Keluaran 8:8–11: Ketika Orang Fasik Meminta Doa

Pendahuluan
Keluaran 8:8–11 membawa kita pada momen yang sangat ironis dalam kisah tulah di Mesir. Firaun, raja yang mengeraskan hati terhadap Allah, tiba-tiba meminta Musa berdoa bagi dirinya. Ia yang menolak firman Tuhan kini memohon belas kasihan Tuhan. Namun permintaan ini bukanlah pertobatan sejati, melainkan respons sementara karena tekanan penderitaan.
Perikop ini menyingkap realitas penting yang ditekankan dalam teologi Reformed: perbedaan antara penyesalan karena konsekuensi dosa dan pertobatan sejati yang lahir dari anugerah Allah. Kita melihat bagaimana hati manusia yang berdosa dapat mencari pertolongan Tuhan tanpa benar-benar tunduk kepada Tuhan.
1. Konteks Tulah Kedua: Allah Menghancurkan Ilah Palsu
Tulah katak bukan sekadar gangguan ekologis. Dalam konteks Mesir kuno, katak dikaitkan dengan dewi kesuburan Heqet. Apa yang disembah sebagai simbol kehidupan kini berubah menjadi sumber jijik dan penderitaan.
Menurut Meredith Kline, tulah-tulah Mesir adalah “tindakan penghakiman perjanjian,” di mana Allah mempermalukan dewa-dewa palsu dan menunjukkan bahwa hanya Dia Penguasa alam semesta.
Teologi Reformed melihat peristiwa ini sebagai demonstrasi kedaulatan mutlak Allah atas ciptaan dan atas bangsa-bangsa. Tidak ada wilayah netral yang bebas dari pemerintahan-Nya.
2. Firaun Meminta Doa (Keluaran 8:8)
“Berdoalah kepada TUHAN…”
Ironisnya, Firaun yang menolak perintah Tuhan kini meminta perantaraan Musa. Ini menunjukkan bahwa bahkan orang yang paling keras hati pun mengetahui ke mana harus berpaling ketika penderitaan datang.
Namun perhatikan motivasinya:
Bukan “aku telah berdosa,” melainkan “singkirkan katak-katak ini.”
John Calvin menulis bahwa orang fasik sering “mencari Allah bukan karena mereka mengasihi-Nya, tetapi karena mereka ingin bebas dari hukuman-Nya.” Ini adalah agama yang lahir dari ketakutan, bukan dari iman.
Dalam doktrin Reformed, ini menggambarkan anugerah umum (common grace). Allah masih memberi kesempatan, bahkan kepada orang jahat, untuk melihat kuasa-Nya. Namun kesempatan ini tidak otomatis menghasilkan pertobatan sejati.
3. Janji yang Bersyarat dan Dangkal
Firaun berkata,
“Aku akan membiarkan bangsa itu pergi…”
Ini bukan pertama kalinya Firaun berjanji. Tetapi janji ini muncul di tengah tekanan, bukan dari perubahan hati. R.C. Sproul menyebutnya sebagai “repentance of convenience” — pertobatan karena situasi, bukan karena transformasi.
Teologi Reformed membedakan antara:
| Penyesalan Duniawi | Pertobatan Sejati |
|---|---|
| Takut hukuman | Sedih karena berdosa terhadap Allah |
| Sementara | Menghasilkan perubahan hidup |
| Berpusat pada diri | Berpusat pada kemuliaan Allah |
Firaun hanya ingin kenyamanan kembali.
4. Musa Memberi Pilihan Waktu (Keluaran 8:9)
“Tentukanlah waktunya bagiku…”
Musa memberi kesempatan kepada Firaun untuk menentukan kapan tulah berakhir. Ini bukan sekadar sopan santun, tetapi tindakan teologis. Musa ingin menunjukkan bahwa pembebasan nanti bukan kebetulan alamiah, tetapi tindakan Allah yang spesifik dan berdaulat.
Menurut Bavinck, mujizat Alkitab tidak hanya menunjukkan kuasa, tetapi juga menyatakan pribadi Allah yang berdaulat atas waktu dan sejarah.
5. Jawaban Firaun yang Aneh: “Besok” (Keluaran 8:10a)
Mengapa bukan “sekarang juga”?
Banyak penafsir Reformed melihat ini sebagai gambaran kebodohan hati yang keras. Firaun lebih memilih menderita satu malam lagi bersama katak daripada segera merendahkan diri di hadapan Allah.
Sinclair Ferguson berkomentar bahwa hati manusia berdosa sering “menunda ketaatan karena masih berharap bisa mengendalikan situasi sendiri.”
Ini adalah potret perbudakan kehendak manusia oleh dosa, seperti yang diajarkan oleh Martin Luther dan ditegaskan dalam teologi Reformed. Manusia tidak netral; ia cenderung menolak Allah bahkan ketika bukti kuasa-Nya jelas.
6. Tujuan Ilahi: “Supaya Engkau Mengetahui…” (Keluaran 8:10b)
“Supaya engkau mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN, Allah kami.”
Inilah tujuan utama tulah: penyataan diri Allah.
Semua peristiwa ini bukan sekadar hukuman, tetapi pewahyuan. Allah ingin Firaun mengetahui bahwa Dia unik, tak tertandingi, dan berdaulat mutlak.
R.C. Sproul menekankan bahwa pusat teologi Reformed adalah kemuliaan Allah dalam penyataan diri-Nya. Bahkan penghakiman pun melayani tujuan kemuliaan itu.
