Mazmur 25:1-7: Mengangkat Jiwa kepada Allah yang Setia

Mazmur 25:1-7: Mengangkat Jiwa kepada Allah yang Setia

Pendahuluan: Doa sebagai Gerak Jiwa yang Bersandar pada Anugerah

Mazmur 25:1-7 adalah salah satu doa paling personal dan paling teologis dalam Kitab Mazmur. Di dalamnya, Daud tidak hanya memohon perlindungan dari musuh, tetapi membuka seluruh batinnya di hadapan Allah—iman, rasa malu, kerinduan akan pimpinan, dan pengakuan dosa yang mendalam. Mazmur ini menunjukkan bahwa doa sejati bukan sekadar permohonan situasional, melainkan respons iman terhadap karakter Allah yang setia dan penuh kasih.

Dalam teologi Reformed, doa tidak pernah dipisahkan dari doktrin. Apa yang Daud doakan mencerminkan apa yang ia yakini tentang Allah. John Calvin menyebut Mazmur sebagai “anatomi seluruh jiwa manusia”, dan Mazmur 25 adalah contoh klasik bagaimana iman, pertobatan, dan pengharapan bersatu dalam doa yang lahir dari relasi perjanjian dengan Allah

Latar Belakang Teologis Mazmur 25

1. Doa dalam Kerangka Perjanjian

Mazmur 25 secara eksplisit menyebut nama perjanjian Allah: TUHAN (YHWH). Ini menunjukkan bahwa doa Daud bukan doa orang asing, melainkan doa seorang yang berada dalam relasi perjanjian.

Herman Bavinck menegaskan bahwa doa Kristen selalu bersifat kovenantal: umat berdoa bukan untuk membujuk Allah, tetapi karena Allah telah lebih dahulu mengikat diri-Nya kepada umat-Nya.

2. Struktur Akrostik dan Ketertiban Rohani

Mazmur 25 ditulis dalam bentuk akrostik Ibrani (meskipun tidak sempurna). Ini menunjukkan bahwa doa Daud tidak kacau secara rohani, meskipun lahir dari pergumulan batin.

Geerhardus Vos melihat struktur ini sebagai tanda bahwa iman Alkitabiah tidak meniadakan emosi, tetapi menatanya di bawah kebenaran Allah.

Eksposisi Mazmur 25:1–2

Mengangkat Jiwa dan Bersandar pada Allah

Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku” adalah ungkapan penyerahan total. Jiwa di sini mencakup seluruh keberadaan—pikiran, kehendak, dan perasaan.

John Calvin menafsirkan ayat ini sebagai tindakan iman yang sadar: Daud memalingkan dirinya dari pertolongan manusia dan mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah.

Kepercayaan Daud bukanlah optimisme kosong. Ia sadar akan ancaman musuh dan kemungkinan dipermalukan. Namun, ia percaya bahwa malu sejati bukan datang dari ketergantungan pada Allah, melainkan dari pengkhianatan terhadap-Nya.

R. C. Sproul menekankan bahwa iman sejati selalu memiliki dimensi risiko—bersandar pada Allah berarti menolak jaminan duniawi.

Eksposisi Mazmur 25:3

Menanti Allah dan Keadilan-Nya

Ayat ini menegaskan prinsip teologis yang kuat: mereka yang menantikan TUHAN tidak akan mendapat malu. Penantian bukan sikap pasif, melainkan kepercayaan aktif pada waktu dan cara Allah.

Jonathan Edwards menulis bahwa penantian kepada Allah adalah ekspresi iman yang paling murni, karena di dalamnya manusia menyerahkan kendali.

Sebaliknya, mereka yang berbuat khianat—yakni melanggar kesetiaan perjanjian—akan mendapat malu, karena hidup mereka tidak selaras dengan realitas Allah.

Eksposisi Mazmur 25:4–5

Permohonan akan Pengajaran dan Pimpinan Ilahi

Daud tidak hanya meminta keselamatan, tetapi pengajaran. Ia sadar bahwa tanpa pimpinan Allah, ia akan tersesat, bahkan setelah diselamatkan.

John Owen menekankan bahwa keselamatan sejati selalu disertai kerinduan untuk diajar oleh Allah. Iman yang tidak mau diajar adalah iman palsu.

Permohonan Daud untuk “berjalan dalam kebenaran” menunjukkan bahwa kebenaran bukan sekadar konsep, tetapi jalan hidup.

Louis Berkhof menegaskan bahwa kebenaran Alkitab selalu bersifat etis dan relasional, bukan hanya intelektual.

Eksposisi Mazmur 25:6

Mengingat Kasih Setia yang Kekal

Ketika Daud berkata, “Ingatlah segala rahmat-Mu,” ia tidak mengingatkan Allah yang lupa, melainkan memohon agar Allah bertindak sesuai dengan karakter-Nya.

Herman Bavinck menegaskan bahwa kasih setia Allah (hesed) adalah fondasi seluruh sejarah penebusan. Allah setia bukan karena manusia layak, tetapi karena Ia adalah Allah.

Eksposisi Mazmur 25:7

Pengakuan Dosa dan Permohonan Anugerah

Ayat ini adalah puncak doa Daud: pengakuan dosa yang jujur dan mendalam. Ia menyebut dosa masa muda dan pelanggaran yang berlanjut.

John Calvin menekankan bahwa orang percaya sejati tidak pernah berhenti mengakui dosa, karena semakin dekat dengan Allah, semakin ia menyadari kedalaman dosanya.

Namun Daud tidak berhenti pada rasa bersalah. Ia memohon agar Allah mengingatnya sesuai dengan kasih setia-Nya, bukan sesuai dengan dosanya.

Ini adalah inti Injil: Allah memperlakukan umat-Nya bukan berdasarkan siapa mereka, tetapi berdasarkan siapa Dia.

Dimensi Kristologis Mazmur 25

Mazmur 25 menemukan penggenapannya di dalam Kristus:

  • Kristus adalah jalan kebenaran

  • Kristus adalah pengampunan sejati

  • Kristus menanggung rasa malu umat-Nya di kayu salib

J. I. Packer menulis bahwa doa-doa Mazmur hanya dapat dijawab sepenuhnya karena Kristus telah menjadi perantara sempurna.

Implikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini

  1. Doa yang Jujur di Hadapan Allah
    Gereja dipanggil untuk berdoa dengan keterbukaan penuh.

  2. Ketergantungan pada Anugerah, Bukan Prestasi
    Mazmur 25 menghancurkan kesombongan rohani.

  3. Hidup dalam Penantian yang Setia
    Pengharapan Kristen bukan pasif, tetapi berakar pada kesetiaan Allah.

Kesalahan yang Harus Dihindari

  • Menggunakan doa sebagai alat manipulasi Allah

  • Mengabaikan pengakuan dosa dalam doa

  • Menyamakan iman dengan perasaan positif

Teologi Reformed menegaskan bahwa doa sejati selalu bersandar pada karakter Allah, bukan kondisi manusia.

Penutup: Doa Orang Berdosa yang Bersandar pada Allah Setia

Mazmur 25:1–7 mengajarkan kita bahwa doa sejati lahir dari jiwa yang terangkat kepada Allah—jiwa yang sadar akan dosanya, lemah di hadapan musuh, namun teguh dalam pengharapan.

Allah yang sama yang mendengar doa Daud adalah Allah yang telah menyatakan kasih setia-Nya secara sempurna di dalam Yesus Kristus.

Next Post Previous Post