Mazmur 20:1–6 - Allah yang Menjawab dalam Hari Kesusahan

Pendahuluan: Mazmur Doa Sebelum Pertempuran
Mazmur 20 adalah salah satu nyanyian perang rohani yang penuh makna dan kekuatan. Dalam konteks sejarahnya, mazmur ini diyakini sebagai doa umat bagi Raja Daud sebelum ia berangkat ke medan peperangan. Tetapi dalam pengertian rohani yang lebih dalam, mazmur ini berbicara tentang Yesus Kristus, Raja yang diurapi Allah, dan tentang setiap umat percaya yang berperang dalam pertempuran iman melawan dosa, dunia, dan Iblis.
Dalam Mazmur 20:1–6, kita mendengar doa yang dinaikkan oleh jemaat bagi raja mereka: doa agar Allah mendengar, menolong, dan memberikan kemenangan.
Berikut teksnya dari Alkitab AYT:
Mazmur 20:1-6 (AYT)
(1) Semoga TUHAN menjawabmu pada waktu kesusahan; Semoga nama Allah Yakub meninggikanmu.
(2) Semoga Dia mengutus pertolongan dari tempat yang kudus, dan menopangmu dari Sion.
(3) Semoga Dia mengingat semua persembahanmu, dan berkenan pada kurban bakaranmu. (Sela)
(4) Semoga Dia mengaruniakan kepadamu sesuai dengan keinginan hatimu, dan memenuhi semua rencanamu.
(5) Kita akan bersorak oleh karena keselamatanmu, dan mengangkat bendera-bendera di dalam nama Allah kita. Semoga TUHAN memenuhi semua permohonanmu.
(6) Sekarang, aku tahu bahwa TUHAN menyelamatkan orang yang telah diurapi-Nya. Dia akan menjawabnya dari surga-Nya yang kudus dengan kuasa keselamatan dari tangan kanan-Nya.
Mazmur ini adalah liturgi doa. Rakyat berdoa bagi raja mereka, dan raja menanggapi dengan keyakinan iman bahwa Tuhan akan menjawab. Dalam terang Injil, ini menggambarkan Kristus sebagai Raja yang diurapi, yang menerima kemenangan dari Allah, dan Gereja yang bersukacita dalam keselamatan yang dikerjakan oleh-Nya.
I. Mazmur 20:1 — “Semoga TUHAN menjawabmu pada waktu kesusahan”
Kata pembuka ini menegaskan inti dari mazmur ini: Allah adalah sumber pertolongan dalam kesusahan.
Kata “kesusahan” (Ibrani: tsarah) berarti tekanan, penderitaan, atau krisis berat. Doa ini muncul dalam konteks peperangan — baik secara fisik maupun rohani.
Dalam teologi Reformed, kesusahan bukan tanda ketiadaan Allah, melainkan wadah bagi penyataan anugerah-Nya. Calvin menulis dalam komentarnya:
“Allah sering kali menunda pertolongan-Nya bukan karena Ia tidak mendengar, tetapi karena Ia ingin agar kita lebih sungguh berseru kepada-Nya.”
Doa ini juga mengandung harapan penggembalaan: “Semoga nama Allah Yakub meninggikanmu.”
Nama Allah Yakub melambangkan kesetiaan perjanjian Allah — Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya meskipun mereka lemah dan berdosa, sebagaimana Ia tidak meninggalkan Yakub.
Charles Spurgeon dalam The Treasury of David berkata:
“Tidak ada tempat yang lebih aman bagi umat Allah selain di bawah nama-Nya. Nama-Nya adalah menara yang kuat; siapa yang berlindung di dalamnya akan diselamatkan.”
Dalam terang Kristus, “waktu kesusahan” adalah salib. Kristus sendiri dijawab oleh Bapa di tengah penderitaan, bukan dengan menghindarkan Dia dari salib, tetapi dengan membangkitkan Dia dari kematian. (Ibrani 5:7–8).
II. Mazmur 20:2 — “Semoga Dia mengutus pertolongan dari tempat yang kudus”
Kata “tempat yang kudus” menunjuk pada Bait Allah di Yerusalem — simbol hadirat Allah di tengah umat. Dari Sion datanglah pertolongan.
Tetapi dalam perspektif Reformed dan Kristologis, Sion menunjuk kepada sorga itu sendiri, tempat Allah bersemayam.
Kristus, Imam Besar kita, telah masuk ke dalam “tempat yang paling kudus” (Ibrani 9:24) untuk menjadi pengantara bagi kita.
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis:
“Segala pertolongan rohani bagi umat Allah datang dari tempat kudus — dari hadirat Allah sendiri yang kini terbuka melalui Kristus.”
Pertolongan sejati tidak datang dari kekuatan manusia, strategi politik, atau aliansi duniawi, tetapi dari hadirat Allah yang kudus.
John Calvin menambahkan:
“Allah tidak hanya menolong dari jauh, tetapi dari tempat kediaman-Nya yang kudus, di mana Ia memerintah dengan keadilan dan kasih.”
