Mengikut Tuhan dengan Motivasi yang Keliru

Mengikut Tuhan dengan Motivasi yang Keliru

Pendahuluan: Antara Mengikut dan Mengasihi

Sepanjang sejarah gereja, banyak orang mengaku mengikut Tuhan. Namun Alkitab menunjukkan bahwa tidak semua pengikut adalah murid sejati. Ada yang mengikuti karena mujizat, ada yang mencari berkat jasmani, ada yang menginginkan pengaruh sosial, dan ada yang sekadar takut hukuman. Fenomena ini bukan hanya terjadi di zaman modern; ia sudah tampak dalam pelayanan Yesus sendiri.

Injil Yohanes mencatat perkataan Yesus yang sangat tajam kepada orang banyak:

“Yesus menjawab mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.’”
(Yohanes 6:26, TB)

Ayat ini menyingkapkan kenyataan yang menggetarkan: seseorang dapat mencari Yesus, tetapi dengan motivasi yang keliru. Ia dapat berada dekat secara lahiriah, tetapi jauh secara rohani.

Dalam tradisi teologi Reformed, isu motivasi tidak pernah dipisahkan dari doktrin hati manusia, dosa, anugerah, dan kedaulatan Allah. Artikel ini akan mengeksplorasi bahaya mengikut Tuhan dengan motivasi yang salah melalui eksposisi Yohanes 6:26 serta refleksi para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Jonathan Edwards, Abraham Kuyper, R.C. Sproul, dan John Piper.

I. Konteks Yohanes 6: Antusiasme yang Dangkal

Yohanes 6 dimulai dengan mukjizat penggandaan roti dan ikan. Ribuan orang diberi makan. Peristiwa ini menimbulkan antusiasme besar. Orang banyak ingin menjadikan Yesus raja.

Namun Yesus menyingkapkan motivasi mereka: mereka mencari Dia bukan karena memahami tanda sebagai wahyu ilahi, tetapi karena kebutuhan perut mereka dipenuhi.

Calvin menafsirkan bagian ini sebagai peringatan keras terhadap iman yang bersifat lahiriah. Ia menulis bahwa banyak orang tertarik kepada Kristus karena manfaat sementara, bukan karena kebenaran rohani yang Ia nyatakan.

Yesus tidak terkesan oleh keramaian. Ia menilai hati.

II. Natur Hati Manusia: Total Depravity dan Motivasi yang Tercemar

Teologi Reformed menekankan doktrin kerusakan total (total depravity). Ini bukan berarti manusia sejahat mungkin, tetapi bahwa seluruh keberadaannya—pikiran, kehendak, dan motivasi—telah tercemar oleh dosa.

R.C. Sproul menjelaskan bahwa dosa tidak hanya mempengaruhi perilaku, tetapi juga motivasi terdalam. Bahkan tindakan religius dapat lahir dari hati yang egois.

Jonathan Edwards, dalam Religious Affections, membedakan antara afeksi sejati dan afeksi palsu. Seseorang dapat menunjukkan emosi keagamaan yang kuat, tetapi tanpa kasih sejati kepada Allah.

Mengikut Tuhan demi keuntungan pribadi adalah manifestasi dari hati yang belum diperbarui.

III. Bentuk-Bentuk Motivasi yang Keliru

1. Mengikut Tuhan Demi Berkat Materi

Seperti orang banyak di Yohanes 6, banyak orang tertarik kepada Kristus karena roti, bukan karena diri-Nya.

John Piper mengingatkan bahwa jika kita datang kepada Kristus hanya untuk mendapatkan sesuatu selain Dia, maka kita belum melihat kemuliaan-Nya yang sejati. Kristus bukan sarana menuju berkat; Ia adalah berkat itu sendiri.

Teologi kemakmuran modern sering kali menekankan keuntungan duniawi sebagai motivasi utama iman. Dalam perspektif Reformed, ini adalah reduksi Injil.

2. Mengikut Tuhan Demi Status Sosial

Abraham Kuyper mencatat bahwa kekristenan pernah menjadi simbol budaya dominan di Eropa. Namun ia memperingatkan bahwa identitas budaya tidak sama dengan pertobatan sejati.

Seseorang dapat berada dalam komunitas Kristen karena tradisi, keluarga, atau posisi sosial, tetapi tidak pernah mengalami kelahiran baru.

3. Mengikut Tuhan Karena Takut Hukuman

Motivasi takut neraka dapat menjadi langkah awal, tetapi jika tidak berkembang menjadi kasih kepada Allah, iman itu tetap dangkal.

Calvin menulis bahwa iman sejati melahirkan kasih, bukan sekadar ketakutan.

IV. Tanda vs. Realitas: Salah Memahami Kristus

Yesus berkata bahwa orang banyak tidak melihat “tanda-tanda” dengan benar. Mukjizat seharusnya menunjuk kepada identitas Mesias, bukan sekadar kebutuhan jasmani.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa wahyu Allah selalu memiliki tujuan rohani. Jika manusia berhenti pada aspek lahiriah, ia kehilangan inti pesan.

