Keluaran 7:14–18: Dengan Ini Engkau Akan Tahu Bahwa Akulah TUHAN

Keluaran 7:14–18: Dengan Ini Engkau Akan Tahu Bahwa Akulah TUHAN

I. Pendahuluan — Allah yang Menyatakan Diri Melalui Penghakiman

Keluaran 7:14–18 adalah awal dari sepuluh tulah Mesir, sebuah rangkaian tindakan ilahi di mana Allah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang berdaulat atas seluruh ciptaan dan sejarah.
Perikop ini menandai tulah pertama: air Sungai Nil berubah menjadi darah.

Tulisan ini bukan sekadar kisah mukjizat spektakuler; melainkan manifestasi teologis tentang kedaulatan Allah atas hati manusia, bangsa-bangsa, dan dewa-dewa palsu dunia.
Setiap kata dalam bagian ini menunjukkan bagaimana Allah menundukkan keangkuhan manusia dan meneguhkan kuasa-Nya di atas semua ilah palsu.

John Calvin menyebut bagian ini sebagai:

“Sekolah pertama di mana Mesir harus belajar mengenal Tuhan melalui cambuk-Nya, karena mereka tidak mau mengenal Dia melalui kebaikan-Nya.”

II. Konteks Historis dan Naratif

Bangsa Israel telah lama berada dalam perbudakan Mesir.
Firaun — simbol kekuasaan dunia — menolak untuk mengizinkan mereka pergi, meskipun Allah telah memerintahkannya melalui Musa.
Firaun bukan hanya menolak permintaan politis, tetapi menentang langsung otoritas ilahi.

Di dunia Mesir kuno, Sungai Nil adalah sumber kehidupan — simbol kesuburan dan berkat ilahi.
Bagi orang Mesir, Nil dipersonifikasikan sebagai dewa Hapi, yang diyakini memberi hidup bagi tanah dan rakyat.
Ketika Allah mengubah air Nil menjadi darah, Ia sedang menyingkapkan kebohongan ilah palsu dan menunjukkan bahwa hanya Dia, TUHAN, yang memberi dan mengambil kehidupan.

R.C. Sproul dalam The Holiness of God menulis:

“Tulah-tulah di Mesir bukan sekadar tindakan ajaib, tetapi peperangan teologis di mana Allah yang kudus menghancurkan berhala-berhala manusia satu per satu.”

III. Eksposisi Ayat Demi Ayat

Keluaran 7:14 — “Hati Firaun itu keras!”

Firman ini langsung menyingkapkan inti persoalan: masalah hati manusia di hadapan Allah.
Kekerasan hati Firaun bukan hanya sifat pribadi, melainkan manifestasi dosa yang menolak otoritas Allah.

Dalam teologi Reformed, kekerasan hati ini dipahami sebagai bagian dari keadaan dosa total manusia (total depravity).
Manusia, tanpa anugerah, tidak mampu tunduk pada Allah atau mendengar suara-Nya.

John Calvin menulis dalam Institutes (II.4.2):

“Hati manusia adalah bengkel berhala yang terus-menerus menolak pemerintahan Allah. Firaun hanyalah cerminan dari setiap hati yang belum diperbarui oleh anugerah.”

Kekerasan hati Firaun juga memperlihatkan ketegangan misterius antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.
Alkitab mencatat bahwa Firaun “mengeras” hatinya, tetapi juga bahwa “Tuhan mengeraskan” hatinya (Keluaran 9:12).
Dalam pandangan Reformed, kedua hal ini tidak bertentangan, melainkan bekerja dalam kesatuan misteri kedaulatan ilahi.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Allah tidak menanamkan dosa baru dalam hati manusia, tetapi dengan adil membiarkan manusia berjalan dalam kekerasan hatinya sendiri untuk menggenapi tujuan ilahi.”

Keluaran 7:15 — “Pergilah kepada Firaun … berdirilah di tepi sungai untuk menemuinya.”

Tuhan mengutus Musa untuk menghadapi Firaun “pada pagi hari”, di tepi Sungai Nil — tempat Firaun mungkin sedang melakukan ritual penyembahan.
Adegan ini bukan kebetulan; ini adalah konfrontasi langsung antara Allah yang hidup dengan ilah palsu Mesir.

Herman Bavinck menulis:

“Allah tidak berperang di ruang hampa; Ia menyatakan diri-Nya di tengah sejarah, di tempat manusia menaruh kepercayaannya yang palsu.”

Ketika Musa berdiri di tepi sungai, tongkat Allah di tangannya menjadi simbol otoritas ilahi yang menghakimi.
Tongkat yang sama yang dulu menjadi tanda kasih (mengubah menjadi ular dan menelan tongkat para penyihir) kini menjadi alat penghukuman.

