Mazmur 28:6–9: Dari Ratapan kepada Pujian

Mazmur 28:6–9: Dari Ratapan kepada Pujian

Pendahuluan: Transformasi Rohani dalam Mazmur Ratapan

Mazmur 28 adalah mazmur Daud yang dimulai dengan ratapan dan permohonan (ay. 1–5), tetapi berakhir dengan pujian dan doa syafaat (ay. 6–9). Perubahan nada ini bukan sekadar perubahan emosi, melainkan perubahan perspektif iman.

Dalam tradisi Reformed, mazmur-mazmur seperti ini menunjukkan dinamika kehidupan iman yang sejati: pergumulan yang jujur, tetapi berakar dalam keyakinan akan karakter Allah.

Bagian Mazmur 28:6–9 adalah klimaks teologis dari mazmur ini. Di dalamnya kita menemukan tiga tema besar:

  1. Allah yang mendengar doa.

  2. Allah sebagai kekuatan dan perisai.

  3. Allah sebagai Gembala umat perjanjian-Nya.

I. Mazmur 28:6: Allah yang Mendengar Doa

“Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.”

1. Dari Permohonan ke Pujian

Menarik bahwa Daud beralih dari permohonan kepada pujian sebelum melihat hasil nyata. Ini adalah pujian iman.

John Calvin dalam komentarnya atas Mazmur menyatakan bahwa pujian Daud lahir dari keyakinan akan kesetiaan Allah, bukan semata-mata dari perubahan keadaan.

Teologi Reformed menegaskan bahwa doa bukanlah usaha mengubah kehendak Allah, tetapi sarana yang Allah tetapkan untuk menggenapi rencana-Nya.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa doa adalah bagian dari providensia Allah. Allah menetapkan bukan hanya tujuan, tetapi juga sarana untuk mencapainya.

2. Allah yang Personal

Mazmur ini menunjukkan relasi pribadi antara Daud dan Tuhan. Allah bukan kekuatan impersonal, tetapi Pribadi yang mendengar.

Herman Bavinck menegaskan bahwa dalam wahyu Alkitab, Allah adalah Allah yang berfirman dan mendengar. Relasi ini adalah inti iman perjanjian.

II. Mazmur 28:7: Allah sebagai Kekuatan dan Perisai

“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya.”

1. Kekuatan (Strength)

Daud tidak berkata, “TUHAN memberi kekuatan,” tetapi “TUHAN adalah kekuatanku.” Ini menunjuk pada ketergantungan total.

R.C. Sproul menekankan bahwa iman Kristen bukanlah kepercayaan pada diri sendiri yang diperkuat, tetapi pada Allah yang berdaulat.

Dalam konteks peperangan kuno, kekuatan menentukan hidup atau mati. Daud mengakui bahwa sumber keselamatannya bukan pada strategi atau pasukan, tetapi pada Tuhan.

2. Perisai (Shield)

Perisai melambangkan perlindungan aktif. Dalam banyak mazmur, Allah digambarkan sebagai perisai umat-Nya (bdk. Mazmur 3:4).

John Owen menulis bahwa iman sejati berlindung pada Allah dalam setiap ancaman, baik fisik maupun rohani.

3. Kepercayaan Hati

“Kepada-Nya hatiku percaya.”

Teologi Reformed menekankan bahwa iman bukan sekadar persetujuan intelektual, tetapi kepercayaan hati yang bersandar pada janji Allah.

Calvin menyebut iman sebagai “pengetahuan yang teguh dan pasti tentang kemurahan Allah terhadap kita.”

Dari kepercayaan itu lahir sukacita dan nyanyian syukur.

III. Mazmur 28:8: Dimensi Kolektif – Allah bagi Umat dan yang Diurapi

“TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!”

Ayat ini memperluas fokus dari individu kepada komunitas.

1. Allah Umat Perjanjian

Dalam teologi Reformed, relasi Allah dengan umat-Nya bersifat perjanjian (covenantal).

Herman Bavinck menekankan bahwa keselamatan tidak pernah semata-mata individualistik. Allah membentuk umat bagi diri-Nya.

2. “Orang yang Diurapi”

Istilah ini dapat merujuk kepada raja (Daud sendiri), tetapi dalam terang keseluruhan Alkitab menunjuk kepada Mesias.

Dalam perspektif Kristologis, Yesus adalah Yang Diurapi sejati (Mesias).

Benteng keselamatan bagi yang diurapi berarti Allah menopang rencana penebusan melalui Mesias.

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa seluruh mazmur akhirnya menemukan penggenapannya dalam Kristus.

IV. Mazmur 28:9: Doa Syafaat dan Gambaran Gembala

“Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri…”

1. Doa Syafaat

Daud beralih dari pujian pribadi ke doa bagi umat.

Ini mencerminkan hati seorang pemimpin perjanjian.

John Calvin menekankan bahwa iman sejati tidak berhenti pada keselamatan pribadi, tetapi meluas kepada kesejahteraan gereja.

2. Allah sebagai Gembala

“Gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.”

Gambaran gembala adalah salah satu metafora paling indah dalam Alkitab.

Mazmur 23 menyatakan: “TUHAN adalah gembalaku.”

Dalam Yohanes 10, Kristus menyatakan diri sebagai Gembala yang baik.

Teologi Reformed melihat penggembalaan Allah sebagai bagian dari providensia dan pemeliharaan-Nya yang setia.

Berkhof menyatakan bahwa pemeliharaan Allah bukan hanya menjaga keberadaan, tetapi mengarahkan umat kepada tujuan kekal.

V. Dimensi Eskatologis

Frasa “untuk selama-lamanya” menunjukkan horizon kekal.

Mazmur ini tidak berhenti pada pembebasan sementara, tetapi menunjuk pada keselamatan yang kekal.

Anthony Hoekema menjelaskan bahwa pengharapan Perjanjian Lama mengarah kepada penggenapan eskatologis dalam Kristus.

Allah yang menyelamatkan hari ini adalah Allah yang menopang sampai kekekalan.

VI. Refleksi Teologis Mendalam

Mazmur 28:6–9 mengajarkan beberapa kebenaran besar:

  1. Allah mendengar doa umat-Nya.

  2. Allah adalah sumber kekuatan dan perlindungan sejati.

  3. Keselamatan bersifat pribadi dan komunal.

  4. Allah menggembalakan umat-Nya menuju kekekalan.

Dalam perspektif Reformed, semua ini berakar pada anugerah yang berdaulat.

Daud tidak memuji karena dirinya layak, tetapi karena Allah setia.

VII. Aplikasi Pastoral

1. Dalam Pergumulan

Kita boleh memulai dengan ratapan, tetapi harus berakhir dengan iman.

2. Dalam Ketakutan

Allah adalah perisai. Tidak ada ancaman di luar kendali-Nya.

3. Dalam Kehidupan Gereja

Kita dipanggil untuk mendoakan dan mengasihi umat Allah.

Kesimpulan: Dari Doa kepada Doksologi

Mazmur 28:6–9 adalah perjalanan dari jeritan kepada pujian, dari ketakutan kepada keyakinan, dari permohonan pribadi kepada doa bagi umat.

Allah yang mendengar adalah Allah yang menyelamatkan.
Allah yang menyelamatkan adalah Allah yang menggembalakan.
Dan Allah yang menggembalakan menopang umat-Nya untuk selama-lamanya.

Kiranya hidup kita pun mencerminkan pola yang sama:
berseru dalam kelemahan, percaya dalam iman, dan memuji dalam keyakinan.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post