Keluaran 9:8–12: Tulah Barah dan Hati yang Dikeraskan

Keluaran 9:8–12: Tulah Barah dan Hati yang Dikeraskan

Pendahuluan: Tulah sebagai Wahyu Penghakiman dan Kemuliaan Allah

Keluaran 9:8–12 mencatat tulah keenam dalam rangkaian sepuluh tulah atas Mesir. Tulah ini berbeda dari tulah sebelumnya karena menyerang tubuh manusia secara langsung. Barah yang memecah menjadi gelembung bukan hanya penderitaan fisik, tetapi simbol penghakiman Allah atas sistem religius dan politik Mesir.

Dalam perspektif Teologi Reformed, peristiwa ini harus dibaca dalam kerangka sejarah penebusan (redemptive history). Tulah-tulah bukan sekadar bencana alam, melainkan tindakan perjanjian Allah yang menyatakan:

  1. Kekudusan-Nya terhadap dosa,

  2. Kedaulatan-Nya atas bangsa-bangsa,

  3. Kesetiaan-Nya terhadap janji kepada Abraham,

  4. Kuasa-Nya atas allah-allah palsu Mesir.

Tokoh-tokoh Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, dan Geerhardus Vos menekankan bahwa narasi Keluaran adalah paradigma pembebasan ilahi yang memuncak dalam karya Kristus.

I. Jelaga dari Dapur Peleburan: Simbol Penindasan dan Penghakiman (Keluaran 9:8–9)

“Ambillah jelaga dari dapur peleburan…”

Dapur peleburan (kiln) kemungkinan adalah tempat pembakaran batu bata—simbol kerja paksa bangsa Israel di Mesir (Keluaran 1:14).

1. Simbolisme Teologis

Apa yang dahulu menjadi alat penindasan kini menjadi sarana penghakiman.

Calvin mencatat bahwa Allah sering memakai instrumen yang sama yang digunakan manusia untuk berbuat jahat sebagai alat untuk menghukum mereka.

Dalam terang teologi perjanjian, ini menunjukkan prinsip retribusi ilahi: apa yang ditabur manusia, itu juga yang dituainya (Galatia 6:7).

2. Debu yang Menjadi Penyakit

Jelaga menjadi debu yang meliputi tanah Mesir.

Debu dalam Alkitab sering dikaitkan dengan kefanaan (Kejadian 3:19). Tulah ini mengingatkan Mesir bahwa mereka hanyalah ciptaan yang bergantung pada Sang Pencipta.

Herman Bavinck menegaskan bahwa penghakiman Allah selalu bersifat moral dan teologis—bukan sekadar fisik. Tulah ini menyatakan bahwa Mesir berada di bawah murka Allah.

II. Barah yang Memecah: Penghakiman atas Tubuh dan Agama Mesir (Keluaran 9:10–11)

“Terjadilah barah… pada manusia dan binatang.”

Tulah ini menyerang tubuh, pusat kekuatan dan kebanggaan manusia.

1. Serangan terhadap Imam dan Ahli Sihir

Ayat 11 menyatakan bahwa ahli-ahli sihir tidak dapat berdiri di depan Musa.

Dalam budaya Mesir, imam dan ahli sihir memiliki peran religius penting. Penyakit kulit membuat seseorang tidak layak menjalankan fungsi keagamaan.

Geerhardus Vos melihat bahwa setiap tulah adalah serangan terhadap allah-allah Mesir. Tulah barah kemungkinan menyerang dewa-dewa penyembuhan dan kekuatan fisik.

Para ahli sihir yang sebelumnya meniru mukjizat Musa kini tidak berdaya.

2. Allah yang Menyatakan Superioritas-Nya

Teologi Reformed menekankan supremasi Allah atas segala kuasa rohani.

Kisah ini memperlihatkan bahwa tidak ada kuasa gelap atau sistem religius yang dapat bertahan di hadapan kekudusan Allah.

III. “TUHAN Mengeraskan Hati Firaun” (Keluaran 9:12)

Ayat ini adalah pusat teologis perikop.

“Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun…”

1. Doktrin Pengerasan Hati

Dalam Keluaran, kadang Firaun mengeraskan hatinya sendiri, kadang Tuhan yang mengeraskannya.

