Penghiburan: Providensi dan Kebaikan Allah

Penghiburan: Providensi dan Kebaikan Allah

Pendahuluan: Mencari Penghiburan di Tengah Dunia yang Retak

Setiap manusia, tanpa terkecuali, akan berhadapan dengan penderitaan. Kehilangan, penyakit, ketidakpastian ekonomi, konflik relasi, bencana alam, dan pergumulan batin merupakan bagian dari realitas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dalam konteks seperti ini, pertanyaan yang paling mendalam bukan sekadar “Mengapa ini terjadi?”, melainkan “Di manakah Allah ketika semua ini terjadi?”

Iman Kristen tidak menawarkan penghiburan yang dangkal. Ia tidak berkata bahwa penderitaan itu ilusi atau bahwa semua akan baik-baik saja secara otomatis. Sebaliknya, iman Kristen menawarkan penghiburan yang kokoh karena berakar pada dua kebenaran agung: providensi Allah dan kebaikan Allah.

Dalam tradisi teologi Reformed, kedua doktrin ini berdiri di pusat penghiburan Kristen. Allah bukan sekadar Pencipta yang jauh, tetapi Pemelihara aktif yang berdaulat atas segala sesuatu. Dan Allah yang berdaulat itu bukanlah tiran kosmis, melainkan Bapa yang baik, yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya.

Rasul Paulus menyatakan:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
(Roma 8:28, TB)

Ayat ini telah menjadi sumber penghiburan bagi jutaan orang percaya sepanjang sejarah gereja. Namun, untuk memahami kedalaman penghiburan ini, kita harus menelusuri maknanya dalam terang providensi dan kebaikan Allah sebagaimana dipahami dalam teologi Reformed.

I. Providensi Allah: Allah yang Memerintah dan Memelihara

1. Definisi Providensi dalam Teologi Reformed

Dalam pengakuan iman Reformed, providensi adalah karya Allah yang terus-menerus menopang, mengatur, dan mengarahkan seluruh ciptaan menuju tujuan yang telah Ia tetapkan. Yohanes Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu berada di bawah tangan Allah yang berdaulat.

Calvin menolak gagasan bahwa Allah hanya menciptakan dunia lalu membiarkannya berjalan sendiri. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa Allah “memelihara, menopang, dan mengatur segala sesuatu dengan kuasa-Nya.” Bahkan peristiwa yang tampak kecil sekalipun berada dalam lingkup pemerintahan-Nya.

Herman Bavinck menambahkan bahwa providensi bukan sekadar kontrol mekanis, melainkan pemerintahan yang penuh hikmat dan tujuan. Allah bukan hanya mengizinkan sejarah berjalan; Ia mengarahkannya menuju kepenuhan rencana penebusan-Nya dalam Kristus.

2. Providensi dan Roma 8:28

Roma 8:28 bukanlah pernyataan optimisme kosong. Paulus tidak berkata bahwa “segala sesuatu itu baik.” Ia berkata bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Ini berarti penderitaan tetaplah penderitaan, kejahatan tetaplah kejahatan, tetapi Allah berdaulat sehingga tidak ada satu pun yang berada di luar kendali-Nya.

R.C. Sproul menegaskan bahwa jika ada satu molekul pun di alam semesta ini yang berada di luar kedaulatan Allah, maka tidak ada jaminan bahwa rencana keselamatan dapat digenapi. Providensi Allah adalah fondasi kepastian keselamatan dan penghiburan orang percaya.

II. Kebaikan Allah: Karakter yang Menjadi Dasar Penghiburan

Providensi tanpa kebaikan akan menjadi menakutkan. Jika Allah berdaulat tetapi tidak baik, maka dunia ini berada di tangan penguasa yang kejam. Namun Alkitab menyaksikan bahwa Allah bukan hanya berdaulat, tetapi juga baik.

Mazmur 23:4 memberikan gambaran penghiburan yang personal:

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
(Mazmur 23:4, TB)

Pemazmur tidak menyangkal keberadaan “lembah kekelaman.” Ia mengakui realitas bahaya dan ancaman. Namun penghiburannya bukanlah perubahan keadaan, melainkan kehadiran Allah. Kebaikan Allah dinyatakan dalam penyertaan-Nya.

John Piper menekankan bahwa kebaikan Allah paling jelas terlihat dalam fakta bahwa Ia memberikan diri-Nya sendiri kepada umat-Nya. Penghiburan sejati bukan hanya pembebasan dari penderitaan, tetapi persekutuan dengan Allah yang hidup.

III. Providensi dalam Penderitaan: Bukan Kebetulan, Bukan Tanpa Tujuan

1. Misteri dan Kepastian

Teologi Reformed tidak menutup mata terhadap misteri. Kita tidak selalu mengetahui mengapa Allah mengizinkan penderitaan tertentu. Namun kita mengetahui siapa yang memegang kendali. Bavinck menyatakan bahwa providensi Allah sering kali tersembunyi, tetapi tidak pernah absen.

Roma 8:28 tidak menjanjikan bahwa kita akan memahami semua hal. Ia menjanjikan bahwa Allah bekerja dalam semua hal. Ada perbedaan besar antara memahami dan mempercayai.

