Zakharia 3:8 - Sang Tunas: Kristus sebagai Hamba dan Raja

Zakharia 3:8 - Sang Tunas: Kristus sebagai Hamba dan Raja

Zakharia 3:8 (AYT)
“Dengarlah sekarang, hai Imam Besar Yosua! Kamu dan teman-temanmu yang duduk di hadapanmu — karena merekalah orang-orang yang menjadi lambang, sebab lihatlah, Aku akan mendatangkan hamba-Ku, Sang Tunas.”

I. Pendahuluan — Nubuatan tentang Sang Penebus yang Akan Datang

Kitab Zakharia adalah salah satu kitab kenabian yang paling sarat dengan simbolisme dan pengharapan mesianik. Dalam konteks pasal 3, kita menyaksikan pemandangan surgawi yang penuh makna teologis: Imam Besar Yosua berdiri di hadapan malaikat TUHAN, dengan Iblis menuduhnya karena pakaian najisnya (Zakharia 3:1–5). Namun, Allah sendiri membela, menyucikan, dan mengenakan pakaian baru kepada Yosua. Setelah tindakan pemulihan itu, datanglah ayat 8 — janji yang menyingkapkan inti Injil Perjanjian Lama: Allah akan mendatangkan “Hamba-Ku, Sang Tunas.”

Kalimat ini menjadi pusat nubuatan mesianik dalam Zakharia, menubuatkan kedatangan Kristus sebagai Hamba Allah (Yesaya 42:1) dan Tunas dari keturunan Daud (Yesaya 11:1; Yeremia 23:5). Di sini, teologi keselamatan Perjanjian Lama bertemu dengan penggenapannya di dalam Kristus.

John Calvin dalam Commentary on Zechariah menulis:

“Dalam diri Yosua dan para imam, Allah menampilkan bayangan dari Mesias yang akan datang, Sang Imam Besar sejati yang akan membawa pemulihan rohani bagi umat-Nya.”

Zakharia 3:8 adalah jendela ke masa depan — ke kedatangan Kristus yang akan menggantikan sistem keimamatan lama dengan karya penebusan yang sempurna.

II. Konteks Historis dan Teologis

1. Situasi pasca-pembuangan

Zakharia menulis sekitar tahun 520 SM, pada masa bangsa Yehuda baru kembali dari pembuangan Babel. Mereka sedang membangun kembali Bait Allah dan identitas rohani mereka.
Yosua bin Yozadak menjabat sebagai Imam Besar bersama Zerubabel, pemimpin sipil dari garis keturunan Daud. Namun, dosa dan kemerosotan rohani masih membayangi bangsa itu.

Dalam pasal 3, Allah meneguhkan kembali peran imam besar, tetapi dengan pesan yang lebih dalam:
Ibadah sejati dan pengampunan sejati hanya akan datang melalui Sang Hamba, Sang Tunas — Mesias yang dijanjikan.

2. Peran simbolik Yosua dan para imam

“Kamu dan teman-temanmu … merekalah orang-orang yang menjadi lambang.”

Yosua dan rekan-rekan imamnya adalah tipe atau bayangan (typology) dari realitas yang akan datang dalam Kristus.
Dalam sistem keimamatan Israel, imam menjadi perantara antara Allah dan manusia, mempersembahkan korban untuk menebus dosa. Tetapi, sistem itu bersifat sementara dan tidak sempurna (Ibrani 10:1–4).

Zakharia mengingatkan: imam-imam ini hanyalah tanda dari sesuatu yang lebih besar — “Sebab lihatlah, Aku akan mendatangkan Hamba-Ku, Sang Tunas.”

III. Eksposisi Kata demi Kata

1. “Dengarlah sekarang, hai Imam Besar Yosua!”

Seruan “dengarlah” menandakan panggilan peringatan dan pengharapan. Allah berbicara bukan hanya kepada Yosua pribadi, tetapi kepada seluruh sistem keimamatan Israel.
Ia ingin menunjukkan bahwa pemulihan sejati tidak akan datang dari manusia, tetapi dari Hamba Allah sendiri.

