Markus 13:24–27: Kedatangan Anak Manusia dalam Kemuliaan

Markus 13:24–27: Kedatangan Anak Manusia dalam Kemuliaan

Pendahuluan: Di Antara Nubuat dan Penggenapan

Markus 13 sering disebut sebagai Khotbah Eskatologis Yesus. Di dalamnya, Kristus berbicara tentang penderitaan, penganiayaan, kehancuran Bait Allah, dan kedatangan Anak Manusia. Markus 13:24–27 adalah klimaks bagian tersebut: deskripsi kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan dan pengumpulan orang-orang pilihan.

Tradisi Reformed membaca bagian ini dalam kerangka sejarah penebusan dan eskatologi alkitabiah yang berhati-hati, menghindari spekulasi sensasional tetapi menegaskan kepastian kedatangan Kristus yang kedua kali.

Tokoh-tokoh seperti John Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, Anthony Hoekema, dan R.C. Sproul memberikan kontribusi penting dalam memahami bagian ini secara teologis dan redemptif.

I. “Sesudah Siksaan Itu”: Konteks Penderitaan dan Sejarah Penebusan (Markus 13:24)

Yesus berkata, “sesudah siksaan itu…”

Frasa ini menunjuk pada masa penderitaan besar yang telah Ia uraikan sebelumnya. Dalam konteks historis, ini berkaitan dengan kehancuran Yerusalem tahun 70 M. Namun dalam perspektif Reformed, peristiwa itu juga menjadi bayangan dari pola penderitaan gereja sepanjang zaman.

Geerhardus Vos menekankan bahwa eskatologi Perjanjian Baru memiliki karakter already and not yet. Kehancuran Yerusalem adalah penghakiman historis yang nyata, tetapi juga tipologi dari penghakiman akhir.

Yesus menyatakan bahwa setelah masa penderitaan, tanda-tanda kosmis akan terjadi.

II. Bahasa Kosmik dan Simbolisme Apokaliptik (Markus 13:24–25)

“Matahari akan menjadi gelap… bulan tidak bercahaya… bintang-bintang berjatuhan…”

Bahasa ini bersifat apokaliptik. Dalam Perjanjian Lama (Yesaya 13:10; Yoel 2:31), fenomena kosmik seperti ini sering dipakai untuk menggambarkan penghakiman Allah atas bangsa-bangsa.

John Calvin memperingatkan agar kita tidak selalu memahami bahasa ini secara harfiah astronomis. Ia melihatnya sebagai gambaran simbolis tentang runtuhnya tatanan dunia lama.

Namun demikian, teologi Reformed tetap mengakui bahwa pada kedatangan Kristus yang kedua, akan ada transformasi kosmik yang nyata (Roma 8:19–22).

Herman Bavinck menjelaskan bahwa kejatuhan manusia berdampak kosmis, sehingga penebusan juga bersifat kosmis. Ketika Kristus datang kembali, seluruh ciptaan akan diperbarui.

Kuasa-kuasa langit yang goncang melambangkan runtuhnya sistem dunia yang berdosa. Kerajaan manusia diguncangkan agar Kerajaan Allah dinyatakan sepenuhnya.

III. Anak Manusia Datang dalam Awan (Markus 13:26)

“Orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan…”

Frasa ini merujuk langsung pada Daniel 7:13–14. Dalam penglihatan Daniel, Anak Manusia datang dengan awan-awan kepada Yang Lanjut Usianya dan menerima kuasa serta kerajaan yang kekal.

Dalam teologi Reformed, gelar “Anak Manusia” menegaskan dua hal:

  1. Solidaritas Kristus dengan umat manusia.

  2. Otoritas ilahi-Nya sebagai Raja Mesianik.

Awan-awan dalam Alkitab sering melambangkan kehadiran ilahi (Shekinah). Jadi kedatangan dalam awan bukan sekadar transportasi simbolis, melainkan pernyataan kemuliaan ilahi.

Louis Berkhof menegaskan bahwa kedatangan kedua Kristus akan bersifat:

  • Pribadi,

  • Kelihatan,

  • Tubuhiah,

  • dan penuh kemuliaan.

Tidak seperti kedatangan pertama-Nya dalam kerendahan, kedatangan kedua akan dinyatakan dengan kekuasaan.

IV. Dimensi Penghakiman dan Kedaulatan

“Kekuasaan dan kemuliaan-Nya.”

R.C. Sproul menekankan bahwa eskatologi bukan terutama tentang kronologi, tetapi tentang Kristologi. Fokus utama Markus 13 adalah supremasi Kristus.

