Kejadian 13:1–4: Kembali ke Mezbah

Kejadian 13:1–4: Kembali ke Mezbah

Kejadian 13:1–4 (AYT)
(1) Abram pergi dari Mesir menuju ke selatan, dia dan istrinya, dan segala kepunyaannya, dan Lot bersamanya.
(2) Abram sangat kaya akan ternak, perak, dan emas.
(3) Abram meneruskan perjalanannya mulai dari selatan sampai Betel, ke tempat dia mendirikan tendanya mula-mula, yaitu di antara Betel dan Ai,
(4) tempat dia mendirikan mazbah untuk pertama kalinya. Di sana, Abram memanggil nama TUHAN.

I. Pendahuluan: Dari Kejatuhan ke Pemulihan

Kisah ini adalah momen penting dalam perjalanan rohani Abram — bapa orang beriman. Di pasal sebelumnya (Kejadian 12:10–20), Abram gagal. Ketika kelaparan menimpa tanah Kanaan, ia turun ke Mesir tanpa mencari kehendak Allah. Di sana ia berbohong tentang Sara dan hampir kehilangan istri yang dijanjikan Allah baginya.

Namun pasal 13 membuka dengan nada berbeda: Abram kembali. Ia kembali dari Mesir menuju ke tanah perjanjian, ke tempat di mana ia pertama kali membangun mezbah dan memanggil nama TUHAN.

Ini bukan hanya perjalanan geografis, tetapi perjalanan spiritual — dari kompromi menuju pemulihan.

Dalam teologi Reformed, perikop ini menggambarkan dinamika pemeliharaan anugerah Allah dalam hidup orang percaya yang jatuh dan dipulihkan. Abram mungkin gagal, tetapi Allah tidak meninggalkannya.

Seperti dikatakan oleh Charles Spurgeon:

“Orang benar bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, tetapi orang yang selalu kembali ke Allah setiap kali ia jatuh.”

II. Eksposisi Ayat demi Ayat

Kejadian 13:1 — “Abram pergi dari Mesir menuju ke selatan, dia dan istrinya, dan segala kepunyaannya, dan Lot bersamanya.”

Kata kunci di sini adalah “pergi dari Mesir.”
Mesir sering kali menjadi simbol dunia — tempat perlindungan manusia, bukan iman. Dalam konteks ini, “keluar dari Mesir” menandakan pertobatan Abram.

John Calvin menjelaskan:

“Abram kembali bukan karena keadaan menjadi mudah, tetapi karena ia sadar bahwa ia telah melangkah keluar dari kehendak Allah. Ia belajar bahwa tidak ada keamanan di luar janji Allah, sekalipun harta dan kenyamanan tampak lebih terjamin.”

Abram keluar dari Mesir bukan dengan tangan kosong. Ia membawa istrinya, harta benda, dan keponakannya Lot. Namun yang paling berharga bukanlah kekayaan itu, melainkan pemulihan persekutuan dengan Allah.

R.C. Sproul menafsirkan bagian ini sebagai pemulihan anugerah perjanjian:

“Allah tidak membatalkan janji-Nya kepada Abram meskipun Abram goyah. Inilah sifat kasih karunia yang sejati — ia meneguhkan bahkan ketika manusia melemah.”

Kata “selatan” di sini menunjuk pada wilayah Negeb, daerah gersang di selatan Kanaan. Abram kembali menempuh jalur yang sama yang dulu ia tinggalkan karena kelaparan.
Simbolik sekali: iman sejati sering menuntun kita kembali ke tempat di mana kita pernah gagal.

Kejadian 13:2 — “Abram sangat kaya akan ternak, perak, dan emas.”

Kalimat ini mengandung dua lapisan makna: material dan spiritual.

Secara lahiriah, Abram diberkati dengan kekayaan besar. Tetapi secara rohani, ini juga menunjukkan kemurahan Allah yang tidak membatalkan anugerah-Nya meski manusia gagal.

Herman Bavinck menulis:

“Dalam ekonomi anugerah, Allah memelihara umat pilihan-Nya bukan karena kesetiaan mereka, tetapi karena kesetiaan-Nya sendiri terhadap perjanjian.”

