Keluaran 8:28–29: Kompromi yang Berbahaya dan Kesetiaan Allah yang Berdaulat
.jpg)
Keluaran 8:28–29 (TB)
28 Lalu kata Firaun: “Baik, aku akan membiarkan kamu pergi untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di padang gurun; hanya janganlah kamu pergi terlalu jauh. Berdoalah untuk aku.”
29 Lalu kata Musa: “Sekarang aku keluar meninggalkan tuanku dan akan berdoa kepada TUHAN, maka pikat itu akan dijauhkan besok dari Firaun, dari pegawai-pegawainya dan rakyatnya; hanya janganlah Firaun berlaku curang lagi dengan tidak membiarkan bangsa itu pergi untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.”
Pendahuluan: Ketika Dunia Menawarkan Kompromi
Perikop ini berada dalam rangkaian tulah atas Mesir. Setelah tulah lalat pikat (atau kawanan serangga), Firaun mulai melunak—namun tidak sepenuhnya. Ia menawarkan kompromi: bangsa Israel boleh beribadah, tetapi “janganlah kamu pergi terlalu jauh.”
Di sinilah muncul dinamika teologis yang mendalam: benturan antara kedaulatan Allah dan perlawanan hati manusia, antara panggilan penyembahan yang murni dan kompromi politis, antara anugerah yang memanggil kebebasan dan dosa yang mencoba mempertahankan kontrol.
Dalam artikel ini, kita akan mengekspos teks ini secara mendalam dengan memperhatikan pandangan para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, John Murray, R.C. Sproul, dan Meredith G. Kline.
I. Latar Belakang Teologis: Tulah sebagai Penghakiman Perjanjian
Kitab Keluaran bukan sekadar narasi pembebasan nasional; ia adalah tindakan penebusan Allah dalam sejarah perjanjian.
1. Allah sebagai Raja atas Bangsa-Bangsa
Calvin menegaskan bahwa tulah-tulah bukan hanya hukuman, tetapi juga deklarasi kedaulatan Allah atas allah-allah Mesir. Setiap tulah menyerang simbol religius Mesir.
Dalam perspektif Reformed, sejarah adalah arena pewahyuan Allah. Tulah-tulah menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah yang hidup dan berdaulat.
2. Tipologi Penebusan
Geerhardus Vos melihat eksodus sebagai tipologi besar penebusan dalam Kristus. Seperti Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir, demikian pula orang percaya dibebaskan dari perbudakan dosa.
Karena itu, dialog antara Musa dan Firaun bukan sekadar diplomasi politik, tetapi konflik kosmis antara kerajaan Allah dan kerajaan kegelapan.
II. Kompromi Firaun: “Janganlah Kamu Pergi Terlalu Jauh” (Keluaran 8:28)
“Baik, aku akan membiarkan kamu pergi… hanya janganlah kamu pergi terlalu jauh.”
1. Strategi Dosa: Izin Setengah Hati
Firaun tampak menyerah, tetapi sebenarnya ia masih ingin mempertahankan kontrol.
R.C. Sproul mencatat bahwa dosa jarang menyerah total. Ia sering menawarkan kompromi yang tampak masuk akal.
Dalam konteks rohani, dunia mungkin berkata:
-
Silakan beribadah, tetapi jangan terlalu fanatik.
-
Percayalah kepada Tuhan, tetapi tetaplah dalam batas kenyamanan budaya.
2. Penyembahan yang Tidak Dapat Dibatasi
Bavinck menekankan bahwa penyembahan sejati menuntut ketaatan total kepada Allah. Allah tidak menerima penyembahan yang setengah hati.
Permintaan Firaun adalah bentuk pembatasan terhadap ketaatan. Ia ingin Israel tetap dalam jangkauan kontrol Mesir.
Secara teologis, ini menggambarkan bagaimana dosa ingin tetap memiliki akses terhadap hidup orang percaya.
III. Permintaan Doa: Iman atau Manipulasi? (Keluaran 8:28)
“Berdoalah untuk aku.”
Firaun meminta Musa berdoa baginya. Namun apakah ini tanda pertobatan?
1. Pertobatan Palsu
Calvin menegaskan bahwa Firaun tidak pernah sungguh bertobat. Permintaannya bersifat utilitarian—ia ingin tulah berhenti, bukan ingin mengenal TUHAN.
John Murray membedakan antara penyesalan karena konsekuensi dan pertobatan sejati karena kesadaran dosa terhadap Allah.
2. Anugerah Umum dan Kesabaran Allah
Meskipun hati Firaun keras, Allah tetap memberi kesempatan. Ini mencerminkan kesabaran ilahi.
Namun kesabaran itu tidak menghapus keadilan.
IV. Respons Musa: Doa dan Peringatan (Keluaran 8:29)
“Hanya janganlah Firaun berlaku curang lagi…”
1. Integritas Nabi Allah
Musa menunjukkan dua hal:
-
Ia tetap berdoa bagi Firaun.
