Kisah Para Rasul 11:1–3 - Injil yang Menembus Batas

Kisah Para Rasul 11:1–3 - Injil yang Menembus Batas

Kisah Para Rasul 11:1–3 (AYT)
(1) Sementara itu, para rasul dan saudara-saudara seiman yang ada di Yudea mendengar bahwa orang-orang bukan Yahudi juga sudah menerima firman Allah.
(2) Karena itu, ketika Petrus naik ke Yerusalem, orang-orang yang bersunat berselisih pendapat dengan dia,
(3) dengan berkata, “Kamu pergi kepada orang-orang tidak bersunat dan makan bersama mereka.”

I. Pendahuluan — Perjumpaan yang Mengubah Sejarah Gereja

Bagian ini adalah salah satu titik balik paling penting dalam sejarah keselamatan. Untuk pertama kalinya, Injil melampaui batas etnis dan ritual Yahudi, mencapai bangsa-bangsa lain.

Konteksnya terletak setelah peristiwa besar dalam Kisah Para Rasul 10, yaitu perjumpaan antara Petrus dan Kornelius — seorang perwira Romawi non-Yahudi yang takut akan Allah. Melalui penglihatan dan pimpinan Roh Kudus, Petrus memahami bahwa Allah tidak memandang muka, dan bahwa keselamatan melalui Yesus Kristus terbuka bagi semua orang (Kis. 10:34–35).

Namun, ketika Petrus kembali ke Yerusalem, ia menghadapi penentangan. Orang-orang Yahudi Kristen — “orang-orang yang bersunat” — menuduhnya melanggar hukum karena makan bersama orang bukan Yahudi.

Inilah ketegangan yang menjadi inti Kisah Para Rasul 11:1–3:
Bagaimana Injil anugerah melampaui batas-batas hukum, budaya, dan prasangka manusia, sementara tetap setia pada kebenaran Allah.

II. Eksposisi Ayat demi Ayat

Kisah Para Rasul 11:1 — “Para rasul dan saudara-saudara seiman di Yudea mendengar bahwa orang-orang bukan Yahudi juga sudah menerima firman Allah.”

Peristiwa ini menunjukkan perluasan Injil secara eksplosif — kabar baik tentang Yesus Kristus kini menjangkau orang-orang bukan Yahudi (bangsa-bangsa lain).

Dalam bahasa Yunani, frasa “menerima firman Allah” (edexanto ton logon tou Theou) bukan hanya berarti mendengar, tetapi menyambut dengan iman dan ketaatan.
Artinya, Roh Kudus telah bekerja dalam hati bangsa-bangsa lain sebagaimana Ia bekerja di antara orang Yahudi.

John Calvin menulis dalam komentarnya:

“Injil bukan milik satu bangsa. Begitu Firman diberitakan, Allah membuka hati orang-orang kafir sebagaimana Ia membuka hati orang Yahudi. Ini adalah bukti bahwa karya keselamatan bersifat universal dalam maksud, meski partikular dalam penerapannya.”

Dengan kata lain, keselamatan tidak lagi terbatas pada garis keturunan Abraham secara fisik, tetapi terbuka bagi semua yang percaya kepada Kristus.
Ini adalah penggenapan janji Perjanjian Lama (Kejadian 12:3):

“Olehmu semua bangsa di bumi akan diberkati.”

R.C. Sproul menambahkan:

“Dalam peristiwa ini kita melihat benih teologi perjanjian: bahwa umat Allah tidak lagi didefinisikan oleh etnis, tetapi oleh anugerah yang sama dalam Kristus.”

Ayat ini menunjukkan transformasi mendasar dalam sejarah penebusan: dari Israel sebagai pusat menuju Kristus sebagai pusat keselamatan.

Kisah Para Rasul 11:2 — “Ketika Petrus naik ke Yerusalem, orang-orang yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.”

Reaksi ini mencerminkan ketegangan antara tradisi dan pewahyuan baru.

