Mazmur 19:1–6: Kemuliaan Allah yang Dinyatakan dalam Ciptaan
.jpg)
Pendahuluan: Dunia sebagai Buku Terbuka tentang Allah
Mazmur 19 merupakan salah satu mazmur yang paling agung dalam seluruh Kitab Mazmur, karena di dalamnya kita menemukan wahyu umum Allah — yaitu penyataan diri Allah melalui ciptaan-Nya — dan kemudian wahyu khusus — yaitu penyataan-Nya melalui Firman.
Mazmur 19:1–6 berbicara tentang langit dan bumi sebagai saksi kemuliaan Allah, sementara ayat 7–14 menyoroti Firman Tuhan sebagai penyataan yang sempurna dan menyelamatkan.
Bagian pertama, Mazmur 19:1–6, memperlihatkan bahwa seluruh alam semesta merupakan “khotbah tanpa kata” yang terus-menerus menyatakan kebesaran Allah kepada umat manusia.
Mazmur 19:1–6 (AYT)
Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala menyatakan perbuatan tangan-Nya.
Hari demi hari mengalirkan berita itu; malam demi malam menyatakan pengetahuan itu.
Tidak ada berita, tidak ada kata-kata yang suaranya tidak terdengar.
Tali-tali pengukur mereka sampai ke seluruh bumi, dan perkataan mereka sampai ke ujung dunia. Di langit, Dia meletakkan tenda bagi matahari.
Seperti pengantin laki-laki yang keluar dari kamar tidurnya; seperti pahlawan yang girang saat berlari dalam perjalanan.
Terbitnya dari ujung langit dan beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang tersembunyi dari panasnya.
I. Langit sebagai Pewarta Kemuliaan Allah (Mazmur 19:1)
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala menyatakan perbuatan tangan-Nya.”
Ayat ini membuka mazmur dengan nada yang penuh keagungan. Daud melihat ke langit dan menyadari bahwa setiap bintang, setiap cahaya, setiap gerakan di cakrawala adalah kesaksian akan kebesaran Allah.
Dalam teologi Reformed, ayat ini sering dijadikan dasar bagi doktrin wahyu umum (general revelation), yaitu bahwa Allah menyatakan keberadaan dan sifat-sifat-Nya melalui ciptaan, sehingga manusia “tidak dapat berdalih” (Roma 1:20).
1.1. Wahyu yang terus berbicara
Kata “menceritakan” (mesapperim dalam Ibrani) berbentuk partisipel aktif, menunjukkan tindakan yang terus-menerus. Artinya, langit terus berbicara tanpa henti.
John Calvin menulis:
“Langit dan bumi tidak hanya menyingkapkan keberadaan Allah, tetapi mereka menjadi khotbah yang tanpa henti, memberitakan kemuliaan-Nya siang dan malam.”
(Commentary on the Psalms, Psalm 19)
Calvin menyebut alam semesta sebagai “theater of God’s glory” — teater tempat kemuliaan Allah dipertontonkan bagi umat manusia.
1.2. Cakrawala sebagai karya tangan Tuhan
Kata “cakrawala” (raqia) menunjuk pada bentangan langit, tempat matahari, bulan, dan bintang-bintang ditempatkan. Bagi Daud, cakrawala adalah kanvas di mana Allah melukis keindahan dan keteraturan ciptaan-Nya.
Matthew Henry menulis:
“Jika kita tidak dapat melihat wajah Allah secara langsung, biarlah kita melihat jejak tangan-Nya dalam ciptaan; di situ kita akan menemukan cukup alasan untuk memuji-Nya.”
II. Siang dan Malam Menjadi Pemberita (Mazmur 19:2)
“Hari demi hari mengalirkan berita itu; malam demi malam menyatakan pengetahuan itu.”
Di sini Daud menekankan kontinuitas dan kesetiaan alam semesta dalam menyatakan kemuliaan Allah.
Hari dan malam diibaratkan sebagai dua utusan yang bergantian menyampaikan pesan yang sama — tentang kebesaran Sang Pencipta.
2.1. “Mengalirkan berita itu”
Kata Ibrani nabia berarti “mengucurkan” atau “mengalirkan seperti mata air.”
Ini menunjukkan bahwa penyataan Allah melalui alam bukan seperti pesan yang kering, melainkan mengalir deras dan memberi kehidupan.
