Sebuah Risalah tentang Penderitaan

Sebuah Risalah tentang Penderitaan

Pendahuluan

Judul A Treatise on Afflictions secara tepat dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Sebuah Risalah tentang Penderitaan”. Kata treatise menunjuk pada suatu karya yang sistematis, reflektif, dan mendalam, bukan sekadar renungan singkat atau penghiburan emosional. Sementara itu, afflictions mengacu pada berbagai bentuk penderitaan: tekanan hidup, kesengsaraan, penyakit, penganiayaan, kehilangan, serta penderitaan batin yang dialami manusia di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Dalam tradisi teologi Reformed, penderitaan tidak pernah dipandang sebagai kebetulan, apalagi sekadar nasib buruk. Sebaliknya, penderitaan dipahami dalam kerangka kedaulatan Allah, kejatuhan manusia, penebusan dalam Kristus, dan pemeliharaan ilahi (providentia Dei). Oleh karena itu, risalah tentang penderitaan bukanlah upaya untuk menjelaskan Allah, melainkan untuk membawa manusia memahami penderitaan di hadapan Allah yang Mahakudus dan Mahakasih.

Artikel ini bertujuan menguraikan makna penderitaan secara teologis dari perspektif Reformed, serta menyajikan pandangan beberapa pakar teologi Reformed yang berpengaruh, seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, R.C. Sproul, dan John Piper. Dengan demikian, penderitaan tidak hanya dilihat sebagai masalah eksistensial, tetapi sebagai sarana pembentukan iman dan kemuliaan Allah.

1. Hakikat Penderitaan dalam Dunia yang Jatuh

Teologi Reformed memulai refleksi tentang penderitaan dari doktrin kejatuhan manusia ke dalam dosa (the Fall). Dunia diciptakan baik, namun dosa telah merusak seluruh tatanan ciptaan. Oleh karena itu, penderitaan bukan bagian dari maksud penciptaan semula, tetapi merupakan konsekuensi dari pemberontakan manusia terhadap Allah.

John Calvin menegaskan bahwa penderitaan adalah buah dari kondisi manusia yang telah rusak, namun ia menolak pandangan bahwa setiap penderitaan selalu merupakan hukuman langsung atas dosa tertentu. Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menyatakan bahwa Allah sering kali memakai penderitaan bukan untuk membinasakan, melainkan untuk mendidik umat-Nya.

Bagi teologi Reformed, penderitaan bersifat universal, mencakup orang percaya dan tidak percaya. Namun, maknanya berbeda. Orang yang tidak mengenal Allah melihat penderitaan sebagai absurditas, sedangkan orang percaya memandangnya dalam terang rencana Allah yang kekal.

2. Kedaulatan Allah dan Misteri Penderitaan

Salah satu ciri khas teologi Reformed adalah penekanan kuat pada kedaulatan Allah. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar kehendak dan pengetahuan-Nya, termasuk penderitaan.

R.C. Sproul dengan tegas menyatakan bahwa “tidak ada molekul di alam semesta yang berada di luar otoritas Allah.” Pernyataan ini sering kali menjadi batu sandungan, khususnya ketika dihadapkan pada penderitaan yang berat. Namun, Sproul menekankan bahwa meniadakan kedaulatan Allah justru akan menghilangkan pengharapan sejati.

Teologi Reformed mengakui adanya misteri dalam penderitaan. Allah sepenuhnya berdaulat, tetapi bukan penyebab dosa secara moral. Herman Bavinck menyebut ketegangan ini sebagai “kedalaman yang tidak dapat dijembatani oleh akal manusia, tetapi harus disembah dengan iman.”

Dengan demikian, risalah tentang penderitaan tidak pernah berakhir pada jawaban yang simplistik, melainkan membawa orang percaya untuk berserah di hadapan hikmat Allah yang melampaui pengertian manusia.

3. Penderitaan sebagai Alat Didikan Ilahi

John Calvin secara khusus melihat penderitaan sebagai alat didikan rohani. Ia menulis bahwa Allah memakai kesengsaraan untuk merendahkan kesombongan manusia dan menarik hati orang percaya kembali kepada-Nya.

Menurut Calvin, ada bahaya besar ketika kehidupan berjalan terlalu nyaman: manusia cenderung melupakan Allah. Penderitaan, dalam konteks ini, menjadi panggilan untuk bertobat, memperbarui iman, dan mengarahkan kembali hidup kepada kehendak Allah.

Pandangan ini kemudian dikembangkan oleh Louis Berkhof, yang menyatakan bahwa penderitaan memiliki fungsi pedagogis dalam kehidupan orang percaya. Berkhof menekankan bahwa penderitaan bukan sekadar hukuman, tetapi sarana pengudusan (sanctification).

