Keluaran 9:27–2: Pertobatan Semu di Bawah Murka Allah

Keluaran 9:27–2: Pertobatan Semu di Bawah Murka Allah

Keluaran 9:27–28 (AYT)

“Firaun menyuruh orang untuk memanggil Musa dan Harun, lalu berkata kepada mereka, ‘Kali ini, aku telah berdosa. TUHAN-lah yang benar. Aku dan rakyatku yang salah.’” (ay. 27)

“Berdoalah kepada TUHAN sebab ini sudah cukup! Jangan lagi ada guntur Allah dan hujan es ini. Setelah itu, aku akan membiarkan kalian pergi dan kalian tidak usah tinggal di sini lagi.’” (ay. 28)

Pendahuluan

Keluaran 9:27–28 merupakan salah satu momen paling dramatis dalam narasi tulah di Mesir. Setelah tulah ketujuh—hujan es yang dahsyat—Firaun akhirnya mengucapkan pengakuan dosa yang eksplisit. Ia berkata, “Kali ini, aku telah berdosa.” Ini adalah pertama kalinya dalam kitab Keluaran Firaun secara verbal mengakui kesalahannya dan membenarkan TUHAN.

Namun, pembaca yang mengikuti narasi selanjutnya segera mengetahui bahwa pengakuan ini tidak menghasilkan pertobatan sejati. Hatinya kembali mengeras (Kel. 9:34–35). Di sinilah muncul ketegangan teologis yang sangat dalam: apakah ini pertobatan sejati atau sekadar penyesalan sementara? Bagaimana relasi antara kedaulatan Allah dan pengerasan hati Firaun? Apa implikasi doktrin anugerah dalam konteks ini?

Dalam tradisi Teologi Reformed, perikop ini menjadi salah satu teks kunci untuk memahami natur pertobatan, doktrin pengerasan hati, dan kedaulatan Allah dalam sejarah penebusan.

I. Konteks Historis-Redemptif: Tulah sebagai Penghakiman dan Pewahyuan

Keluaran 9 berada di tengah rangkaian sepuluh tulah. Tulah ketujuh—hujan es bercampur api—adalah bentuk penghakiman yang belum pernah terjadi sebelumnya di Mesir (Kel. 9:18, 24). Tulah ini bukan sekadar bencana alam, melainkan tindakan teofanik: Allah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan atas alam, langit, dan dewa-dewa Mesir.

John Calvin dalam komentarnya atas Keluaran menyatakan bahwa tulah-tulah bukan hanya hukuman, tetapi “cermin kemuliaan Allah” yang bertujuan menyatakan supremasi-Nya atas seluruh ciptaan dan atas ilah-ilah palsu Mesir. Setiap tulah menyerang aspek religius dan kosmologis sistem Mesir.

Hujan es menghancurkan tanaman dan ternak, memukul ekonomi dan kebanggaan nasional. Dalam konteks inilah Firaun dipaksa untuk merespons.

II. Pengakuan Firaun: Bahasa Ortodoks Tanpa Hati yang Bertobat

Keluaran 9:27 sangat mencengangkan:

“Kali ini, aku telah berdosa. TUHAN-lah yang benar. Aku dan rakyatku yang salah.”

Secara verbal, ini tampak seperti pertobatan sejati. Ada tiga unsur:

  1. Pengakuan dosa pribadi (“aku telah berdosa”)

  2. Pengakuan kebenaran Allah (“TUHAN-lah yang benar”)

  3. Pengakuan kesalahan kolektif (“aku dan rakyatku yang salah”)

Secara teologis, ini adalah pengakuan yang ortodoks. Bahkan frasa “TUHAN-lah yang benar” menyentuh inti doktrin keadilan Allah.

Namun dalam perspektif Reformed, pertobatan sejati tidak hanya terdiri dari pengakuan verbal, tetapi melibatkan perubahan hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Louis Berkhof mendefinisikan pertobatan sejati sebagai “perubahan pikiran yang radikal, disertai dukacita karena dosa dan berbalik kepada Allah.”

Firaun menunjukkan penyesalan, tetapi bukan pertobatan yang lahir dari hati yang diperbarui.

III. Distingsi Reformed: Penyesalan Duniawi vs. Pertobatan Sejati

2 Korintus 7:10 membedakan antara “dukacita menurut kehendak Allah” dan “dukacita duniawi.” Firaun jelas mengalami dukacita duniawi. Ia menyesal karena konsekuensi, bukan karena kebenciannya terhadap dosa.

R.C. Sproul menjelaskan bahwa orang berdosa dapat merasa takut terhadap hukuman tanpa pernah membenci dosa itu sendiri. Ketika tekanan hilang, dosa kembali memegang kendali.

Hal ini terbukti dalam Keluaran 9:34:

“Ketika Firaun melihat bahwa hujan, hujan es, dan guntur itu telah berhenti, ia kembali berbuat dosa dan mengeraskan hatinya.”

Pengakuan dalam ayat 27 bukanlah buah dari anugerah regeneratif, melainkan respons pragmatis terhadap krisis.

IV. Permohonan Doa: Menginginkan Berkat Tanpa Penundukan

Keluaran 9:28 berbunyi:

“Berdoalah kepada TUHAN sebab ini sudah cukup! Jangan lagi ada guntur Allah dan hujan es ini.”

Firaun meminta Musa menjadi perantara. Ia tidak langsung berseru kepada TUHAN, tetapi meminta nabi untuk menghentikan hukuman.

Di sini kita melihat pola religius yang dangkal: menginginkan pelepasan dari murka tanpa penyerahan diri kepada kedaulatan Allah.

Herman Bavinck menekankan bahwa natur manusia berdosa adalah memanfaatkan Allah untuk kepentingannya sendiri. Manusia ingin berkat tanpa pertobatan, kelepasan tanpa ketaatan.

