Tubuh dari Doktrin Ilahi

Tubuh dari Doktrin Ilahi

I. Pendahuluan — Doktrin sebagai Jantung Iman Kristen

Dalam era modern, kata “doktrin” sering kali disalahpahami sebagai sesuatu yang kering, abstrak, atau bahkan memecah-belah. Namun dalam teologi Reformed klasik, doktrin adalah tulang punggung iman, sarana penyataan Allah, dan dasar kehidupan rohani.

Teolog John Gill, dalam karya monumentalnya A Body of Doctrinal Divinity, berupaya menyusun seluruh kebenaran iman Kristen dalam satu kesatuan yang sistematis — “tubuh doktrin” yang berakar pada Kitab Suci, ditafsirkan melalui terang anugerah.
Bagi Gill, doktrin bukanlah teori manusia tentang Allah, tetapi pikiran Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya.

R.C. Sproul berkata dalam Knowing Scripture:

“Setiap orang Kristen adalah teolog. Satu-satunya pertanyaan adalah: apakah kita teolog yang baik atau yang buruk?”

Karena itu, memahami “tubuh doktrin ilahi” bukan sekadar latihan intelektual, melainkan tindakan ibadah — mengenal Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya.

II. Makna “Body of Doctrinal Divinity”

Istilah “Body” menunjuk pada kesatuan dan keterhubungan antara semua doktrin iman.
Tidak ada doktrin berdiri sendiri — seperti tubuh manusia, semuanya saling terkait dan bergantung satu sama lain.

John Gill membagi doktrinnya dalam tiga bagian besar:

  1. Teologi Allah — tentang keberadaan, sifat, dan pekerjaan Allah.

  2. Kristologi dan Penebusan — tentang pribadi dan karya Kristus sebagai pusat sejarah keselamatan.

  3. Pneumatologi dan Aplikasi Keselamatan — tentang karya Roh Kudus dalam regenerasi, iman, dan pengudusan.

Tujuan Gill adalah menegaskan bahwa seluruh kebenaran teologis adalah “tubuh yang hidup” — bukan sekadar teori mati, tetapi kebenaran yang menuntut penyembahan.

III. Dasar Utama: Allah Sebagai Sumber Doktrin

Semua doktrin berasal dari Allah yang menyatakan diri-Nya.
Tanpa wahyu ilahi, manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar.

John Calvin dalam Institutes I.6.1 menulis:

“Tanpa wahyu dari Firman, manusia tidak akan pernah mengenal siapa Allah, atau bagaimana berhubungan dengan-Nya.”

Ini berarti setiap doktrin sejati adalah refleksi dari karakter Allah sendiri.
Kebenaran teologis tidak bisa berubah karena Allah tidak berubah (Ibrani 13:8).

Louis Berkhof menegaskan:

“Teologi adalah ilmu tentang Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam Firman. Maka, kesalahan dalam doktrin selalu berakar pada kesalahan dalam pandangan tentang Allah.”

IV. Eksposisi Teologis: Pilar-Pilar Doktrin Ilahi

1. Doktrin Allah (The Doctrine of God)

Segala sesuatu bermula dari pengenalan akan Allah.
Gill menegaskan bahwa mengenal Allah berarti mengenal Dia sebagaimana Ia ada, bukan sebagaimana manusia ingin Ia ada.

Dalam teologi Reformed, Allah adalah mahakuasa, mahatahu, mahakudus, dan berdaulat atas segala sesuatu.
Kedaulatan-Nya bukan sekadar atribut, melainkan fondasi dari seluruh sistem doktrin.

Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics:

“Allah tidak hanya mengatur dunia, tetapi seluruh keberadaan-Nya adalah pemerintahan yang berdaulat. Tidak ada hal yang berada di luar tangan-Nya.”

Kedaulatan ini terlihat nyata dalam rencana keselamatan — di mana Allah memilih, memanggil, dan menebus umat-Nya menurut kehendak-Nya sendiri (Efesus 1:4–11).

2. Doktrin Penciptaan

Allah menciptakan dunia bukan karena kebutuhan, melainkan karena kasih dan kemuliaan-Nya.
Penciptaan adalah tindakan bebas Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya dalam ciptaan.

John Gill menulis:

“Ciptaan adalah cermin kemuliaan Allah; di dalamnya kita melihat kebijaksanaan, kuasa, dan kasih-Nya yang tidak terbatas.”

Namun, teologi Reformed menolak pandangan bahwa ciptaan berdiri lepas dari Allah.
Allah memelihara dan menopang ciptaan setiap saat (Ibrani 1:3).
Ini disebut providentia Dei — penyelenggaraan ilahi.

R.C. Sproul menegaskan:

“Tidak ada satu molekul pun di alam semesta yang bergerak tanpa izin Allah. Jika ada, maka Ia bukanlah Tuhan yang berdaulat.”

3. Doktrin Manusia dan Dosa

Setelah mengenal Allah, teologi harus memahami manusia dalam relasinya dengan Sang Pencipta.
Manusia diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei) — memiliki kemampuan moral, spiritual, dan relasional untuk mengenal dan mencerminkan Allah.