John Calvin menafsirkan:

“Panggilan ini adalah undangan kepada iman. Allah memerintahkan Yosua untuk mendengar, bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati yang percaya akan janji-Nya yang akan digenapi.”

2. “Kamu dan teman-temanmu … merekalah orang-orang yang menjadi lambang.”

Frasa ini memperkenalkan prinsip tipologi redemptif. Dalam teologi Reformed, seluruh sistem Perjanjian Lama — imam, korban, bait — adalah bayangan dari Kristus (lih. Kolose 2:17; Ibrani 8:5).

Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics:

“Seluruh Perjanjian Lama bersifat simbolis dan tipologis, menunjuk kepada realitas rohani yang digenapi dalam Kristus. Dalam hal ini, keimamatan Yosua adalah cerminan samar dari keimamatan Kristus yang sempurna.”

Jadi, Yosua bukan tokoh utama, melainkan ikon pengharapan akan Mesias yang akan datang.

3. “Sebab lihatlah, Aku akan mendatangkan Hamba-Ku, Sang Tunas.”

Inilah inti ayat ini. Dua gelar diberikan kepada Mesias:

  • “Hamba-Ku” (עַבְדִּי, ‘avdi)

  • “Sang Tunas” (צֶמַח, tsemach)

Kedua istilah ini menyatu dalam satu pribadi: Yesus Kristus.

IV. “Hamba-Ku” — Kristus sebagai Hamba Allah

Gelar ini mengingatkan pada nyanyian Hamba TUHAN dalam Yesaya (Yesaya 42:1; 49:6; 52:13–53:12).
Di sana, Hamba TUHAN adalah sosok yang dipilih untuk membawa keselamatan bagi bangsa-bangsa melalui penderitaan dan ketaatan sempurna.

“Sesungguhnya, Hamba-Ku akan bertindak dengan bijaksana; Ia akan ditinggikan dan dimuliakan.”Yesaya 52:13

Dalam konteks Zakharia, Allah berjanji untuk mendatangkan Hamba ini — seseorang yang akan melakukan apa yang gagal dilakukan oleh imam-imam manusia.
Ia akan menjadi perantara sejati antara Allah dan umat-Nya.

Charles Spurgeon berkata:

“Ketika Zakharia berbicara tentang Hamba Tuhan, ia menunjuk kepada Kristus yang mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, agar umat-Nya dimuliakan.”

Kehidupan Yesus di bumi menjadi penggenapan nubuatan ini:

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”Markus 10:45

Dengan demikian, Hamba dalam Zakharia 3:8 adalah Hamba yang disalibkan, yang melalui pelayanan dan penderitaan-Nya, membawa pemulihan bagi umat Allah.

V. “Sang Tunas” — Kristus sebagai Tunas dari Daud

Kata Ibrani tsemach berarti “tunas” atau “cabang muda” — metafora bagi pertumbuhan baru dari akar yang seolah-olah mati.
Dalam Perjanjian Lama, ini selalu menunjuk kepada keturunan Daud yang akan memerintah dengan adil dan membawa damai.

“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan bagi Daud sebuah tunas yang benar; Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana.”Yeremia 23:5

Yesaya juga memakai gambaran serupa:

“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai.”Yesaya 11:1

Istilah “tunas” melambangkan harapan dari kehancuran.
Bangsa Israel telah ditebang seperti pohon mati oleh pembuangan, tetapi dari akar yang tersembunyi itu, Allah menumbuhkan Tunas — Kristus.

John Calvin berkata:

“Tunas itu tumbuh dari akar yang tidak tampak, menunjukkan bahwa Mesias akan datang dengan rendah hati, tetapi Ia akan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh dunia.”

