Apakah Sedikit Orang yang Diselamatkan?
.jpg)
Pendahuluan
Salah satu pertanyaan yang paling serius dan menggugah dalam seluruh Alkitab muncul dalam Lukas 13:23:
“Dan ada seorang yang berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?’”
Pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi orang-orang pada zaman Yesus, tetapi juga bagi setiap generasi. Di tengah dunia yang penuh dengan agama, filsafat, dan berbagai pandangan tentang keselamatan, banyak orang bertanya: Berapa banyak yang akan diselamatkan? Apakah sebagian besar manusia akan masuk surga? Ataukah hanya sedikit?
Menariknya, Yesus tidak menjawab pertanyaan itu dengan angka statistik. Ia tidak memberikan persentase atau jumlah tertentu. Sebaliknya, Ia mengarahkan perhatian pendengarnya kepada tanggung jawab pribadi:
“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu...”
(Lukas 13:24)
Dalam tradisi Teologi Reformed, pertanyaan tentang jumlah orang yang diselamatkan selalu dibahas dengan hati-hati. Alkitab memang berbicara tentang jalan yang sempit, tentang pemilihan Allah, dan tentang realitas penghakiman. Namun Alkitab juga berbicara tentang banyak orang yang ditebus dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa.
Yohanes Calvin, John Owen, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, Charles Hodge, B. B. Warfield, J. I. Packer, R. C. Sproul, dan Sinclair Ferguson memberikan wawasan yang kaya mengenai tema ini. Mereka mengingatkan bahwa fokus utama Alkitab bukanlah memuaskan rasa ingin tahu manusia tentang angka, melainkan memanggil manusia kepada pertobatan dan iman kepada Kristus.
Artikel ini akan membahas pertanyaan “Apakah Sedikit Orang yang Diselamatkan?” dalam terang Kitab Suci dan pemikiran para pakar Teologi Reformed.
Bab 1
Pertanyaan yang Diajukan kepada Yesus
Dalam Lukas 13, seseorang bertanya kepada Yesus:
“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”
Pertanyaan ini muncul dalam konteks pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah.
Orang-orang Yahudi pada masa itu sering menganggap bahwa mereka akan diselamatkan hanya karena mereka adalah keturunan Abraham.
Namun Yesus berkali-kali menegaskan bahwa hubungan lahiriah dengan umat Allah tidak menjamin keselamatan.
R. C. Sproul menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut mencerminkan kecenderungan manusia untuk memikirkan nasib orang lain sebelum memeriksa dirinya sendiri.
Karena itu Yesus mengalihkan fokus dari jumlah orang yang diselamatkan kepada kebutuhan mendesak untuk masuk melalui pintu yang sesak.
Dalam perspektif Reformed, ini menjadi pelajaran penting. Pertanyaan yang paling penting bukanlah:
“Berapa banyak orang yang akan diselamatkan?”
Tetapi:
“Apakah saya telah datang kepada Kristus dengan iman yang sejati?”
Bab 2
Jalan yang Sempit dan Pintu yang Sesak
Yesus berkata:
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan.”
(Matius 7:13)
Ayat ini sering menjadi dasar bagi pembahasan mengenai jumlah orang yang diselamatkan.
Yohanes Calvin menjelaskan bahwa jalan keselamatan disebut sempit bukan karena Allah enggan menyelamatkan manusia, tetapi karena manusia secara alami menolak jalan Allah.
Dosa membuat manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang.
Manusia ingin keselamatan tanpa pertobatan.
Mereka ingin surga tanpa tunduk kepada Kristus.
Karena itu, jalan yang menuju kehidupan tampak sempit bagi hati manusia yang berdosa.
Calvin menegaskan bahwa Injil terbuka bagi semua yang percaya, tetapi hanya mereka yang dilahirkan kembali oleh Roh Kudus yang akan datang kepada Kristus dengan iman.
Bab 3
Pemilihan Allah dan Keselamatan
Tidak mungkin membahas pertanyaan ini tanpa menyentuh doktrin pemilihan.
Efesus 1:4 menyatakan:
“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.”
Teologi Reformed mengajarkan bahwa keselamatan berakar pada keputusan kekal Allah.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa pemilihan bukanlah hasil dari iman manusia yang telah diketahui sebelumnya oleh Allah.
Sebaliknya, iman merupakan buah dari pemilihan.
Allah memilih umat-Nya dalam Kristus dan pada waktunya memanggil mereka melalui Injil.
Doktrin ini tidak diberikan untuk mendorong spekulasi tentang siapa yang dipilih dan siapa yang tidak.
Sebaliknya, doktrin ini diberikan untuk menegaskan bahwa keselamatan berasal sepenuhnya dari anugerah Allah.
