Zakharia 6:15: Dari Jauh Mereka Akan Datang

Zakharia 6:15: Dari Jauh Mereka Akan Datang

Zakharia 6:15
“Orang-orang dari jauh akan datang untuk turut membangun bait TUHAN; maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu. Dan hal ini akan terjadi, apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu.”

Pendahuluan: Ayat Penutup yang Membuka Horizon Global

Zakharia 6:15 adalah ayat penutup dari bagian yang berbicara tentang mahkota dan “Tunas” (ay. 12–13). Meskipun tampak singkat, ayat ini memuat cakrawala teologis yang luas: pembangunan bait Allah, kedatangan orang-orang dari jauh, pengutusan ilahi, dan syarat ketaatan.

Dalam tradisi Reformed, ayat ini tidak dibaca secara sempit sebagai proyek arsitektur pasca-pembuangan, melainkan sebagai wahyu progresif tentang:

  1. Pembangunan bait yang sejati dalam Kristus,

  2. Inklusi bangsa-bangsa dalam umat perjanjian,

  3. Otoritas kenabian sebagai firman Allah,

  4. Relasi antara janji dan ketaatan dalam sejarah penebusan.

Tokoh-tokoh seperti John Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, dan Anthony Hoekema melihat kitab Zakharia sebagai jembatan penting antara Perjanjian Lama dan penggenapan Mesianik dalam Perjanjian Baru.

I. “Orang-Orang dari Jauh Akan Datang” — Dimensi Misioner dan Universalitas Perjanjian

Frasa “orang-orang dari jauh” dalam konteks pasca-pembuangan dapat merujuk pada orang Yahudi diaspora atau bahkan bangsa-bangsa lain yang akan datang membantu pembangunan bait.

Namun dalam terang keseluruhan wahyu Alkitab, ungkapan ini memiliki gema eskatologis yang kuat.

1. Janji Abrahamik yang Digenapi

Sejak Kejadian 12:3, Allah telah berjanji bahwa melalui Abraham segala bangsa akan diberkati.

Geerhardus Vos menekankan bahwa sejarah penebusan bergerak dari partikularisme menuju universalitas. Israel dipilih bukan untuk eksklusivisme etnis, tetapi sebagai saluran berkat bagi bangsa-bangsa.

Zakharia 6:15 adalah bagian dari pola ini.

2. Perspektif Reformed tentang Bangsa-Bangsa

Calvin melihat nubuat ini sebagai indikasi bahwa Allah akan menarik bangsa-bangsa non-Yahudi untuk menjadi bagian dari pembangunan rohani umat-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, penggenapan ini nyata dalam:

  • Efesus 2:19–22: bangsa-bangsa menjadi sesama warga dan anggota keluarga Allah.

  • 1 Petrus 2:5: umat percaya sebagai batu hidup yang dibangun menjadi rumah rohani.

Dengan demikian, “orang-orang dari jauh” menunjuk kepada inklusi bangsa-bangsa dalam gereja Kristus.

II. “Turut Membangun Bait TUHAN” — Teologi Bait dalam Perspektif Reformed

Tema bait adalah sentral dalam Alkitab.

1. Dari Bait Fisik ke Bait Rohani

Dalam konteks historis, ini merujuk pada pembangunan Bait Kedua.

Namun Bavinck menekankan bahwa bait dalam Perjanjian Lama adalah tipologi dari realitas yang lebih besar: Allah berdiam di tengah umat-Nya.

Kristus sendiri menyatakan:
“Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yohanes 2:19)

Di sini, tubuh Kristus menjadi bait sejati.

Kemudian gereja, sebagai tubuh Kristus, menjadi bait Roh Kudus (1 Korintus 3:16).

2. Pembangunan yang Bersifat Kristosentris

Dalam teologi Reformed, Kristus adalah fondasi gereja (1 Korintus 3:11). Pembangunan bait rohani adalah karya Kristus melalui Roh Kudus.

Orang-orang dari jauh yang datang untuk membangun bukanlah arsitek utama; mereka adalah bagian dari karya Allah yang lebih besar.

Ini menegaskan prinsip soli Deo gloria — Allah sendiri yang membangun rumah-Nya.

III. “Kamu Akan Mengetahui Bahwa TUHAN Semesta Alam Mengutus Aku”

Bagian ini berbicara tentang legitimasi kenabian.

Zakharia menyatakan bahwa penggenapan nubuat ini akan menjadi bukti bahwa ia diutus oleh TUHAN.

1. Otoritas Firman dalam Tradisi Reformed

Reformed menekankan bahwa otoritas nabi bukan berasal dari karisma pribadi, tetapi dari pengutusan ilahi.

