Kristus Berharga bagi Mereka yang Percaya

Kristus Berharga bagi Mereka yang Percaya

Pendahuluan: Nilai yang Ditentukan oleh Hati yang Diterangi

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai suatu benda sering kali ditentukan oleh mata yang memandangnya. Sebuah batu biasa bagi sebagian orang mungkin hanyalah material tanpa arti, tetapi bagi seorang arsitek atau ahli permata, batu itu dapat memiliki nilai strategis dan bahkan tak ternilai. Demikian pula dengan Kristus. Dunia dapat memandang-Nya sebagai tokoh sejarah, guru moral, atau bahkan batu sandungan. Namun bagi orang percaya, Kristus adalah harta terbesar, pusat hidup, dan sumber sukacita kekal.

Rasul Petrus menyatakan dengan jelas:

“Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: ‘Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.’”
(1 Petrus 2:7, TB)

Ayat ini menyingkapkan dua respons yang sangat kontras terhadap pribadi Kristus: bagi yang percaya, Ia mahal; bagi yang tidak percaya, Ia batu sandungan. Dalam teologi Reformed, kontras ini tidak hanya menyatakan perbedaan sikap manusia, tetapi juga menyingkapkan karya anugerah Allah yang berdaulat dalam membuka mata rohani. Artikel ini akan mengeksposisi ayat tersebut dan menggali maknanya melalui refleksi para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Jonathan Edwards, Abraham Kuyper, R.C. Sproul, dan John Piper.

I. Konteks 1 Petrus 2: Kristus sebagai Batu yang Hidup

Sebelum ayat 7, Petrus berbicara tentang Kristus sebagai “batu yang hidup” yang dibuang oleh manusia tetapi dipilih dan dihormati oleh Allah (1 Ptr. 2:4). Gambaran ini berasal dari Mazmur 118 dan Yesaya 28, yang menubuatkan Mesias sebagai batu penjuru.

Dalam dunia kuno, batu penjuru adalah fondasi utama bangunan. Ia menentukan arah, keseimbangan, dan kestabilan seluruh struktur. Jika batu penjuru salah, seluruh bangunan akan miring dan rapuh. Dengan menyebut Kristus sebagai batu penjuru, Petrus menyatakan bahwa seluruh rencana keselamatan dan kehidupan umat Allah bertumpu pada-Nya.

Calvin menafsirkan bagian ini sebagai penghiburan bagi gereja yang menderita. Sekalipun dunia menolak Kristus, Allah telah menetapkan Dia sebagai fondasi keselamatan. Penolakan manusia tidak membatalkan pemilihan ilahi.

II. “Bagi Kamu yang Percaya, Ia Mahal”

1. Makna “Mahal” atau “Berharga”

Kata “mahal” dalam teks Yunani menunjuk pada sesuatu yang bernilai tinggi, terhormat, dan mulia. Petrus tidak sekadar mengatakan bahwa Kristus berguna; ia menyatakan bahwa Kristus adalah harta.

Herman Bavinck menekankan bahwa kemuliaan Kristus terletak pada keunikan pribadi-Nya sebagai Allah sejati dan manusia sejati. Keindahan inkarnasi menjadikan Kristus tidak tergantikan. Hanya Dia yang dapat menjadi Pengantara.

John Piper sering menyatakan bahwa inti iman adalah melihat dan merasakan bahwa Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu. Jika Kristus hanya berguna untuk menghindari neraka, maka kita belum memahami kemuliaan-Nya sepenuhnya. Ia bukan sekadar sarana keselamatan; Ia adalah tujuan sukacita itu sendiri.

2. Iman sebagai Mata yang Melihat Nilai Kristus

Dalam teologi Reformed, iman adalah anugerah Allah yang membuka mata hati. Tanpa regenerasi, manusia tidak mampu melihat keindahan Kristus.

R.C. Sproul menjelaskan bahwa dosa membutakan pikiran dan mengeraskan hati. Roh Kuduslah yang menerangi jiwa sehingga orang percaya melihat Kristus sebagai mulia dan berharga.

Calvin menulis bahwa iman adalah “pengetahuan yang pasti dan teguh tentang kemurahan Allah terhadap kita, yang didasarkan pada janji Injil.” Ketika janji itu dipahami dan diterima, hati dipenuhi kasih kepada Kristus.

III. Batu yang Dibuang: Realitas Penolakan

Ayat yang sama menyatakan bahwa Kristus adalah “batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan.”

1. Penolakan yang Dinubuatkan

Mazmur 118 telah menubuatkan bahwa batu yang dibuang akan menjadi batu penjuru. Ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Kristus bukan kecelakaan sejarah.

Calvin menegaskan bahwa penyaliban Kristus terjadi dalam rencana Allah yang berdaulat. Bahkan tindakan jahat manusia dipakai Allah untuk menggenapi tujuan penebusan.

