Kehidupan, Perjalanan, dan Kemenangan Iman
.jpg)
Pendahuluan: Iman sebagai Nafas Kehidupan Kristen
Di dalam Kekristenan, iman bukan sekadar pintu masuk menuju keselamatan; iman adalah cara hidup orang percaya dari awal hingga akhir. Iman bukan hanya keputusan awal untuk menerima Kristus, melainkan prinsip eksistensial yang menopang seluruh kehidupan rohani. Tanpa iman, tidak ada perkenanan kepada Allah; tanpa iman, tidak ada ketekunan; tanpa iman, tidak ada kemenangan.
Penulis Ibrani mendefinisikan iman secara klasik:
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
(Ibrani 11:1, TB)
Sementara Rasul Paulus menegaskan dimensi praktis iman dalam kehidupan sehari-hari:
“--sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--”
(2 Korintus 5:7, TB)
Dua ayat ini merangkum kehidupan Kristen: iman adalah fondasi pengharapan dan prinsip perjalanan hidup. Dalam tradisi teologi Reformed, iman dipahami sebagai anugerah Allah yang mengikat orang percaya kepada Kristus, mempersatukan mereka dengan karya penebusan-Nya, dan memampukan mereka berjalan dalam ketaatan sampai pada kemenangan akhir.
Artikel ini akan membahas tiga dimensi utama: kehidupan iman (life of faith), perjalanan iman (walk of faith), dan kemenangan iman (triumph of faith), dengan eksposisi Alkitabiah serta dialog dengan pemikiran Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Abraham Kuyper, R.C. Sproul, dan John Piper.
I. Kehidupan Iman: Fondasi dan Hakikatnya
1. Iman sebagai Dasar dan Bukti (Ibrani 11:1)
Definisi iman dalam Ibrani 11:1 sangat kaya. Kata “dasar” menunjuk pada kepastian atau fondasi yang kokoh. Iman bukanlah angan-angan, melainkan keyakinan yang teguh terhadap janji Allah. Sementara kata “bukti” menunjukkan bahwa iman memberikan kepastian terhadap realitas yang tidak terlihat.
Dalam teologi Reformed, iman tidak dipahami sebagai lompatan buta dalam kegelapan, tetapi sebagai respons terhadap wahyu Allah. Calvin menegaskan bahwa iman adalah “pengetahuan yang teguh dan pasti tentang kemurahan Allah terhadap kita, yang didasarkan pada kebenaran janji-Nya di dalam Kristus dan dimeteraikan dalam hati oleh Roh Kudus.”
Dengan demikian, iman bukanlah hasil kemampuan alami manusia, melainkan karya Roh Kudus. Iman memiliki tiga unsur klasik dalam teologi Reformed: notitia (pengetahuan), assensus (persetujuan), dan fiducia (kepercayaan pribadi). Tanpa ketiganya, iman menjadi tidak utuh.
2. Iman sebagai Anugerah
R.C. Sproul menekankan bahwa iman itu sendiri adalah pemberian Allah. Manusia yang telah mati dalam dosa tidak mampu menghasilkan iman yang menyelamatkan tanpa karya Roh Kudus. Di sinilah doktrin anugerah yang berdaulat menjadi pusat.
Bavinck menambahkan bahwa iman bukan sekadar alat pasif, melainkan ikatan hidup dengan Kristus. Iman mempersatukan orang percaya dengan Juruselamat, sehingga semua manfaat karya Kristus menjadi milik mereka.
II. Perjalanan Iman: Hidup Karena Percaya
Jika kehidupan iman berbicara tentang fondasi, maka perjalanan iman berbicara tentang praktik sehari-hari. Paulus menyatakan:
“--sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--”
(2 Korintus 5:7, TB)
1. Hidup dalam Ketidaklihatan
Iman selalu berhubungan dengan yang tidak terlihat. Dunia modern sangat mengagungkan empirisme—apa yang bisa dilihat dan diukur. Namun kehidupan Kristen berjalan berdasarkan realitas rohani yang tidak selalu tampak secara kasatmata.
Calvin menulis bahwa iman “mengangkat pikiran kita melampaui dunia ini.” Iman memampukan orang percaya melihat janji Allah sebagai lebih nyata daripada keadaan saat ini.
John Piper menekankan bahwa iman adalah sarana menikmati Allah sebagai harta tertinggi, bahkan ketika keadaan tidak mendukung. Iman memandang melampaui penderitaan kepada kemuliaan yang akan datang.