Namun, kejatuhan Adam (Kej. 3) merusak gambar itu secara total.
Manusia tidak kehilangan kemanusiaannya, tetapi kehilangan kemampuan untuk mencari Allah.

John Calvin menulis:

“Kehendak manusia tidak hilang, tetapi terikat pada dosa. Ia bebas hanya dalam hal yang jahat.”

Pandangan ini disebut Total Depravity — kerusakan total akibat dosa.
Louis Berkhof menjelaskan:

“Dosa bukan hanya perbuatan, tetapi kondisi. Ia menembus seluruh keberadaan manusia — pikiran, kehendak, dan perasaan.”

Karena itu, tidak ada yang dapat menyelamatkan diri sendiri; keselamatan adalah anugerah Allah semata.

4. Doktrin Kristus (Christology)

Kristus adalah pusat dari seluruh tubuh doktrin.
Tanpa Kristus, tidak ada doktrin yang memiliki makna atau arah.

John Gill menulis:

“Seluruh wahyu Allah berfokus pada Kristus — dari kekekalan, Ia adalah dasar perjanjian anugerah dan pengantara antara Allah dan manusia.”

Dalam pandangan Reformed, karya Kristus mencakup tiga jabatan:

  1. Sebagai Nabi — menyatakan Firman Allah.

  2. Sebagai Imam Besar — mempersembahkan diri-Nya sebagai korban pendamaian.

  3. Sebagai Raja — memerintah umat-Nya dengan kuasa dan kasih.

R.C. Sproul berkata:

“Kristus bukan hanya penyelamat dari dosa, tetapi juga Tuhan atas hidup kita. Tidak ada keselamatan tanpa penyerahan pada pemerintahan-Nya.”

Salib menjadi pusat teologi Reformed — tempat keadilan dan kasih Allah bertemu.
Di sana Allah menunjukkan kebenaran-Nya: dosa dihukum, manusia diselamatkan.

5. Doktrin Anugerah (Grace)

Dalam sistem doktrin Reformed, anugerah adalah tema yang mengikat seluruh pengajaran.
Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan pemberian Allah yang berdaulat.

Efesus 2:8–9 berkata:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

John Gill menjelaskan bahwa anugerah Allah memiliki dua aspek:

  • Anugerah yang menyelamatkan (saving grace) — yang membawa manusia kepada iman dan pertobatan.

  • Anugerah yang memelihara (sustaining grace) — yang menjaga umat Allah agar tetap setia sampai akhir.

Herman Bavinck menambahkan:

“Anugerah bukan tambahan pada usaha manusia; ia adalah kuasa penciptaan baru yang membangkitkan manusia dari kematian rohani.”

6. Doktrin Iman dan Pertobatan

Dalam tubuh doktrin, iman dan pertobatan adalah respon aktif terhadap anugerah.
Namun, bahkan respon ini adalah hasil karya Roh Kudus.

Louis Berkhof menulis:

“Iman bukan kemampuan alami; ia adalah karunia Roh yang menuntun manusia kepada Kristus.”

Iman sejati bukan hanya persetujuan intelektual terhadap doktrin, tetapi penyerahan diri kepada Allah yang hidup.
Pertobatan (metanoia) bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan arah hidup — dari cinta dosa menuju cinta kepada Allah.

R.C. Sproul berkata:

“Pertobatan sejati adalah bukti bahwa anugerah telah bekerja. Ia bukan syarat keselamatan, tetapi buah dari keselamatan.”

7. Doktrin Penebusan (Atonement)

Di pusat tubuh doktrin terletak salib Kristus.
Penebusan adalah karya Allah di mana Kristus menanggung hukuman dosa umat pilihan-Nya.

Pandangan ini disebut Particular Redemption — Kristus mati secara efektif bagi umat pilihan, bukan hanya berpotensi bagi semua.

John Gill menegaskan:

“Kristus tidak mati untuk menebus kemungkinan keselamatan, tetapi untuk menjamin keselamatan yang pasti bagi umat-Nya.”

Teologi Reformed melihat salib sebagai tindakan hukum yang sah — penggantian yang sempurna di hadapan keadilan Allah.
Charles Spurgeon menyebutnya “pertukaran ilahi”:

“Allah memperlakukan Kristus seolah-olah Ia adalah orang berdosa, agar Ia dapat memperlakukan orang berdosa seolah-olah mereka benar.”

8. Doktrin Roh Kudus

Tidak ada keselamatan tanpa Roh Kudus.
Ia adalah agen yang menerapkan karya penebusan Kristus ke dalam hati manusia.

Herman Bavinck menulis:

“Apa yang dirancang oleh Bapa dan digenapi oleh Anak, dilaksanakan oleh Roh Kudus.”

