Kehidupan oleh Iman

Kehidupan oleh Iman

I. Pendahuluan — Apa Arti Hidup oleh Iman?

Hidup oleh iman bukanlah konsep abstrak, melainkan inti dari kehidupan Kristen. Dalam seluruh Alkitab, iman bukan hanya titik awal keselamatan, tetapi juga cara hidup yang berkelanjutan bagi umat Allah.
Dari Abraham, bapa orang beriman, hingga Rasul Paulus, iman menjadi dasar eksistensi umat Allah di dunia yang penuh ketidakpastian.

Namun, dalam pengertian Reformed, iman bukanlah “usaha manusia untuk percaya,” melainkan karunia Allah yang bekerja di hati orang berdosa melalui Roh Kudus. Iman sejati adalah respon terhadap anugerah Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Kristus.

R.C. Sproul menjelaskan:

“Iman bukanlah kepercayaan buta yang menutup mata terhadap bukti, tetapi keyakinan yang berakar pada kebenaran Allah yang dapat dipercaya.”

Jadi, hidup oleh iman berarti menghidupi relasi dengan Allah yang berdaulat, di mana segala aspek hidup dipusatkan pada Kristus, bukan pada diri sendiri.

II. Dasar Biblika: Ibrani 11:1–6

Ibrani 11:1
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Pasal ini sering disebut “Hall of Faith” — galeri tokoh-tokoh iman dalam sejarah keselamatan. Namun, penulis Ibrani tidak hanya memuji tokoh-tokoh besar itu, tetapi juga mendefinisikan esensi kehidupan iman.

1. Iman sebagai “dasar” (ὑπόστασις, hupostasis)

Kata Yunani hupostasis berarti “fondasi yang nyata.”
Artinya, iman bukan sekadar optimisme rohani, melainkan keyakinan yang berakar pada realitas janji Allah.
Iman menghubungkan orang percaya dengan masa depan Allah seolah-olah janji itu sudah menjadi kenyataan sekarang.

John Calvin menulis dalam Institutes (III.2.7):

“Iman adalah pengetahuan yang pasti tentang kebaikan Allah terhadap kita, yang didasarkan pada janji-janji Injil, dan dimeteraikan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.”

Jadi, iman bukan sekadar percaya bahwa Allah ada, tetapi percaya kepada Allah yang telah berjanji dan menepati firman-Nya.

2. Iman sebagai “bukti” (ἔλεγχος, elegchos)

Kata ini berarti “keyakinan yang membuktikan sesuatu yang belum terlihat.”
Iman adalah jendela rohani yang menembus batas dunia fisik untuk melihat realitas surgawi yang kekal.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Iman adalah bukti rohani dari hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh indra. Ia menghubungkan manusia dengan dunia yang kekal.”

Dengan demikian, iman bukan khayalan, melainkan persepsi rohani terhadap realitas ilahi.

III. Hidup oleh Iman dalam Sejarah Penebusan

1. Abraham — Contoh Hidup oleh Iman (Kejadian 12–22)

Ketika Allah memanggil Abram keluar dari Ur, ia tidak tahu ke mana ia akan pergi. Namun ia taat. Hidupnya adalah perjalanan iman — dari keraguan menuju keyakinan penuh akan janji Allah.

“Abraham percaya kepada TUHAN, dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”Kejadian 15:6

John Calvin menyebut Abraham “model orang percaya” karena ia mempercayai janji Allah lebih daripada kenyataan yang tampak.
Dalam perspektif Reformed, iman Abraham bukan hasil moralitasnya, melainkan karya Allah yang memampukannya mempercayai yang mustahil.

Herman Bavinck menulis:

“Iman Abraham tidak statis; ia bertumbuh seiring pengalaman hidupnya. Allah melatihnya agar ia belajar bahwa kebenaran sejati hanya ditemukan dalam Allah yang berjanji.”

Melalui Abraham, kita belajar bahwa hidup oleh iman berarti percaya kepada Allah bahkan ketika janji-Nya tampak tertunda atau tidak masuk akal.

2. Musa — Iman yang Menolak Dunia (Ibrani 11:24–26)

“Karena iman, Musa menolak disebut anak putri Firaun, lebih memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa sesaat.”

Hidup oleh iman sering kali berarti hidup melawan arus dunia.
Musa meninggalkan kekayaan Mesir karena melihat sesuatu yang lebih besar — upah kekal di dalam Allah.