Jika keselamatan bergantung pada manusia, tidak seorang pun akan diselamatkan.
Bab 4
Sedikit atau Banyak?
Ketika Alkitab berbicara tentang jalan yang sempit, sebagian orang menyimpulkan bahwa hanya segelintir manusia yang akan diselamatkan.
Namun Alkitab juga memberikan gambaran yang lain.
Wahyu 7:9 menyatakan:
“Suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya.”
Kumpulan itu berasal dari:
- Segala bangsa.
- Segala suku.
- Segala kaum.
- Segala bahasa.
B. B. Warfield berpendapat bahwa Alkitab memberikan alasan untuk berharap bahwa hasil akhir karya penebusan Kristus akan sangat besar.
Warfield tidak mengabaikan realitas penghakiman.
Namun ia menekankan bahwa Alkitab menggambarkan kemenangan Kerajaan Allah yang luar biasa.
Dengan demikian, Teologi Reformed tidak memberikan jawaban sederhana berupa “sedikit” atau “banyak.”
Sebaliknya, Alkitab menekankan dua kebenaran sekaligus:
- Tidak semua orang akan diselamatkan.
- Umat tebusan Kristus akan sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya.
Bab 5
Keselamatan Hanya Melalui Kristus
Pertanyaan tentang jumlah orang yang diselamatkan harus selalu dikaitkan dengan pribadi Kristus.
Yesus berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
(Yohanes 14:6)
Louis Berkhof menegaskan bahwa keselamatan tidak ditemukan dalam agama, moralitas, atau usaha manusia.
Keselamatan hanya ada dalam Kristus.
Ini berarti bahwa pertanyaan utama bukanlah:
“Apakah saya cukup baik?”
Tetapi:
“Apakah saya berada di dalam Kristus?”
Karena itu, fokus Alkitab selalu bersifat Kristosentris.
Kristus adalah pintu keselamatan.
Kristus adalah jalan menuju Bapa.
Kristus adalah dasar pembenaran.
Kristus adalah sumber hidup kekal.
Bab 6
Mengapa Banyak Orang Menolak Injil?
Jika keselamatan begitu mulia, mengapa banyak orang menolaknya?
John Owen menjelaskan bahwa masalah utamanya bukan kurangnya bukti, melainkan kondisi hati manusia.
Dosa telah merusak seluruh keberadaan manusia.
Akibatnya, manusia secara alami:
- Menolak otoritas Allah.
- Mengasihi dosa.
- Membenci terang.
- Menolak Injil.
Karena itu, keselamatan memerlukan pekerjaan Roh Kudus yang mengubahkan hati.
Teologi Reformed menyebutnya kelahiran baru (regeneration).
Tanpa pekerjaan Roh Kudus, tidak seorang pun akan datang kepada Kristus.
Ini menjelaskan mengapa jalan keselamatan tampak sempit.
Bukan karena kasih karunia Allah terbatas, tetapi karena hati manusia keras terhadap Allah.
Bab 7
Harapan Besar bagi Penginjilan
Sebagian orang menganggap bahwa doktrin pemilihan mengurangi semangat penginjilan.
Namun sejarah menunjukkan sebaliknya.
Banyak misionaris besar berasal dari tradisi Reformed.
Geerhardus Vos menjelaskan bahwa pemilihan justru memberikan keyakinan dalam penginjilan.
Mengapa?
Karena keberhasilan Injil tidak bergantung pada kemampuan manusia.
Allah memiliki umat pilihan di berbagai bangsa.
Melalui pemberitaan Injil, Allah memanggil mereka kepada keselamatan.
Karena itu gereja terus memberitakan Injil dengan penuh pengharapan.
Tidak ada bangsa yang terlalu jauh.
Tidak ada budaya yang terlalu sulit.
Tidak ada hati yang terlalu keras bagi kuasa Allah.
Bab 8
Jangan Mengandalkan Keistimewaan Lahiriah
Dalam Lukas 13, Yesus memperingatkan bahwa banyak orang akan berkata:
“Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu.”
Namun mereka tetap ditolak.
Charles Hodge menegaskan bahwa keanggotaan gereja, baptisan, pengetahuan teologi, atau latar belakang Kristen tidak dapat menyelamatkan seseorang.
Keselamatan memerlukan hubungan pribadi dengan Kristus.
Banyak orang memiliki identitas Kristen secara lahiriah tetapi tidak pernah mengalami pertobatan sejati.
Karena itu, pertanyaan tentang jumlah orang yang diselamatkan harus dimulai dengan pemeriksaan diri.
Apakah saya sungguh mengenal Kristus?
Apakah saya telah bertobat?
Apakah iman saya hidup?