2. Iman dan Ketaatan
Ibrani 11 penuh dengan contoh tokoh yang bertindak berdasarkan iman. Iman tidak pasif. Ia menghasilkan ketaatan. Abraham meninggalkan negerinya, Musa memilih menderita bersama umat Allah, dan para nabi bertahan dalam aniaya.
Dalam teologi Reformed, iman dan perbuatan tidak dipertentangkan. Perbuatan bukan dasar pembenaran, tetapi buah iman yang sejati. Kuyper menegaskan bahwa iman yang hidup selalu berdampak pada seluruh aspek kehidupan—politik, pendidikan, budaya, dan keluarga.
Perjalanan iman berarti menjalani seluruh kehidupan di bawah pemerintahan Kristus.
III. Pergumulan dalam Perjalanan Iman
Iman bukan tanpa tantangan. Justru iman sering diuji melalui penderitaan, keraguan, dan penantian panjang.
1. Iman dalam Penderitaan
Sproul menekankan bahwa Allah sering menguatkan iman melalui pencobaan. Iman yang tidak pernah diuji akan tetap dangkal. Seperti emas dimurnikan melalui api, demikian iman dimurnikan melalui penderitaan.
Dalam konteks ini, Roma 8:28 (yang telah kita lihat sebelumnya) menjadi dasar keyakinan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Iman memegang janji itu ketika keadaan tampak berlawanan.
2. Iman dan Ketekunan
Teologi Reformed mengajarkan doktrin ketekunan orang-orang kudus. Iman sejati akan bertahan sampai akhir karena dipelihara oleh Allah. Bukan kekuatan iman kita yang menjamin keselamatan, melainkan kesetiaan Allah.
Bavinck menegaskan bahwa iman adalah relasi yang dipelihara oleh Allah sendiri. Orang percaya mungkin goyah, tetapi tidak akan ditinggalkan.
IV. Kemenangan Iman: Dimensi Eskatologis
1. Iman yang Melihat Kemuliaan
Kemenangan iman tidak selalu terlihat dalam kehidupan sekarang. Banyak tokoh dalam Ibrani 11 mati tanpa menerima penggenapan janji secara penuh. Namun mereka melihatnya dari jauh dan menyambutnya.
Iman memandang kepada realitas eskatologis—langit dan bumi yang baru. Calvin menyatakan bahwa hidup Kristen adalah ziarah menuju kota surgawi.
2. Kristus sebagai Pusat Kemenangan
Puncak kemenangan iman bukanlah keberhasilan pribadi, melainkan Kristus sendiri. Iman berpegang pada karya Kristus yang telah menang atas dosa dan maut.
Piper menyatakan bahwa iman yang menang adalah iman yang memandang kepada Kristus sebagai sukacita tertinggi. Dalam Dia, kemenangan telah dimulai dan akan digenapi.
V. Dimensi Korporat Iman
Iman tidak hanya bersifat individual. Gereja adalah komunitas iman. Kuyper menekankan bahwa iman Kristen memiliki implikasi publik dan sosial. Orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai saksi Kristus di dunia.
Iman yang sejati membentuk budaya, mempengaruhi sistem nilai, dan membawa terang Kristus ke dalam kegelapan dunia.
VI. Sintesis Teologis: Hidup, Berjalan, dan Menang
Jika dirangkum, kehidupan iman berakar pada anugerah Allah; perjalanan iman dijalani dalam ketidaklihatan namun penuh ketaatan; dan kemenangan iman dijamin oleh kesetiaan Allah serta karya Kristus.
Calvin menekankan bahwa iman adalah tangan yang menerima Kristus. Bavinck melihat iman sebagai ikatan hidup dengan Juruselamat. Sproul menyoroti kedaulatan Allah yang memelihara iman. Kuyper menekankan implikasi iman bagi seluruh kehidupan. Piper menyoroti sukacita dalam Kristus sebagai inti iman.
Semua ini mengarah pada satu kesimpulan: iman adalah kehidupan itu sendiri bagi orang percaya.
Kesimpulan: Iman yang Bertahan Sampai Akhir
Kehidupan, Perjalanan, dan Kemenangan Iman menggambarkan dinamika penuh kehidupan Kristen. Iman bukan sekadar konsep teologis, tetapi realitas eksistensial yang mengikat kita kepada Kristus.
Iman adalah dasar pengharapan.
Iman adalah prinsip perjalanan.
Iman adalah sarana kemenangan.
Dan pada akhirnya, kemenangan iman bukanlah tentang kekuatan kita, melainkan tentang kesetiaan Allah yang memanggil, memelihara, dan memuliakan umat-Nya.
Kiranya kita hidup bukan karena melihat, tetapi karena percaya—sampai iman berubah menjadi penglihatan dalam kemuliaan kekal.