Markus 12:38–40: Waspadalah terhadap Agama yang Kosong

Markus 12:38–40: Waspadalah terhadap Agama yang Kosong

Pendahuluan

Markus 12:38–40 merupakan salah satu teguran Yesus yang paling tajam terhadap kemunafikan rohani. Di bagian ini, Yesus memperingatkan orang banyak tentang ahli-ahli Taurat—para pemimpin agama yang secara lahiriah tampak saleh, tetapi di dalamnya penuh keserakahan dan kepalsuan. Perikop ini bukan sekadar kritik sosial, melainkan penyingkapan kondisi hati manusia berdosa yang mampu memutarbalikkan agama menjadi alat kemuliaan diri.

Dalam kerangka teologi Reformed, bagian ini berbicara kuat tentang kedalaman dosa manusia, bahaya religiusitas tanpa kelahiran baru, dan penghakiman Allah yang adil atas kemunafikan rohani. Yesus tidak hanya mengajar etika sosial, tetapi mengungkapkan bahwa ibadah yang tidak lahir dari hati yang diperbarui adalah kekejian di hadapan Allah.

Teks Markus 12:38–40 (Terjemahan)

38 Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,
39 yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,
40 yang menelan rumah janda-janda sambil mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

1. Konteks Historis dan Teologis

Perikop ini berada di minggu terakhir kehidupan Yesus sebelum penyaliban. Ia sedang mengajar di Bait Allah dan berhadapan dengan berbagai kelompok pemimpin agama: Farisi, Saduki, dan ahli Taurat. Setelah serangkaian perdebatan teologis, Yesus beralih dari menjawab pertanyaan mereka menjadi mengekspos karakter mereka.

Menurut R.C. Sproul, ini adalah momen ketika Yesus “membuka kedok otoritas agama palsu dan menunjukkan bahwa bahaya terbesar bagi umat Allah sering datang dari dalam institusi agama itu sendiri.” Kritik Yesus bukan terhadap jabatan mereka, tetapi terhadap penyalahgunaan otoritas rohani.

2. “Hati-hatilah…” – Peringatan dari Sang Gembala (Markus 12:38a)

Yesus memulai dengan kata “Hati-hatilah” (Yunani: blepete – waspadalah, berjaga-jaga). Ini adalah peringatan pastoral. Ia tidak hanya menyerang ahli Taurat, tetapi melindungi umat dari pengaruh mereka.

John Calvin menulis bahwa Kristus “bertindak sebagai Gembala sejati yang memperingatkan domba-domba-Nya terhadap serigala berbulu domba.” Bahayanya bukan hanya ajaran yang salah, tetapi teladan hidup yang menyesatkan.

Teologi Reformed menekankan bahwa dosa tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga menular secara komunitas. Pemimpin rohani yang rusak dapat menormalisasi kemunafikan dan menyesatkan banyak orang.

3. Kesalehan yang Dipamerkan (Markus 12:38b–39)

a. Jubah panjang dan salam penghormatan

Ahli Taurat suka memakai jubah panjang sebagai simbol status rohani. Mereka juga menikmati salam penghormatan di tempat umum. Ini bukan sekadar soal pakaian, tetapi pencarian identitas melalui pengakuan manusia.

Yesus mengungkap motivasi hati: mereka ingin terlihat kudus, bukan menjadi kudus.

Herman Bavinck menegaskan bahwa dosa religius paling berbahaya adalah ketika manusia “menggunakan hal-hal suci untuk meninggikan diri sendiri.” Agama berubah menjadi panggung, bukan mezbah.

b. Kursi terdepan di rumah ibadat

Tempat duduk menunjukkan kehormatan. Mereka ingin terlihat sebagai orang paling penting di hadapan umat. Namun dalam Kerajaan Allah, prinsipnya terbalik:

“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar, hendaklah ia menjadi pelayan” (Markus 10:43).

Sinclair Ferguson menyatakan bahwa “kesombongan rohani adalah dosa yang paling sulit dideteksi karena sering bersembunyi di balik aktivitas pelayanan.”

4. Keserakahan yang Tersembunyi (Markus 12:40a)

“yang menelan rumah janda-janda”

Ini tuduhan serius. Janda adalah kelompok paling rentan dalam masyarakat Yahudi. Ahli Taurat sering bertindak sebagai pengelola harta atau penasihat hukum bagi janda, tetapi menyalahgunakan kepercayaan itu untuk keuntungan pribadi.

Yesus menunjukkan bahwa di balik doa dan pakaian religius, ada eksploitasi ekonomi.

Menurut Joel Beeke, ini adalah contoh nyata bagaimana dosa total (total depravity) bekerja bahkan dalam lingkungan religius. Tanpa anugerah Allah, hati manusia akan menggunakan agama untuk membenarkan keserakahannya.

5. Doa yang Panjang sebagai Kedok (Markus 12:40b)

Doa seharusnya menjadi ungkapan ketergantungan kepada Allah, tetapi di tangan ahli Taurat, doa menjadi alat pencitraan.