Tuhan memerintahkan Musa untuk membawa tongkat itu — lambang kuasa Allah yang tidak tergantung pada kekuatan manusia.
Seperti halnya tongkat gembala yang sederhana di tangan Musa menjadi instrumen mujizat, demikian pula anugerah Allah bekerja melalui sarana yang lemah untuk mempermalukan yang kuat.

Keluaran 7:16 — “Biarkan umat-Ku pergi supaya mereka dapat melayani-Ku.”

Permintaan ini sederhana namun sarat makna teologis.
Tujuan pembebasan bukan sekadar kebebasan politik, melainkan kebebasan untuk menyembah.

Dalam pandangan Reformed, penebusan selalu bersifat teosentris — berpusat pada Allah.
Allah tidak menebus umat hanya untuk membebaskan mereka dari penindasan, tetapi untuk membawa mereka kepada penyembahan sejati.

R.C. Sproul menulis:

“Kebebasan sejati bukanlah bebas dari perintah Allah, melainkan bebas untuk menaati-Nya. Allah menebus umat-Nya agar mereka dapat menjadi hamba-Nya, bukan tuan atas diri mereka sendiri.”

Pesan Musa menegaskan bahwa penyembahan sejati hanya mungkin dilakukan di luar perbudakan dosa.
Firaun, dengan menolak permintaan ini, sedang menghalangi ibadah yang sejati kepada Allah.

Keluaran 7:17 — “Dengan ini engkau akan tahu bahwa Akulah TUHAN.”

Ini adalah kalimat kunci seluruh rangkaian tulah.
Tujuan utama dari semua peristiwa bukanlah sekadar menghukum Mesir, melainkan penyataan diri Allah kepada dunia.

Kata “tahu” di sini bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi pengenalan eksistensial — Allah akan memaksa dunia untuk mengakui siapa Dia.

John Calvin mengomentari:

“Allah tidak membutuhkan pengakuan manusia, tetapi Ia memaksa orang berdosa untuk mengenal Dia, entah melalui rahmat atau melalui penghakiman.”

Ketika Allah berkata, “Aku akan memukul air sungai dan itu akan berubah menjadi darah,” Ia tidak hanya sedang melakukan keajaiban alam.
Ia sedang mengubah sumber kehidupan menjadi sumber kematian.
Air, yang menopang hidup Mesir, menjadi saksi dari kuasa Allah yang menghukum.

Herman Bavinck melihat tulah ini sebagai pembalikan simbolik dari ciptaan.

“Jika dalam penciptaan Allah memisahkan air untuk memberi kehidupan, maka dalam tulah ini Ia mempersatukan air dengan kematian untuk menegaskan kekuasaan-Nya atas ciptaan yang jatuh.”

Keluaran 7:18 — “Ikan-ikan di sungai akan mati dan airnya akan berbau busuk.”

Konsekuensi dari tindakan ilahi ini total — kehidupan ekosistem Mesir lumpuh.
Ikan mati, air menjadi busuk, dan bangsa itu kehilangan sumber minum mereka.
Ini adalah simbol dari kematian rohani yang terjadi ketika manusia menolak Allah sumber kehidupan.

Charles Spurgeon mengulas bagian ini dalam khotbahnya The Plagues of Egypt:

“Ketika manusia meninggalkan Allah, air kehidupan dalam dirinya menjadi busuk. Hatinya, yang diciptakan untuk memuliakan Allah, berubah menjadi sumber kebinasaan.”

Tulah ini adalah pengadilan terhadap ketergantungan manusia pada ciptaan, bukan kepada Pencipta.
Allah sedang mengajarkan Mesir — dan dunia — bahwa tidak ada kehidupan di luar diri-Nya.

IV. Tema Sentral: Allah yang Berdaulat dan Menyatakan Diri

Dari ayat-ayat ini, kita melihat tiga tema besar teologi Reformed:

  1. Kedaulatan Allah dalam sejarah — Allah mengatur setiap peristiwa, termasuk kekerasan hati Firaun, untuk menegaskan kemuliaan-Nya.

  2. Tujuan penebusan adalah penyembahan — Allah membebaskan umat-Nya bukan untuk kebebasan diri, tetapi untuk melayani Dia.

  3. Penghakiman Allah adalah bentuk pewahyuan — bahkan murka-Nya menyatakan kekudusan dan kemuliaan-Nya.

Herman Bavinck menulis:

“Segala sesuatu dalam sejarah keselamatan — baik anugerah maupun hukuman — mengarah kepada satu tujuan: agar dunia mengenal bahwa Yahweh adalah Allah.”

