Markus 13:28–29: Di Ambang Pintu

Markus 13:28–29: Di Ambang Pintu

Markus 13:28–29
28 “Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
29 Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.”

Pendahuluan: Di Antara Kehancuran dan Pengharapan

Markus 13 sering disebut sebagai “Khotbah Eskatologis” Yesus. Dalam pasal ini, Yesus berbicara tentang kehancuran Bait Allah, penderitaan besar, dan kedatangan Anak Manusia.

Markus 13:28–29 muncul sebagai penutup bagian peringatan dan penghiburan. Di tengah gambaran tentang pergolakan kosmis dan kesesakan besar, Yesus memberikan sebuah ilustrasi sederhana: pohon ara.

Dalam tradisi Teologi Reformed, bagian ini tidak dibaca secara spekulatif atau sensasional, melainkan dalam kerangka sejarah penebusan (redemptive history). Tokoh-tokoh seperti John Calvin, Geerhardus Vos, Herman Bavinck, dan Anthony Hoekema menekankan bahwa nubuatan Alkitab harus dipahami dalam kesatuan wahyu Allah yang progresif dan berpusat pada Kristus.

I. Perumpamaan Pohon Ara: Tanda yang Dapat Dibaca (Markus 13:28)

“Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara…”

Yesus mengarahkan murid-murid untuk belajar dari alam. Pohon ara di Palestina menggugurkan daun pada musim dingin dan bertunas menjelang musim panas. Ranting yang melembut dan tunas yang muncul menjadi tanda pasti perubahan musim.

1. Wahyu Umum dan Wahyu Khusus

Herman Bavinck menjelaskan bahwa alam adalah bagian dari wahyu umum Allah. Pola musim yang teratur mencerminkan kesetiaan Allah dalam pemeliharaan ciptaan.

Yesus memakai realitas yang dapat diamati untuk menjelaskan realitas rohani. Seperti musim panas tidak datang tiba-tiba tanpa tanda, demikian pula penggenapan rencana Allah memiliki indikator yang dapat dikenali.

Namun tanda-tanda ini tidak dimaksudkan untuk memuaskan rasa ingin tahu spekulatif, melainkan untuk meneguhkan iman.

II. “Jika Kamu Lihat Hal-Hal Itu Terjadi” — Konteks Historis dan Eskatologis (Markus 13:29a)

Yesus merujuk pada “hal-hal itu,” yakni peristiwa-peristiwa yang telah Ia jelaskan sebelumnya: penganiayaan, nabi palsu, kehancuran Bait, dan tanda-tanda kosmis.

1. Penggenapan Dekat: Tahun 70 M

Dalam perspektif banyak teolog Reformed, sebagian besar nubuatan dalam Markus 13 memiliki penggenapan awal dalam kehancuran Yerusalem tahun 70 M.

John Calvin melihat bahwa Yesus sedang memperingatkan generasi murid-murid-Nya tentang peristiwa yang akan segera terjadi. Kehancuran Bait adalah penghakiman Allah atas penolakan terhadap Mesias dan sekaligus penanda berakhirnya sistem lama.

Namun, ini bukan penggenapan final.

2. Pola “Sudah dan Belum”

Anthony Hoekema menekankan konsep “already and not yet” (sudah dan belum). Nubuatan sering memiliki penggenapan bertahap:

  • Penggenapan historis dalam abad pertama,

  • Penggenapan lebih luas sepanjang sejarah gereja,

  • Penggenapan final dalam kedatangan Kristus yang kedua.

Dengan demikian, perumpamaan pohon ara berbicara kepada gereja sepanjang zaman.

III. “Sudah di Ambang Pintu” — Kepastian dan Kedekatan (Markus 13:29b)

Frasa “sudah di ambang pintu” menegaskan kepastian kedatangan penggenapan.

Geerhardus Vos menekankan bahwa dalam eskatologi Alkitab, kedekatan bukan hanya soal kronologi, tetapi soal intensitas dan kepastian.

Sejak kebangkitan Kristus, gereja hidup dalam zaman akhir. Kita berada dalam fase akhir sejarah penebusan.

Kedatangan Kristus bisa disebut “dekat” karena:

  1. Tidak ada lagi tahap redemptif besar yang harus digenapi.

  2. Gereja hidup dalam kesiapsiagaan terus-menerus.

IV. Natur Tanda-Tanda: Bukan Untuk Spekulasi, Melainkan Kewaspadaan

Teologi Reformed menolak pendekatan sensasional terhadap tanda-tanda zaman.

Calvin memperingatkan terhadap rasa ingin tahu berlebihan yang melampaui maksud Alkitab. Tanda-tanda diberikan bukan untuk menghitung tanggal, tetapi untuk menjaga gereja tetap waspada.

