Keluaran 9:5–7: Allah yang Membeda-bedakan
.jpg)
Pendahuluan: Tulah sebagai Pewahyuan Diri Allah
Perikop Keluaran 9:5–7 berada dalam rangkaian tulah atas Mesir. Tulah kelima—kematian ternak—adalah bagian dari penghakiman progresif Allah terhadap Firaun dan bangsa Mesir. Namun dalam teologi Reformed, tulah-tulah ini bukan sekadar hukuman historis, melainkan wahyu tentang karakter Allah: kekudusan-Nya, kedaulatan-Nya, keadilan-Nya, dan kesetiaan-Nya terhadap perjanjian.
Di sini kita melihat tiga tema besar:
-
Allah yang menentukan waktu dan sejarah.
-
Allah yang membedakan antara umat perjanjian dan dunia.
-
Misteri kekerasan hati manusia di bawah penghakiman ilahi.
Tokoh-tokoh Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, dan R.C. Sproul memberikan wawasan mendalam tentang dinamika kedaulatan dan tanggung jawab manusia dalam narasi ini.
I. “TUHAN Menentukan Waktunya” — Kedaulatan atas Sejarah (Keluaran 9:5)
“Selanjutnya TUHAN menentukan waktunya…”
Ayat ini menegaskan bahwa Allah bukan sekadar bereaksi terhadap tindakan Firaun. Ia menentukan waktu. Ia menetapkan hari. Ia mengatur kronologi.
Dalam teologi Reformed, ini berkaitan dengan doktrin dekret kekal Allah (eternal decree). Allah tidak bekerja secara improvisasi dalam sejarah. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana-Nya yang kekal (Efesus 1:11).
Calvin dalam Institutes menegaskan bahwa providensia Allah mencakup setiap detail, termasuk waktu terjadinya peristiwa.
Bahwa Allah berkata “besok” menunjukkan:
-
Kepastian penghakiman,
-
Kontrol penuh atas alam,
-
Otoritas atas waktu.
Berbeda dengan dewa-dewa Mesir yang terbatas dan terikat pada wilayah tertentu, TUHAN menunjukkan supremasi mutlak.
II. Tulah sebagai Penghakiman terhadap Ilah-ilah Mesir
Ternak dalam budaya Mesir memiliki makna religius dan ekonomi. Dewa-dewa seperti Hathor dan Apis diasosiasikan dengan lembu dan kesuburan ternak.
Dengan mematikan ternak Mesir, Allah bukan hanya menghukum ekonomi mereka, tetapi juga menghancurkan simbol-simbol kepercayaan mereka.
Herman Bavinck menyatakan bahwa dalam sejarah penebusan, Allah menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar melalui tindakan penghakiman dan keselamatan.
Tulah bukan hanya destruktif; ia juga polemis. Ia menyingkapkan ketidakberdayaan berhala.
III. Pembedaan Perjanjian: Tidak Seekorpun dari Israel Mati (Keluaran 9:6)
“…tetapi dari ternak orang Israel tidak ada seekorpun yang mati.”
Inilah inti teologis dari perikop ini.
Allah membedakan.
Tema ini berulang dalam kisah tulah. Allah secara aktif memisahkan Israel dari Mesir.
Dalam perspektif Reformed, ini adalah bayangan doktrin pemilihan (election).
Geerhardus Vos menekankan bahwa sejak awal sejarah penebusan, Allah bekerja melalui prinsip pemisahan:
-
Kain dan Habel,
-
Nuh dan dunia,
-
Abraham dan bangsa-bangsa,
-
Israel dan Mesir.
Pembedaan ini bukan karena keunggulan moral Israel, melainkan karena anugerah perjanjian (Ulangan 7:7–8).
R.C. Sproul sering menekankan bahwa anugerah yang menyelamatkan selalu bersifat diskriminatif dalam arti ilahi—Allah memilih sebagian bukan karena jasa, tetapi karena kehendak-Nya yang bebas.
Ini bukan ketidakadilan. Yang mengejutkan bukan bahwa Mesir dihukum, tetapi bahwa Israel dilindungi.
IV. Keadilan dan Anugerah dalam Ketegangan
Ternak Mesir mati. Israel selamat.
Apakah ini adil?
Dalam teologi Reformed, semua manusia layak menerima hukuman karena dosa. Jika Allah menghukum, Ia adil. Jika Ia menyelamatkan, itu anugerah.
Berkhof menegaskan bahwa keadilan dan belas kasihan Allah tidak bertentangan. Dalam Mesir, kita melihat keadilan-Nya. Dalam Israel, kita melihat belas kasihan-Nya.
Narasi ini mempersiapkan pembaca untuk memahami karya salib:
-
Penghakiman jatuh,
-
Tetapi umat pilihan dilindungi melalui perantaraan darah (Kel. 12).