Mazmur ini dengan demikian menegaskan doktrin Providensia Ilahi — Allah memerintah dari takhta-Nya dan mengatur segala sesuatu demi kebaikan umat pilihan-Nya (Roma 8:28).
III. Mazmur 20:3 — “Semoga Dia mengingat semua persembahanmu”
Ayat ini mengacu pada persembahan korban yang Daud persembahkan sebelum berangkat perang (bdk. 1 Samuel 7:9). Tetapi dalam teologi Reformed, persembahan ini menunjuk kepada Kristus sebagai korban yang sempurna.
Calvin menulis:
“Persembahan Daud hanyalah bayangan; penggenapannya terjadi dalam Kristus, yang mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selama-lamanya.”
Spurgeon menambahkan:
“Doa kita sendiri tidak pernah layak didengar jika bukan karena darah yang lebih baik yang berbicara dari Golgota.”
Dengan demikian, ketika mazmur ini berkata “Semoga Dia mengingat semua persembahanmu,” itu berbicara tentang pengantaraan Kristus.
Doa kita didengar bukan karena kelayakan kita, tetapi karena korban Kristus yang sempurna dan diterima di hadapan Allah.
IV. Mazmur 20:4 — “Semoga Dia mengaruniakan kepadamu sesuai dengan keinginan hatimu”
Permohonan ini tidak berbicara tentang pemenuhan keinginan egois, tetapi tentang keselarasan kehendak manusia dengan kehendak Allah.
Dalam konteks Daud, doa ini berarti: semoga Allah memberi keberhasilan sesuai dengan kehendak-Nya yang kudus atas Israel.
Dalam terang Kristus, ini menunjuk kepada keinginan hati Kristus sendiri — yaitu untuk melakukan kehendak Bapa (Yohanes 4:34).
Louis Berkhof menjelaskan:
“Kehendak Kristus dan Bapa-Nya adalah satu. Kemenangan Kristus bukanlah untuk diri-Nya, tetapi untuk kemuliaan Allah dan keselamatan umat.”
Jadi, ketika umat Allah berdoa dengan hati yang diperbarui, keinginan mereka menjadi cerminan kehendak Allah.
R.C. Sproul menulis:
“Doa bukanlah sarana untuk memaksa Allah mengikuti kehendak kita, tetapi untuk menyesuaikan hati kita dengan kehendak-Nya.”
Maka, doa seperti Mazmur 20 adalah latihan iman dan penyucian kehendak: kita belajar menghendaki apa yang Allah kehendaki.
V. Mazmur 20:5 — “Kita akan bersorak oleh karena keselamatanmu”
Ini adalah nyanyian iman sebelum kemenangan terjadi.
Umat belum melihat hasilnya, tetapi mereka sudah memuji karena mereka percaya pada janji Allah.
Iman sejati, menurut Calvin, adalah “yakin akan hal-hal yang belum kelihatan” (Ibrani 11:1).
Mazmur ini memperlihatkan iman yang aktif — bukan menunggu hasil untuk bersyukur, tetapi bersyukur karena percaya.
Spurgeon menulis dengan indah:
“Mazmur 20 adalah doa sebelum perang, dan Mazmur 21 adalah nyanyian sesudah kemenangan. Tetapi orang beriman sudah menyanyikan lagu kemenangan bahkan sebelum pedang terhunus.”
Simbol “mengangkat bendera-bendera” (Ibrani: dagal) berarti menegakkan tanda kemenangan di bawah nama Allah.
Dalam konteks Gereja, ini berarti meninggikan salib Kristus sebagai lambang kemenangan atas dosa dan maut.
Bavinck menyebutnya:
“Seluruh sejarah gereja adalah prosesi panjang di mana umat Allah mengibarkan panji Kristus di tengah dunia yang menentang.”
VI. Mazmur 20:6 — “Sekarang aku tahu bahwa TUHAN menyelamatkan orang yang telah diurapi-Nya”
Ayat ini menandai puncak dari bagian pertama mazmur ini.
Daud menegaskan keyakinannya bahwa Tuhan akan menyelamatkan orang yang diurapi-Nya — yaitu dirinya sebagai raja. Namun dalam terang Kristus, “yang diurapi” (Messiah, Christos) menunjuk langsung kepada Yesus Kristus.
John Calvin menulis:
“Apa yang dikatakan Daud di sini secara penuh digenapi dalam Kristus. Sebab hanya di dalam Kristus Allah menyatakan keselamatan yang sejati.”
Perhatikan frasa: “Dia akan menjawabnya dari surga-Nya yang kudus.”
Ini menggambarkan kemenangan Kristus yang diterima di surga — kebangkitan dan kenaikan-Nya sebagai tanda bahwa Bapa telah menjawab doa-Nya (Filipi 2:9–11).
Spurgeon berkata:
“Doa Kristus di taman Getsemani telah dijawab di surga. Ia telah diselamatkan dari maut, dan kini Ia hidup selamanya untuk menjadi Pengantara kita.”