Istilah “orang-orang yang bersunat” menunjuk pada orang Yahudi Kristen yang masih berpegang pada hukum Taurat secara ketat. Mereka percaya kepada Kristus, tetapi belum sepenuhnya memahami bahwa hukum ritual telah digenapi di dalam Dia.

Mereka “berselisih pendapat” (diekrinonto) — kata ini menunjukkan pertikaian yang serius, bukan sekadar diskusi ringan.
Mereka tidak menolak Kristus, tetapi menolak implikasi penuh dari kasih karunia-Nya.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Natur manusia yang berdosa selalu cenderung mempertahankan batas-batas buatan untuk melindungi status dan identitasnya. Injil menghancurkan semua batas itu dengan kuasa kasih karunia.”

Ketegangan ini juga menggambarkan peralihan zaman anugerah: dari teokrasi Israel menuju Gereja yang universal.
Dalam istilah teologi Reformed, ini adalah pergeseran dari “perjanjian bayangan” (shadow covenant) menuju “perjanjian penggenapan” (fulfilled covenant).

Calvin menafsirkan:

“Petrus tidak dihukum karena ajarannya, tetapi karena tindakannya yang dianggap melanggar tradisi. Ini adalah pelajaran bahwa manusia sering kali lebih mencintai kebiasaan agamanya daripada kebenaran Allah.”

Kisah Para Rasul 11:3 — “Kamu pergi kepada orang-orang tidak bersunat dan makan bersama mereka.”

Ini adalah inti dari tuduhan terhadap Petrus.
Dalam hukum Yahudi, makan bersama orang bukan Yahudi dianggap menajiskan karena mereka tidak mengikuti aturan makanan (Imamat 11).

Tetapi melalui penglihatan di Kisah 10, Allah telah mengajar Petrus:

“Apa yang telah dinyatakan halal oleh Allah, jangan engkau nyatakan haram.” (Kis. 10:15)

Dengan demikian, tindakan Petrus bukan sekadar sosial, tetapi teologis: ia mengakui bahwa keselamatan dan persekutuan tidak lagi diukur oleh ritual, tetapi oleh iman kepada Kristus.

Herman Bavinck menjelaskan:

“Kristus bukan hanya menebus manusia dari dosa, tetapi juga dari segala tembok pemisah yang dihasilkan oleh hukum, adat, dan kebanggaan manusia. Di dalam Dia, semua menjadi satu tubuh.”

Kritik terhadap Petrus menunjukkan betapa sulitnya bagi Gereja mula-mula untuk memahami kedalaman kasih karunia Allah.
Mereka telah menerima Injil, tetapi belum sepenuhnya memahami implikasi sosial dan teologisnya.

R.C. Sproul menulis dalam Chosen by God:

“Kasih karunia Allah selalu menimbulkan keheranan dan bahkan penolakan, karena ia menghapus hak istimewa manusia dan meninggikan hanya Kristus.”

III. Eksposisi Teologis — Tiga Tema Reformed Besar

Dari tiga ayat ini, kita menemukan tiga tema utama dalam teologi Reformed:

  1. Kedaulatan Allah dalam menyatakan Injil,

  2. Kasih karunia yang menembus batas manusia,

  3. Penyucian Gereja dari legalisme.

1. Kedaulatan Allah dalam Misi dan Pertobatan

Kisah Para Rasul 11 dimulai dengan laporan bahwa “orang-orang bukan Yahudi telah menerima firman Allah.”
Perhatikan: mereka tidak menjemput Injil, tetapi Injil datang kepada mereka.

Ini adalah bukti nyata bahwa Allah berdaulat dalam penyelamatan.

John Calvin menulis:

“Tidak seorang pun dapat datang kepada Allah kecuali jika Allah terlebih dahulu datang kepadanya melalui Firman dan Roh-Nya. Injil berjalan karena Allah yang mengutusnya.”

Dalam perspektif Reformed, hal ini adalah ekspresi dari doktrin pemilihan dan panggilan efektif (effectual calling).
Allah bukan hanya menyediakan keselamatan, tetapi juga memanggil secara efektif mereka yang dipilih-Nya untuk menerima Injil.

