Kehidupan William Farel

Kehidupan William Farel

Pendahuluan

Dalam sejarah Reformasi Protestan, nama Martin Luther dan John Calvin sering menjadi pusat perhatian. Namun di balik berkembangnya Reformasi di Swiss dan wilayah berbahasa Prancis, terdapat seorang tokoh penting yang sering kurang dikenal: William Farel. Ia adalah pengkhotbah yang berani, reformator yang penuh semangat, dan alat Tuhan yang membuka jalan bagi lahirnya gerakan Reformed di Jenewa.

William Farel bukan seorang teolog sistematika sebesar Calvin, juga bukan penulis produktif seperti Luther. Namun tanpa Farel, kemungkinan besar John Calvin tidak akan menetap di Jenewa dan sejarah Kekristenan Reformed akan sangat berbeda. Farel dikenal karena keberaniannya menghadapi ancaman, penganiayaan, dan penolakan demi memberitakan Injil.

Dalam perspektif teologi Reformed, kehidupan William Farel menunjukkan bagaimana Allah memakai pribadi yang sederhana namun berani untuk membawa pembaruan rohani besar. Semangatnya dalam memberitakan firman Tuhan, menolak kompromi, dan memperjuangkan kemurnian Injil menjadi inspirasi penting bagi gereja masa kini.

Artikel ini akan membahas kehidupan William Farel, pelayanan dan pengaruhnya, serta pandangan beberapa teolog Reformed mengenai pentingnya peran Farel dalam sejarah Reformasi.

1. Masa Awal Kehidupan William Farel

William Farel lahir pada tahun 1489 di Gap, sebuah kota kecil di wilayah Dauphiné, Prancis. Ia lahir dalam keluarga Katolik yang taat dan dibesarkan dalam tradisi gereja abad pertengahan.

Pada masa mudanya, Farel dikenal sebagai pribadi yang sangat religius. Ia menghormati tradisi gereja dan bahkan sangat setia kepada sistem Katolik Roma.

Namun seperti banyak tokoh Reformasi lainnya, Tuhan memakai pendidikan dan pergumulan intelektual untuk membuka matanya terhadap kebenaran Injil.

Farel belajar di Universitas Paris, pusat intelektual penting pada zamannya. Di sana ia bertemu dengan Jacques Lefèvre d’Étaples, seorang sarjana humanis Kristen yang mulai menekankan pentingnya kembali kepada Alkitab.

Lefèvre mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman kepada Kristus, bukan melalui jasa manusia atau ritual gereja. Pemikiran ini sangat memengaruhi Farel.

Herman Bavinck melihat gerakan Reformasi sebagai karya providensi Allah melalui kebangkitan kembali studi Alkitab. Dalam konteks ini, pendidikan Farel menjadi alat yang Tuhan pakai untuk mempersiapkannya.

Perubahan Farel tidak terjadi secara instan. Namun perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa banyak praktik gereja pada zamannya tidak sesuai dengan Kitab Suci.

2. Pertobatan dan Panggilan Reformasi

Setelah memahami doktrin pembenaran oleh iman, hidup William Farel berubah secara drastis.

Ia kemudian meninggalkan banyak praktik dan keyakinan lama yang sebelumnya ia bela dengan penuh semangat.

John Calvin kemudian menggambarkan Farel sebagai pribadi yang memiliki “api yang menyala” dalam memberitakan Injil. Semangatnya begitu besar sehingga banyak orang terkesan sekaligus takut terhadap keberaniannya.

Farel mulai berkhotbah menentang:

  • penyembahan relik,
  • penjualan indulgensi,
  • otoritas paus yang berlebihan,
  • dan keselamatan berdasarkan perbuatan.

Ia menekankan bahwa keselamatan hanya melalui Kristus dan firman Tuhan harus menjadi otoritas tertinggi.

Pandangan ini sangat berbahaya pada masa itu. Gereja Katolik memiliki kekuatan besar, dan para pengkhotbah Reformasi sering menghadapi ancaman hukuman bahkan kematian.

Namun Farel tetap memberitakan Injil dengan berani.

R. C. Sproul menjelaskan bahwa Reformasi bukan sekadar konflik politik, tetapi perjuangan untuk memulihkan Injil yang murni.

Farel memahami bahwa tanpa Injil anugerah, manusia tetap berada dalam perbudakan rohani.

3. Penginjilan yang Penuh Keberanian

Salah satu ciri paling menonjol dalam kehidupan William Farel adalah keberaniannya.

Ia dikenal sebagai pengkhotbah yang sangat berapi-api. Banyak catatan sejarah menggambarkan khotbahnya penuh semangat dan tanpa kompromi.

Berbeda dengan Calvin yang cenderung tenang dan sistematis, Farel memiliki gaya konfrontatif dan langsung.