V. Pandangan Reformed tentang Kekerasan Hati Firaun

Pertanyaan yang sering muncul: Apakah adil bahwa Allah mengeraskan hati Firaun?

Dalam teologi Reformed, jawabannya bukanlah menolak misteri ini, tetapi menyembah Allah dalam kedaulatan-Nya.
Allah tidak membuat Firaun berdosa; Ia hanya menyerahkan Firaun kepada kedegilan hatinya sendiri (Roma 9:17–18).

R.C. Sproul menjelaskan:

“Allah tidak menanamkan kejahatan baru dalam hati manusia. Ia hanya menarik kembali anugerah-Nya, dan hati yang sudah berdosa akan semakin keras dengan sendirinya.”

Dengan demikian, tindakan Allah adalah adil karena Ia tidak berutang anugerah kepada siapa pun.
Sebaliknya, Ia menunjukkan rahmat-Nya kepada umat pilihan agar dunia melihat perbedaan antara mereka yang ditundukkan oleh kasih karunia dan mereka yang dihancurkan oleh penghakiman.

VI. Kristus di dalam Keluaran 7:14–18

Bagi teologi Reformed, seluruh Kitab Suci menunjuk kepada Kristus (Lukas 24:27).
Tulah pertama ini juga memiliki dimensi tipologis yang mengarah kepada karya Kristus.

  1. Sungai yang berubah menjadi darah menunjuk pada penghakiman atas dosa, tetapi juga mengantisipasi darah Kristus yang mengalir sebagai sarana keselamatan.
    Jika darah di Mesir membawa kematian, darah Anak Domba membawa kehidupan.

  2. Firaun melambangkan kuasa dosa dan Iblis yang menawan manusia.
    Hanya melalui kuasa Allah — seperti melalui Musa — manusia dapat dibebaskan dari perbudakan rohani.

  3. Tongkat Musa menjadi simbol salib Kristus.
    Melalui alat yang tampak lemah, Allah menghancurkan kekuatan besar dunia.

John Calvin menulis:

“Dalam tongkat Musa kita melihat lambang salib Kristus, di mana kuasa Allah bekerja melalui kelemahan untuk menebus umat-Nya.”

VII. Aplikasi Teologis bagi Gereja Masa Kini

1. Allah tetap berdaulat atas hati manusia

Kita hidup di dunia yang masih menolak Allah, seperti Firaun.
Namun, Allah tetap berdaulat, dan tidak ada hati yang terlalu keras bagi kasih karunia-Nya.
Kita dipanggil untuk mempercayai bahwa tugas kita adalah memberitakan, dan tugas Allah adalah mengubah hati.

2. Ibadah adalah tujuan penebusan

Seperti Israel dibebaskan untuk beribadah, demikian juga orang percaya diselamatkan untuk memuliakan Allah.
Gereja harus menjaga agar ibadahnya tidak terpusat pada manusia, melainkan pada Tuhan yang menebus.

3. Dunia modern juga memiliki “Sungai Nil”-nya sendiri

Sungai Nil adalah simbol berhala kesuburan dan kemakmuran.
Demikian pula zaman ini menyembah kekayaan, teknologi, dan kenikmatan sebagai “ilah” kehidupan.
Ketika Allah “memukul” berhala-berhala itu, itu bukan karena Ia kejam, tetapi karena Ia ingin manusia kembali kepada sumber hidup yang sejati.

R.C. Sproul berkata:

“Ketika Allah menghancurkan berhala kita, itu adalah tindakan kasih karunia yang keras. Ia memanggil kita untuk berhenti minum dari air yang kotor dan datang kepada Air Hidup.”

VIII. Kesimpulan — “Dengan Ini Engkau Akan Tahu Bahwa Akulah TUHAN”

Tulah pertama ini membuka seluruh rangkaian pertempuran antara Allah sejati dan ilah palsu dunia.
Ia menunjukkan bahwa:

  • Allah berdaulat atas ciptaan,

  • Ia berkuasa atas hati manusia,

  • dan Ia bekerja baik melalui rahmat maupun penghakiman untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Charles Spurgeon menutup refleksinya tentang bagian ini dengan kalimat indah:

“Lebih baik mengenal Allah melalui kasih karunia daripada melalui murka-Nya, namun pada akhirnya semua akan tahu bahwa Dialah TUHAN.”

Kiranya perikop ini meneguhkan iman kita bahwa Allah yang berfirman kepada Musa adalah Allah yang sama yang bekerja dalam Kristus — menyatakan diri-Nya agar dunia tahu bahwa Dialah TUHAN.

Next Post Previous Post