Markus 14:1–2: Kedaulatan Allah di Tengah Konspirasi Manusia
.jpg)
Markus 14:1–2 (AYT)
“Dua hari lagi, Hari Raya Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi akan berlangsung. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari cara untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan membunuh-Nya.”
“Sebab, mereka berkata, ‘Jangan dilakukan saat hari raya agar jangan terjadi kerusuhan di antara orang banyak.’”
Pendahuluan
Markus 14:1–2 membawa kita masuk ke dalam suasana menjelang penderitaan Kristus. Dua hari sebelum Paskah, para pemimpin agama Yahudi secara aktif merancang kematian Yesus. Dalam dua ayat ini, kita melihat pertemuan antara dua realitas besar: rencana jahat manusia dan rencana kekal Allah. Bagi tradisi Reformed, bagian ini bukan sekadar catatan sejarah tentang konspirasi religius, tetapi sebuah wahyu tentang providensia Allah, natur dosa manusia, dan penggenapan rencana penebusan yang telah ditetapkan sejak kekekalan.
Perikop ini adalah pintu gerbang menuju narasi sengsara. Di sinilah intensitas konflik mencapai puncaknya. Namun, ironisnya, ketika manusia merasa memegang kendali, justru Allah sedang menggenapi rencana-Nya yang tidak mungkin digagalkan.
I. Konteks Historis dan Teologis: Paskah dan Roti Tidak Beragi
Markus menandai waktu: “Dua hari lagi, Hari Raya Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi akan berlangsung.” Ini bukan detail kronologis biasa. Paskah (Pesach) adalah peringatan pembebasan Israel dari perbudakan Mesir (Keluaran 12). Darah anak domba yang dioleskan pada ambang pintu menyelamatkan umat dari penghukuman Allah.
Dalam teologi Reformed, tipologi sangat penting. Paskah adalah bayangan (shadow) dari Kristus sebagai Anak Domba Allah. Herman Bavinck menegaskan bahwa seluruh sistem korban Perjanjian Lama mencapai klimaksnya dalam Kristus. Paskah bukan hanya peringatan sejarah, tetapi nubuat liturgis tentang penebusan.
Bahwa Yesus akan mati tepat pada masa Paskah bukan kebetulan. Ini adalah providensia ilahi. Louis Berkhof menyatakan bahwa dalam doktrin providensia, Allah tidak hanya mengetahui, tetapi juga menetapkan dan memimpin segala sesuatu menuju tujuan yang telah ditentukan-Nya. Waktu kematian Kristus telah ditetapkan dalam kalender kekal Allah.
Ironi ilahi muncul di sini: para imam sedang mempersiapkan perayaan pembebasan, sementara mereka sendiri merencanakan pembunuhan terhadap Sang Pembebas sejati.
II. Natur Dosa dan Kebencian Religius
Markus 14:1 menyatakan: “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari cara untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan membunuh-Nya.”
Kita melihat tiga unsur penting:
-
Subjek: pemimpin agama
-
Metode: tipu muslihat
-
Tujuan: pembunuhan
Dalam perspektif Reformed, dosa bukan sekadar kelemahan moral, tetapi pemberontakan radikal terhadap Allah (total depravity). Yohanes Calvin, dalam Institutes, menekankan bahwa hati manusia adalah “pabrik berhala” (idol factory). Bahkan pemimpin agama pun tidak kebal terhadap kebobrokan hati.
Para imam bukan ateis; mereka religius. Namun religiusitas tanpa anugerah menghasilkan kebencian terhadap terang. R.C. Sproul menegaskan bahwa dosa membuat manusia membenci kekudusan Allah, sebab kekudusan itu menyingkapkan kerusakan batin mereka. Yesus, sebagai terang dunia, menjadi ancaman bagi sistem religius yang munafik.
Tipu muslihat (δόλος dalam bahasa Yunani) menunjukkan intensi tersembunyi. Mereka tidak mencari keadilan, tetapi strategi. Dosa sering kali bersifat kalkulatif dan dingin. Ini adalah kejahatan yang terorganisir.
Dalam terang Roma 3:10–18, kita melihat bahwa tidak ada yang benar, bahkan satu pun tidak. Markus 14:1–2 adalah ilustrasi konkret dari doktrin tersebut.
III. Ketakutan akan Manusia dan Kedaulatan Allah
Markus 14:2 menyatakan:
“Sebab, mereka berkata, ‘Jangan dilakukan saat hari raya agar jangan terjadi kerusuhan di antara orang banyak.’”
Di sini tersingkap motivasi politis. Mereka takut akan reaksi massa. Mereka tidak takut akan Allah, tetapi takut akan manusia.
Calvin berulang kali memperingatkan bahwa “takut akan manusia adalah jerat.” Ketika otoritas rohani lebih peduli pada stabilitas sosial daripada kebenaran ilahi, maka kompromi menjadi tak terhindarkan.
Namun di sinilah ironi providensia Allah bekerja. Mereka berkata: “Jangan saat hari raya.” Tetapi Yesus justru disalibkan pada masa Paskah.
Apa artinya?
Artinya rencana manusia tidak pernah bisa menggagalkan rencana Allah. Kisah Para Rasul 2:23 menyatakan bahwa Yesus diserahkan “menurut maksud dan rencana Allah yang sudah ditentukan.” Dalam teologi Reformed, ini disebut sebagai decretum absolutum — ketetapan mutlak Allah.