Yesus tidak mengecam panjangnya doa, tetapi motivasinya. Mereka berdoa agar terlihat rohani, bukan karena mereka mengenal Allah.

Calvin menulis bahwa “ketika doa tidak lagi diarahkan kepada Allah, melainkan kepada telinga manusia, maka doa itu berubah menjadi sandiwara.”

Ini memperlihatkan doktrin Reformed tentang kerusakan total hati manusia: bahkan ibadah bisa dikorupsi oleh kesombongan.

6. Hukuman yang Lebih Berat (Markus 12:40c)

“Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Yesus menutup dengan peringatan eskatologis. Ada tingkatan hukuman. Mereka yang memiliki pengetahuan firman tetapi menyalahgunakannya akan dihukum lebih berat.

R.C. Sproul menekankan bahwa “otoritas rohani adalah tanggung jawab yang menakutkan, karena setiap penyalahgunaan akan dihakimi oleh Allah yang kudus.”

Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah bukan hanya penuh kasih, tetapi juga adil. Keadilan-Nya menuntut pertanggungjawaban yang lebih besar dari mereka yang memimpin umat-Nya.

7. Doktrin Dosa Total dalam Perikop Ini

Markus 12:38–40 menggambarkan dosa bukan sebagai kelemahan moral ringan, tetapi sebagai pemberontakan hati yang mendalam. Ahli Taurat tidak kekurangan pengetahuan Alkitab, tetapi kekurangan kelahiran baru.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa total depravity berarti setiap aspek manusia tercemar dosa—pikiran, kehendak, dan motivasi. Inilah sebabnya agama tanpa anugerah tidak menyelamatkan.

8. Kontras dengan Kristus

Perikop ini juga menyoroti kontras tajam antara ahli Taurat dan Yesus:

Ahli TauratYesus
Mencari kehormatanMerendahkan diri
Mengambil dari jandaMemuji persembahan janda (Markus 12:41–44)
Doa untuk pamerDoa dalam kesunyian
Menghukum orang lainMenanggung hukuman bagi umat-Nya

Yesus adalah Pemimpin sejati yang tidak mengeksploitasi, tetapi mengorbankan diri.

9. Bahaya Kemunafikan Gereja Masa Kini

Peringatan ini tetap relevan. Gereja dapat jatuh pada pola yang sama:

  • Pelayanan sebagai panggung popularitas

  • Jabatan rohani sebagai simbol status

  • Spiritualitas yang dipertontonkan di media sosial

  • Penyalahgunaan dana gereja

Tim Keller menulis bahwa Injil bukan hanya menyelamatkan dari dosa duniawi, tetapi juga dari dosa religius—usaha membenarkan diri melalui kesalehan lahiriah.

10. Tanda Kesalehan Sejati Menurut Injil

Teologi Reformed menekankan bahwa kesalehan sejati lahir dari pembenaran oleh iman dan karya Roh Kudus. Ciri-cirinya:

  1. Kerendahan hati

  2. Kasih kepada yang lemah

  3. Integritas tersembunyi

  4. Ketergantungan pada anugerah

Bukan penampilan, tetapi transformasi hati.

11. Ujian bagi Pemimpin Rohani

Yakobus 3:1 berkata guru akan dihakimi lebih berat. Markus 12:38–40 menjadi cermin bagi setiap pelayan Tuhan:

  • Apakah pelayanan kita untuk Allah atau reputasi?

  • Apakah kita melayani yang lemah atau memanfaatkannya?

  • Apakah kehidupan doa kita nyata atau hanya publik?

John Owen berkata, “Dosa yang tidak dimatikan akan mematikan kita—terutama dosa rohani yang tersembunyi.”

12. Pengharapan dalam Anugerah

Bagian ini memang keras, tetapi Injil memberi pengharapan. Petrus pernah jatuh dalam kemunafikan (Gal 2), tetapi dipulihkan. Paulus pernah mencari kehormatan dalam agama, tetapi diselamatkan oleh anugerah.

Solusinya bukan berusaha tampil lebih saleh, tetapi datang kepada Kristus dalam pertobatan sejati.

Kesimpulan

Markus 12:38–40 adalah peringatan keras terhadap agama tanpa Injil. Yesus menyingkap bahwa:

  • Kesalehan lahiriah dapat menyembunyikan hati yang jahat

  • Otoritas rohani dapat disalahgunakan

  • Allah melihat motivasi, bukan penampilan

  • Penghakiman-Nya adil dan serius

Dalam terang teologi Reformed, perikop ini menegaskan kebutuhan mutlak akan anugerah yang melahirbarukan. Hanya Injil yang dapat mengubah agama palsu menjadi penyembahan sejati.

Kiranya kita tidak hanya mendengar peringatan ini, tetapi membiarkan Roh Kudus menyelidiki hati kita, sehingga pelayanan kita bukan demi kemuliaan diri, melainkan Soli Deo Gloria — kemuliaan bagi Allah saja.

Next Post Previous Post