai bukan oleh ukurannya, tetapi oleh kedalaman doanya.”
(Revival, hlm. 132)

b. Reformasi terus-menerus

Prinsip Ecclesia reformata semper reformanda (gereja yang telah direformasi harus terus diperbarui) berlaku di sini.
Setiap generasi harus bertanya: apakah rumah Allah masih menjadi rumah doa?
Ataukah kita sudah menjadikannya “sarang perampok” dalam bentuk modern — ambisi, gengsi, dan komersialisasi rohani?

Calvin berkata:

“Setiap kali manusia berusaha menambah pada ibadah Allah, ia justru mengurangi kemuliaan-Nya.”
(Institutes, IV.10.23)

c. Rumah doa dalam hati

Lebih dalam lagi, Kristus ingin menyucikan hati kita sebagaimana Ia menyucikan Bait Allah.
Setiap orang percaya adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19).
Maka, pembersihan Kristus juga harus terjadi di hati — tempat di mana keserakahan, ambisi, dan kesombongan sering berdiam.

Spurgeon menulis:

“Tuhan tidak hanya ingin mengubah gereja, tetapi mengubah hati kita menjadi rumah doa bagi Roh Kudus.”
(Morning and Evening, Maret 14)

8. Dimensi Kristologis: Kristus sebagai Bait Allah yang Baru

Tindakan Yesus bukan sekadar simbol moral; ini adalah nubuat penggantian Bait Allah dengan diri-Nya sendiri.

Ia berkata dalam Yohanes 2:19:

“Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”

Dengan demikian, kematian dan kebangkitan Kristus adalah puncak dari pembersihan Bait Allah.
Melalui salib, Ia menghancurkan sistem korban lama dan menghadirkan penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Bavinck menyimpulkan:

“Dalam Kristus, semua simbol lama lenyap; Ia sendiri adalah Imamat, Korban, dan Bait Allah yang sempurna.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 3, hlm. 306)

9. Dimensi Eskatologis: Rumah Doa bagi Segala Bangsa

Yesus menegaskan bahwa rumah Allah adalah rumah doa “bagi segala bangsa.”
Ini menunjuk kepada kerajaan Allah yang universal, di mana semua bangsa akan datang menyembah Anak Domba (Wahyu 7:9–10).

Maka, peristiwa ini bukan sekadar penghakiman terhadap Israel, tetapi pembukaan pintu bagi bangsa-bangsa.

Jonathan Edwards menulis:

“Tindakan Kristus di Bait Allah adalah bayangan dari pemurnian dunia — ketika seluruh bumi akan menjadi rumah doa bagi semua bangsa.”
(History of Redemption, hlm. 205)

10. Kesimpulan: Pembersihan yang Berakhir pada Penyaliban

Setelah peristiwa ini, para pemimpin Yahudi makin ingin membunuh Yesus (ay. 18).
Pembersihan Bait Allah menjadi pemicu langsung jalan salib.

Namun, inilah paradoks Injil:

  • Ketika Yesus menyingkirkan korban hewan, Ia sendiri menjadi korban sejati.

  • Ketika Ia mengusir penjual dari Bait Allah, Ia sendiri dibayar dengan tiga puluh keping perak.

  • Ketika Ia menegakkan kekudusan, Ia mati di tangan orang berdosa.

Melalui darah-Nya, Ia mendirikan rumah doa yang baru — gereja yang hidup, dibangun di atas batu penjuru yang adalah Kristus (Efesus 2:20–22).

Penutup: Gereja, Tetaplah Jadi Rumah Doa

Peristiwa ini memanggil kita untuk pembersihan rohani yang terus-menerus — baik dalam gereja maupun dalam diri kita.
Kristus masih berjalan di antara kaki dian (Wahyu 2:1), menilai dan menyucikan umat-Nya.

Jika Ia datang ke gereja kita hari ini, apakah Ia akan menemukan rumah doa?
Atau pasar rohani yang sibuk dengan urusan duniawi?

Mari kita membuka hati kita bagi Kristus agar Ia kembali membalikkan meja-meja dosa dan kesombongan yang ada di dalam kita, dan menjadikan hati ini tempat kediaman Allah yang kudus dan penuh doa.

Next Post Previous Post