Iman Hari Biasa

Iman Hari Biasa

Pendahuluan: Agama yang Terbatas pada Hari Minggu?

Istilah Weekday Religion atau “Iman Hari Biasa” menunjuk pada pertanyaan mendasar: apakah iman Kristen hanya hidup pada hari Minggu di dalam gedung gereja, ataukah ia menjiwai seluruh kehidupan sehari-hari?

Dalam banyak konteks, kekristenan direduksi menjadi aktivitas liturgis mingguan. Ibadah menjadi pusat, tetapi kehidupan sehari-hari—pekerjaan, keluarga, ekonomi, relasi sosial—dipisahkan dari iman. Teologi Reformed secara tegas menolak dikotomi ini. Dalam pandangan Reformed, seluruh kehidupan berada di bawah kedaulatan Allah (coram Deo — hidup di hadapan Allah).

Artikel ini akan menguraikan dasar biblika dan teologis mengenai iman yang hidup di hari biasa, dengan meninjau beberapa teks Alkitab serta refleksi dari para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Abraham Kuyper, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul.

I. Dasar Alkitabiah: Iman yang Menyeluruh

Roma 12:1 (TB)

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Paulus tidak membatasi ibadah pada ritus tertentu. Ia berbicara tentang mempersembahkan “tubuhmu”—seluruh keberadaan—sebagai ibadah.

1. Ibadah sebagai Totalitas Hidup

John Calvin menafsirkan Roma 12:1 sebagai panggilan untuk menyerahkan seluruh aspek kehidupan kepada Allah. Ibadah sejati bukan hanya liturgi, tetapi ketaatan sehari-hari.

Teologi Reformed memahami bahwa tidak ada wilayah netral dalam kehidupan manusia. Semua berada dalam lingkup pemerintahan Kristus.

II. Kedaulatan Allah atas Seluruh Kehidupan

Abraham Kuyper terkenal dengan pernyataannya:

“Tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah kehidupan manusia di mana Kristus, yang berdaulat atas semuanya, tidak berseru: Milik-Ku!”

Pernyataan ini adalah inti dari konsep weekday religion. Jika Kristus adalah Tuhan atas segala sesuatu, maka pekerjaan kantor, pendidikan, seni, politik, dan ekonomi pun berada di bawah otoritas-Nya.

1. Doktrin Providensia

Louis Berkhof menjelaskan bahwa providensia Allah mencakup seluruh aspek kehidupan. Allah bukan hanya hadir dalam kebaktian, tetapi juga dalam ruang kerja dan rumah tangga.

Maka iman hari biasa berarti hidup dalam kesadaran bahwa setiap aktivitas dilakukan di hadapan Allah.

III. Panggilan dan Pekerjaan (Vocation)

Kolose 3:23 (TB)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Reformasi memulihkan konsep panggilan (vocation). Sebelum Reformasi, kehidupan religius dianggap lebih tinggi daripada pekerjaan sekuler. Namun Calvin mengajarkan bahwa setiap pekerjaan yang sah adalah panggilan dari Allah.

1. Martabat Pekerjaan

Herman Bavinck menegaskan bahwa anugerah umum Allah memungkinkan manusia bekerja, mencipta, dan mengembangkan budaya.

Bekerja dengan integritas pada hari Senin sama rohaninya dengan bernyanyi di gereja pada hari Minggu, jika dilakukan bagi kemuliaan Allah.

IV. Kekudusan dalam Kehidupan Sehari-hari

1 Petrus 1:15 (TB)

“Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu…”

Perintah ini tidak dibatasi pada ruang ibadah. Kekudusan mencakup:

  • Cara berbicara

  • Cara bekerja

  • Cara mengelola uang

  • Cara memperlakukan sesama

R.C. Sproul menekankan bahwa kekudusan Allah adalah pusat teologi Kristen. Karena Allah kudus, umat-Nya dipanggil untuk hidup kudus dalam semua aspek kehidupan.