Teologi Reformed memahami ini dalam kerangka kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.

Calvin menjelaskan bahwa Allah tidak menciptakan kejahatan dalam hati Firaun, tetapi menyerahkannya pada kekerasan hatinya sendiri sebagai bentuk penghakiman.

Roma 9:17–18 menegaskan prinsip ini:
“Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengeraskan siapa yang dikehendaki-Nya.”

2. Kedaulatan dan Tanggung Jawab

Dalam pandangan Reformed:

  • Allah berdaulat mutlak.

  • Manusia tetap bertanggung jawab atas dosanya.

Firaun tidak dipaksa menjadi jahat; ia sudah memberontak. Pengerasan adalah tindakan penghakiman Allah atas sikapnya yang terus-menerus menolak firman.

R.C. Sproul menekankan bahwa pengerasan hati adalah bentuk penghakiman yang paling serius: Allah membiarkan seseorang dalam kebutaannya.

IV. Tulah sebagai Pola Penebusan

Kisah Keluaran adalah prototipe keselamatan dalam Perjanjian Lama.

  • Israel diperbudak,

  • Allah bertindak dengan kuasa,

  • Penghakiman dijatuhkan,

  • Umat dibebaskan.

Dalam perspektif Kristologis, tulah-tulah menunjuk kepada realitas yang lebih besar:

  • Salib adalah penghakiman atas dosa,

  • Kristus menanggung murka agar umat-Nya dibebaskan.

Geerhardus Vos menyatakan bahwa eksodus adalah bayangan dari keselamatan yang lebih besar dalam Kristus.

V. Dimensi Perjanjian: Kesetiaan Allah terhadap Janji-Nya

Allah bertindak bukan karena Israel layak, tetapi karena perjanjian dengan Abraham (Keluaran 2:24).

Herman Bavinck menekankan bahwa seluruh sejarah penebusan berakar pada kesetiaan Allah terhadap janji-Nya.

Tulah keenam memperlihatkan bahwa Allah serius menepati firman-Nya, baik dalam berkat maupun penghakiman.

VI. Dimensi Antropologis: Hati yang Keras

Firaun adalah gambaran hati manusia yang memberontak.

Doktrin total depravity mengajarkan bahwa manusia secara alami menolak Allah.

Tanpa anugerah yang memperbarui, hati manusia tetap keras.

Perbedaan antara Firaun dan Israel bukan pada moralitas alami, tetapi pada anugerah pilihan Allah.

VII. Relevansi Eskatologis

Kitab Wahyu memakai gambaran tulah dalam konteks penghakiman akhir.

Tulah-tulah Mesir adalah bayangan dari penghakiman terakhir atas dunia yang memberontak.

Anthony Hoekema menekankan bahwa sejarah bergerak menuju klimaks di mana keadilan Allah dinyatakan sepenuhnya.

VIII. Implikasi Pastoral

  1. Allah berdaulat atas sejarah dan bangsa-bangsa.

  2. Penghakiman Allah adalah nyata dan kudus.

  3. Pengerasan hati adalah peringatan serius terhadap penolakan firman.

  4. Pembebasan hanya mungkin melalui anugerah Allah.

Sintesis Teologis

Keluaran 9:8–12 memperlihatkan:

  • Kekudusan Allah dalam penghakiman,

  • Kedaulatan-Nya dalam sejarah,

  • Kesetiaan-Nya terhadap perjanjian,

  • dan misteri pengerasan hati.

Dalam terang teologi Reformed, tulah ini bukan sekadar episode historis, tetapi bagian dari narasi besar penebusan yang memuncak dalam Kristus.

Kesimpulan: Antara Murka dan Anugerah

Jelaga yang dihamburkan menjadi barah.

Hati yang keras menjadi semakin keras.

Namun di balik penghakiman, ada tujuan penebusan: pembebasan umat Allah dan penyataan kemuliaan-Nya.

Keluaran 9:8–12 mengingatkan kita bahwa Allah bukan hanya Allah kasih, tetapi juga Allah yang kudus dan adil.

Dan di dalam Kristus, kita melihat pertemuan sempurna antara keadilan dan belas kasihan.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post