Markus 11:27–33: Otoritas Kristus yang Tidak Terbantahkan

Markus 11:27–33: Otoritas Kristus yang Tidak Terbantahkan

Markus 11:27–33 (AYT)
“Kemudian, mereka datang lagi ke Yerusalem. Sementara Yesus berjalan di Bait Allah, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua Yahudi datang kepada-Nya, dan berkata kepada-Nya, ‘Dengan kuasa apa Engkau melakukan hal-hal ini, atau siapa yang memberi-Mu kuasa untuk melakukan hal-hal ini?’ Yesus berkata kepada mereka, ‘Aku akan bertanya satu pertanyaan kepadamu. Jawablah Aku, dan Aku akan katakan kepadamu dengan kuasa apa Aku melakukan hal-hal ini. Apakah baptisan Yohanes berasal dari surga atau dari manusia? Jawablah Aku!’ Mereka berdiskusi satu dengan yang lain, katanya, ‘Jika kita menjawab, “Dari surga,” Dia akan berkata, “Lalu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya?” Akan tetapi, akankah kita menjawab, “Dari manusia”?’ Para pemimpin itu takut kepada orang banyak karena mereka semua menganggap bahwa Yohanes benar-benar seorang nabi. Jadi, mereka menjawab Yesus, ‘Kami tidak tahu.’ Karena itu, Yesus berkata kepada mereka, ‘Aku pun tidak akan mengatakan kepadamu dengan kuasa apakah Aku melakukan hal-hal ini.’”

I. Pendahuluan — Krisis Otoritas dalam Bait Allah

Perikop ini menampilkan konfrontasi langsung antara otoritas rohani palsu dan otoritas sejati dari Allah.
Yesus baru saja membersihkan Bait Allah (Markus 11:15–19), menggulingkan meja penukar uang, dan menegaskan bahwa rumah Bapa-Nya seharusnya menjadi “rumah doa bagi segala bangsa.”
Tindakan ini menantang tatanan keagamaan yang mapan — suatu sistem yang dikuasai oleh imam-imam kepala dan ahli Taurat yang sudah korup secara moral dan spiritual.

Kini, ketika Yesus berjalan di pelataran Bait Allah, para pemimpin agama menuntut penjelasan:

“Dengan kuasa apa Engkau melakukan hal-hal ini?”

Pertanyaan ini tampaknya logis, namun sesungguhnya adalah upaya menjebak dan mendiskreditkan Yesus.
Dalam narasi Markus, ini adalah puncak konflik antara otoritas manusia yang korup dan otoritas ilahi Kristus.

II. Latar Belakang Historis dan Konteks Naratif

Peristiwa ini terjadi pada hari terakhir pelayanan publik Yesus di Yerusalem menjelang penyaliban-Nya.
Bait Allah, yang seharusnya menjadi pusat penyembahan kepada Allah, telah menjadi tempat transaksi dan kemunafikan.
Dengan mengusir para pedagang, Yesus menegaskan kembali otoritas ilahi-Nya sebagai Anak Allah yang berhak menilai dan menghakimi ibadah umat.

Namun, bagi para pemimpin agama, tindakan Yesus merupakan ancaman langsung terhadap kekuasaan mereka.
Mereka adalah penjaga sistem religius yang sudah rusak, dan tindakan Yesus mengguncang fondasi otoritas mereka.

John Calvin menulis dalam Commentary on the Synoptic Gospels:

“Pertanyaan mereka bukanlah pencarian tulus akan kebenaran, melainkan kebencian terhadap terang yang menelanjangi kegelapan mereka.”

III. Analisis Teks: Pertanyaan tentang Otoritas

1. “Dengan kuasa apa Engkau melakukan hal-hal ini?” (Markus 11:28)

Pertanyaan ini menyinggung dua dimensi otoritas Yesus:

  • Otoritas pengajaran-Nya — yang membuat banyak orang takjub (Markus 1:22),

  • Otoritas tindakan-Nya — termasuk mujizat, pengampunan dosa, dan pembersihan Bait Allah.

Mereka ingin tahu: Apakah Yesus bertindak atas nama Allah ataukah hanya manusia biasa yang berani mengklaim kuasa rohani?