R.C. Sproul menegaskan:

“Kisah Para Rasul 11 menunjukkan bahwa misi bukanlah upaya manusia untuk menjangkau Allah, tetapi tindakan Allah yang menjangkau manusia. Gereja hanya menjadi alat dari kedaulatan-Nya.”

2. Kasih Karunia yang Menembus Batas

Tuduhan terhadap Petrus memperlihatkan betapa radikalnya kasih karunia Allah.
Kasih karunia ini melampaui batas ras, budaya, dan moral.

Petrus tidak hanya melanggar batas sosial, tetapi juga menembus paradigma teologis lama: bahwa keselamatan hanya untuk bangsa Yahudi.

Spurgeon menulis dalam Morning and Evening:

“Tidak ada dosa yang terlalu dalam, tidak ada bangsa yang terlalu jauh, dan tidak ada hati yang terlalu keras bagi kasih karunia yang sejati.”

Dalam Kristus, tembok pemisah telah runtuh (Efesus 2:14).
Persekutuan sejati tidak lagi didasarkan pada keseragaman, tetapi pada kesatuan dalam darah Anak Domba.

Bavinck menyimpulkan:

“Kasih karunia bukan hanya kekuatan moral; ia adalah kuasa penciptaan baru yang menghapus perbedaan lahiriah dan menjadikan semua orang satu dalam Kristus.”

3. Penyucian Gereja dari Legalism dan Eksklusivisme

Reaksi orang “bersunat” mengingatkan kita bahwa bahkan orang percaya bisa jatuh dalam bahaya legalisme — yaitu mengukur kebenaran berdasarkan tradisi, bukan Injil.

Legalism adalah usaha untuk menambahkan syarat manusia pada anugerah Allah.
Tetapi Injil menegaskan bahwa keselamatan hanya oleh iman, bukan oleh ritual.

Calvin berkata:

“Kesalahan terbesar gereja adalah ketika ia menempatkan hukum manusia sejajar dengan hukum Allah.”

Mazmur 51:17 berkata bahwa Allah tidak menginginkan korban, tetapi hati yang hancur.
Demikian pula, Allah tidak mencari orang yang secara ritual benar, tetapi mereka yang bersandar penuh pada kasih karunia.

Louis Berkhof menulis:

“Legalism selalu mengalihkan pandangan dari Kristus kepada diri sendiri. Namun iman yang sejati selalu memandang keluar — kepada Kristus saja (solus Christus).”

IV. Analisis Historis: Gereja Awal dan Krisis Identitas

Kisah Para Rasul 11:1–3 menggambarkan krisis identitas Gereja mula-mula.
Apakah orang bukan Yahudi perlu disunat? Haruskah mereka menaati hukum makanan? Apakah mereka benar-benar bagian dari umat perjanjian?

Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian mencapai puncaknya dalam Konsili Yerusalem (Kis. 15).

Namun benihnya sudah ditanam di sini: Petrus berani melangkah melampaui batas hukum demi menaati Allah.
Ia tidak sedang memberontak terhadap Taurat, tetapi sedang menaati makna sejati dari Taurat — kasih dan kebenaran Allah.

Bavinck menyebut peristiwa ini sebagai “momen teologis paling revolusioner dalam sejarah gereja”:

“Di sini, Gereja dipanggil untuk memahami bahwa perjanjian Allah bukan bangsa, tetapi kasih karunia.”

V. Aplikasi Doktrinal dan Praktis

1. Gereja yang Misioner Adalah Gereja yang Dipimpin oleh Roh

Petrus tidak bertindak karena gagasan sendiri, melainkan karena pimpinan Roh Kudus (Kis. 10:19–20).
Misi sejati bukan sekadar program, melainkan karya Roh yang menggerakkan umat Allah untuk menembus batas.

