Penyaliban Bersama Kristus

Penyaliban Bersama Kristus

Pendahuluan: Inti Injil yang Bersifat Partisipatif

Salah satu tema terdalam dalam teologi Perjanjian Baru adalah konsep bahwa orang percaya disalibkan bersama Kristus. Ini bukan sekadar metafora moral, tetapi realitas rohani yang berakar pada persatuan dengan Kristus (union with Christ). Dalam tradisi teologi Reformed, doktrin ini menempati posisi sentral karena menyentuh jantung keselamatan: pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan.

Penyaliban bersama Kristus bukan hanya peristiwa historis di Golgota, tetapi kebenaran redemptif yang diterapkan Roh Kudus kepada umat pilihan Allah. Artikel ini akan membahas tema ini secara teologis dengan memperhatikan pemikiran beberapa pakar Reformed seperti John Calvin, John Owen, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, dan Sinclair Ferguson.

1. Dasar Teologis: Union with Christ

Teologi Reformed menegaskan bahwa semua berkat keselamatan mengalir dari persatuan dengan Kristus. John Calvin menyebut persatuan dengan Kristus sebagai “ikatan yang menghubungkan kita dengan-Nya sehingga kita mengambil bagian dalam segala yang dimiliki-Nya.”

Tanpa union with Christ, salib tetap menjadi peristiwa eksternal. Namun melalui karya Roh Kudus, orang percaya dipersatukan dengan Kristus sehingga apa yang terjadi pada-Nya diperhitungkan kepada mereka.

Herman Bavinck menegaskan bahwa persatuan ini bukan mistik yang kabur, tetapi realitas perjanjian yang objektif dan sekaligus pengalaman rohani yang subjektif. Kita dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Penyaliban bersama Kristus berarti manusia lama kita telah dihukum di dalam Dia.

2. Dimensi Forensik dan Transformasional

Dalam teologi Reformed, keselamatan memiliki dimensi forensik (hukum) dan transformasional (perubahan hidup). Penyaliban bersama Kristus menyentuh keduanya.

a. Dimensi Forensik

Dalam pembenaran, dosa kita diperhitungkan kepada Kristus, dan kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita. Ketika Kristus mati, hukuman atas dosa umat-Nya dijatuhkan secara penuh.

John Owen menekankan bahwa salib adalah tempat keadilan dan kasih Allah bertemu. Dalam pengertian hukum, orang percaya telah mati terhadap tuntutan hukum karena Kristus telah memikulnya.

b. Dimensi Transformasional

Namun penyaliban bersama Kristus tidak berhenti pada status hukum. Ia juga mengandung makna etis dan eksistensial. Manusia lama disalibkan supaya tubuh dosa kehilangan kuasanya.

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa pengudusan adalah aplikasi berkelanjutan dari kematian Kristus dalam kehidupan orang percaya. Kita bukan hanya dibebaskan dari hukuman dosa, tetapi juga dari dominasi dosa.

3. Mortifikasi Dosa: Hidup dalam Realitas Salib

John Owen dalam The Mortification of Sin mengajarkan bahwa orang percaya dipanggil untuk “mematikan dosa atau dosa akan mematikanmu.” Penyaliban bersama Kristus menjadi dasar teologis bagi praktik mematikan dosa.

Teologi Reformed tidak melihat pengudusan sebagai usaha manusia semata, tetapi sebagai kerja sama aktif di bawah anugerah. Roh Kudus memberi kuasa, tetapi orang percaya harus bertindak.

Mortifikasi bukan legalisme, melainkan ekspresi iman bahwa kita telah mati bersama Kristus. Setiap kali kita menolak dosa, kita sedang hidup dalam realitas salib.

4. Perspektif Biblika-Redemptif

Geerhardus Vos menekankan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah pusat sejarah penebusan. Dalam kerangka ini, penyaliban bersama Kristus berarti kita telah dipindahkan dari zaman lama (di bawah Adam) ke zaman baru (di dalam Kristus).

Teologi Reformed melihat Adam sebagai kepala perwakilan umat manusia. Dalam Adam, semua mati. Dalam Kristus, semua yang dipersatukan dengan-Nya menerima hidup.

Penyaliban bersama Kristus berarti kita tidak lagi berada di bawah solidaritas Adam yang berdosa, tetapi di bawah solidaritas Kristus yang benar.

5. Dimensi Perjanjian dan Representasi

Konsep federal headship (kepala perwakilan) sangat penting dalam teologi Reformed. Adam dan Kristus bertindak sebagai wakil.

Bavinck menjelaskan bahwa keselamatan bersifat korporat sekaligus personal. Ketika Kristus mati, Ia mati sebagai Kepala perjanjian bagi umat-Nya.

Karena itu, penyaliban bersama Kristus bukan sekadar pengalaman emosional, tetapi fakta objektif dalam perjanjian anugerah.

6. Salib dan Identitas Baru

Penyaliban bersama Kristus membentuk identitas baru. Orang percaya tidak lagi didefinisikan oleh masa lalu, dosa, atau status duniawi, tetapi oleh Kristus.

Calvin menekankan bahwa hidup Kristen adalah hidup yang tersembunyi di dalam Kristus. Identitas lama telah disalibkan.

Ini memberi kebebasan sejati. Kita tidak lagi hidup untuk membuktikan diri, tetapi sebagai orang yang telah diterima sepenuhnya dalam Kristus.

7. Dimensi Penderitaan dan Pemuridan

Penyaliban bersama Kristus juga memiliki implikasi praktis dalam penderitaan. Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk memikul salib.

Teologi Reformed melihat penderitaan bukan sebagai tanda kutukan, tetapi sebagai bagian dari keserupaan dengan Kristus. Ferguson menegaskan bahwa Roh Kudus membentuk karakter Kristus dalam kita melalui proses ini.

Penderitaan menjadi sarana pengudusan.

8. Eskatologi: Dari Salib ke Kemuliaan

Penyaliban bersama Kristus tidak terpisah dari kebangkitan bersama Dia. Dalam teologi Reformed, keselamatan selalu bergerak menuju pemuliaan.

Bavinck menulis bahwa pengudusan di dunia ini adalah awal dari kemuliaan kekal. Kita mati bersama Kristus agar kita juga hidup bersama-Nya.

Salib bukan akhir cerita, melainkan jalan menuju kemuliaan.

Penutup: Hidup dalam Bayang Salib

Penyaliban bersama Kristus adalah kebenaran yang membentuk seluruh kehidupan Kristen. Ia menegaskan bahwa keselamatan bukan hanya perubahan status, tetapi perubahan eksistensi.

Dalam teologi Reformed, union with Christ menjadi fondasi bagi pembenaran, pengudusan, dan pengharapan. Kita telah mati bersama Dia, dan karena itu kita dipanggil untuk hidup dalam realitas itu setiap hari.

Salib bukan sekadar simbol iman, tetapi pusat identitas kita. Di sana manusia lama dihukum, anugerah dinyatakan, dan hidup baru dimulai.

Akhirnya, penyaliban bersama Kristus mengajarkan paradoks Injil: melalui kematian kita memperoleh hidup; melalui penyangkalan diri kita menemukan kebebasan; melalui salib kita memasuki kemuliaan.

Next Post Previous Post