Tugas Agung Berserah kepada Kehendak Ilahi dalam Penderitaan

Tugas Agung Berserah kepada Kehendak Ilahi dalam Penderitaan

Pendahuluan: Penderitaan dan Pertanyaan tentang Kehendak Allah

Judul “The Great Duty of Resignation to the Divine Will in Affliction” dapat diterjemahkan sebagai:
“Tugas Agung Berserah kepada Kehendak Ilahi dalam Penderitaan.”

Di dalam sejarah gereja, tema ini bukanlah tema yang ringan. Ia lahir dari pergumulan nyata: kehilangan, penyakit, penganiayaan, kegagalan, dan kegelapan jiwa. Dalam konteks teologi Reformed, berserah kepada kehendak Allah bukanlah fatalisme, melainkan respons iman terhadap Allah yang berdaulat dan baik.

Penderitaan selalu memunculkan pertanyaan:

  • Apakah Allah mengendalikan ini?

  • Apakah Ia peduli?

  • Mengapa Ia mengizinkannya?

Teologi Reformed tidak menjawab dengan spekulasi emosional, tetapi dengan fondasi kokoh: Allah berdaulat, kudus, bijaksana, dan penuh kasih.

I. Dasar Alkitabiah: Kedaulatan Allah dalam Penderitaan

Ayub 1:21

“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya. Namun responsnya bukan tuduhan, melainkan pengakuan teologis.

1. Allah sebagai Sumber dan Penguasa

John Calvin, dalam komentarnya atas kitab Ayub, menekankan bahwa Ayub tidak melihat peristiwa-peristiwa sebagai kebetulan atau semata-mata ulah Iblis. Ia melihat tangan Allah yang berdaulat di balik semuanya.

Dalam teologi Reformed, providensia Allah mencakup:

  • Pemeliharaan

  • Pemerintahan

  • Pengarahan segala sesuatu

Louis Berkhof mendefinisikan providensia sebagai tindakan Allah yang terus-menerus memelihara dan mengatur seluruh ciptaan menuju tujuan-Nya.

Berserah kepada kehendak Allah berarti mengakui bahwa penderitaan tidak pernah berada di luar kendali-Nya.

II. Kristus sebagai Teladan Penyerahan dalam Penderitaan

Lukas 22:42

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.”

Getsemani adalah puncak penderitaan batin Kristus.

1. Penyerahan dalam Ketaatan Aktif

Herman Bavinck menegaskan bahwa ketaatan Kristus bukan sekadar kepatuhan pasif, tetapi ketaatan aktif dan penuh kasih kepada Bapa.

Kristus tidak menolak realitas penderitaan. Ia mengakuinya. Namun Ia menundukkan kehendak manusiawi-Nya kepada kehendak ilahi.

Di sinilah dasar sejati penyerahan Kristen: bukan penyangkalan rasa sakit, tetapi penundukan hati kepada Allah yang dipercaya.

III. Perbedaan antara Fatalisme dan Iman

Penyerahan kepada kehendak Allah sering disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa pengharapan.

1. Fatalisme: Tanpa Relasi dan Tanpa Tujuan

Fatalisme berkata: “Tidak ada yang bisa diubah, jadi terimalah saja.”

Namun teologi Reformed berkata:

  • Allah berdaulat.

  • Allah pribadi.

  • Allah penuh hikmat dan kasih.

R.C. Sproul menekankan bahwa kedaulatan Allah bukanlah tirani kosmis, melainkan pemerintahan Bapa yang penuh hikmat.

Penyerahan Kristen adalah tindakan iman, bukan kepasrahan kosong.

IV. Roma 8:28 – Fondasi Pengharapan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…”

1. “Segala Sesuatu” Termasuk Penderitaan

John Murray menjelaskan bahwa ayat ini tidak mengatakan semua hal itu baik, tetapi Allah bekerja melalui semua hal untuk menghasilkan kebaikan kekal.

Kebaikan yang dimaksud bukan kenyamanan sementara, melainkan keserupaan dengan Kristus (Roma 8:29).

Berserah berarti mempercayai bahwa:

  • Allah tidak membuang penderitaan.