V. Bahaya Dikotomi: Sakral vs. Sekuler

Salah satu tantangan terbesar adalah memisahkan kehidupan menjadi dua kategori:

  • Sakral (gereja, doa, pelayanan)

  • Sekuler (pekerjaan, hiburan, ekonomi)

Teologi Reformed menolak dikotomi ini. Calvin mengajarkan bahwa seluruh dunia adalah teater kemuliaan Allah (theatrum gloriae Dei).

Artinya, setiap aktivitas manusia harus mencerminkan kemuliaan Allah.

VI. Peran Anugerah Umum

Herman Bavinck dan Abraham Kuyper mengembangkan doktrin anugerah umum (common grace).

Anugerah umum menjelaskan bahwa Allah bekerja dalam dunia, bahkan di luar gereja, untuk memelihara keteraturan dan memungkinkan perkembangan budaya.

Dengan demikian, iman hari biasa mencakup partisipasi aktif dalam masyarakat dengan integritas Kristen.

VII. Disiplin Rohani di Hari Biasa

Iman hari biasa tidak berarti sekadar etika kerja, tetapi juga kehidupan rohani yang konsisten.

Mazmur 1 menggambarkan orang benar yang merenungkan Taurat siang dan malam.

John Owen menekankan pentingnya disiplin rohani harian untuk mematikan dosa dan memelihara persekutuan dengan Allah.

Tanpa persekutuan pribadi dengan Tuhan, aktivitas sehari-hari mudah kehilangan orientasi rohani.

VIII. Kristus sebagai Teladan Kehidupan Sehari-hari

Yesus menghabiskan sebagian besar hidup-Nya dalam kehidupan biasa sebagai tukang kayu di Nazaret.

Inkarnasi menunjukkan bahwa Allah masuk ke dalam rutinitas manusia.

Teologi Reformed melihat inkarnasi sebagai penegasan bahwa kehidupan sehari-hari memiliki nilai kekal ketika dijalani dalam ketaatan kepada Allah.

IX. Dimensi Eskatologis

Iman hari biasa juga memiliki dimensi kekekalan.

1 Korintus 15:58 (TB):

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh… karena kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Pekerjaan dan kesetiaan sehari-hari memiliki nilai kekal dalam rencana Allah.

Anthony Hoekema menjelaskan bahwa dalam perspektif eskatologis Reformed, ciptaan akan diperbarui, bukan dimusnahkan. Karena itu, pekerjaan yang dilakukan bagi Tuhan memiliki signifikansi dalam kerajaan-Nya.

X. Refleksi Teologis Mendalam

“Iman Hari Biasa” menuntut pemahaman akan:

  1. Kedaulatan Allah atas seluruh ciptaan.

  2. Kesatuan antara doktrin dan etika.

  3. Integrasi antara ibadah dan pekerjaan.

  4. Transformasi hati melalui anugerah.

Tanpa kelahiran baru, agama hari biasa berubah menjadi moralitas kosong. Namun dengan pekerjaan Roh Kudus, kehidupan sehari-hari menjadi persembahan yang hidup.

XI. Aplikasi Praktis

  1. Bekerja dengan integritas dan kejujuran.

  2. Mengelola waktu dan uang dengan hikmat.

  3. Menunjukkan kasih dalam relasi keluarga dan sosial.

  4. Menghidupi iman secara konsisten di ruang publik.

Iman yang sejati tidak hanya terdengar dalam doa, tetapi terlihat dalam karakter.

Kesimpulan: Hidup Coram Deo

Weekday Religion atau “Iman Hari Biasa” adalah panggilan untuk hidup coram Deo—di hadapan Allah setiap saat.

Hari Minggu mempersiapkan kita untuk hari Senin.
Ibadah menguatkan kita untuk bekerja.
Firman membentuk kita untuk hidup.

Dalam terang teologi Reformed, seluruh hidup adalah ibadah.

Kiranya kita hidup dengan kesadaran bahwa Kristus adalah Tuhan atas setiap detik, setiap tugas, dan setiap relasi.

Soli Deo Gloria.

Previous Post