Namun kekayaan ini juga membawa ujian baru. Dalam pasal berikutnya, kita akan melihat konflik antara Abram dan Lot karena harta. Artinya, berkat bisa menjadi ujian bagi iman.

Calvin mengingatkan:

“Kekayaan bukan dosa, tetapi ujian. Ia menjadi berkat bila hati kita tetap terikat pada Allah, dan menjadi jerat bila kita menggantikan Allah dengan milik kita.”

Abram telah belajar pelajaran penting di Mesir: kelimpahan tanpa ketaatan hanyalah kesia-siaan.
Karena itu, ia tidak membangun rumah di Mesir, tetapi kembali ke tanah perjanjian — tempat di mana Allah dipuja.

Kejadian 13:3 — “Abram meneruskan perjalanannya mulai dari selatan sampai Betel, ke tempat dia mendirikan tendanya mula-mula, yaitu di antara Betel dan Ai,”

Ayat ini menggambarkan perjalanan rohani Abram menuju titik awal imannya.

Perhatikan frasa: “ke tempat dia mendirikan tendanya mula-mula.”
Dalam bahasa Ibrani, ini menunjuk pada tindakan “kembali ke posisi awal” — bukan secara fisik saja, tetapi secara rohani.

Abram kembali ke tempat ia pertama kali mendirikan mezbah (Kej. 12:8). Ia kembali ke sumber penyembahannya, ke tempat di mana ia pertama kali berseru kepada nama TUHAN.

Louis Berkhof menafsirkan ini sebagai bentuk pemulihan persekutuan perjanjian:

“Iman yang sejati selalu kembali ke dasar perjanjiannya, yaitu kepada Allah sendiri. Iman bukan sekadar melangkah ke depan, tetapi juga tahu bagaimana kembali kepada Allah.”

Kembali ke Betel melambangkan kembalinya hati Abram kepada panggilannya semula — bukan sebagai pengembara yang mencari keamanan, tetapi sebagai penyembah yang mencari hadirat Allah.

R.C. Sproul menulis:

“Ketaatan yang sejati dimulai bukan dari kesempurnaan, tetapi dari pengakuan. Abram kembali bukan karena ia layak, tetapi karena ia tahu hanya di hadapan Allah ia aman.”

Kejadian 13:4 — “Tempat dia mendirikan mezbah untuk pertama kalinya. Di sana, Abram memanggil nama TUHAN.”

Ayat ini adalah puncak spiritual dari seluruh perikop.
Abram bukan hanya kembali ke tanah perjanjian, tetapi kembali kepada Allah yang memberi janji itu.

Ia mendirikan kembali mezbah dan memanggil nama TUHAN — sebuah tindakan iman, penyembahan, dan penyerahan diri.

John Calvin menulis dengan lembut:

“Abram tidak mencari Tuhan yang baru, tetapi kembali kepada Tuhan yang sama yang dulu ia tinggalkan. Beginilah cara kasih karunia bekerja — bukan dengan menemukan yang baru, tetapi dengan kembali kepada yang sejati.”

Dalam bahasa Ibrani, “memanggil nama TUHAN” (qara beshem Yahweh) berarti menyembah dengan pengakuan iman.
Abram tidak sekadar berdoa; ia menegaskan kembali kesetiaannya kepada Allah yang setia.

Herman Bavinck menjelaskan:

“Ibadah bukanlah tindakan pertama dari iman, tetapi kelanjutannya. Abram beribadah karena ia telah dipulihkan. Dalam pemulihan itu, ia kembali kepada tempat mezbah — simbol kehadiran dan kasih karunia Allah.”

III. Eksposisi Teologis Reformed

Dari empat ayat ini, kita menemukan tiga tema besar yang menjadi pilar teologi Reformed:

  1. Kedaulatan Allah dalam pemeliharaan anugerah.

  2. Pertobatan sejati sebagai kembali kepada Allah, bukan sekadar meninggalkan dosa.

  3. Penyembahan sebagai pusat kehidupan iman.

1. Kedaulatan Allah dalam Pemeliharaan Anugerah

Abram tidak kembali karena kebetulan, tetapi karena Allah menuntunnya.
Dalam Kejadian 12, Abram memilih jalannya sendiri. Dalam Kejadian 13, ia kembali mengikuti jalan Allah.