Herman Bavinck menulis:
“Penyataan Allah melalui ciptaan tidak pernah berhenti; ia selalu segar, selalu baru, seperti mata air yang memancar dari sumber kasih Allah yang tidak terbatas.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 1)
2.2. “Malam demi malam menyatakan pengetahuan itu”
Bahkan dalam kegelapan malam, bintang-bintang bersinar dan “menyatakan pengetahuan” — yakni kebijaksanaan dan keteraturan yang menunjukkan desain ilahi.
Bagi orang percaya, ini bukan hanya keindahan astronomi, tetapi tanda kesetiaan Allah yang menopang ciptaan-Nya dari generasi ke generasi.
III. Khotbah Alam yang Tanpa Kata (Mazmur 19:3–4a)
“Tidak ada berita, tidak ada kata-kata yang suaranya tidak terdengar.
Tali-tali pengukur mereka sampai ke seluruh bumi, dan perkataan mereka sampai ke ujung dunia.”
Daud menggunakan paradoks puitis di sini: ada berita, tetapi tanpa suara.
Langit tidak berbicara dengan bahasa manusia, tetapi pesan mereka dapat dipahami oleh semua bangsa.
3.1. Alam berbicara tanpa suara
Charles Spurgeon menulis dengan indah:
“Tidak ada bahasa atau bangsa di mana khotbah langit tidak dapat dimengerti, sebab alam berbicara dengan bahasa universal tentang kemuliaan Penciptanya.”
(The Treasury of David)
Bagi teologi Reformed, ini memperkuat bahwa penyataan Allah bersifat universal. Semua manusia memiliki kesaksian tentang Allah dalam ciptaan, sebagaimana dijelaskan dalam Roma 1:19–20, bahwa “segala sifat Allah yang tidak kelihatan nyata terlihat dari ciptaan dunia.”
3.2. “Tali-tali pengukur mereka sampai ke seluruh bumi”
Ungkapan ini dapat diterjemahkan sebagai “suara mereka menjangkau seluruh bumi.”
Kata “tali” bisa berarti garis atau jangkauan, menggambarkan luasnya penyebaran wahyu Allah melalui alam.
B.B. Warfield, dalam artikelnya tentang wahyu umum, menulis:
“Penyataan Allah melalui alam tidak terbatas pada tempat atau budaya; ia bersifat universal, sehingga semua manusia tahu bahwa mereka diciptakan dan dipelihara oleh Allah.”
IV. Matahari sebagai Simbol Kuasa dan Kegembiraan (Mazmur 19:4b–6)
“Di langit, Dia meletakkan tenda bagi matahari.
Seperti pengantin laki-laki yang keluar dari kamar tidurnya; seperti pahlawan yang girang saat berlari dalam perjalanan.
Terbitnya dari ujung langit dan beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang tersembunyi dari panasnya.”
Ayat-ayat ini berpindah dari langit secara umum kepada matahari secara khusus — lambang kehidupan, kehangatan, dan kuasa.
Namun bagi Daud, matahari bukanlah dewa (seperti yang disembah bangsa-bangsa kafir), melainkan alat di tangan Allah yang berfungsi menyatakan kemuliaan Penciptanya.
4.1. “Tenda bagi matahari”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa matahari memiliki “tempat tinggal” yang disediakan oleh Allah. Ia bukan ilahi, tetapi makhluk ciptaan yang tunduk kepada tatanan Sang Pencipta.
Calvin menulis:
“Daud tidak menganggap matahari sebagai dewa, tetapi sebagai pelayan Allah, yang melaksanakan pekerjaan-Nya dengan sukacita setiap hari.”
(Commentary on Psalms)
4.2. “Seperti pengantin laki-laki… seperti pahlawan”
Dua metafora ini menyoroti sukacita dan kekuatan.
Matahari digambarkan sebagai pengantin yang keluar dengan sukacita, dan sebagai pahlawan yang berlari dengan semangat.
Demikianlah alam, dalam ketaatannya kepada hukum Allah, memancarkan sukacita dalam melakukan kehendak Penciptanya.
Charles Spurgeon berkomentar:
“Matahari tidak pernah malas dalam perjalanannya. Ia berlari dengan gembira seperti pahlawan, memberi pelajaran bagi kita untuk melayani Allah dengan semangat yang sama.”
(The Treasury of David)
4.3. “Tidak ada yang tersembunyi dari panasnya”
Inilah simbol universalitas penyataan Allah.
Sama seperti panas matahari menjangkau setiap sudut bumi, demikian juga kemuliaan dan pengetahuan Allah menjangkau seluruh umat manusia.