V. Firaun Memeriksa Fakta (Keluaran 9:7)
“Lalu Firaun menyuruh orang ke sana…”
Menarik bahwa Firaun tidak mengabaikan informasi ini. Ia memverifikasi.
Artinya, ia sadar bahwa ada pembedaan ilahi yang nyata.
Namun kesadaran fakta tidak menghasilkan pertobatan.
Ini memperlihatkan perbedaan antara pengetahuan kognitif dan pertobatan hati.
Dalam Roma 1, Paulus menjelaskan bahwa manusia dapat mengetahui kebenaran Allah, tetapi menekannya dalam kelaliman.
VI. Kekerasan Hati: Misteri Tanggung Jawab dan Kedaulatan
“Tetapi Firaun tetap berkeras hati…”
Kitab Keluaran berulang kali menyatakan bahwa:
-
Firaun mengeraskan hatinya,
-
dan Allah mengeraskan hati Firaun.
Teologi Reformed memahami ini melalui konsep kompatibilisme:
Allah berdaulat penuh, tetapi manusia tetap bertanggung jawab.
Calvin menulis bahwa Allah tidak menanamkan kejahatan baru dalam hati Firaun. Ia menyerahkan Firaun kepada kecenderungan jahatnya sendiri sebagai bentuk penghakiman.
R.C. Sproul menjelaskan bahwa pengerasan hati adalah tindakan penghakiman aktif Allah dengan menarik anugerah penahan (restraining grace).
Firaun melihat mukjizat. Ia menyelidiki fakta. Ia tetap menolak.
Ini menunjukkan bahwa mujizat tidak melunakkan hati yang telah membatu.
VII. Dimensi Kristologis: Bayangan Penghakiman dan Penebusan
Tulah kelima adalah bayangan dari penghakiman terakhir.
Namun dalam sejarah penebusan, pola ini mencapai puncaknya di salib.
Di Mesir:
-
Penghakiman menimpa yang tidak berada dalam perjanjian.
-
Israel dilindungi.
Di salib:
-
Penghakiman Allah dicurahkan atas Kristus,
-
agar umat pilihan dibebaskan.
Bavinck menyatakan bahwa seluruh kisah eksodus adalah tipologi besar tentang keselamatan dalam Kristus.
Eksodus menunjuk kepada pembebasan yang lebih besar.
VIII. Eskatologi dan Pembedaan Akhir
Pola pembedaan dalam Keluaran 9 mengarah pada penghakiman akhir.
Yesus berbicara tentang pemisahan domba dan kambing (Mat. 25).
Markus 13 dan Wahyu 16 menggambarkan penghakiman kosmis yang juga bersifat diskriminatif.
Dalam perspektif Reformed, Allah tidak kehilangan satu pun umat pilihan-Nya. Sebagaimana ternak Israel tidak tersentuh, demikian pula mereka yang berada dalam Kristus tidak akan binasa.
IX. Implikasi Pastoral
-
Allah berdaulat atas waktu dan sejarah.
-
Penghakiman Allah nyata dan serius.
-
Anugerah Allah bersifat khusus dan efektif.
-
Hati yang keras dapat tetap menolak sekalipun bukti nyata diberikan.
Narasi ini mengingatkan gereja untuk tidak mengandalkan tanda-tanda lahiriah, tetapi memohon hati yang dilembutkan oleh Roh Kudus.
X. Refleksi Teologis Mendalam
Keluaran 9:5–7 memperlihatkan dinamika besar antara:
-
Dekret Allah,
-
Penghakiman historis,
-
Pemeliharaan umat perjanjian,
-
dan kekerasan hati manusia.
Allah tidak hanya menyelamatkan Israel; Ia sedang membentuk identitas mereka sebagai umat yang dipisahkan bagi-Nya.
Eksodus adalah proklamasi bahwa Allah adalah TUHAN atas segala bangsa.
Dan dalam perspektif Reformed, setiap detail sejarah ini mengarah kepada Kristus, Sang Anak Domba yang akan menanggung penghakiman agar umat-Nya tidak binasa.
Kesimpulan: Allah yang Memisahkan dan Menyatakan Kemuliaan-Nya
Keluaran 9:5–7 bukan sekadar kisah wabah ternak.
Ia adalah:
-
Deklarasi kedaulatan Allah atas waktu dan alam,
-
Pernyataan pembedaan perjanjian,
-
Gambaran keadilan dan anugerah,
-
Cermin kekerasan hati manusia,
-
dan bayangan keselamatan dalam Kristus.
Allah yang sama yang menentukan “besok” di Mesir adalah Allah yang mengatur sejarah hingga kedatangan Kristus kembali.
Ia memisahkan terang dari gelap.
Ia memisahkan umat-Nya dari dunia.
Dan suatu hari Ia akan memisahkan yang benar dari yang jahat dalam penghakiman terakhir.
Bagi umat pilihan, ini adalah penghiburan.
Bagi hati yang keras, ini adalah peringatan.