  • Ia mengolahnya menjadi alat pembentukan rohani.

V. Disiplin Ilahi dan Pengudusan

Ibrani 12:6

“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya…”

Dalam tradisi Reformed, penderitaan sering dipahami sebagai sarana pengudusan.

John Owen menulis bahwa Allah menggunakan penderitaan untuk:

  • Mematikan dosa.

  • Memurnikan iman.

  • Mengalihkan hati dari dunia kepada surga.

Berserah kepada kehendak Allah berarti menerima bahwa penderitaan mungkin adalah alat pembentukan, bukan tanda penolakan.

VI. Dimensi Perjanjian: Allah yang Setia

Dalam Perjanjian Lama, umat Allah sering mengalami penderitaan kolektif. Namun perjanjian Allah tetap berdiri.

Herman Bavinck menegaskan bahwa relasi perjanjian memberi dasar bagi kepercayaan dalam penderitaan. Allah tidak melupakan janji-Nya.

Penyerahan bukanlah ketiadaan keluhan. Mazmur penuh dengan ratapan. Namun ratapan itu selalu berujung pada pengakuan iman.

VII. Penyerahan dan Kerendahan Hati

Yakobus 4:15 berkata:

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Penyerahan mengakui keterbatasan manusia.

Calvin menulis bahwa kebanggaan manusia runtuh ketika ia menyadari bahwa hidupnya sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah.

Penderitaan sering menjadi alat yang meruntuhkan ilusi kemandirian.

VIII. Kristus dan Salib sebagai Pusat Teologi Penderitaan

Di salib, kita melihat:

  • Keadilan Allah ditegakkan.

  • Kasih Allah dinyatakan.

  • Rencana Allah digenapi melalui penderitaan.

R.C. Sproul berkata bahwa salib adalah bukti bahwa Allah dapat membawa kebaikan terbesar dari kejahatan terbesar.

Jika Allah dapat menggunakan penyaliban untuk keselamatan dunia, maka Ia dapat menggunakan penderitaan kita untuk tujuan-Nya yang lebih tinggi.

IX. Penghiburan Eskatologis

Wahyu 21:4 menyatakan bahwa Allah akan menghapus segala air mata.

Teologi Reformed menekankan bahwa sejarah bergerak menuju pemulihan total.

Anthony Hoekema menyebut pengharapan eskatologis sebagai “jangkar jiwa dalam badai.”

Berserah kepada kehendak Allah dalam penderitaan berarti melihat melampaui saat ini menuju kemuliaan yang akan datang.

X. Aplikasi Pastoral

1. Berserah bukan berarti diam tanpa doa

Yesus sendiri berdoa dengan sungguh-sungguh.

2. Berserah berarti percaya meski tidak mengerti

Iman bukan pengertian penuh, tetapi kepercayaan penuh.

3. Berserah melahirkan damai

Yesaya 26:3 berkata bahwa hati yang bersandar pada Tuhan dipelihara dalam damai sejahtera.

XI. Refleksi Teologis Mendalam

Mengapa berserah disebut “tugas agung”?

Karena ia menuntut:

  • Kerendahan hati yang dalam.

  • Iman yang teguh.

  • Kasih yang percaya.

Tanpa Roh Kudus, manusia cenderung memberontak dalam penderitaan. Namun Roh Kudus menundukkan hati dan memberi penghiburan batin.

John Calvin menulis bahwa hati manusia adalah pabrik pemberontakan ketika menghadapi kesulitan. Hanya anugerah yang dapat menenangkan jiwa.

Kesimpulan: Damai dalam Kedaulatan Allah

Tugas agung berserah kepada kehendak ilahi dalam penderitaan bukanlah jalan yang mudah, tetapi jalan iman.

Ia berakar pada keyakinan bahwa:

  • Allah berdaulat.

  • Allah bijaksana.

  • Allah penuh kasih.

  • Allah setia kepada perjanjian-Nya.

Di tengah badai, orang percaya dapat berkata:

“Tuhan, aku tidak mengerti, tetapi aku percaya.”

Dan di situlah damai ditemukan — bukan dalam ketiadaan penderitaan, tetapi dalam penyerahan kepada kehendak Allah yang sempurna.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post