John Owen menulis:
“Penyataan Allah bersifat menyeluruh; tidak ada hati manusia yang dapat menghindar dari cahaya atau panas kehadiran-Nya.”
(The Glory of Christ)
V. Teologi Reformed tentang Wahyu Umum
Bagian pertama dari Mazmur 19 memberikan dasar teologis yang kuat bagi konsep wahyu umum — penyataan Allah melalui ciptaan, hati nurani, dan sejarah.
5.1. Wahyu umum dan pengetahuan tentang Allah
Menurut Louis Berkhof, wahyu umum memiliki dua tujuan utama:
-
Menyatakan keberadaan dan kuasa Allah.
-
Menyediakan dasar tanggung jawab moral manusia di hadapan Allah.
(Systematic Theology, hlm. 35)
Namun, karena manusia telah jatuh dalam dosa, wahyu umum tidak cukup untuk keselamatan — melainkan untuk membungkam setiap dalih manusia.
5.2. Hubungan antara wahyu umum dan khusus
Herman Bavinck menulis dengan indah:
“Wahyu umum adalah dasar bagi wahyu khusus, dan wahyu khusus melengkapi serta memulihkan fungsi wahyu umum.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 1)
Artinya, ciptaan memberi kesaksian tentang Allah, tetapi hanya Firman yang memberi pengetahuan yang menyelamatkan tentang Dia.
VI. Aplikasi Teologis dan Spiritualitas Reformed
6.1. Panggilan untuk menyembah Allah melalui ciptaan
Orang percaya dipanggil untuk melihat alam bukan sebagai objek netral, tetapi sebagai cermin kemuliaan Allah.
Abraham Kuyper menulis:
“Tidak ada satu inci pun di seluruh alam semesta yang Kristus tidak tunjuk dan berkata: ‘Itu milik-Ku!’”
(Sphere Sovereignty)
Dengan demikian, berjalan di bawah langit biru, melihat gunung, bintang, dan matahari, seharusnya membangkitkan penyembahan, bukan penyembahan terhadap alam, melainkan terhadap Pencipta alam.
6.2. Panggilan untuk mengakui keagungan dan kedaulatan Allah
Ketika kita merenungkan keteraturan dan keindahan ciptaan, kita seharusnya menyadari bahwa Allah memerintah dalam ketertiban dan tujuan.
Tidak ada yang terjadi secara kebetulan; semua tunduk pada kehendak-Nya.
R.C. Sproul menegaskan:
“Tidak ada molekul tunggal di alam semesta ini yang bergerak tanpa izin Kristus.”
(Chosen by God)
6.3. Panggilan untuk hidup bagi kemuliaan Allah
Jika langit dan bumi memberitakan kemuliaan Allah, maka hidup kita pun seharusnya melakukan hal yang sama.
Setiap pekerjaan, setiap tindakan, setiap karya seni, setiap pemikiran harus diarahkan kepada satu tujuan: Soli Deo Gloria — hanya bagi kemuliaan Allah.
VII. Mazmur 19 sebagai Jembatan Menuju Injil
Mazmur ini bukan hanya puisi tentang alam; ini adalah pendahuluan menuju Injil.
Jika langit menyatakan kemuliaan Allah secara umum, maka Yesus Kristus adalah penyataan kemuliaan Allah secara sempurna.
“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.” (Yohanes 1:14)
Kristus adalah “matahari kebenaran” (Mal. 4:2) yang bersinar atas dunia yang gelap karena dosa.
Bagi para Reformator, hanya melalui Kristus kita dapat memahami makna sejati dari wahyu Allah dalam ciptaan.
Jonathan Edwards menulis:
“Ciptaan adalah bayangan dari kemuliaan Kristus; tetapi Injil adalah cahaya di mana bayangan itu menemukan maknanya.”
(The End for Which God Created the World)
VIII. Kesimpulan: Dunia sebagai Khotbah yang Hidup
Mazmur 19:1–6 mengajarkan bahwa setiap hari dan malam, setiap bintang dan matahari, berbicara tentang kemuliaan dan kebijaksanaan Allah.
Namun hanya mereka yang dibukakan hatinya oleh Roh Kudus yang dapat mendengar dan mengerti pesan itu dengan benar.
Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan hati yang diperbarui akan menjawab dengan penyembahan:
“Ya Tuhan, betapa agung karya tangan-Mu!”
Bagi teologi Reformed, ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa seluruh ciptaan adalah panggung bagi kemuliaan Allah, dan bahwa hidup manusia harus menjadi bagian dari simfoni besar itu — menyanyikan kemuliaan-Nya selamanya.