Kesukaan Allah atas Kemajuan Orang Benar

Kesukaan Allah atas Kemajuan Orang Benar

Pendahuluan: Allah yang Bersukacita atas Pertumbuhan Umat-Nya

Di dalam tradisi teologi Reformed, Allah bukanlah Pribadi yang jauh dan tidak terlibat, melainkan Allah yang berdaulat sekaligus penuh perkenanan terhadap karya anugerah-Nya di dalam umat-Nya. Salah satu tema yang jarang dibahas secara mendalam adalah bahwa Allah berkenan melihat kemajuan rohani orang benar. Ia bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memelihara, menyucikan, dan bersukacita atas pertumbuhan mereka.

Konsep ini berakar dalam pemahaman Reformed tentang anugerah efektif (effectual grace) dan pengudusan (sanctification) sebagai karya Roh Kudus yang nyata dalam sejarah hidup orang percaya. Allah tidak sekadar membenarkan orang fasik; Ia membentuk mereka menjadi serupa dengan Kristus dan berkenan atas proses itu.

Artikel ini akan mengeksplorasi tema ini melalui eksposisi beberapa teks Alkitab dan dialog dengan para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Jonathan Edwards, dan Louis Berkhof.

1. Dasar Alkitabiah: Allah Berkenan atas Jalan Orang Benar

Salah satu teks penting adalah Mazmur 37:23:
“Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya, dan Ia menyukai jalannya.”

Dalam tradisi Reformed, ayat ini tidak dipahami sebagai pernyataan sentimental, melainkan teologis. Kata “menetapkan” menunjukkan kedaulatan Allah dalam memimpin langkah umat-Nya. Sementara “menyukai jalannya” menunjukkan relasi perkenanan.

John Calvin dalam komentarnya atas Mazmur menekankan bahwa kesukaan Allah bukanlah reaksi pasif terhadap usaha manusia, tetapi buah dari karya-Nya sendiri di dalam mereka. Allah menyukai jalan orang benar karena jalan itu adalah hasil dari anugerah-Nya yang bekerja efektif. Dengan kata lain, Allah berkenan atas karya tangan-Nya sendiri.

Hal ini sejalan dengan Efesus 2:10 yang menyatakan bahwa kita adalah “ciptaan-Nya, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.” Dalam kerangka Reformed, pertumbuhan rohani adalah realitas objektif yang berasal dari inisiatif Allah.

2. Pembenaran dan Pengudusan: Fondasi Kemajuan Rohani

Teologi Reformed membedakan dengan jelas antara pembenaran (justification) dan pengudusan (sanctification), tetapi tidak pernah memisahkannya. Louis Berkhof menjelaskan bahwa pembenaran adalah tindakan forensik Allah yang menyatakan orang berdosa benar di dalam Kristus, sedangkan pengudusan adalah karya progresif Roh Kudus yang memurnikan mereka.

Kemajuan orang benar bukanlah dasar penerimaan mereka di hadapan Allah. Justru sebaliknya, karena mereka telah diterima, mereka dimampukan untuk bertumbuh.

Herman Bavinck menegaskan bahwa keselamatan bersifat organik. Artinya, seperti pohon yang hidup, ia bertumbuh secara alami karena memiliki akar yang sehat. Pengudusan bukanlah proyek manusia yang terpisah dari pembenaran, melainkan ekspresi kehidupan baru yang telah ditanamkan.

Di sinilah letak keindahan doktrin Reformed: Allah tidak hanya memulai keselamatan, tetapi juga menyempurnakannya. Filipi 1:6 menjadi dasar pengharapan bahwa Dia yang memulai pekerjaan baik akan menyelesaikannya.

3. Sukacita Ilahi dan Kemuliaan Allah

Dalam teologi Jonathan Edwards, kemuliaan Allah dinyatakan dalam komunikasi kasih dan sukacita-Nya kepada ciptaan. Allah memuliakan diri-Nya dengan membagikan kebaikan-Nya. Oleh karena itu, ketika orang benar bertumbuh dalam kekudusan, Allah dimuliakan dan sekaligus bersukacita.

Edwards menolak gagasan bahwa Allah bersifat statis atau tidak peduli terhadap sejarah. Ia menekankan bahwa sejarah penebusan adalah panggung kemuliaan Allah. Kemajuan orang benar adalah bagian dari drama besar tersebut.

Dalam perspektif ini, pertumbuhan rohani bukanlah sekadar kewajiban moral, melainkan partisipasi dalam tujuan kekal Allah. Allah bersukacita karena melalui pertumbuhan itu, kemuliaan Kristus semakin nyata.