Namun ironi besar di sini adalah: Mereka menantang kuasa dari Dia yang adalah sumber otoritas itu sendiri.

R.C. Sproul dalam The Holiness of God menulis:

“Ketika manusia berdosa menuntut agar Allah menjelaskan otoritas-Nya, itu adalah bukti pemberontakan yang paling dalam. Dosa selalu menolak pemerintahan Allah dan menuntut kemandirian.”

Dengan kata lain, pertanyaan ini bukan teologis, melainkan politis dan spiritual:
Mereka tidak mau tunduk kepada otoritas ilahi karena akan mengancam posisi mereka sebagai penguasa agama.

2. Tanggapan Yesus: “Aku akan bertanya satu pertanyaan kepadamu.” (Markus 11:29–30)

Yesus tidak menjawab langsung, melainkan menjawab dengan pertanyaan yang mengungkap motivasi hati mereka.
Ia bertanya:

“Apakah baptisan Yohanes berasal dari surga atau dari manusia?”

Pertanyaan ini brilian secara teologis dan retoris.
Ia memaksa para pemimpin itu untuk menyatakan sikap terhadap pewahyuan Allah.
Jika mereka mengakui bahwa baptisan Yohanes berasal dari surga, maka mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, karena Yohaneslah yang bersaksi tentang Dia.
Namun jika mereka menyangkalnya, mereka akan kehilangan dukungan rakyat yang menghormati Yohanes sebagai nabi.

Herman Bavinck menulis:

“Kristus sering kali tidak menjawab manusia sesuai pertanyaannya, melainkan mengungkapkan akar ketidakpercayaan yang tersembunyi di baliknya. Karena iman tidak lahir dari bukti logika, tetapi dari penyerahan kepada otoritas Allah.”

IV. Krisis Hati Manusia: Ketakutan dan Kemunafikan

Markus 11:31–32 memperlihatkan drama batin para pemimpin agama: mereka berdiskusi satu dengan yang lain.
Ini adalah momen klasik dari hati manusia yang terbelah antara kebenaran dan kepentingan diri.

“Jika kita menjawab, ‘Dari surga,’ Dia akan berkata, ‘Lalu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya?’”
“Akan tetapi, akankah kita menjawab, ‘Dari manusia?’ Mereka takut kepada orang banyak.”

Dua motivasi yang berlawanan saling berperang:

  • Ketakutan akan kehilangan kekuasaan,

  • Ketakutan akan kehilangan popularitas.

Louis Berkhof dalam Systematic Theology menjelaskan:

“Ketika manusia menolak otoritas Allah, mereka tidak menjadi bebas, melainkan diperbudak oleh opini manusia. Penolakan terhadap kedaulatan ilahi selalu menghasilkan ketakutan terhadap makhluk ciptaan.”

Para pemimpin itu ingin mempertahankan kuasa, tetapi tidak berani menanggung risiko untuk menyatakan kebenaran.
Mereka mengetahui kebenaran tetapi menolaknya, dan itulah hakikat dosa menurut teologi Reformed.

V. Yesus dan Yohanes: Sumber Otoritas yang Sama

Pertanyaan Yesus tentang baptisan Yohanes bukan sekadar pengalihan isu.
Ia menghubungkan pelayanan Yohanes Pembaptis dengan otoritas Mesianik-Nya sendiri.

Yohanes adalah nabi terakhir yang membuka jalan bagi Mesias (Markus 1:2–3).
Pelayanannya bersumber dari Allah, bukan manusia.
Dengan menolak Yohanes, para pemimpin agama juga menolak Allah yang mengutus Yohanes — dan dengan demikian menolak Kristus sendiri.

John Calvin menulis:

“Yesus mengikat diri-Nya dengan Yohanes agar orang tidak dapat memisahkan antara nubuatan dan penggenapan. Barang siapa menolak nabi Allah, menolak Allah itu sendiri.”

Dengan demikian, inti persoalan bukan “kuasa dari mana,” melainkan siapa yang diakui sebagai sumber kebenaran.