Karya Roh mencakup:

  • Regenerasi (kelahiran baru)

  • Penerangan akal budi

  • Penyucian dan pemeliharaan iman

R.C. Sproul menegaskan bahwa karya Roh Kudus bukan sekadar emosi religius:

“Roh Kudus tidak hanya membuat kita merasa tentang Allah, tetapi membuat kita berpikir benar tentang Allah.”

Dengan demikian, Roh Kudus memastikan bahwa tubuh doktrin bukan sekadar teori, tetapi kebenaran yang hidup di dalam umat Allah.

9. Doktrin Gereja

Dalam teologi Reformed, Gereja adalah tubuh Kristus yang kelihatan dan tidak kelihatan.
Ia adalah komunitas orang-orang yang ditebus, dipanggil, dan diutus untuk memuliakan Allah.

John Gill menulis:

“Gereja bukan institusi manusia, melainkan ciptaan kasih karunia. Ia berdiri di atas darah Kristus dan dipelihara oleh Roh Kudus.”

Gereja memiliki dua tanda sejati:

  1. Firman diberitakan dengan benar,

  2. Sakramen dilayankan secara sah.

Di sinilah tubuh doktrin menemukan bentuk sosialnya — kebenaran yang membentuk persekutuan.

10. Doktrin Akhir Zaman (Eschatology)

Bagian terakhir dari tubuh doktrin adalah pengharapan akan pemulihan segala sesuatu.
Teologi Reformed menegaskan bahwa sejarah menuju pada kepenuhan rencana Allah, di mana Kristus akan memerintah secara nyata atas ciptaan baru.

Herman Bavinck menulis:

“Eschatologi bukan tambahan dari teologi, tetapi penutup simfoni karya Allah — Allah yang mencipta, menebus, dan memulihkan.”

Pada akhirnya, seluruh tubuh doktrin mengarah kepada satu titik: kemuliaan Allah.

V. Hubungan Antardoktrin — Kesatuan dalam Kebenaran

John Gill menggambarkan sistem doktrin seperti tubuh manusia:

  • Allah sebagai kepala,

  • Kristus sebagai jantung,

  • Roh Kudus sebagai napas,

  • Gereja sebagai anggota-anggota yang hidup.

Setiap doktrin saling mendukung.
Salah memahami satu bagian akan menimbulkan distorsi pada keseluruhan.

Louis Berkhof menulis:

“Teologi sistematika bukan upaya manusia untuk mengontrol Firman, melainkan upaya untuk melihat kesatuan pikiran Allah di dalam wahyu.”

Oleh karena itu, tubuh doktrin adalah organisme yang hidup — kebenaran yang bersumber dari Allah, diterapkan oleh Roh, dan dihidupi oleh Gereja.

VI. Relevansi Doktrin Bagi Gereja Masa Kini

Banyak orang Kristen modern merasa bahwa doktrin memecah-belah atau tidak relevan.
Namun sejarah menunjukkan: tanpa doktrin, gereja kehilangan arah.

R.C. Sproul memperingatkan:

“Gereja yang menolak doktrin sedang menolak berpikir tentang Allah, dan gereja yang berhenti berpikir tentang Allah akan berhenti menyembah Dia.”

Doktrin yang benar melahirkan penyembahan yang benar.
Tanpa fondasi teologis, iman menjadi rapuh — bergantung pada emosi, bukan kebenaran.

Charles Spurgeon berkata:

“Tidak ada doa yang benar tanpa doktrin yang benar. Tidak ada ibadah yang murni tanpa kebenaran tentang siapa Allah itu.”

VII. Tubuh Doktrin dan Hidup Kristen

Memahami doktrin bukan akhir, tetapi awal kehidupan kudus.
Teologi Reformed menekankan hubungan erat antara doktrin dan devosi, antara kebenaran dan kehidupan.

Herman Bavinck menulis:

“Kebenaran teologis tidak pernah bersifat teoritis; ia adalah kehidupan. Setiap doktrin mengubah cara kita berpikir, mengasihi, dan bertindak.”

Jika Allah berdaulat, maka kita hidup dengan ketenangan dan penyerahan.
Jika Kristus adalah penebus, maka kita hidup dalam rasa syukur.
Jika Roh Kudus tinggal dalam kita, maka kita hidup dalam kesucian.

VIII. Kesimpulan — “Tubuh Doktrin” sebagai Nyanyian Kebenaran

Karya John Gill A Body of Doctrinal Divinity adalah upaya sistematis untuk menunjukkan bahwa seluruh Alkitab berbicara dengan satu suara: Allah memuliakan diri-Nya melalui penebusan umat-Nya.

Dalam tubuh ini:

  • Kepala adalah Allah yang berdaulat,

  • Hati adalah Kristus yang menebus,

  • Roh adalah Kudus yang menghidupkan,

  • Anggota adalah Gereja yang menyembah,

  • dan tujuan akhirnya adalah kemuliaan Allah.

Charles Spurgeon menulis:

“Orang yang mencintai doktrin tidak kering, karena ia minum dari sumber air kehidupan yang mengalir dari takhta Allah.”

Next Post Previous Post