Bab 9
Kepastian bagi Orang Percaya
Meskipun tema ini berbicara tentang penghakiman, Alkitab juga memberikan penghiburan yang besar bagi orang percaya.
Yesus berkata:
“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”
(Yohanes 6:37)
J. I. Packer menegaskan bahwa keselamatan orang percaya tidak bergantung pada kekuatan iman mereka, tetapi pada kesetiaan Kristus.
Jika seseorang telah datang kepada Kristus dengan iman yang sejati, ia tidak perlu hidup dalam ketakutan terus-menerus.
Keselamatan dijaga oleh Allah sendiri.
Doktrin pemilihan bukan hanya doktrin tentang awal keselamatan.
Ia juga merupakan dasar kepastian keselamatan.
Allah yang memulai pekerjaan-Nya akan menyelesaikannya.
Bab 10
Fokus Alkitab: Datanglah kepada Kristus
Pada akhirnya, Alkitab tidak memberikan angka pasti mengenai jumlah orang yang akan diselamatkan.
Sebaliknya, Alkitab berulang kali mengundang manusia untuk datang kepada Kristus.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa fokus Injil selalu bersifat pastoral.
Ketika seseorang bertanya:
“Apakah sedikit orang yang diselamatkan?”
Yesus menjawab dengan panggilan:
“Masuklah melalui pintu yang sesak.”
Dengan kata lain:
Jangan hanya memikirkan teori keselamatan.
Datanglah kepada Juruselamat.
Percayalah kepada Kristus.
Ikutilah Dia.
Dalam Kristus terdapat pengampunan, pembenaran, dan hidup kekal.
Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
Yohanes Calvin
Calvin menegaskan bahwa jalan keselamatan disebut sempit karena manusia berdosa secara alami menolak Allah dan kebenaran-Nya.
Herman Bavinck
Bavinck mengajarkan bahwa pemilihan menunjukkan anugerah Allah yang berdaulat dan menjadi dasar keselamatan umat-Nya.
Louis Berkhof
Berkhof menekankan bahwa keselamatan hanya ditemukan dalam Kristus dan karya penebusan-Nya.
John Owen
Owen melihat kondisi manusia yang jatuh sebagai alasan mengapa keselamatan memerlukan pekerjaan Roh Kudus yang efektif.
Charles Hodge
Hodge memperingatkan bahaya mengandalkan identitas keagamaan tanpa pertobatan yang sejati.
B. B. Warfield
Warfield menyoroti visi Alkitab tentang kumpulan besar orang tebusan yang tidak terhitung jumlahnya.
J. I. Packer
Packer mengingatkan bahwa kepastian keselamatan berakar pada kesetiaan Kristus, bukan pada kekuatan manusia.
R. C. Sproul
Sproul menegaskan bahwa pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak yang diselamatkan, melainkan apakah seseorang telah datang kepada Kristus.
Sinclair Ferguson
Ferguson menekankan bahwa fokus Injil adalah panggilan untuk percaya kepada Kristus, bukan spekulasi tentang angka.
Kesimpulan
Pertanyaan “Apakah Sedikit Orang yang Diselamatkan?” telah diajukan sejak zaman Yesus dan tetap menjadi pertanyaan penting hingga hari ini. Namun respons Yesus menunjukkan bahwa fokus utama Alkitab bukanlah memberikan statistik keselamatan, melainkan memanggil manusia untuk bertobat dan percaya kepada-Nya.
Teologi Reformed mengajarkan bahwa keselamatan berasal dari anugerah Allah yang berdaulat. Calvin menekankan jalan yang sempit karena natur manusia yang berdosa. Bavinck menunjukkan bahwa pemilihan adalah dasar keselamatan. Berkhof menegaskan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan kepada Bapa. Owen menyoroti kebutuhan akan kelahiran baru. Hodge memperingatkan bahaya agama tanpa pertobatan. Warfield mengingatkan bahwa hasil akhir karya Kristus akan sangat besar. Packer dan Ferguson menegaskan kepastian dan pengharapan yang ada di dalam Injil.
Alkitab menyatakan dua realitas yang harus dipegang bersama. Tidak semua orang akan diselamatkan, dan penghakiman adalah kenyataan yang serius. Namun pada saat yang sama, Allah sedang mengumpulkan umat tebusan yang sangat besar dari seluruh dunia melalui karya Kristus dan pemberitaan Injil.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah menghitung jumlah orang yang akan masuk surga. Pertanyaan yang paling penting adalah:
Apakah saya telah datang kepada Yesus Kristus dengan iman yang sejati?
Sebab setiap orang yang datang kepada-Nya tidak akan ditolak. Di dalam Kristus terdapat pengampunan dosa, pembenaran oleh iman, dan hidup yang kekal.
“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:36)