Pengakuan Iman Westminster menyatakan bahwa otoritas Kitab Suci bergantung pada Allah sebagai Pengarangnya.

Penggenapan nubuat adalah salah satu tanda keaslian pengutusan ilahi.

2. Pengutusan yang Mengarah kepada Kristus

Dalam perspektif redemptive-historical, setiap nabi menunjuk kepada Nabi Agung yang akan datang (Ulangan 18:15).

Zakharia sebagai nabi mengantisipasi Kristus, Sang Firman yang menjadi manusia.

IV. “Apabila Kamu Dengan Baik-Baik Mendengarkan” — Ketaatan dan Dinamika Perjanjian

Ayat ini diakhiri dengan kondisi: “apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu.”

Ini mengangkat pertanyaan teologis penting:

Bagaimana janji Allah yang berdaulat berkaitan dengan ketaatan manusia?

1. Relasi antara Kedaulatan dan Tanggung Jawab

Dalam teologi Reformed, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia.

Allah menetapkan tujuan sekaligus sarana.

Ketaatan umat adalah sarana yang Allah pakai dalam menggenapi rencana-Nya.

2. Dimensi Perjanjian

Perjanjian Sinai mengandung berkat dan kutuk (Ul. 28).

Namun dalam terang Perjanjian Baru, kita memahami bahwa ketaatan sempurna digenapi oleh Kristus.

Ia adalah Israel sejati yang taat sepenuhnya.

Dengan demikian, janji pembangunan bait dan pengumpulan bangsa-bangsa pada akhirnya dijamin oleh ketaatan Kristus, bukan oleh kesempurnaan Israel.

V. Eskatologi dan Penggenapan Akhir

Anthony Hoekema menekankan bahwa nubuatan Perjanjian Lama sering memiliki penggenapan bertahap:

  1. Penggenapan awal dalam sejarah Israel.

  2. Penggenapan lebih penuh dalam Kristus dan gereja.

  3. Penggenapan akhir dalam langit dan bumi baru.

Zakharia 6:15 bergerak menuju Wahyu 21–22, di mana bangsa-bangsa membawa kemuliaan mereka ke dalam Yerusalem baru.

Di sana, bait tidak lagi berupa bangunan, sebab Tuhan sendiri adalah baitnya.

VI. Dimensi Kristologis

Zakharia 6 berbicara tentang “Tunas” (ayat 12). Ayat 15 adalah kelanjutan dari tema itu.

Kristus adalah:

  • Tunas dari keturunan Daud,

  • Pembangun bait sejati,

  • Raja dan Imam,

  • Penghimpun bangsa-bangsa.

Bavinck menyatakan bahwa Kristus adalah pusat dan penggenapan seluruh sejarah wahyu.

Dengan demikian, Zakharia 6:15 bukan sekadar janji restorasi nasional, tetapi visi Mesianik yang universal.

VII. Relevansi Bagi Gereja Masa Kini

  1. Gereja bersifat global dan misioner.

  2. Pembangunan rohani adalah karya Allah melalui Kristus.

  3. Ketaatan adalah respons iman, bukan dasar keselamatan.

  4. Pengharapan kita bersifat eskatologis.

Gereja hari ini adalah realisasi awal dari “orang-orang dari jauh” yang datang membangun bait Tuhan.

VIII. Sintesis Teologis

Zakharia 6:15 menggabungkan empat tema besar:

  • Misi bangsa-bangsa,

  • Pembangunan bait rohani,

  • Otoritas firman kenabian,

  • Ketaatan perjanjian.

Semua ini menemukan pusatnya dalam Kristus.

Dalam teologi Reformed, ayat ini mencerminkan kesatuan Alkitab sebagai satu kisah penebusan yang bergerak menuju kemuliaan Allah dalam Kristus.

Kesimpulan: Dari Yerusalem Pasca-Pembuangan ke Yerusalem Baru

Zakharia 6:15 memandang melampaui reruntuhan Yerusalem menuju realitas yang jauh lebih besar.

Orang-orang dari jauh akan datang.
Bait akan dibangun.
Firman akan terbukti benar.
Dan umat Allah akan hidup dalam ketaatan perjanjian.

Dalam Kristus, bangsa-bangsa telah datang.
Dalam gereja, bait sedang dibangun.
Dalam Injil, firman telah diteguhkan.
Dan dalam pengharapan eskatologis, kita menantikan penggenapan penuh ketika Allah akan berdiam bersama umat-Nya untuk selama-lamanya.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post