Teologi Reformed menegaskan bahwa pemulihan iman selalu berawal dari inisiatif Allah.

R.C. Sproul menulis:

“Anugerah bukan sekadar permulaan keselamatan, tetapi kekuatannya yang memelihara sampai akhir. Allah bukan hanya memanggil Abram keluar dari Ur, tetapi juga menuntunnya keluar dari Mesir.”

Kisah ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat tidak hanya dalam memanggil, tetapi juga dalam memulihkan.
Kita bisa kehilangan arah, tetapi Allah tidak kehilangan kita.

Spurgeon berkata:

“Jika bukan karena tangan Allah, iman Abram akan berakhir di Mesir. Tetapi kasih karunia menolak untuk meninggalkannya di sana.”

Inilah doktrin Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang Kudus):
Mereka yang benar-benar dipilih akan dipelihara sampai akhir.
Abram adalah contoh hidup dari hal ini.

2. Pertobatan Sejati: Kembali ke Tempat Mezbah

Pertobatan sejati bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi kembali ke hadirat Allah.

Abram tidak sekadar meninggalkan Mesir; ia kembali ke tempat mezbah, tempat penyembahan.
Ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati selalu berujung pada penyembahan yang diperbarui.

Louis Berkhof menulis:

“Pertobatan melibatkan dua arah: berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah. Jika hanya ada salah satu, itu bukan pertobatan yang sejati.”

Dalam konteks Abram, dosa bukan hanya ketakutan dan kebohongan di Mesir, tetapi kebergantungan pada hikmat manusia.
Karena itu, pemulihan sejatinya adalah kembali mempercayai janji Allah.

Herman Bavinck menambahkan:

“Pertobatan sejati adalah karya Roh Kudus yang membawa manusia dari ketidaktaatan menuju persekutuan kembali dengan Allah perjanjian.”

3. Penyembahan sebagai Inti Iman

Abram kembali ke tempat di mana ia membangun mezbah dan memanggil nama TUHAN.
Ini menunjukkan bahwa penyembahan adalah pusat kehidupan iman.

Dalam teologi Reformed, penyembahan bukan aktivitas tambahan, melainkan tujuan utama manusia.
Katekismus Westminster menegaskan:

“Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.”

Abram hidup dalam kebenaran itu. Ia bukan mendirikan kota, tetapi mendirikan mezbah.
Ia bukan mencari keamanan, tetapi hadirat.

Spurgeon berkata:

“Abram membangun mezbah di setiap tempat ia berhenti — bukan karena tanah itu istimewa, tetapi karena Allah hadir di sana.”

Penyembahan menjadi tanda kembalinya iman yang sejati.
Saat seseorang sungguh-sungguh bertobat, ia akan kembali ke tempat penyembahan — ke hadirat Allah yang hidup.

IV. Analisis Historis dan Redemptif

Peristiwa ini bukan sekadar kisah moral, tetapi bagian dari rencana penebusan Allah (redemptive history).

Melalui Abram, Allah membentuk umat perjanjian yang kelak akan menjadi saluran berkat bagi semua bangsa (Kej. 12:3).
Namun di sini kita melihat bahwa bahkan bapa perjanjian pun bisa jatuh.
Kisah Abram menjadi cerminan ketidaksetiaan manusia dan kesetiaan Allah.

R.C. Sproul menyebut ini sebagai “evangelium in embryo” — Injil dalam benih.

“Dalam kisah Abram, kita melihat pola Injil: panggilan, kejatuhan, dan pemulihan — semuanya di bawah anugerah yang berdaulat.”

Kembali ke mezbah adalah gambaran tipologis dari Kristus.
Mezbah adalah tempat korban dipersembahkan, dan Kristus adalah korban sejati yang memulihkan hubungan manusia dengan Allah.

Herman Bavinck menulis:

“Semua mezbah di Perjanjian Lama menunjuk kepada salib Kristus. Abram kembali ke mezbah berarti kembali ke tempat anugerah yang sejati.”