Ia datang sebagai Hakim.

Dalam Pengakuan Iman Westminster ditegaskan bahwa Kristus akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.

Kedatangan ini bukan peristiwa rahasia atau tersembunyi. Ia akan dilihat oleh semua orang. Ini menolak pandangan yang memisahkan secara ekstrem antara “rapture” tersembunyi dan kedatangan publik.

V. Pengumpulan Orang-Orang Pilihan (Markus 13:27)

“Ia akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya…”

Di sinilah inti pengharapan Reformed.

Istilah “orang-orang pilihan” (elect) adalah istilah perjanjian. Ini menunjuk pada mereka yang telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4).

Anthony Hoekema menjelaskan bahwa pemilihan bukanlah doktrin spekulatif, melainkan sumber penghiburan. Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan umat Allah aman sampai akhir.

Pengumpulan ini bersifat universal:

  • Dari keempat penjuru bumi,

  • Dari ujung bumi sampai ujung langit.

Ini menegaskan sifat global gereja.

Geerhardus Vos melihat ini sebagai penggenapan janji Abraham bahwa segala bangsa akan diberkati melalui keturunannya.

VI. Eskatologi Reformed: Amilenialisme Historis

Banyak teolog Reformed menganut pandangan amilenial atau bentuk eskatologi yang melihat kerajaan seribu tahun sebagai realitas sekarang dalam pemerintahan Kristus yang telah bangkit.

Dalam kerangka ini:

  • Markus 13:24–27 menunjuk pada kedatangan Kristus yang tunggal dan final.

  • Tidak ada dua tahap kedatangan yang terpisah secara drastis.

Bavinck menekankan kesatuan peristiwa akhir: kebangkitan, penghakiman, dan pembaruan ciptaan terjadi dalam satu rangkaian klimaks ilahi.

VII. Dimensi Kosmis Penebusan

Bahasa kosmik dalam ayat 24–25 menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya soal jiwa individu.

Roma 8 menyatakan bahwa seluruh ciptaan menantikan pembebasan.

Dalam perspektif Reformed:

  • Penebusan bersifat personal,

  • tetapi juga kosmis.

Ketika Kristus datang kembali, dunia yang rusak akan diperbarui. Ini bukan pemusnahan total, melainkan transformasi.

Bavinck menulis bahwa Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya, tetapi memulihkannya.

VIII. Kristologi Eskatologis

Markus 13:26 menempatkan Kristus sebagai pusat sejarah.

Ia adalah:

  • Hakim terakhir,

  • Raja yang dimahkotai,

  • Gembala yang mengumpulkan umat-Nya.

Pengumpulan orang-orang pilihan mencerminkan fungsi gembala (Yohanes 10). Ia tidak kehilangan satu pun domba-Nya.

Calvin menegaskan bahwa keamanan orang percaya terletak pada kesetiaan Kristus, bukan pada kekuatan iman mereka.

IX. Penghiburan bagi Gereja yang Menderita

Markus 13 disampaikan dalam konteks ancaman dan penganiayaan.

Pesannya jelas:

  • Penderitaan bukan akhir cerita.

  • Kerajaan Allah akan menang.

  • Kristus akan datang kembali.

Bagi gereja yang teraniaya, ayat ini adalah janji bahwa sejarah berada dalam tangan Kristus.

X. Implikasi Pastoral dan Teologis

  1. Hidup dalam kewaspadaan dan pengharapan.

  2. Menolak spekulasi berlebihan tentang kronologi akhir zaman.

  3. Berpegang pada kepastian pemilihan Allah.

  4. Mengarahkan fokus pada Kristus, bukan pada tanda-tanda semata.

Eskatologi yang sehat menghasilkan kesetiaan, bukan ketakutan.

Kesimpulan: Kemuliaan yang Akan Dinyatakan

Markus 13:24–27 adalah deklarasi kemenangan akhir Kristus.

  • Matahari mungkin gelap,

  • Bintang mungkin jatuh,

  • Kuasa dunia mungkin runtuh,

tetapi Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan.

Ia akan mengumpulkan umat pilihan-Nya.
Tidak satu pun akan hilang.
Tidak satu pun janji Allah gagal.

Sejarah bergerak menuju satu titik: manifestasi kemuliaan Kristus.

Bagi orang percaya, kedatangan itu adalah pengharapan.
Bagi dunia yang menolak-Nya, itu adalah penghakiman.

Dan dalam semuanya, Allah dimuliakan.

Previous Post