Herman Ridderbos menekankan bahwa kerajaan Allah dalam Injil bukanlah reaksi terhadap peristiwa sejarah, melainkan penggenapan rencana yang telah ditetapkan. Salib bukan kecelakaan tragis; salib adalah pusat sejarah penebusan.
Para pemimpin agama ingin menghindari kerusuhan. Allah justru memakai momentum nasional terbesar Israel untuk menyatakan Anak Domba sejati. Ketika ribuan anak domba Paskah disembelih, Anak Domba Allah tergantung di kayu salib.
IV. Kristologi: Yesus sebagai Anak Domba Paskah
Markus 14:1–2 harus dibaca dalam terang keseluruhan narasi Injil. Sejak awal, Markus telah menyatakan Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah (Markus 1:1). Kini identitas itu diuji melalui penderitaan.
Teologi Reformed menekankan karya penebusan Kristus dalam kerangka penal substitutionary atonement — penebusan pengganti yang bersifat penghukuman. Yesus mati menggantikan umat-Nya, menanggung murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada mereka.
Bavinck menulis bahwa dalam salib, keadilan dan kasih Allah bertemu secara sempurna. Allah tidak mengabaikan dosa; Ia menghukumnya dalam diri Putra-Nya.
Fakta bahwa rencana pembunuhan terjadi menjelang Paskah menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan tipologi Keluaran 12. Darah-Nya menjadi tanda keselamatan, bukan pada tiang pintu, tetapi pada hati orang percaya.
V. Ketegangan antara Tanggung Jawab Manusia dan Kedaulatan Allah
Markus tidak mengurangi tanggung jawab para imam. Mereka secara aktif “mencari cara” untuk membunuh Yesus. Ini adalah keputusan moral yang sadar.
Namun dalam teologi Reformed, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Berkhof menjelaskan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu, tetapi dengan cara yang tidak menghancurkan kebebasan moral manusia. Konspirasi ini sepenuhnya jahat, namun sepenuhnya berada dalam rencana Allah.
Ini adalah misteri kompatibilisme:
-
Manusia bertindak sesuai kehendaknya.
-
Allah tetap berdaulat sepenuhnya.
Kisah Yusuf dalam Kejadian 50:20 menjadi paralel: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Markus 14:1–2 adalah versi Perjanjian Baru dari prinsip tersebut.
VI. Kritik terhadap Agama Tanpa Injil
Perikop ini juga merupakan peringatan bagi gereja sepanjang zaman. Para imam dan ahli Taurat adalah penjaga ortodoksi Yahudi. Namun mereka gagal mengenali Mesias.
Sproul mengingatkan bahwa mungkin saja seseorang memiliki sistem teologi yang benar tetapi hati yang belum diperbarui. Ortodoksi tanpa regenerasi menghasilkan legalisme dan kebencian.
Markus memperlihatkan bahwa institusi religius dapat menjadi alat penindasan ketika kehilangan pusatnya pada Allah yang hidup. Di sini, sistem keagamaan justru menjadi alat pembunuhan terhadap Sang Juruselamat.
VII. Dimensi Pastoral: Penghiburan bagi Orang Percaya
Bagi orang percaya, Markus 14:1–2 adalah sumber penghiburan mendalam.
-
Allah berdaulat atas kejahatan.
-
Tidak ada konspirasi yang dapat menggagalkan rencana-Nya.
-
Bahkan penderitaan Kristus adalah bagian dari kasih Allah yang kekal.
Jika Allah mengendalikan peristiwa terbesar dan paling jahat dalam sejarah — penyaliban Anak-Nya — maka Ia juga mengendalikan setiap detail kehidupan umat-Nya.
Calvin menyatakan bahwa providensia adalah “doktrin yang paling manis.” Tanpa keyakinan bahwa Allah memerintah, hati manusia akan dipenuhi ketakutan. Markus 14:1–2 mengajarkan bahwa di balik rencana jahat manusia, ada tangan Allah yang penuh hikmat.
VIII. Aplikasi Teologis
1. Keseriusan Dosa
Dosa bukan sekadar kelemahan; ia dapat berkembang menjadi konspirasi melawan Allah sendiri.
2. Bahaya Ketakutan akan Manusia
Pemimpin agama lebih takut pada massa daripada pada Tuhan. Ini peringatan bagi setiap pelayan gereja.
3. Kepastian Rencana Penebusan
Salib bukan kegagalan misi Mesias, tetapi puncak misi tersebut.
4. Pengharapan Eskatologis
Sebagaimana Allah menggenapi rencana-Nya dalam salib, Ia juga akan menggenapi rencana-Nya dalam kedatangan Kristus kembali.
Kesimpulan
Markus 14:1–2 adalah pintu masuk menuju misteri terbesar dalam sejarah: kematian Anak Allah. Dalam dua ayat ini, kita melihat:
-
Kejahatan religius manusia
-
Ketakutan politis
-
Providensia ilahi
-
Penggenapan tipologi Paskah
-
Awal dari klimaks penebusan
Teologi Reformed membantu kita melihat bahwa tidak ada detail yang kebetulan. Waktu, tempat, dan cara semuanya berada dalam dekret Allah yang kekal.
Di tengah konspirasi manusia, takhta Allah tetap teguh.
Di tengah tipu muslihat, kebenaran Allah tetap berjalan.
Di tengah rencana pembunuhan, rencana keselamatan sedang digenapi.
Salib bukanlah tragedi; salib adalah kemenangan.