-
Ia tidak naif terhadap potensi kecurangan Firaun.
Calvin memuji ketegasan Musa yang tetap setia kepada mandat Allah tanpa tunduk pada kompromi.
2. Allah yang Mengatur Waktu
Musa berkata bahwa tulah akan berhenti “besok.” Ini menunjukkan bahwa Allah bertindak sesuai waktu yang ditetapkan-Nya.
Meredith Kline melihat ini sebagai pola penghakiman perjanjian: Allah menyatakan kuasa-Nya dengan ketepatan yang tak terbantahkan.
V. Teologi Kekerasan Hati dalam Perspektif Reformed
Kisah Firaun tidak dapat dilepaskan dari doktrin kekerasan hati.
1. Kedaulatan Allah dan Tanggung Jawab Manusia
Roma 9 menjadikan Firaun contoh kedaulatan Allah.
Reformed theology menegaskan:
-
Allah berdaulat atas sejarah.
-
Manusia tetap bertanggung jawab atas dosanya.
Sproul menyatakan bahwa misteri ini bukan kontradiksi, tetapi harmoni dalam rencana Allah.
2. Kekerasan Hati sebagai Penghakiman
Bavinck menjelaskan bahwa ketika manusia terus menolak terang, Allah dapat menyerahkannya pada kekerasan hati.
Firaun menjadi contoh tragis dari hati yang semakin mengeras meski berulang kali menyaksikan kuasa Allah.
VI. Penyembahan sebagai Tujuan Pembebasan
Israel tidak dibebaskan hanya untuk bebas, tetapi untuk beribadah.
1. Teologi Reformed tentang Tujuan Manusia
Katekismus Westminster menyatakan:
“Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.”
Eksodus menunjukkan bahwa pembebasan selalu mengarah pada penyembahan.
2. Bahaya Penyembahan yang Dikontrol Dunia
Jika Israel tidak pergi “terlalu jauh,” mereka tetap berada dalam bayang-bayang Mesir.
Secara rohani, ini menggambarkan bahaya kekristenan nominal—beribadah tetapi tetap di bawah dominasi dunia.
VII. Dimensi Kristologis: Kristus sebagai Musa yang Lebih Besar
Eksodus menunjuk kepada Kristus.
-
Musa menjadi perantara.
-
Kristus adalah Pengantara sempurna.
-
Musa berdoa agar tulah diangkat.
-
Kristus menanggung murka Allah sepenuhnya.
Vos melihat eksodus sebagai prototipe keselamatan yang mencapai kepenuhannya di salib.
VIII. Aplikasi Pastoral: Kompromi yang Mengintai Gereja
-
Dunia mungkin mengizinkan kekristenan, selama tidak terlalu radikal.
-
Iman mungkin diterima, selama tidak mengganggu struktur dosa.
-
Penyembahan mungkin diizinkan, selama tetap dalam batas kenyamanan sosial.
Namun Allah memanggil umat-Nya untuk keluar sepenuhnya.
IX. Allah yang Setia dalam Penebusan
Walaupun Firaun berlaku curang berkali-kali, Allah tetap setia pada janji-Nya kepada Abraham.
Bavinck menekankan bahwa sejarah penebusan bergerak berdasarkan janji Allah, bukan respons manusia.
Keluaran 8:28–29 menunjukkan bahwa rencana Allah tidak dapat digagalkan oleh kompromi politik atau tipu daya manusia.
X. Refleksi Teologis: Antara Mesir dan Padang Gurun
Mesir melambangkan perbudakan dosa.
Padang gurun melambangkan perjalanan menuju perjanjian.
Israel harus pergi jauh, karena keselamatan sejati menuntut pemisahan radikal dari sistem lama.
Reformed theology memahami keselamatan sebagai transformasi total—bukan hanya perubahan status, tetapi perubahan arah hidup.
Kesimpulan: Tidak Ada Kebebasan Setengah Hati
Keluaran 8:28–29 memperlihatkan:
-
Strategi kompromi dari hati yang belum bertobat.
-
Kesetiaan Allah yang tidak dapat digagalkan.
-
Pentingnya penyembahan yang murni dan total.
-
Bahaya pertobatan yang hanya didorong oleh penderitaan.
Firaun berkata, “Janganlah kamu pergi terlalu jauh.”
Tetapi Allah menuntut kebebasan penuh untuk umat-Nya.
Dalam terang teologi Reformed, teks ini mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah kompromi antara Allah dan dosa, melainkan pembebasan total oleh anugerah yang berdaulat.
Kiranya kita tidak berhenti di wilayah kompromi rohani, tetapi sungguh keluar dari “Mesir” dosa untuk beribadah kepada Allah dengan hati yang utuh.
Soli Deo Gloria.