Dalam teologi Reformed, pengudusan tidak pernah dilepaskan dari salib. Sama seperti Kristus dimuliakan melalui penderitaan, demikian pula umat-Nya dibentuk melalui jalan yang serupa.

4. Kristus sebagai Pusat Teologi Penderitaan

Tidak ada risalah tentang penderitaan yang utuh tanpa memusatkannya pada Kristus yang menderita. Teologi Reformed menegaskan bahwa penderitaan Kristus bersifat unik, karena Ia menderita sebagai Pengganti (substitutionary atonement).

Herman Bavinck menulis bahwa di dalam Kristus, penderitaan mencapai makna terdalamnya. Allah tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia, melainkan masuk ke dalamnya. Salib menjadi titik temu antara keadilan dan kasih Allah.

Penderitaan orang percaya tidak bersifat menebus, tetapi bersifat partisipatif—mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Dengan demikian, penderitaan tidak pernah kosong; ia selalu terkait dengan salib dan kebangkitan.

5. Penderitaan dan Kemuliaan Allah

John Piper, seorang teolog dan pengkhotbah Reformed kontemporer, menekankan bahwa tujuan utama dari segala sesuatu—termasuk penderitaan—adalah kemuliaan Allah. Piper terkenal dengan pernyataannya bahwa “Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita paling puas di dalam Dia.”

Dalam konteks penderitaan, kepuasan ini bukanlah perasaan nyaman, melainkan keyakinan mendalam bahwa Allah tetap baik sekalipun keadaan tidak baik. Piper menegaskan bahwa penderitaan sering kali menjadi panggung terbesar bagi iman sejati.

Ia juga mengkritik teologi kemakmuran yang melihat penderitaan sebagai tanda kurangnya iman. Bagi Piper, justru dalam penderitaanlah iman diuji dan dimurnikan.

6. Dimensi Pastoral dalam Penderitaan

Teologi Reformed tidak berhenti pada spekulasi teologis, tetapi memiliki implikasi pastoral yang kuat. R.C. Sproul mengingatkan bahwa doktrin kedaulatan Allah harus disampaikan dengan kepekaan, bukan sebagai senjata teologis.

Penderitaan menuntut kehadiran, empati, dan penghiburan. Dalam tradisi Reformed, firman Allah menjadi sumber penghiburan utama, namun harus disampaikan dengan kasih dan kebijaksanaan.

Louis Berkhof menekankan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang menanggung beban bersama, mencerminkan kasih Kristus kepada mereka yang menderita.

7. Pengharapan Eskatologis dalam Penderitaan

Teologi Reformed selalu memandang penderitaan dalam terang pengharapan eskatologis. Dunia ini bukan tujuan akhir. Penderitaan bersifat sementara, sedangkan kemuliaan yang akan datang bersifat kekal.

Herman Bavinck menyatakan bahwa tanpa eskatologi, penderitaan kehilangan konteksnya. Janji pemulihan ciptaan memberikan dasar yang kokoh bagi pengharapan orang percaya.

Pengharapan ini bukan pelarian dari realitas, tetapi kekuatan untuk bertahan dan setia di tengah penderitaan.

8. Penderitaan sebagai Kesaksian Iman

Dalam sejarah gereja, penderitaan sering kali menjadi sarana kesaksian yang paling kuat. Teologi Reformed melihat penderitaan sebagai kesempatan untuk memuliakan Allah di hadapan dunia.

John Calvin menulis bahwa kesabaran orang percaya di tengah penderitaan adalah bukti nyata dari karya Roh Kudus. Dunia mungkin tidak memahami teologi Reformed, tetapi dapat melihat iman yang teguh.

Kesimpulan

Sebuah Risalah tentang Penderitaan bukanlah usaha untuk menjinakkan rasa sakit atau memberikan jawaban instan. Dalam tradisi teologi Reformed, penderitaan dipahami sebagai bagian dari rencana Allah yang berdaulat, mendidik, dan penuh kasih.

Melalui pandangan para pakar teologi Reformed—Calvin, Bavinck, Berkhof, Sproul, dan Piper—kita melihat bahwa penderitaan:

  1. Berakar dalam kejatuhan manusia,

  2. Berada di bawah kedaulatan Allah,

  3. Menjadi alat pengudusan,

  4. Dipusatkan pada Kristus,

  5. Mengarah pada kemuliaan Allah,

  6. Ditopang oleh pengharapan eskatologis.

Risalah ini mengajak pembaca bukan hanya untuk memahami penderitaan, tetapi untuk hidup dengan iman di tengah penderitaan, sambil menantikan pemulihan sempurna dalam Kristus.

Next Post Previous Post