7. Penghapusan Tulah Secara Terbatas (Keluaran 8:11)
“Hanya di sungai Nil saja mereka akan tinggal.”
Allah tidak memusnahkan semua katak. Ia menyisakan katak di habitat aslinya. Ini menunjukkan bahwa mujizat bukan penghapusan ciptaan, melainkan pengaturan ulang ciptaan sesuai kehendak Allah.
Kedaulatan Allah terlihat bukan hanya dalam menghukum, tetapi juga dalam mengendalikan batas penderitaan.
8. Hati yang Tidak Berubah
Meskipun bagian ini belum menceritakan pengerasan hati Firaun lagi (itu muncul di ayat selanjutnya), kita tahu dari konteks bahwa ia akan kembali mengingkari janjinya.
Inilah gambaran klasik dari apa yang disebut teologi Reformed sebagai ketidakmampuan moral manusia. Tanpa karya Roh Kudus yang melahirbarukan, manusia bisa mengalami mujizat, ketakutan, bahkan pengakuan lisan—tetapi tetap tidak bertobat.
Louis Berkhof menulis bahwa kehendak manusia setelah kejatuhan “tidak kehilangan kebebasan alami, tetapi kehilangan kemampuan rohani untuk memilih Allah.”
9. Doa Orang Benar bagi Orang Fasik
Menarik bahwa Allah mengabulkan doa Musa, meskipun doa itu diminta oleh orang fasik.
Ini menunjukkan prinsip penting: Allah berdaulat menggunakan doa orang benar sebagai alat dalam rencana-Nya, bahkan untuk memberkati sementara orang yang tidak bertobat.
John Owen menyebut doa orang kudus sebagai “bagian dari pemerintahan providensial Allah di dunia.”
10. Anugerah yang Disalahgunakan
Firaun mengalami kelegaan karena doa Musa, tetapi ia tidak menggunakan anugerah itu untuk bertobat.
Teologi Reformed mengajarkan bahwa anugerah umum bisa dinikmati tanpa menghasilkan keselamatan. Matahari bersinar bagi orang benar dan orang jahat. Namun tanpa anugerah khusus (saving grace), hati tetap keras.
Ini peringatan bagi banyak orang yang berdoa saat krisis tetapi melupakan Tuhan saat keadaan membaik.
11. Relevansi Bagi Zaman Sekarang
Kisah Firaun sering terulang hari ini:
-
Orang berdoa ketika sakit, lalu melupakan Tuhan saat sembuh
-
Janji rohani dibuat saat krisis, lalu diingkari saat aman
-
Ibadah menjadi alat mencari pertolongan, bukan penyembahan sejati
Tim Keller menyebut ini sebagai “faith as a utility” — iman sebagai alat, bukan relasi.
12. Kontras dengan Pertobatan Sejati
Bandingkan Firaun dengan Daud dalam Mazmur 51. Daud berkata,
“Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa.”
Firaun berkata,
“Singkirkan katak ini.”
Yang satu peduli pada relasi dengan Allah, yang lain hanya peduli pada kenyamanan pribadi.
13. Kedaulatan Allah atas Hati Raja
Kitab Amsal 21:1 berkata hati raja seperti batang air di tangan Tuhan. Dalam kisah ini, Allah memakai bahkan pemberontakan Firaun untuk menyatakan kuasa-Nya.
Bavinck menulis bahwa kedaulatan Allah tidak ditiadakan oleh penolakan manusia, tetapi justru dinyatakan melalui sejarah penolakan itu.
14. Injil dalam Bayangan
Musa menjadi perantara yang berdoa agar tulah disingkirkan. Ia adalah bayangan dari Kristus, Pengantara yang lebih besar.
Namun ada perbedaan besar:
| Musa | Kristus |
|---|---|
| Menghapus tulah sementara | Menghapus hukuman dosa kekal |
| Berdoa bagi musuh Allah | Mati bagi musuh Allah |
| Membebaskan dari katak | Membebaskan dari murka Allah |
Yesus bukan hanya pengantara doa, tetapi korban penebusan.
15. Panggilan untuk Bertobat dengan Sungguh
Keluaran 8:8–11 mengajarkan bahwa penderitaan bisa membawa seseorang mendekat kepada Allah secara lahiriah, tetapi hanya anugerah Roh Kudus yang dapat membawa pertobatan sejati.
Jangan menjadi seperti Firaun yang berkata “besok.”
Alkitab berkata,
“Hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.”
Kesimpulan
Perikop ini menyingkap beberapa kebenaran penting dalam terang teologi Reformed:
-
Allah berdaulat penuh atas alam dan sejarah
-
Manusia berdosa dapat mencari Allah tanpa benar-benar bertobat
-
Penderitaan tidak otomatis menghasilkan pertobatan sejati
-
Anugerah umum dapat disalahgunakan
-
Hanya karya anugerah khusus yang mengubah hati
Kisah Firaun adalah cermin bagi kita. Kita bisa saja berdoa dalam krisis, membuat janji rohani, bahkan mengakui kuasa Tuhan—namun tetap tidak menyerahkan hati.
Karena itu, Injil memanggil kita bukan hanya untuk mencari kelegaan dari masalah, tetapi untuk datang kepada Kristus dengan pertobatan sejati dan iman yang menyelamatkan.
Soli Deo Gloria.