Zakharia 6:14: Mahkota di Bait TUHAN

Zakharia 6:14: Mahkota di Bait TUHAN

Zakharia 6:14
“Dan mahkota itu akan tetap tinggal dalam bait TUHAN sebagai tanda peringatan akan Heldai, Tobia, Yedaya dan akan Yosia bin Zefanya.”

Pendahuluan: Sebuah Mahkota yang Tidak Dipakai

Zakharia 6:14 adalah ayat yang sering terlewatkan dalam pembacaan Alkitab. Sekilas, ayat ini tampak seperti catatan administratif tentang sebuah mahkota dan beberapa nama. Namun dalam konteks kitab Zakharia, khususnya pasal 6:9–15, ayat ini mengandung muatan teologis yang dalam—terutama berkaitan dengan pengharapan Mesianik dan persatuan fungsi raja dan imam.

Tradisi Reformed melihat bagian ini bukan hanya sebagai peristiwa simbolik pasca-pembuangan, tetapi sebagai nubuat tipologis yang menunjuk kepada Kristus. Para teolog seperti John Calvin, Geerhardus Vos, dan Herman Bavinck membaca Zakharia dalam kerangka sejarah penebusan (redemptive history), di mana simbol-simbol Perjanjian Lama menemukan kepenuhannya dalam diri Kristus.

Untuk memahami ayat 14 dengan tepat, kita perlu menempatkannya dalam konteks penglihatan kenabian Zakharia dan tindakan simbolik yang diperintahkan TUHAN.

I. Konteks Historis dan Redemptif Zakharia 6

Kitab Zakharia ditulis dalam konteks pasca-pembuangan Babel (sekitar 520–518 SM). Bangsa Israel telah kembali ke Yerusalem, tetapi kondisi mereka lemah secara politik dan ekonomi. Bait Allah sedang dibangun kembali, namun kemuliaan kerajaan Daud tampak telah hilang.

Dalam pasal 6:9–15, TUHAN memerintahkan nabi Zakharia untuk membuat mahkota dari perak dan emas, lalu mengenakannya pada kepala Yosua bin Yozadak, imam besar.

Ini mengejutkan.

Dalam sistem Perjanjian Lama:

  • Raja berasal dari suku Yehuda.

  • Imam berasal dari suku Lewi.

Tidak pernah kedua jabatan itu disatukan dalam satu pribadi—kecuali dalam figur misterius Melkisedek (Kejadian 14; Mazmur 110).

Di sini, seorang imam besar dimahkotai. Namun mahkota itu tidak dimaksudkan untuk menjadi simbol politik langsung, melainkan simbol profetis.

Ayat 14 menyatakan bahwa mahkota itu akan tetap tinggal di bait TUHAN sebagai “tanda peringatan”.

II. Makna “Mahkota” dalam Perspektif Teologi Perjanjian

Mahkota dalam Alkitab melambangkan otoritas, kemuliaan, dan pemerintahan. Dalam konteks Zakharia, mahkota bukan sekadar hiasan, melainkan tanda bahwa Allah sedang menyatakan sesuatu tentang masa depan umat-Nya.

John Calvin dalam komentarnya atas Zakharia menekankan bahwa tindakan ini adalah “a visible prophecy” (nubuat yang kelihatan). Mahkota itu bukan untuk mendirikan kerajaan Yosua secara literal, tetapi untuk menunjuk kepada “Tunas” (ayat 12), yaitu Mesias yang akan datang.

Dalam teologi Reformed, konsep ini disebut tipologi. Yosua bukan Mesias, tetapi ia menjadi bayangan dari Kristus. Mahkota itu menunjuk kepada:

  • Kristus sebagai Raja,

  • Kristus sebagai Imam Besar,

  • dan kesatuan kedua jabatan itu dalam satu Pribadi.

Herman Bavinck menegaskan bahwa seluruh institusi Perjanjian Lama—imam, nabi, dan raja—menemukan kepenuhannya dalam Kristus sebagai Mediator tunggal.

III. Mahkota sebagai “Tanda Peringatan”

Ayat 14 menekankan bahwa mahkota itu akan tetap tinggal dalam bait TUHAN sebagai “tanda peringatan”.

Kata “peringatan” di sini memiliki makna liturgis dan teologis. Dalam Perjanjian Lama, “peringatan” sering kali berkaitan dengan tindakan Allah yang diingat dan dihadirkan kembali dalam kesadaran umat.

Geerhardus Vos menjelaskan bahwa dalam ekonomi Perjanjian Lama, simbol-simbol seperti ini berfungsi sebagai “eschatological reminders”—pengingat eskatologis bahwa karya Allah belum selesai.

Mahkota yang tidak dipakai, tetapi disimpan di bait Allah, adalah simbol dari kerajaan yang belum digenapi.

Dengan kata lain:
Kerajaan itu nyata dalam janji, tetapi belum dalam kepenuhannya.

Ini sejalan dengan pola already-not yet yang sangat ditekankan dalam teologi Reformed.

IV. Nama-Nama yang Disebut: Dimensi Perjanjian dan Komunitas

Ayat ini menyebut Heldai, Tobia, Yedaya, dan Yosia bin Zefanya. Mereka kemungkinan adalah orang-orang buangan yang kembali dari Babel dan membawa persembahan.

Mengapa nama mereka dicatat?

Dalam teologi Reformed, perjanjian Allah selalu bersifat personal dan komunal. Allah bekerja melalui umat-Nya dalam sejarah konkret. Nama-nama ini menunjukkan bahwa pengharapan Mesianik tidak berdiri di ruang hampa, melainkan terikat dalam komunitas perjanjian.