2. Pengudusan melalui Providensi

Dalam kerangka Roma 8 secara keseluruhan, “kebaikan” yang dimaksud bukan terutama kenyamanan temporal, melainkan keserupaan dengan Kristus. Ayat berikutnya (Roma 8:29) berbicara tentang ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Calvin menekankan bahwa tujuan akhir kehidupan orang percaya adalah keserupaan dengan Kristus. Jika penderitaan dipakai Allah untuk memurnikan iman dan membentuk karakter, maka penderitaan itu berada dalam jalur kebaikan ilahi.

Sproul mengatakan bahwa sering kali Allah lebih peduli pada kekudusan kita daripada kenyamanan kita. Dalam terang kekekalan, penderitaan yang sementara dipakai untuk menghasilkan kemuliaan yang kekal.

IV. Kristus sebagai Pusat Providensi dan Kebaikan

Providensi Allah tidak dapat dipahami terpisah dari Kristus. Salib adalah titik di mana providensi dan kebaikan Allah bertemu secara dramatis. Di sana tampak seolah-olah kejahatan menang, tetapi justru di situlah rencana keselamatan digenapi.

Abraham Kuyper menegaskan bahwa seluruh sejarah dunia bergerak menuju penobatan Kristus sebagai Raja atas segala sesuatu. Providensi bukanlah sekadar pengaturan peristiwa, tetapi pengarahan sejarah menuju kemuliaan Kristus.

Salib membuktikan bahwa Allah dapat memakai kejahatan terbesar untuk mendatangkan kebaikan terbesar. Jika Allah dapat mengubah penyaliban Anak-Nya menjadi keselamatan dunia, maka tidak ada penderitaan orang percaya yang sia-sia.

V. Penghiburan yang Realistis, Bukan Ilusi

Penghiburan Kristen bukanlah penyangkalan realitas. Mazmur 23:4 tidak berkata bahwa lembah kekelaman tidak ada. Ia berkata bahwa Allah hadir di dalamnya.

Teologi Reformed menolak dua ekstrem:

  1. Fatalisme – seolah-olah manusia hanyalah boneka tanpa makna.

  2. Otonomi radikal – seolah-olah segala sesuatu berada di tangan manusia.

Providensi mengajarkan bahwa Allah berdaulat, namun manusia tetap bertanggung jawab. Di tengah penderitaan, orang percaya boleh menangis, bergumul, dan bertanya, tetapi tidak perlu putus asa.

VI. Dimensi Pastoral: Penghiburan bagi Umat yang Terluka

Dalam pelayanan pastoral, doktrin providensi harus disampaikan dengan kepekaan. Calvin sendiri dikenal sebagai gembala yang penuh empati. Ia tidak menggunakan doktrin ini untuk membungkam kesedihan, tetapi untuk menopang iman.

Penghiburan sejati lahir ketika orang percaya melihat bahwa hidupnya tidak berada dalam kekacauan kosmis, melainkan dalam tangan Bapa surgawi yang penuh hikmat dan kasih.

Piper sering mengatakan bahwa Allah selalu melakukan sepuluh ribu hal dalam hidup kita, dan kita mungkin hanya menyadari tiga di antaranya. Ketidaktahuan kita tidak membatalkan hikmat Allah.

VII. Eskatologi dan Penghiburan Akhir

Providensi Allah tidak berhenti pada kehidupan sekarang. Penghiburan Kristen bersifat eskatologis. Akan tiba saatnya ketika seluruh misteri disingkapkan dan setiap air mata dihapuskan.

Roma 8 berbicara tentang kemuliaan yang akan datang yang tidak dapat dibandingkan dengan penderitaan zaman sekarang. Dalam terang kekekalan, penderitaan orang percaya bersifat sementara dan instrumental.

Bavinck menyatakan bahwa pengharapan Kristen bukanlah pelarian dari dunia, melainkan kepastian bahwa sejarah berada dalam tangan Allah dan akan mencapai tujuan yang mulia.

VIII. Implikasi Etis: Hidup dalam Kepercayaan dan Syukur

Jika Allah berdaulat dan baik, maka respons yang tepat adalah iman dan syukur. Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kepercayaan, bahkan ketika jalan di depan tidak jelas.

Providensi tidak meniadakan tanggung jawab. Justru karena Allah bekerja, kita terdorong untuk bekerja dengan setia. Kuyper menekankan bahwa tidak ada satu inci pun dalam kehidupan yang berada di luar klaim Kristus.

Kesimpulan Teologis

Consolation: Providence and the Goodness of God bukanlah sekadar tema teoretis, melainkan inti pengharapan Kristen. Roma 8:28 dan Mazmur 23:4 menyaksikan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu dan menyertai umat-Nya dalam lembah kekelaman.

Dalam terang teologi Reformed, penghiburan sejati berdiri di atas tiga pilar:

  1. Allah berdaulat sepenuhnya.

  2. Allah baik secara sempurna.

  3. Allah menyatakan keduanya secara puncak dalam Kristus.

Karena itu, orang percaya dapat berjalan melalui lembah tergelap sekalipun tanpa kehilangan pengharapan. Dunia mungkin tampak kacau, tetapi sejarah berada dalam tangan Allah yang penuh hikmat. Penderitaan mungkin nyata, tetapi tidak pernah sia-sia.

Providensi Allah menjamin bahwa tidak ada air mata yang terbuang, dan kebaikan Allah memastikan bahwa akhir dari cerita umat-Nya adalah kemuliaan.

Next Post Previous Post