Dalam Injil, kita melihat penggenapan ini ketika Kristus datang bukan sebagai raja duniawi, tetapi sebagai hamba yang rendah hati, namun akhirnya dimuliakan sebagai Raja segala raja (Filipi 2:6–11).

VI. Hubungan antara “Hamba” dan “Tunas”

Kedua istilah ini menyatu secara sempurna dalam diri Yesus:

AspekHambaTunas
FungsiMelayani dan menebus umat AllahBertumbuh dan memerintah dalam kemuliaan
NaturKerendahan dan penderitaanKehidupan baru dan kemuliaan
Karya KristusPenebusan melalui salibPemulihan melalui kebangkitan

Dalam penjelasan Louis Berkhof:

“Kristus sebagai Hamba adalah manifestasi kasih Allah dalam penderitaan; Kristus sebagai Tunas adalah manifestasi kuasa Allah dalam kebangkitan.”

Dengan demikian, Zakharia 3:8 merangkum dua aspek penting dalam kristologi: kerendahan inkarnasi dan kemuliaan kebangkitan.

VII. Tipologi Yosua dan Penggenapannya dalam Kristus

Yosua, Imam Besar, melambangkan peran Kristus sebagai Imam Agung yang kekal.
Dalam Ibrani 4:14, Kristus disebut sebagai “Imam Besar yang agung, yang telah melintasi semua langit.”

1. Yosua berdiri dalam pakaian najis → Kristus memikul dosa kita

Seperti Yosua dalam Zakharia 3:3–4, Kristus menanggung kenajisan umat-Nya di salib, agar kita dapat dikenakan “pakaian kebenaran.”

2. Yosua dibersihkan dan dipulihkan → Kristus dibangkitkan dan dimuliakan

Pemulihan Yosua melambangkan kemenangan Kristus atas dosa dan maut.

3. Yosua menjadi tanda bagi bangsa → Kristus menjadi tanda keselamatan bagi dunia

Zakharia menyebut Yosua dan imam-imamnya sebagai “tanda.”
Kristus adalah tanda sejati dari kasih karunia Allah (Lukas 2:34).

R.C. Sproul menulis:

“Seluruh sistem keimamatan Perjanjian Lama adalah bayangan dari satu Imam sejati yang akan datang, yang tidak hanya mempersembahkan korban, tetapi menjadi korban itu sendiri.”

VIII. Perspektif Teologi Reformed

Dalam teologi Reformed, ayat ini mencerminkan tiga doktrin besar:

1. Kristologi — Kristus sebagai Mediator

Kristus sebagai Hamba dan Tunas menunjukkan dua sisi dari pribadi-Nya: Imanensi dan Transendensi.
Sebagai Hamba, Ia dekat dengan manusia; sebagai Tunas, Ia membawa pemerintahan ilahi ke bumi.

Herman Bavinck menulis:

“Dalam Kristus, keilahian dan kemanusiaan bersatu secara sempurna, sehingga Ia menjadi pengantara satu-satunya antara Allah dan manusia.”

2. Soteriologi — Penebusan Melalui Ketaatan

Sebagai Hamba, Kristus taat sampai mati (Filipi 2:8).
Sebagai Tunas, Ia hidup kembali untuk membawa kehidupan kepada umat-Nya.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Keselamatan bukan hasil kerjasama antara manusia dan Allah, melainkan hasil karya sempurna Hamba Allah yang taat menggantikan umat-Nya.”

3. Ekklesiologi — Gereja sebagai Hasil Pertumbuhan Tunas

Tunas itu terus bertumbuh — gambar Gereja yang berkembang dari karya Kristus.
Gereja adalah manifestasi dari kehidupan yang keluar dari Tunas itu.

“Akulah pokok anggur yang benar, dan Bapa-Kulah pengusahanya.”Yohanes 15:1

Gereja hanya dapat hidup jika tetap melekat pada Tunas sejati, yaitu Kristus.