Calvin menekankan bahwa Allah menghargai tindakan iman umat-Nya, sekalipun kecil. Persembahan mereka menjadi bagian dari simbol kenabian yang menunjuk kepada Kristus.

Ini mengajarkan bahwa:

  • Allah memakai ketaatan umat dalam sejarah untuk menunjuk kepada rencana keselamatan-Nya yang lebih besar.

  • Tindakan kecil dalam iman memiliki makna dalam rencana ilahi.

V. Imamat Rajani dan Kristologi Reformed

Zakharia 6 (terutama ayat 12–13) berbicara tentang “Tunas” yang akan:

  • mendirikan bait TUHAN,

  • memerintah sebagai raja,

  • dan duduk sebagai imam di atas takhta-Nya.

Inilah persatuan jabatan raja dan imam.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa Kristus menjalankan tiga jabatan (munus triplex):

  1. Nabi,

  2. Imam,

  3. Raja.

Dalam Zakharia 6, kita melihat integrasi dua jabatan yang sebelumnya terpisah.

Kristus:

  • sebagai Imam, mempersembahkan diri-Nya sebagai korban.

  • sebagai Raja, memerintah umat tebusan-Nya.

Mahkota di bait Allah menjadi bayangan dari mahkota duri yang akan dikenakan Kristus. Ironisnya, Ia dimahkotai dalam penderitaan sebelum dimahkotai dalam kemuliaan.

VI. Dimensi Eskatologis: Kerajaan yang Akan Datang

Mahkota itu tinggal di bait TUHAN. Ia menunggu penggenapan.

Dalam perspektif eskatologi Reformed:

  • Kristus telah dimahkotai melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya.

  • Namun kepenuhan pemerintahan-Nya masih menanti penyataan akhir.

Anthony Hoekema dalam The Bible and the Future menegaskan bahwa kerajaan Allah hadir sekarang, tetapi belum sepenuhnya dinyatakan.

Zakharia 6:14 mengarahkan pandangan kita pada:

  • Kesetiaan Allah pada janji-Nya kepada Daud,

  • Pemulihan Israel yang lebih besar dari sekadar politik,

  • Dan penggenapan dalam Kristus serta kerajaan kekal-Nya.

VII. Bait TUHAN sebagai Pusat Teologi

Mahkota ditempatkan di bait TUHAN.

Dalam teologi Reformed, bait Allah adalah simbol kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Kristus sendiri adalah Bait yang sejati (Yohanes 2:19–21), dan gereja adalah tubuh-Nya.

Artinya, mahkota itu ditempatkan di pusat penyembahan.

Ini menunjukkan bahwa kerajaan Mesias tidak dapat dipisahkan dari ibadah kepada Allah. Pemerintahan Kristus bukan sekadar politik, melainkan pemerintahan yang bersifat kudus dan liturgis.

Bavinck menyatakan bahwa kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang menyelamatkan dan memulihkan ciptaan melalui Kristus.

VIII. Relevansi Pastoral

Apa makna Zakharia 6:14 bagi gereja hari ini?

  1. Allah setia pada janji-Nya.
    Mahkota itu adalah simbol janji yang belum terlihat, tetapi pasti.

  2. Kristus adalah Imam dan Raja kita.
    Ia bukan hanya menyelamatkan kita, tetapi juga memerintah atas kita.

  3. Sejarah berada dalam tangan Allah.
    Bahkan dalam masa kecil dan lemah pasca-pembuangan, Allah sedang menyiapkan penggenapan Mesianik.

  4. Pengharapan Kristen bersifat eskatologis.
    Kita hidup di antara janji dan penggenapan penuh.

IX. Perspektif Teolog Reformed

John Calvin

Calvin melihat tindakan pemahkotaan ini sebagai nubuat simbolik tentang Kristus. Ia menolak interpretasi yang menjadikannya sekadar peristiwa politik lokal.

Herman Bavinck

Bavinck menekankan kesatuan rencana Allah dalam sejarah. Ia melihat dalam teks ini kesinambungan antara perjanjian lama dan baru.

Geerhardus Vos

Vos menyoroti dimensi eskatologisnya. Menurutnya, simbol-simbol seperti ini adalah bagian dari wahyu progresif yang menunjuk kepada kepenuhan zaman.

Louis Berkhof

Berkhof melihatnya dalam kerangka kristologi dan jabatan Kristus sebagai Mediator.

X. Kesimpulan Teologis

Zakharia 6:14 bukan sekadar catatan tentang sebuah mahkota dan beberapa nama. Ia adalah:

  • Simbol pengharapan Mesianik,

  • Nubuat tentang persatuan jabatan imam dan raja,

  • Tanda kesetiaan Allah dalam sejarah,

  • Bayangan dari Kristus yang akan datang.

Mahkota itu tinggal di bait TUHAN sebagai peringatan bahwa janji Allah belum selesai.

Dalam Kristus, mahkota itu akhirnya dikenakan.
Ia adalah Imam Besar yang duduk di sebelah kanan Allah.
Ia adalah Raja segala raja.

Dan suatu hari, kerajaan-Nya akan dinyatakan dalam kemuliaan penuh.

Penutup

Ketika kita membaca Zakharia 6:14, kita diingatkan bahwa Allah bekerja melalui simbol, sejarah, dan janji untuk menyatakan rencana keselamatan-Nya. Mahkota itu adalah saksi bisu dari pengharapan yang tidak pernah padam.

Bagi orang percaya, ayat ini memanggil kita untuk hidup dalam pengharapan yang teguh kepada Raja-Imam kita, Yesus Kristus.

Previous Post