R.C. Sproul berkomentar:

“Iman membuat seseorang menilai ulang nilai-nilai dunia. Ia menyadari bahwa kemuliaan Allah lebih berharga daripada kenyamanan dunia.”

Hidup oleh iman berarti menolak sistem nilai dunia dan menaruh seluruh pengharapan kepada kerajaan Allah.

3. Paulus — Hidup oleh Iman dalam Kristus (Galatia 2:20)

“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Paulus menegaskan bahwa hidup iman bukan hanya percaya kepada Kristus, tetapi berpartisipasi dalam hidup Kristus.

Iman adalah persatuan dengan Kristus (unio cum Christo).
Kita tidak hanya dibenarkan oleh iman (justification), tetapi juga diperbaharui untuk hidup oleh iman (sanctification).

Louis Berkhof menulis:

“Iman yang menyelamatkan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu diikuti oleh kehidupan iman, karena Roh Kudus yang menanam iman juga memelihara kehidupan baru.”

Jadi, hidup oleh iman bukanlah pasif — itu adalah kehidupan aktif yang dihidupi dalam kuasa Kristus yang tinggal di dalam kita.

IV. Dimensi Teologis Kehidupan Iman

1. Iman dan Kedaulatan Allah

Dalam teologi Reformed, iman tidak muncul dari keputusan bebas manusia, tetapi adalah hasil karya anugerah Allah yang berdaulat.

“Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman; itu bukan hasil usahamu sendiri, melainkan pemberian Allah.”Efesus 2:8

John Calvin menulis:

“Iman adalah karya Roh Kudus yang menerangi hati untuk menerima kebenaran Allah.”

Karena itu, kehidupan oleh iman adalah kehidupan yang bergantung total kepada karya Roh Kudus.

2. Iman dan Pembenaran (Justification)

Doktrin sola fide — dibenarkan oleh iman saja — adalah jantung Reformasi.
Martin Luther berkata, “Doktrin pembenaran oleh iman adalah doktrin yang menentukan berdirinya atau runtuhnya gereja.”

Namun, dalam pemahaman Reformed, iman bukan penyebab keselamatan, melainkan alat (instrumentum) untuk menerima karya Kristus.

Herman Bavinck menegaskan:

“Iman tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri; ia bernilai karena objeknya, yaitu Kristus.”

Dengan demikian, hidup oleh iman berarti hidup yang terus menerus menyandarkan diri kepada Kristus sebagai satu-satunya dasar kebenaran.

3. Iman dan Pengudusan (Sanctification)

Iman yang sejati tidak berhenti di pembenaran; ia berbuah dalam kehidupan yang dikuduskan.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa pengudusan adalah “hasil alami dari iman yang hidup.”

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.” — Yakobus 2:26

Namun, perbuatan bukan dasar keselamatan, melainkan bukti kehidupan iman yang sejati.

John Calvin menulis:

“Iman yang membenarkan tidak pernah sendiri; iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan.”

Oleh karena itu, kehidupan iman yang sejati adalah kehidupan yang menunjukkan buah Roh (Galatia 5:22–23) dalam realitas sehari-hari.

V. Iman dalam Penderitaan dan Ketidakpastian

Salah satu ujian terbesar iman adalah ketika Allah tampak diam.
Hidup oleh iman berarti tetap percaya kepada Allah bahkan ketika Ia tidak memberikan penjelasan.

1. Contoh Ayub — Iman di Tengah Kesunyian

Ayub kehilangan segalanya, tetapi ia berkata:

“Sekalipun Ia membunuh aku, namun aku tetap percaya kepada-Nya.”Ayub 13:15

R.C. Sproul menyebut ini “iman yang bertahan di bawah keheningan Allah.”
Iman sejati tidak tergantung pada kenyamanan, melainkan pada karakter Allah yang dapat dipercaya.

2. Contoh Habakuk — Iman yang Menyembah di Tengah Kekacauan

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga … namun aku akan bersorak-sorai di dalam TUHAN.”Hab. 3:17–18

Iman sejati tidak hanya percaya ketika diberkati, tetapi juga menyembah di tengah penderitaan.
Herman Bavinck menulis:

“Iman yang sejati bukan hanya percaya kepada Allah karena janji-Nya, tetapi juga mengasihi Dia karena siapa Dia adanya.”

Inilah puncak kehidupan iman: bersukacita dalam Allah, bukan dalam keadaan.

VI. Hidup oleh Iman dalam Dunia Modern

Bagaimana prinsip ini diterapkan dalam konteks masa kini?