2. Batu Sandungan

Bagi mereka yang tidak percaya, Kristus menjadi batu sandungan. Injil menyingkapkan keberdosaan manusia dan menuntut pertobatan. Dunia yang mencintai otonomi akan tersandung oleh tuntutan ini.

Sproul menulis bahwa Injil adalah kabar baik yang hanya dapat dipahami sebagai kabar baik jika kita menyadari keburukan dosa. Tanpa kesadaran akan murka Allah, salib tampak tidak perlu.

IV. Keindahan Kristus dalam Perspektif Reformed

1. Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja

Bavinck menjelaskan bahwa kemuliaan Kristus terlihat dalam tiga jabatan-Nya:

  • Sebagai Nabi, Ia menyatakan kebenaran Allah.

  • Sebagai Imam, Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai korban.

  • Sebagai Raja, Ia memerintah umat-Nya dengan kuasa dan kasih.

Ketiga jabatan ini membuat Kristus tak tergantikan. Ia bukan hanya Guru, tetapi Juruselamat dan Penguasa.

2. Persatuan dengan Kristus

Calvin menyebut persatuan dengan Kristus sebagai inti keselamatan. Melalui iman, orang percaya dipersatukan dengan Kristus dan mengambil bagian dalam semua manfaat karya-Nya.

John Owen menekankan bahwa persatuan ini bukan sekadar metafora, tetapi realitas rohani yang dalam. Karena bersatu dengan Kristus, orang percaya menerima pembenaran, pengudusan, dan pengharapan kemuliaan.

V. Mengapa Kristus Menjadi Berharga?

1. Karena Ia Menyelamatkan dari Dosa

Kristus berharga karena Ia menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung. Penebusan substitusioner adalah inti Injil.

Sproul menyatakan bahwa di salib, keadilan Allah dipuaskan. Tanpa pengorbanan Kristus, tidak ada pengampunan sejati.

2. Karena Ia Memuaskan Jiwa

Piper menegaskan bahwa Allah paling dimuliakan ketika kita paling dipuaskan di dalam Dia. Kristus adalah kepuasan tertinggi jiwa manusia.

Jonathan Edwards berbicara tentang “afeksi religius”—kasih dan sukacita yang lahir dari melihat keindahan Kristus.

3. Karena Ia Kekal

Abraham Kuyper menulis bahwa semua struktur dunia akan berlalu, tetapi kerajaan Kristus kekal. Nilai Kristus melampaui waktu dan sejarah.

VI. Dimensi Pastoral: Hidup yang Menghargai Kristus

Jika Kristus sungguh berharga, maka hidup orang percaya akan mencerminkan penghargaan itu.

Calvin menekankan bahwa iman sejati selalu menghasilkan ketaatan. Tidak mungkin seseorang mengaku menghargai Kristus tetapi hidup dalam pemberontakan.

Bavinck menambahkan bahwa kasih kepada Kristus mendorong kehidupan yang kudus dan pelayanan yang setia.

VII. Gereja sebagai Komunitas yang Menghargai Kristus

Gereja dipanggil untuk meninggikan Kristus sebagai harta terbesar. Khotbah, sakramen, dan disiplin gereja harus berpusat pada Dia.

Sproul memperingatkan agar gereja tidak menggantikan Kristus dengan hiburan atau pragmatisme.

Piper menyebut ibadah sebagai ekspresi sukacita atas nilai Kristus.

VIII. Eskatologi: Kristus sebagai Sukacita Kekal

Pada akhirnya, nilai Kristus akan dinyatakan secara penuh ketika Ia datang kembali. Mereka yang menolak-Nya akan melihat Dia sebagai Hakim; mereka yang percaya akan melihat Dia sebagai sukacita kekal.

Bavinck menyatakan bahwa sejarah bergerak menuju pengakuan universal akan ke-Tuhan-an Kristus.

IX. Kontras yang Abadi: Percaya atau Menolak

1 Petrus 2:7 menempatkan setiap orang pada persimpangan. Tidak ada posisi netral terhadap Kristus.

Calvin menulis bahwa hati manusia secara alami cenderung menolak Kristus. Hanya anugerah Allah yang membuat seseorang percaya.

Karena itu, jika kita melihat Kristus sebagai berharga, kita harus mengakui bahwa itu adalah karya Roh Kudus.

Kesimpulan: Harta yang Tidak Ternilai

“Christ Precious to Those Who Believe” adalah inti pengalaman Kristen sejati.

Kristus berharga karena Ia adalah batu penjuru keselamatan.
Kristus berharga karena Ia memuaskan jiwa.
Kristus berharga karena Ia kekal dan mulia.

Dalam terang teologi Reformed, penghargaan terhadap Kristus bukan hasil usaha manusia, tetapi anugerah Allah yang membuka mata hati.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk semakin melihat kemuliaan Kristus, mengasihi-Nya dengan sepenuh hati, dan hidup bagi kemuliaan-Nya—sehingga kita dapat berkata dengan keyakinan bahwa bagi kita yang percaya, Dia sungguh mahal.

Next Post Previous Post