Dalam Yohanes 6, Yesus kemudian menyatakan diri sebagai “Roti Hidup.” Banyak murid meninggalkan Dia karena ajaran-Nya sulit diterima. Mereka menginginkan roti, bukan pengorbanan.

Motivasi yang keliru akan runtuh ketika harga mengikut Kristus menjadi mahal.

V. Anugerah yang Memurnikan Motivasi

Dalam teologi Reformed, perubahan motivasi bukan hasil usaha manusia, tetapi karya Roh Kudus.

1. Regenerasi

Calvin menekankan bahwa hati manusia harus diperbarui terlebih dahulu. Tanpa kelahiran baru, manusia tidak dapat mengasihi Allah dengan tulus.

Sproul menegaskan bahwa Roh Kudus membuka mata rohani sehingga seseorang melihat Kristus sebagai indah dan berharga.

2. Afeksi yang Diubahkan

Jonathan Edwards menyatakan bahwa tanda iman sejati adalah perubahan afeksi—kasih kepada Allah karena siapa Dia, bukan karena apa yang Ia berikan.

John Owen menulis bahwa Roh Kudus memimpin orang percaya untuk menikmati persekutuan dengan Kristus sebagai tujuan tertinggi.

VI. Ujian Motivasi dalam Penderitaan

Motivasi sejati diuji dalam penderitaan. Ketika berkat jasmani hilang, apakah kita tetap mengikut?

Kitab Ayub menjadi contoh klasik. Ia kehilangan segalanya, tetapi tetap menyembah Allah.

Calvin melihat penderitaan sebagai alat Allah untuk memurnikan iman. Jika kita hanya mengikut karena kenyamanan, kita akan meninggalkan Dia saat kesulitan datang.

Piper sering mengatakan bahwa Allah lebih peduli pada kekudusan kita daripada kenyamanan kita.

VII. Salib sebagai Koreksi Motivasi

Salib menyingkapkan motivasi kita yang terdalam. Di hadapan salib, semua kesombongan runtuh.

Kristus tidak mati untuk memberikan kita kehidupan yang mudah, tetapi untuk mendamaikan kita dengan Allah.

Sproul menegaskan bahwa salib adalah pusat Injil. Jika motivasi kita bukan kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam salib, maka kita telah menyimpang.

Mengikut Tuhan berarti memikul salib—menyangkal diri, bukan memuaskan diri.

VIII. Gereja dan Bahaya Motivasi yang Salah

Gereja modern sering tergoda untuk menarik orang dengan janji kenyamanan, hiburan, atau kesuksesan.

Kuyper memperingatkan bahwa gereja harus tetap setia pada Injil, bukan menyesuaikan pesan demi popularitas.

Bavinck menekankan bahwa gereja adalah komunitas orang yang dipanggil keluar oleh anugerah, bukan klub sosial.

Motivasi yang salah dapat menghasilkan pertumbuhan numerik, tetapi bukan kedewasaan rohani.

IX. Tanda-Tanda Mengikut dengan Motivasi yang Benar

Bagaimana kita mengetahui bahwa motivasi kita benar?

  1. Kita mengasihi Kristus lebih daripada berkat-Nya.

  2. Kita tetap setia dalam penderitaan.

  3. Kita mencari kemuliaan Allah, bukan diri sendiri.

  4. Kita rindu kebenaran firman, bukan sekadar pengalaman emosional.

Calvin menulis bahwa iman sejati menghasilkan ketaatan yang lahir dari kasih.

Edwards menambahkan bahwa kasih kepada Allah adalah inti dari semua kebajikan sejati.

X. Refleksi Pribadi: Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Yohanes 6:26 mengajak kita bertanya:

Apakah kita mencari Kristus karena Dia adalah Roti Hidup, atau karena kita ingin kenyang?
Apakah kita mencintai Dia, atau hanya manfaat-Nya?
Apakah kita akan tetap mengikut ketika roti tidak ada?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah, tetapi perlu.

XI. Kristus sebagai Tujuan Tertinggi

Teologi Reformed mengajarkan bahwa tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.

Jika kita mengikut Tuhan demi sesuatu selain Dia, kita telah mengganti tujuan dengan sarana.

Piper menyatakan bahwa Allah paling dimuliakan ketika kita paling dipuaskan di dalam Dia. Motivasi yang benar adalah sukacita dalam Allah sendiri.

XII. Kesimpulan: Dari Roti ke Roti Hidup

Mengikut Tuhan dengan motivasi yang keliru adalah bahaya yang nyata. Orang banyak di Yohanes 6 menjadi contoh tragis—mereka mencari roti, bukan Juruselamat.

Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah berdaulat dalam anugerah-Nya. Ia sanggup mengubahkan motivasi kita yang tercemar menjadi kasih yang tulus.

Kiranya Roh Kudus memeriksa hati kita, menyingkapkan motivasi yang tersembunyi, dan mengarahkan kita kepada Kristus sebagai harta tertinggi.

Sebab pada akhirnya, hanya mereka yang mengikut Kristus karena Dia adalah Tuhan dan Juruselamat yang sejati yang akan bertahan sampai akhir.

Next Post Previous Post