4. Perjuangan Melawan Dosa sebagai Tanda Kemajuan

John Owen, dalam karyanya The Mortification of Sin, mengajarkan bahwa pertumbuhan rohani tidak berarti bebas dari pergumulan. Justru perjuangan aktif melawan dosa adalah bukti kehidupan rohani.

Allah tidak berkenan pada kesempurnaan palsu, tetapi pada hati yang terus bergumul dalam pertobatan. Orang benar mungkin jatuh, tetapi ia tidak tinggal di dalam dosa. Kemajuannya sering kali terlihat dalam kedalaman pertobatan dan ketergantungannya pada anugerah.

Dalam Roma 8, Paulus menjelaskan bahwa Roh Kudus memimpin orang percaya untuk mematikan perbuatan daging. Di sini terlihat keseimbangan khas Reformed: Allah bekerja, tetapi manusia juga dipanggil untuk bertindak. Kemajuan adalah sinergi di bawah kedaulatan anugerah.

5. Ketekunan Orang Kudus: Jaminan Kemajuan Sejati

Salah satu doktrin khas Reformed adalah perseverance of the saints (ketekunan orang kudus). Doktrin ini menyatakan bahwa mereka yang benar-benar diselamatkan akan dipelihara sampai akhir.

Namun, ketekunan bukanlah stagnasi. Ia adalah perjalanan yang nyata. Orang benar tidak sekadar bertahan, tetapi maju. Amsal 4:18 menggambarkan jalan orang benar seperti cahaya fajar yang makin terang sampai rembang tengah hari.

Calvin menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya berhenti di tengah jalan. Jika ada kemunduran, itu bersifat sementara dan dipakai untuk mendidik. Allah setia memulihkan dan memimpin mereka ke arah kematangan.

Ketekunan menjadi bukti bahwa kemajuan sejati bersumber dari kesetiaan Allah, bukan kekuatan manusia.

6. Dimensi Pastoral: Menghibur dan Menegur

Tema kesukaan Allah atas kemajuan orang benar memiliki implikasi pastoral yang dalam. Bagi mereka yang lemah, ini adalah penghiburan: Allah melihat setiap langkah kecil ketaatan. Ia bukan hakim yang mencari-cari kesalahan, tetapi Bapa yang bersukacita atas pertumbuhan anak-Nya.

Namun, ini juga menjadi teguran. Jika tidak ada pertumbuhan sama sekali, kita perlu menguji diri. Tradisi Reformed selalu menekankan pentingnya pemeriksaan diri (self-examination), bukan untuk meragukan keselamatan secara obsesif, tetapi untuk memastikan bahwa iman itu hidup.

Tim Keller sering menekankan bahwa Injil menghasilkan perubahan nyata. Jika Injil tidak mengubah kita, mungkin kita belum benar-benar memahaminya.

7. Menuju Kesempurnaan dalam Kemuliaan

Kemajuan orang benar di dunia ini belum sempurna. Ia sering lambat dan penuh air mata. Namun, dalam perspektif eskatologis, pertumbuhan ini menuju kesempurnaan.

Bavinck menulis bahwa pengudusan di dunia ini adalah awal dari kemuliaan yang akan datang. Allah yang bersukacita atas kemajuan kecil hari ini akan menyempurnakannya dalam kekekalan.

Di surga kelak, orang benar akan menjadi serupa dengan Kristus sepenuhnya. Kesukaan Allah atas kemajuan mereka akan mencapai puncaknya ketika karya penebusan dinyatakan sempurna.

Penutup: Hidup di Bawah Senyum Allah

Kesukaan Allah atas kemajuan orang benar adalah kebenaran yang menyeimbangkan antara kedaulatan dan tanggung jawab, antara anugerah dan pertumbuhan. Dalam teologi Reformed, Allah tidak hanya memulai keselamatan dan menunggu hasilnya. Ia terlibat, bekerja, memelihara, dan berkenan atas setiap langkah yang dibentuk oleh Roh Kudus.

Hidup Kristen bukanlah upaya mendapatkan senyum Allah, tetapi hidup di bawah senyum-Nya yang sudah dinyatakan dalam Kristus. Dari sana, kemajuan menjadi respons syukur, bukan alat pembenaran diri.

Pertumbuhan rohani mungkin tidak selalu spektakuler, tetapi setiap langkah kecil dalam ketaatan adalah kesukaan bagi Allah. Dan karena itu, orang percaya dipanggil untuk terus berjalan—dengan rendah hati, dengan tekun, dan dengan pengharapan—sampai hari di mana kemajuan itu menjadi kesempurnaan.

Previous Post