Firaun berkata, “Setelah itu, aku akan membiarkan kalian pergi.” Ini adalah janji bersyarat. Ia ingin negosiasi, bukan pertobatan.

V. Doktrin Pengerasan Hati: Kedaulatan Allah dan Tanggung Jawab Manusia

Perikop ini tidak bisa dilepaskan dari tema besar Keluaran: pengerasan hati Firaun.

Kitab Keluaran mencatat dua hal secara paralel:

  • Firaun mengeraskan hatinya.

  • TUHAN mengeraskan hati Firaun.

Teologi Reformed memahami ini dalam kerangka kompatibilisme: Allah berdaulat sepenuhnya, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas tindakannya.

Calvin menyatakan bahwa pengerasan hati bukan berarti Allah menciptakan kejahatan baru dalam hati manusia, melainkan membiarkan dan mengarahkan kecenderungan dosa yang sudah ada untuk menggenapi tujuan-Nya.

Roma 9:17–18 mengutip langsung peristiwa ini:

“Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Justru untuk itulah Aku membangkitkan engkau…’”

Dalam teologi Reformed, ini adalah bagian dari doktrin reprobasi: Allah dalam hikmat-Nya yang kekal mengizinkan sebagian orang tetap dalam pemberontakan mereka untuk menyatakan keadilan dan kemuliaan-Nya.

Namun ini tidak mengurangi tanggung jawab moral Firaun. Ia sungguh-sungguh berdosa dan bertindak sesuai keinginannya.

VI. Teologi Murka Allah: Penghakiman sebagai Sarana Pewahyuan

Hujan es disebut Firaun sebagai “guntur Allah.” Ia mulai mengenali bahwa ini bukan fenomena alam biasa.

Bavinck menulis bahwa murka Allah bukan ledakan emosi, tetapi ekspresi konsisten dari kekudusan-Nya terhadap dosa. Dalam Keluaran, murka Allah bersifat pedagogis dan redemptif: menyatakan diri-Nya kepada Israel dan bangsa-bangsa.

Namun bagi Firaun, murka ini tidak menghasilkan pertobatan sejati. Ini menunjukkan bahwa mukjizat dan hukuman, tanpa karya Roh Kudus, tidak dapat mengubah hati.

VII. Implikasi Kristologis dan Redemptif

Keluaran adalah tipologi besar tentang penebusan. Firaun melambangkan kuasa dosa dan perbudakan; Israel melambangkan umat tebusan.

Jika hati Firaun tetap keras meskipun melihat kuasa Allah, ini menegaskan kebutuhan akan hati yang baru—sesuatu yang hanya digenapi dalam perjanjian baru (Yehezkiel 36:26).

Dalam terang Injil, kita melihat kontras antara Firaun dan Kristus:

  • Firaun berkata, “Aku telah berdosa,” tetapi tidak berubah.

  • Kristus, yang tidak berdosa, menanggung hukuman bagi orang berdosa.

Penebusan sejati bukan sekadar pembebasan dari tulah, tetapi pembebasan dari hati yang keras.

VIII. Relevansi Pastoral: Bahaya Pertobatan Sementara

Keluaran 9:27–28 berbicara kuat kepada gereja masa kini.

Ada banyak “pertobatan Firaun”:

  • Pengakuan dosa saat krisis

  • Janji berubah saat sakit atau kesulitan

  • Kembali pada dosa saat tekanan hilang

Sproul mengingatkan bahwa ujian pertobatan sejati adalah ketekunan. Reformator berbicara tentang perseverance of the saints — orang yang sungguh-sungguh diperbarui akan bertahan dalam iman.

Firaun menunjukkan bahwa emosi religius tidak sama dengan kelahiran baru.

IX. Dimensi Doktrinal: Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak

Dalam sistem Reformed, keselamatan adalah karya anugerah yang efektif (irresistible grace). Jika Allah bermaksud menyelamatkan Firaun, hati itu akan dilunakkan secara efektif.

Namun dalam misteri kehendak Allah, Firaun dibiarkan dalam kekerasannya untuk menyatakan kemuliaan Allah di hadapan bangsa-bangsa.

Ini bukan ketidakadilan, sebab Firaun menerima apa yang pantas ia terima: penghakiman atas dosa yang nyata dan berulang.

X. Kesimpulan Teologis

Keluaran 9:27–28 mengajarkan beberapa kebenaran mendalam:

  1. Pengakuan verbal bukanlah jaminan pertobatan sejati.

  2. Dosa dapat membuat manusia hanya menyesal karena konsekuensi.

  3. Allah berdaulat bahkan atas hati para raja.

  4. Murka Allah menyatakan kekudusan-Nya.

  5. Tanpa anugerah regeneratif, hati manusia tetap keras.

Firaun berdiri sebagai peringatan sepanjang zaman: seseorang dapat mengakui kebenaran Allah tanpa pernah tunduk kepada-Nya.

Namun di balik kisah penghakiman ini, ada pengharapan: Allah yang sama yang mengeraskan hati Firaun adalah Allah yang melembutkan hati umat-Nya melalui karya Roh Kudus dalam Kristus.

Penutup Reflektif

Apakah kita pernah berkata seperti Firaun, “Aku telah berdosa,” tetapi hati kita tetap tidak berubah?

Keluaran 9:27–28 mengundang kita untuk memeriksa diri:

  • Apakah kita hanya ingin bebas dari konsekuensi?

  • Ataukah kita sungguh membenci dosa karena dosa itu melawan Allah?

Pertobatan sejati bukan sekadar berhenti dari tulah, tetapi berbalik kepada Tuhan dengan hati yang baru.

Previous Post