VI. Krisis Otoritas dan Dosa dalam Teologi Reformed

Dalam pandangan Reformed, akar dosa manusia adalah pemberontakan terhadap otoritas Allah.
Dari Taman Eden, manusia ingin menentukan sendiri apa yang baik dan jahat (Kejadian 3:5).
Demikian pula, para pemimpin Yahudi dalam Markus 11 ingin menjadi penentu kebenaran, bukan penerima kebenaran.

R.C. Sproul menegaskan:

“Dosa bukan sekadar pelanggaran moral, melainkan revolusi kosmik terhadap pemerintahan Allah. Setiap kali manusia bertanya, ‘Dengan kuasa apa Engkau berhak atas hidupku?’, mereka mengulang dosa Adam.”

Konflik di Bait Allah adalah cerminan konflik universal antara kedaulatan Allah dan kebebasan palsu manusia.

VII. Analisis Teologis: Otoritas Kristus sebagai Anak Allah

1. Otoritas Ilahi

Yesus tidak memperoleh otoritas dari manusia atau lembaga agama.
Kuasa-Nya berasal langsung dari Allah Bapa.
Dalam Markus 1:11, Bapa telah menyatakan:

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Setiap mujizat, pengajaran, dan tindakan Yesus adalah manifestasi dari otoritas ilahi ini.
Ia tidak berbicara “sebagai yang diajarkan,” tetapi sebagai Dia yang berhak menafsirkan Firman karena Dialah Firman itu sendiri.

2. Otoritas Kristus sebagai Mesias dan Imam Besar

Sebagai Mesias, Kristus memiliki kuasa rohani untuk membersihkan Bait Allah dan menetapkan ibadah yang sejati.
Sebagai Imam Besar sejati, Ia memiliki otoritas untuk memperdamaikan manusia dengan Allah melalui korban diri-Nya.

Herman Bavinck menulis:

“Dalam Kristus, semua bentuk otoritas bersatu: kebenaran sebagai Nabi, kekudusan sebagai Imam, dan kuasa sebagai Raja. Karena itu, otoritas-Nya tidak dapat dipertanyakan tanpa menolak seluruh wahyu Allah.”

VIII. Respon Para Pemimpin: “Kami tidak tahu.”

Jawaban ini — “Kami tidak tahu” — adalah pengakuan ketidakjujuran spiritual.
Mereka tahu kebenaran, tetapi menolak untuk mengakuinya.
Mereka lebih memilih ketidaktahuan yang disengaja daripada penyerahan diri kepada Allah.

Charles Spurgeon menulis:

“Tidak ada kebutaan yang lebih pekat daripada kebutaan yang disengaja; tidak ada ketidaktahuan yang lebih berbahaya daripada ketidaktahuan yang dipilih demi melindungi dosa.”

Dalam teologi Reformed, kondisi ini mencerminkan total depravity — kerusakan total manusia yang menolak terang Allah, bukan karena kurang bukti, tetapi karena hati yang tidak mau tunduk.

IX. Respons Yesus: Penolakan terhadap Orang yang Tidak Mau Percaya

Yesus menutup percakapan dengan tegas:

“Aku pun tidak akan mengatakan kepadamu dengan kuasa apakah Aku melakukan hal-hal ini.”

Ini bukan sikap menghindar, melainkan penghakiman rohani.
Ketika manusia menolak kebenaran yang sudah jelas, Allah menyerahkan mereka kepada kebutaan rohani.

Paulus menulis:

“Mereka menolak untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran yang terkutuk.”Roma 1:28

John Calvin menafsirkan bagian ini dengan tajam:

“Yesus tidak menjawab karena jawaban-Nya tidak akan mengubah hati yang sudah menolak terang. Bagi orang yang buta karena kesombongan, bahkan matahari kebenaran pun tidak akan terlihat.”

X. Otoritas Kristus dan Gereja Masa Kini

1. Gereja yang tunduk pada otoritas Kristus

Dalam teologi Reformed, Kristus adalah Kepala Gereja.
Semua otoritas rohani dalam gereja — baik pendeta, penatua, maupun lembaga — hanya sah sejauh tunduk pada Firman Kristus.