R.C. Sproul menulis:

“Gereja yang tidak mengikuti Roh akan tetap terperangkap dalam kenyamanan tradisi, tetapi gereja yang dipimpin Roh akan dibawa ke tempat yang mengejutkan — bahkan berisiko.”

2. Kasih Karunia yang Radikal Menantang Ego Keagamaan

Reaksi orang-orang bersunat adalah cermin dari setiap hati manusia.
Kita cenderung ingin mempertahankan hak istimewa spiritual kita, dan sulit menerima bahwa kasih karunia juga berlaku bagi “orang lain” — mereka yang berbeda, berdosa, atau dianggap najis.

Namun Injil selalu menembus batas itu.
Kristus makan bersama pemungut cukai dan pelacur (Lukas 15:1–2), karena Ia datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa.

Spurgeon menegur:

“Jika kasih karunia hanya membuatmu mencintai orang seperti dirimu, maka itu bukan kasih karunia dari salib, melainkan cinta diri yang disamarkan.”

3. Kesatuan di Dalam Kristus Mengatasi Segala Perbedaan

Kisah Para Rasul 11 adalah awal dari Gereja yang multietnis dan universal.
Di sini kita melihat dasar bagi teologi persekutuan Kristen: semua orang yang percaya kepada Kristus adalah satu tubuh.

Efesus 4:4–6 menegaskan:

“Satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua.”

Kesatuan ini bukan keseragaman, tetapi kesatuan dalam anugerah yang sama.
Bavinck menulis:

“Di bawah salib, tidak ada superioritas; hanya anugerah yang menyatukan semua yang telah ditebus.”

4. Ketaatan kepada Firman Lebih Tinggi dari Tradisi

Petrus menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah bisa berarti melanggar norma sosial atau keagamaan manusia.
Ia lebih takut kepada Allah daripada manusia (Kis. 5:29).

Dalam zaman modern, gereja sering terikat pada tradisi yang tidak esensial.
Namun panggilan Injil tetap sama: taat pada Firman, bukan pada kebiasaan.

Calvin menulis:

“Kebenaran Allah sering kali mengguncang tatanan manusia. Tetapi lebih baik dunia terguncang daripada kebenaran dikorbankan.”

VI. Kristus di Tengah Kisah Ini

Kisah Para Rasul 11 bukan sekadar kisah Petrus, tetapi kisah tentang Kristus yang memperluas kerajaan-Nya.

Kristus adalah pusat dari seluruh pergerakan ini:

  • Ia yang mati untuk semua bangsa (Wahyu 5:9),

  • Ia yang menghapus tembok pemisah (Efesus 2:14),

  • Ia yang menyatukan Gereja dari segala suku dan bahasa (Matius 28:19).

Dalam terang Injil, tindakan Petrus makan bersama bangsa lain adalah bayangan dari Perjamuan Kudus — meja di mana semua orang percaya, dari segala bangsa, duduk bersama di hadapan Kristus.

Spurgeon menggambarkan dengan indah:

“Meja Kristus lebih luas dari meja dunia. Di sana, orang Yahudi dan kafir, kaya dan miskin, kudus dan yang disucikan oleh darah, duduk bersama di bawah satu Penebus.”

VII. Penutup — Injil yang Meruntuhkan Tembok

Kisah Para Rasul 11:1–3 mengajarkan bahwa Injil yang sejati selalu mengganggu kenyamanan manusia, tetapi untuk membawa mereka ke dalam kasih Allah yang lebih luas.

Kita semua seperti orang-orang yang bersunat — mudah menuduh, lambat mengerti kasih karunia.
Namun Allah yang sabar terus bekerja melalui Roh Kudus untuk memperluas hati kita agar mencintai seperti Dia mencintai.

Sejarah Gereja dimulai dari ruang kecil di Yerusalem, tetapi berakhir di hadapan takhta Allah di Wahyu 7:9 —

“Suatu kumpulan besar orang dari setiap bangsa, suku, dan bahasa.”

Itulah penggenapan penuh dari peristiwa ini: Kasih karunia Allah tidak mengenal batas.

Next Post Previous Post