Ia pergi dari kota ke kota memberitakan Reformasi, sering kali menghadapi:

  • penolakan,
  • ancaman,
  • kekerasan fisik,
  • bahkan percobaan pembunuhan.

Di beberapa tempat, massa melempari Farel dengan batu atau mengusirnya dari kota. Namun ia terus kembali memberitakan Injil.

J. C. Ryle memuji keberanian para Reformator yang rela mempertaruhkan hidup demi firman Tuhan.

Dalam konteks modern, semangat Farel menjadi pengingat bahwa pemberitaan Injil sejati sering menimbulkan penolakan.

Teologi Reformed selalu memahami bahwa kesetiaan kepada firman Tuhan kadang membawa penderitaan.

Namun Farel percaya bahwa Injil lebih berharga daripada kenyamanan pribadi.

4. Peran Farel dalam Reformasi Swiss

William Farel memainkan peran besar dalam menyebarkan Reformasi di wilayah Swiss berbahasa Prancis.

Ia bekerja di kota-kota seperti:

  • Basel,
  • Neuchâtel,
  • Lausanne,
  • dan terutama Jenewa.

Di Neuchâtel, Farel berhasil membawa banyak orang menerima ajaran Reformasi. Ia berkhotbah dengan kuasa dan menantang praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan Alkitab.

Abraham Kuyper melihat Reformasi sebagai gerakan yang tidak hanya mengubah gereja, tetapi juga masyarakat dan budaya.

Hal ini terlihat dalam pelayanan Farel. Reformasi bukan hanya perubahan doktrin, tetapi juga perubahan kehidupan sosial dan moral masyarakat.

Namun perjuangan Farel tidak mudah. Banyak kota terpecah antara pendukung Reformasi dan pihak Katolik.

Sering kali Reformasi berkembang di tengah konflik politik dan sosial yang rumit.

Walaupun demikian, Farel tetap fokus pada pemberitaan firman Tuhan sebagai pusat pembaruan gereja.

5. Pertemuannya dengan John Calvin

Salah satu momen paling terkenal dalam kehidupan William Farel adalah pertemuannya dengan John Calvin.

Pada tahun 1536, Calvin sedang melakukan perjalanan menuju Strasbourg dan hanya berniat singgah sementara di Jenewa.

Saat itu Farel sudah bekerja keras membangun Reformasi di kota tersebut. Namun ia sadar bahwa Jenewa membutuhkan seorang pengajar dan teolog yang kuat.

Farel kemudian mendatangi Calvin dan memohon agar ia tinggal di Jenewa membantu pekerjaan Reformasi.

Calvin awalnya menolak karena ingin hidup tenang sebagai sarjana dan penulis.

Namun Farel memberikan teguran keras yang terkenal dalam sejarah:

“Kiranya Allah mengutuk ketenanganmu jika engkau menolak membantu pekerjaan Tuhan pada saat kebutuhan begitu besar.”

Calvin kemudian mengakui bahwa ia merasa seolah Tuhan sendiri berbicara melalui Farel.

Sinclair Ferguson melihat peristiwa ini sebagai contoh providensi Allah dalam sejarah gereja.

Tanpa Farel, Calvin mungkin tidak pernah menetap di Jenewa. Dan tanpa Calvin di Jenewa, perkembangan teologi Reformed bisa sangat berbeda.

6. Hubungan Farel dan Calvin

Walaupun memiliki kepribadian berbeda, Farel dan Calvin menjadi rekan pelayanan yang sangat dekat.

Farel lebih emosional dan spontan.
Calvin lebih sistematis dan intelektual.

Namun keduanya dipersatukan oleh kecintaan terhadap Injil dan firman Tuhan.

Ketika Calvin dan Farel diusir dari Jenewa pada tahun 1538 karena konflik politik dan gerejawi, Farel tetap mendukung Calvin.

Kemudian ketika Calvin dipanggil kembali ke Jenewa, hubungan mereka tetap erat sampai akhir hidup.

John Piper menjelaskan bahwa gereja membutuhkan berbagai jenis karunia:

  • ada yang dipanggil sebagai penginjil penuh semangat,
  • ada yang dipanggil sebagai pengajar mendalam.

Farel dan Calvin menunjukkan bagaimana Tuhan memakai kepribadian berbeda untuk tujuan yang sama.

7. Semangat Reformasi dan Otoritas Alkitab

Inti pelayanan William Farel adalah keyakinan bahwa firman Tuhan harus menjadi otoritas tertinggi.

Ia menolak tradisi gereja yang dianggap bertentangan dengan Alkitab.

Teologi Reformed kemudian merumuskan prinsip Sola Scriptura:
hanya Kitab Suci yang menjadi otoritas final bagi gereja.

Farel percaya bahwa pembaruan sejati hanya dapat terjadi ketika gereja kembali kepada firman Tuhan.

Charles Spurgeon kemudian mengatakan bahwa gereja tidak membutuhkan hiburan dunia, tetapi pemberitaan firman yang setia.