Herman Bavinck menulis:

“Kekuasaan gereja bukanlah kekuasaan duniawi. Gereja hanya memiliki otoritas sejati sejauh ia menjadi alat Firman Allah.”

Ketika gereja atau pemimpinnya bertindak tanpa tunduk pada Firman, mereka mengulang dosa para imam kepala di zaman Yesus — mempertanyakan otoritas Kristus demi mempertahankan tradisi dan posisi.

2. Bahaya menolak otoritas Firman

Banyak gereja modern menolak otoritas mutlak Kitab Suci, menggantikannya dengan budaya, opini, atau perasaan.
Namun, otoritas Kristus di dalam Firman-Nya adalah fondasi iman Reformed.
Tanpa itu, gereja kehilangan arah dan kuasa rohani.

Louis Berkhof memperingatkan:

“Begitu Firman Allah tidak lagi menjadi otoritas tertinggi, maka seluruh sistem kepercayaan akan runtuh di bawah berat subjektivitas manusia.”

XI. Penerapan Rohani: Menundukkan Diri pada Otoritas Kristus

1. Mengakui Yesus sebagai Tuhan atas seluruh hidup

Pertanyaan para imam kepala masih relevan hari ini:

“Dengan kuasa apa Engkau melakukan hal-hal ini?”

Setiap kali kita menolak perintah Yesus dalam hidup pribadi — baik dalam moral, ibadah, atau panggilan — kita pada dasarnya sedang mempertanyakan otoritas-Nya atas kita.

Iman sejati berarti menyerahkan seluruh aspek hidup di bawah pemerintahan Kristus.
Ia bukan hanya Juruselamat kita, tetapi juga Tuhan atas seluruh kehidupan.

R.C. Sproul berkata:

“Kekristenan sejati bukanlah menerima Yesus sebagai pembantu rohani, tetapi menundukkan diri kepada-Nya sebagai Raja.”

2. Berani menyatakan kebenaran meski ditolak

Yohanes Pembaptis berani menyatakan kebenaran meski menghadapi kematian.
Sebaliknya, para pemimpin agama takut kepada manusia.
Gereja yang sejati harus lebih takut kepada Allah daripada kepada opini publik.

Charles Spurgeon menasihati:

“Ketika dunia bertanya, ‘Dengan kuasa apa engkau berbicara?’, jawablah, ‘Dengan kuasa dari Kristus yang hidup.’ Biarlah mereka menolak kita, asal Allah berkenan kepada kita.”

XII. Kesimpulan — Kristus: Sumber dan Ukuran Segala Otoritas

Markus 11:27–33 memperlihatkan pertentangan abadi antara otoritas manusia yang terbatas dan otoritas Kristus yang mutlak.
Para pemimpin agama menolak kuasa Yesus karena mereka ingin mempertahankan kendali.
Namun Yesus tidak bergantung pada pengakuan manusia untuk meneguhkan otoritas-Nya — sebab otoritas itu berasal dari Bapa.

Herman Bavinck menyimpulkan:

“Kristus tidak membutuhkan legitimasi manusia. Dalam diri-Nya, Firman dan kuasa Allah bersatu secara sempurna. Ia adalah sumber, isi, dan tujuan segala otoritas.”

Otoritas Kristus bukanlah tirani, melainkan otoritas kasih yang menebus dan memulihkan.
Ia memiliki kuasa untuk menghancurkan dosa dan membangun kehidupan baru.
Dan seperti Yohanes Pembaptis, kita dipanggil bukan untuk mempertanyakan otoritas itu, tetapi untuk bersaksi tentang Dia.

Refleksi Penutup

Yesus Kristus adalah Tuhan atas Bait Allah, Firman yang hidup, dan Raja atas hati manusia.
Ia tidak memerlukan pengesahan manusia untuk menjadi Tuhan, tetapi kita memerlukan penundukan diri untuk mengenal Dia sebagai Tuhan.

Setiap kali kita membaca Markus 11:27–33, kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama:

“Dengan kuasa apa Engkau melakukan hal-hal ini?”

Dan jawaban iman sejati adalah:

“Dengan kuasa Allah yang hidup, melalui Yesus Kristus, Sang Firman yang berkuasa atas segalanya.”

Next Post Previous Post