Dengan demikian, kisah Abram adalah bayangan dari pekerjaan Kristus yang memulihkan orang berdosa dari ‘Mesir’ dosa menuju persekutuan dengan Allah.

V. Aplikasi Teologis dan Praktis

1. Allah Memulihkan Orang yang Gagal

Abram jatuh, tetapi tidak dibiarkan jatuh.
Demikian pula, setiap orang percaya mungkin gagal dalam perjalanan iman, tetapi kasih karunia Allah lebih besar daripada kegagalan kita.

Spurgeon menulis:

“Ketika seorang kudus jatuh, ia tidak tinggal di lumpur; tangan kasih Allah segera menariknya kembali.”

Bagi orang percaya, ini adalah penghiburan besar: kita bisa kembali.
Seperti Abram, kita bisa meninggalkan Mesir dan kembali ke tempat mezbah.

2. Kekayaan Tidak Menjamin Kehadiran Allah

Abram “sangat kaya,” tetapi ia belajar bahwa kekayaan tidak bisa menggantikan penyertaan Allah.
Kekayaan yang tidak disertai mezbah adalah kekosongan rohani.

Bavinck menulis:

“Berkat materi menjadi berkat rohani hanya ketika digunakan dalam terang anugerah Allah.”

Kekayaan bisa menjadi alat ujian iman. Karena itu, Abram membawa harta dari Mesir, tetapi hati yang telah disucikan.

3. Iman Sejati Selalu Kembali ke Firman dan Penyembahan

Abram kembali ke tempat di mana ia pertama kali mendengar janji Allah.
Demikian pula, orang percaya harus terus kembali ke Firman — sumber iman dan penyembahan sejati.

R.C. Sproul berkata:

“Kita tidak akan menemukan pembaruan rohani tanpa kembali ke Firman dan mezbah — tempat Allah menyatakan diri-Nya.”

Penyembahan sejati bukan formalitas, melainkan respon terhadap kasih karunia yang memulihkan.

4. Mezbah: Simbol Kehidupan Kristen

Mezbah Abram adalah lambang dari seluruh kehidupan iman Kristen.
Ia menggambarkan tiga aspek penting:

  1. Korban: menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

  2. Penyembahan: mengakui nama Allah di tengah dunia yang menolak-Nya.

  3. Persekutuan: menikmati hadirat Allah di tengah pengembaraan hidup.

Abram tidak membangun benteng, tetapi mezbah.
Ia tahu bahwa keamanan sejati bukan di tembok, tetapi di hadirat Allah.

VI. Kristus dalam Kejadian 13:1–4

Setiap kisah dalam Perjanjian Lama menuntun kepada Kristus.
Abram yang kembali ke mezbah menggambarkan Kristus yang membawa umat-Nya kembali kepada Allah.

  • Abram meninggalkan Mesir → Kristus menebus umat-Nya dari dunia dosa.

  • Abram kembali ke mezbah → Kristus membawa kita kembali kepada penyembahan sejati.

  • Abram memanggil nama TUHAN → Kristus menjadi pengantara agar kita bisa berseru “Abba, Bapa.”

Spurgeon berkata:

“Setiap langkah Abram menuju mezbah adalah bayangan langkah Kristus menuju salib.”

VII. Penutup — “Kembali ke Mezbah”

Kejadian 13:1–4 mengajarkan bahwa kehidupan iman bukan garis lurus tanpa kegagalan, melainkan perjalanan yang terus-menerus kembali kepada Allah.
Abram jatuh, tetapi kembali. Ia keluar dari Mesir dengan hati yang diperbarui, dan di hadapan mezbah, ia menemukan kembali makna panggilannya.

Inilah Injil dalam bentuk kisah:

Allah memanggil, manusia jatuh, dan Allah memulihkan — agar penyembahan terus berlanjut.

Sebagaimana Calvin menutup komentarnya:

“Abram kembali ke mezbah bukan untuk menebus dirinya, tetapi untuk memuji Allah yang menebusnya. Inilah esensi iman: bukan usaha menebus dosa, tetapi sukacita dalam anugerah yang telah menebus.”

Next Post Previous Post