Yesus tidak memberi kalender, tetapi memberi prinsip.

Seperti petani membaca musim, orang percaya membaca sejarah dalam terang firman.

V. Dimensi Kristologis: Anak Manusia yang Datang

Markus 13 mengarah kepada kedatangan Anak Manusia dalam awan dengan kuasa dan kemuliaan (ayat 26).

Perumpamaan pohon ara bukan tentang pohon itu sendiri, tetapi tentang kepastian kedatangan Sang Raja.

Dalam teologi Reformed, pusat eskatologi adalah Kristus.

Herman Ridderbos menekankan bahwa kerajaan Allah adalah pemerintahan Kristus yang sudah hadir namun menantikan manifestasi penuh.

VI. Providensia dan Sejarah: Allah yang Memerintah Waktu

Pohon ara bertunas sesuai musim yang telah Allah tetapkan.

Demikian pula sejarah bergerak sesuai dekret ilahi.

Dalam doktrin providensia, Allah bukan hanya mengetahui masa depan; Ia menetapkannya.

Bavinck menulis bahwa sejarah bukan rangkaian peristiwa acak, melainkan pelaksanaan rencana kekal Allah.

Karena itu, tanda-tanda zaman bukan ancaman bagi gereja, melainkan konfirmasi bahwa Allah memegang kendali.

VII. Dimensi Pastoral: Hidup dalam Kewaspadaan yang Penuh Pengharapan

Markus 13 bukan ditulis untuk menimbulkan ketakutan, tetapi untuk memelihara iman.

Beberapa implikasi pastoral:

  1. Gereja tidak boleh terkejut oleh penderitaan.

  2. Gereja harus membaca zaman dengan discernment rohani.

  3. Pengharapan Kristen bersifat aktif dan waspada.

R.C. Sproul menekankan bahwa pengharapan eskatologis memberi stabilitas di tengah dunia yang tidak stabil.

VIII. Ketegangan Eskatologis: Antara Ketidaktahuan dan Kepastian

Dalam ayat-ayat selanjutnya (ayat 32), Yesus berkata bahwa tidak seorang pun tahu hari atau saatnya.

Ada paradoks:

  • Kita tahu bahwa waktunya dekat.

  • Kita tidak tahu kapan tepatnya.

Teologi Reformed melihat ini sebagai bagian dari hikmat Allah. Ketidaktahuan akan tanggal menjaga gereja tetap berjaga-jaga.

IX. Pohon Ara dan Israel: Apakah Ada Simbol Nasional?

Sebagian penafsiran populer mengaitkan pohon ara dengan Israel sebagai negara modern.

Namun dalam pendekatan Reformed yang historis-gramatikal, konteks utama menunjuk pada ilustrasi alami, bukan simbol politik kontemporer.

Calvin dan para Reformator tidak menafsirkan pohon ara sebagai simbol nasional, melainkan sebagai contoh sederhana dari pembacaan tanda musim.

Fokusnya adalah kesiapsiagaan rohani, bukan spekulasi geopolitik.

X. Pengharapan Eskatologis dalam Perspektif Reformed

Anthony Hoekema menegaskan bahwa pengharapan Kristen berpusat pada kebangkitan tubuh dan pembaruan ciptaan.

Markus 13:28–29 mengingatkan bahwa dunia ini bergerak menuju klimaks ilahi.

Seperti musim panas menggantikan musim dingin, demikian pula kemuliaan akan menggantikan penderitaan.

Sintesis Teologis

Markus 13:28–29 mengajarkan bahwa:

  • Sejarah berada di bawah kendali Allah.

  • Tanda-tanda zaman adalah konfirmasi rencana ilahi.

  • Kedatangan Kristus adalah kepastian, bukan kemungkinan.

  • Gereja dipanggil untuk hidup dalam kewaspadaan dan iman.

Dalam terang teologi Reformed, bagian ini memperlihatkan kesatuan antara providensia, eskatologi, dan pengharapan perjanjian.

Kesimpulan: Bertunas Menuju Kemuliaan

Pohon ara bertunas sebagai tanda musim panas yang akan datang.

Demikian pula sejarah dunia bertunas menuju penggenapan kerajaan Allah.

Kita tidak hidup dalam ketidakpastian tanpa arah. Kita hidup di ambang pintu kedatangan Sang Raja.

Dan ketika Ia datang, segala penderitaan akan menemukan jawabannya, segala ketidakadilan akan diluruskan, dan seluruh ciptaan akan diperbarui.

Kiranya gereja hidup bukan dalam ketakutan, tetapi dalam kewaspadaan yang penuh iman.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post