1. Hidup oleh iman dalam dunia yang rasionalistis

Kita hidup di zaman di mana iman sering dianggap irasional.
Namun, iman Kristen tidak bertentangan dengan akal; ia melampaui akal tanpa menentangnya.

John Calvin menyebut iman sebagai “pengetahuan sejati” (vera cognitio) karena berakar pada pewahyuan Allah yang pasti.

2. Hidup oleh iman dalam budaya materialistik

Budaya modern mengukur nilai dari apa yang dapat dilihat dan dimiliki.
Namun, iman mengajarkan kita untuk memandang yang tidak kelihatan.

“Kami tidak memperhatikan yang kelihatan, tetapi yang tidak kelihatan.”2 Korintus 4:18

Hidup oleh iman berarti menilai keberhasilan bukan dari kekayaan, tetapi dari ketaatan kepada Allah.

3. Hidup oleh iman dalam pelayanan dan panggilan

Iman tidak hanya bekerja dalam keselamatan pribadi, tetapi juga dalam panggilan hidup — baik dalam pekerjaan, keluarga, atau pelayanan.
Setiap tindakan iman adalah bentuk penyerahan diri kepada kehendak Allah.

“Di mana tidak ada iman, di situ tidak ada ibadah sejati.” — John Calvin

VII. Pandangan Para Teolog Reformed tentang Kehidupan Iman

TeologPandangan UtamaPenekanan
John CalvinIman adalah pengetahuan yang pasti tentang kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus.Hubungan pribadi antara Allah dan umat-Nya.
Martin LutherIman membenarkan karena memegang janji Kristus.Pembenaran oleh iman saja.
Herman BavinckIman menghubungkan manusia dengan realitas ilahi dan mencakup seluruh hidup.Iman sebagai respons total terhadap anugerah.
Louis BerkhofIman adalah instrumen yang menerima pembenaran dan menumbuhkan pengudusan.Iman aktif dan produktif.
R.C. SproulIman sejati adalah kepercayaan penuh pada karakter Allah, bukan emosi sesaat.Kedaulatan Allah dalam iman.

VIII. Hidup oleh Iman: Dari Teologi ke Praksis

Hidup oleh iman bukan sekadar dogma, tetapi gaya hidup yang mencerminkan relasi dengan Allah.

  1. Dalam doa: Iman membuat kita berdoa dengan keyakinan bahwa Allah mendengar.

  2. Dalam pekerjaan: Iman menuntun kita bekerja bukan untuk manusia, tetapi untuk Tuhan.

  3. Dalam keluarga: Iman membentuk karakter dan kesetiaan.

  4. Dalam penderitaan: Iman memberikan pengharapan di balik salib.

  5. Dalam pelayanan: Iman meneguhkan bahwa hasil sejati berasal dari Allah, bukan dari usaha manusia.

Iman menjadikan seluruh hidup sebagai ibadah.

IX. Hidup oleh Iman dan Janji Kekal

Akhir dari kehidupan iman bukanlah di dunia ini. Ibrani 11 menutup dengan pernyataan penting:

“Semua orang itu tidak memperoleh apa yang dijanjikan, tetapi mereka melihatnya dari jauh dan menyambutnya.”Ibrani 11:39

Hidup oleh iman adalah perjalanan menuju rumah surgawi.
Iman menuntun kita melewati lembah bayang-bayang maut sampai pada kota yang dirancang oleh Allah sendiri (Ibr. 11:10).

Herman Bavinck menulis:

“Iman adalah peziarahan antara janji dan penggenapan; antara salib dan mahkota.”

X. Penutup — Kristus, Sumber dan Tujuan Hidup oleh Iman

Pada akhirnya, Kristus adalah pusat kehidupan iman.
Kita hidup oleh iman kepada Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita.
Tanpa Kristus, iman hanyalah kepercayaan kosong; tetapi dalam Kristus, iman menjadi kekuatan yang menghidupkan.

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.”Ibrani 12:2

Hidup oleh iman berarti hidup di bawah salib dan di dalam anugerah.
Itu bukan hidup tanpa kegagalan, tetapi hidup yang terus bangkit oleh kasih karunia Allah.

R.C. Sproul menutupnya dengan indah:

“The life of faith is not a leap into darkness, but a step into the light of God’s unchanging truth.”
(Kehidupan iman bukan lompatan ke dalam kegelapan, tetapi langkah ke dalam terang kebenaran Allah yang kekal.)

Next Post Previous Post