Prinsip ini sudah terlihat dalam pelayanan Farel berabad-abad sebelumnya.

Ia tidak mencoba menyenangkan massa atau mencari popularitas. Fokus utamanya adalah memberitakan Injil dengan setia.

8. Karakter dan Kehidupan Pribadi Farel

William Farel dikenal memiliki keberanian luar biasa, tetapi juga karakter yang keras.

Beberapa orang menganggapnya terlalu tajam atau agresif.

Namun banyak sejarawan Reformed melihat bahwa semangatnya lahir dari kecintaan mendalam kepada kebenaran Injil.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa Allah sering memakai pribadi dengan karakter berbeda dalam sejarah penebusan.

Farel mungkin tidak sehalus Calvin dalam berbicara, tetapi keberaniannya membuka jalan bagi Reformasi di banyak tempat.

Menariknya, di usia lanjut Farel menikah pada usia hampir 70 tahun, sesuatu yang mengejutkan banyak rekannya termasuk Calvin.

Walaupun demikian, hubungan mereka tetap baik.

Farel terus memberitakan Injil sampai usia tua. Bahkan ketika tubuhnya lemah, semangat pelayanannya tidak padam.

9. Pengaruh William Farel bagi Gereja Reformed

Walaupun namanya tidak sepopuler Luther atau Calvin, pengaruh William Farel sangat besar.

Ia membantu membangun fondasi Reformasi di Swiss dan wilayah Prancis.

Lebih dari itu, ia menjadi alat Tuhan membawa Calvin ke Jenewa — sebuah kota yang kemudian menjadi pusat teologi Reformed dunia.

R. C. Sproul menekankan bahwa sejarah gereja dipenuhi oleh orang-orang yang mungkin kurang dikenal tetapi dipakai Tuhan secara luar biasa.

Farel menunjukkan bahwa keberanian memberitakan firman Tuhan dapat mengubah sejarah.

Pengaruh Reformasi yang ia bantu bangun akhirnya menyebar:

  • ke Prancis,
  • Belanda,
  • Skotlandia,
  • Inggris,
  • hingga Amerika.

Banyak gereja Reformed modern berdiri di atas fondasi yang turut dibangun oleh Farel.

10. Pelajaran bagi Gereja Masa Kini

Kehidupan William Farel memberikan banyak pelajaran penting bagi gereja modern.

a. Pentingnya Keberanian Rohani

Di zaman yang penuh kompromi, gereja membutuhkan keberanian berdiri di atas kebenaran.

b. Kesetiaan kepada Firman Tuhan

Farel mengingatkan bahwa gereja harus selalu kembali kepada Alkitab.

c. Semangat Penginjilan

Farel tidak puas hanya dengan diskusi teologi. Ia pergi memberitakan Injil secara aktif.

d. Allah Memakai Berbagai Karakter

Tidak semua pelayan Tuhan memiliki kepribadian sama. Tuhan memakai berbagai jenis pribadi untuk pekerjaan-Nya.

e. Providensi Allah dalam Sejarah

Pertemuan Farel dan Calvin menunjukkan bahwa Tuhan bekerja melalui detail sejarah untuk membangun gereja-Nya.

John Calvin sendiri pernah berkata bahwa Tuhan memakai manusia sebagai alat, tetapi seluruh kemuliaan tetap milik-Nya.

Penutup

William Farel adalah salah satu tokoh penting Reformasi yang sering kurang mendapat perhatian dibanding tokoh lain. Namun kehidupannya menunjukkan bagaimana Allah memakai seorang pengkhotbah penuh semangat untuk membuka jalan bagi pembaruan besar dalam sejarah gereja.

Ia lahir sebagai seorang Katolik yang taat, tetapi melalui firman Tuhan mengalami perubahan hidup dan menjadi pelopor Reformasi di wilayah Swiss dan Prancis. Dengan keberanian luar biasa, ia memberitakan Injil di tengah ancaman dan penganiayaan.

John Calvin melihat Farel sebagai pribadi yang penuh api rohani. Herman Bavinck memandang Reformasi sebagai karya providensi Allah melalui orang-orang seperti Farel. R. C. Sproul menekankan pentingnya perjuangan Reformasi untuk Injil yang murni. J. C. Ryle mengagumi keberanian para Reformator. John Piper melihat pentingnya berbagai karunia dalam tubuh Kristus sebagaimana terlihat pada hubungan Farel dan Calvin.

Warisan terbesar William Farel bukan hanya kota-kota yang menerima Reformasi, tetapi juga kesetiaannya kepada Injil.

Di tengah dunia modern yang sering mengutamakan kenyamanan dan kompromi, kehidupan Farel menjadi pengingat bahwa gereja dipanggil berdiri teguh pada firman Tuhan dan memberitakan Kristus dengan keberanian.

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya.”
— 2 Timotius 4:2

Previous Post