Dengan demikian, Mazmur 20:6 adalah nubuatan tentang kemenangan Kristus dan jaminan bagi umat-Nya bahwa mereka juga akan dijawab dari surga.
VII. Arah Teologis Reformed dari Mazmur 20:1–6
Mazmur ini memuat beberapa prinsip teologi Reformed yang penting:
1. Kedaulatan Allah dalam Doa
Setiap permohonan dimulai dengan “Semoga TUHAN…”.
Doa ini menunjukkan bahwa segala sesuatu bergantung pada inisiatif dan kehendak Allah.
R.C. Sproul berkata:
“Doa orang Reformed bukanlah usaha untuk mengubah kehendak Allah, tetapi untuk menempatkan diri di bawah kedaulatan-Nya.”
2. Kristus sebagai Pengantara
Seluruh doa ini berpusat pada korban yang diingat Allah (ayat 3).
Ini menegaskan bahwa tidak ada doa yang diterima tanpa perantaraan Kristus.
Berkhof menyatakan:
“Kristus adalah Imam Besar yang membuat doa kita harum di hadapan Allah.”
3. Iman yang Berbuah Sukacita
Mazmur ini menggambarkan iman yang menghasilkan penyembahan, bukan ketakutan.
Umat Allah bersukacita sebelum kemenangan datang — tanda iman sejati yang berakar pada janji, bukan pada situasi.
VIII. Refleksi Teologis dan Pastoral
1. Doa di Tengah Krisis
Mazmur ini relevan bagi setiap orang percaya yang menghadapi “pertempuran” hidup.
Ketika kita berdoa di tengah kesusahan, kita sedang berdiri bersama umat Allah dari segala zaman, berseru kepada Tuhan yang sama.
Spurgeon berkata:
“Doa adalah senjata pertama dan terakhir umat Allah. Tidak ada kemenangan sejati tanpa lutut yang tertunduk.”
Dalam kesusahan, Allah tidak selalu menghapus kesulitan, tetapi Ia memberi kehadiran-Nya yang menopang.
2. Kristus sebagai Raja dan Pendoa Syafaat
Mazmur ini bukan hanya doa umat kepada Allah, tetapi juga nubuatan tentang doa Kristus sendiri.
Sebagai Raja yang diurapi, Kristus berdoa bagi umat-Nya dan dijawab dengan kebangkitan-Nya.
Roma 8:34 berkata:
“Kristus Yesus yang telah mati dan bangkit, duduk di sebelah kanan Allah, menjadi Pembela bagi kita.”
Setiap kali kita berdoa dalam nama-Nya, kita sedang berdiri di bawah doa-Nya yang sempurna.
3. Kemenangan yang Dijamin oleh Allah
Doa ini berakhir dengan keyakinan akan kemenangan.
Dalam teologi Reformed, kemenangan orang percaya bukan hasil usaha sendiri, tetapi hasil anugerah Allah yang berdaulat.
Bavinck menulis:
“Kemenangan orang percaya adalah partisipasi dalam kemenangan Kristus. Ia telah menang, maka kita pun menang di dalam Dia.”
Mazmur ini mengajarkan bahwa iman yang sejati bukan hanya percaya bahwa Allah bisa menolong, tetapi bahwa Ia pasti menolong sesuai kehendak-Nya yang sempurna.IX. Penerapan Praktis
-
Belajarlah Berdoa Sebelum Berperang.
Mazmur ini mengajarkan bahwa doa mendahului tindakan. Sebelum Daud berangkat berperang, ia mencari wajah Allah. Gereja pun harus demikian — tidak bertindak tanpa doa. -
Percayalah bahwa Allah Menjawab.
Umat bersorak bahkan sebelum kemenangan datang. Ini adalah iman yang sejati — keyakinan bahwa Allah bekerja di balik layar penderitaan. -
Lihatlah kepada Kristus sebagai Raja yang Berdoa.
Ketika doa kita lemah, ingatlah bahwa Kristus sedang berdoa bagi kita di surga (Ibrani 7:25). -
Rayakan Kemenangan Allah dalam Doa.
Doa bukan hanya permintaan, tetapi juga perayaan iman akan kemenangan Allah yang telah dijanjikan di dalam Kristus.
X. Kesimpulan: Allah yang Menjawab dari Surga
Mazmur 20:1–6 adalah mazmur tentang pengharapan yang teguh di tengah peperangan hidup.
Umat Allah tidak dibiarkan tanpa penolong; mereka memiliki Allah Yakub, tempat kudus dari Sion, dan korban yang diingat Allah — yaitu Kristus.
Di balik doa ini, ada Injil yang kekal: Allah menjawab orang yang diurapi-Nya, dan karena kita di dalam Kristus, kita juga dijawab di dalam Dia.
Charles Spurgeon menutup renungannya dengan kalimat yang menggugah:
“Mazmur 20 adalah mazmur orang-orang yang percaya pada kemenangan Kristus sebelum mereka melihatnya dengan mata mereka. Dan setiap orang percaya adalah bagian dari nyanyian ini.”