IX. Aplikasi Teologis dan Rohani

1. Allah memelihara janji-Nya di tengah kehancuran

Seperti bangsa Yehuda yang hancur tetapi dijanjikan “Tunas,” demikian juga Allah tetap setia kepada umat-Nya hari ini.
Ketika dunia tampak tanpa harapan, Allah berkata: “Aku akan menumbuhkan sesuatu yang baru.”

R.C. Sproul menulis:

“Kedaulatan Allah berarti bahwa bahkan di antara puing-puing, benih Injil tetap hidup.”

2. Iman sejati melihat ke masa depan janji Allah

Iman bukan hanya percaya pada masa kini, tetapi memandang pada Tunas yang sedang tumbuh.
Mungkin dunia tampak kering, tetapi Allah sedang bekerja di bawah permukaan.

3. Kristus sebagai Hamba mengajar kita untuk melayani

Hidup Kristen adalah refleksi dari Hamba yang melayani.
Kita dipanggil untuk meneladani-Nya — bukan mencari kemuliaan, tetapi ketaatan.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”Markus 10:43

4. Kristus sebagai Tunas memberi pengharapan akan pembaruan

Tidak ada hidup yang terlalu hancur bagi kasih karunia.
Seperti Tunas yang tumbuh dari tunggul mati, Allah dapat menumbuhkan kehidupan baru dari kegagalan dan dosa.

X. Refleksi Kristologis — Kristus, Hamba yang Ditolak dan Tunas yang Dimuliakan

Ketika Kristus datang, Ia digenapi sebagai Hamba yang menderita (Yes. 53) dan Tunas yang bertumbuh (Yesaya 11:1).
Dunia menolak-Nya, tetapi Allah meninggikan-Nya.

“Ia bertumbuh di hadapan-Nya seperti taruk yang muda, dan seperti tunas dari tanah kering.”Yesaya 53:2

Melalui penderitaan-Nya, kita memperoleh pengampunan.
Melalui kebangkitan-Nya, kita memperoleh hidup baru.

Charles Spurgeon menyatakan:

“Dari kayu salib, Tunas itu mulai tumbuh, dan dari luka-luka-Nya mengalir kehidupan bagi Gereja.”

XI. Perspektif Eskatologis — Tunas yang Akan Datang Kembali

Tunas yang telah bertumbuh dalam kebangkitan akan berbuah penuh dalam kedatangan-Nya yang kedua.
Zakharia 6:12–13 menegaskan bahwa Sang Tunas akan membangun Bait Allah rohani dan memerintah di atas takhta-Nya.

Ini menunjuk pada penggenapan akhir dalam kerajaan Allah.

Herman Bavinck menulis:

“Dalam Kristus, sejarah berakar dan berakhir. Tunas itu akan berbuah penuh ketika segala sesuatu diperbarui.”

Hidup oleh iman berarti menantikan hari di mana Tunas itu akan menjadi pohon kehidupan bagi bangsa-bangsa (Wahyu 22:2).

XII. Penutup — Hamba dan Tunas: Dua Sisi dari Kasih Karunia Allah

Zakharia 3:8 memperlihatkan kesatuan indah antara kerendahan penebusan dan kemuliaan kebangkitan.
Hamba yang taat adalah Tunas yang hidup; salib dan mahkota tidak terpisahkan.

“Lihatlah, Aku akan mendatangkan Hamba-Ku, Sang Tunas.”

Kalimat ini adalah Injil dalam bentuk benih — janji bahwa Allah sendiri akan datang sebagai Hamba untuk menebus, dan sebagai Tunas untuk memerintah.
Dalam Kristus, janji itu telah digenapi, dan sekarang Ia memanggil Gereja-Nya untuk hidup di bawah bayang kasih karunia itu.

John Calvin menutup tafsirannya dengan indah:

“Kita harus memandang pada Kristus sebagai Hamba yang rendah hati, agar kita dapat memandang Dia sebagai Raja yang dimuliakan.”

Next Post Previous Post